Reinkarnasi Putri Cacat

Reinkarnasi Putri Cacat
Bab 82 Empat kakak Nagisa


__ADS_3

Pak kepala menyuruh mereka beristirahat setelah melakukan perjalanan jauh, tapi Winnie sama sekali tak bisa santai setelah melihat sekilas hotel itu.


Ia memutuskan untuk berkeliling dan melihat keseluruhan ruangan tanpa pendamping, toh ia tak akan tersesat karena hotel itu hanya memiliki dua puluh kamar saja.


Jika melihat denah di lantai pertama hotel itu memiliki ruang resepsionis tepat di muka pintu, kemudian kamar khusus karyawan yang di bagi dua untuk wanita dan pria.


Setiap kamar karyawan memiliki tiga tempat tidur di lengkapi dengan kamar mandi, kemudian ada juga dapur hotel yang bersebelahan dengan kantin hotel.


Ruangan ini cukup besar namun terkesan seperti ruang makan keluarga karena hanya ada satu meja besar di kelilingi kursi tepat di tengah ruangan.


Di dapur sendiri ada sebuah gudang kecil tempat menyimpan bahan makanan, sayangnya gudang ini tak digunakan karena koki jarang menyimpan bahan makanan. Tentu alasannya karena tak ada pengunjung sehingga percuma menyetok bahan makanan.


Kemudian ada kantor pak kepala, dan sisanya kamar yang berjumlah delapan. Sementara lantai dua berisi kamar semua yang berjumlah 12, semua ukuran kamar sama dan isinya pun sama sehingga harga kamar pun tak berbeda.


Selesai melihat-lihat isi hotel Winnie kemudian beralih ke halaman, tempat itu bersih dan rapi hanya saja kurang menarik. Tempat bersantainya pun hanya satu kursi kayu tepat di bawah pohon, jika halaman itu memiliki kolam mungkin pemandangannya akan lebih menarik.


Berjalan-jalan di sekitar hotel akhirnya langkahnya tiba di pesisir pantai, pemandangan laut biru dengan gemuruh ombak. Sepi dan damai, tempat itu sangat nyaman bagi mereka yang mencari ketenangan.


"Sudah puas berkeliling?" tanya Aslan menghampiri.


"Tidak ada apa pun disini, bahkan bagi orang yang mengejar ketenangan kamar lebih baik dari ini," ujarnya.


"Lalu bagaimana?" tanya Aslan lagi.


"Tidak mungkin aku membiarkan ayah merobohkan hotel itu, artinya aku menunjukkan ketidakmampuan ku. Akan ku lihat lagi besok daerah ini," sahutnya.


Aslan tersenyum, gadisnya tidak pernah mengenal kata menyerah karena itu ia yakin Winnie dapat melakukannya.


"Aku akan pergi setelah makan malam," ujarnya.


"Cepat sekali, kau tidak menginap di sini?" tanya Winnie.


"Kenapa? kau masih ingin melepas rindu?" goda Aslan dengan senyum nakalnya.


"Aku menyesal telah bertanya," gumam Winnie.


"Aku khawatir pada Nagisa, dia benar-benar gadis kecil yang polos. Sayang dia harus ikut pada rencana ini," ujarnya menatap laut.


"Dia butuh uang untuk biaya masuk universitas dan lesnya, tak ada yang lebih cocok menjadi umpan selain dia. Hubungan timbal balik," sahut Winnie.


Aslan menggelengkan kepala, ia tak menyangka Winnie bahkan tak pandang bulu saat berbisnis.


"Oh ya, aku meminta bantuan Jimmy untuk mengawasi perawat Iren. Jika ada waktu senggang ajak Carl untuk melihat kondisinya, siapa tahu kalian mendapatkan sesuatu yang ku lewatkan."

__ADS_1


"Kau meminta bantuan pecandu itu?" tanya Aslan.


"Apa maksud mu? hubungan timbal balik," sahut Winnie.


Ada yang dilewatkan Carl, yaitu bisnis Winnie dengan Jimmy. Rupanya Carl tidak tahu kalau Jimmy yang mengurus perawat Iren dan membantu Winnie mendekati Peter.


"Baiklah, ayo masuk! udara semakin dingin menjelang malam," ajak Aslan.


Kembali ke hotel untuk makan malam mereka disuguhi sup iga panas dan sate kambing yang harum, ini adalah menu andalan hotel yang selalu dinikmati para pengunjung.


Winnie dan Aslan sepakat rasanya memang enak, dengan begini setidaknya hotel memiliki satu keunggulan.


"Baiklah aku pergi sekarang, jaga dirimu baik-baik," ujar Aslan berpamitan.


Winnie mengangguk dan melambaikan tangan sambil menatap kepergian mobil Aslan yang cepat hilang di kegelapan.


......................


"Kau sendirian? Aslan belum pulang?" tanya Carl masuk ke dalam.


"Mm, dimana kak Deborah?" balas Nagisa.


"Dia sudah pulang," sahutnya.


"Um... apa kau bisa membantuku?" tanya Nagisa ragu.


Carl mendekat dan melihat buku pelajaran Nagisa.


"Mana yang tidak kau mengerti?" tanya Carl.


"Bagian ini, kak Deborah tidak pandai dalam matematika padahal dia seorang peretas. Sementara metode mengajar kak Winnie malah membuatku merasa sedang diinterogasi polisi," ujarnya polos.


"Hahahaha... matematika tidak selalu berhubungan dengan meretas dan aku setuju tentang Winnie," sahutnya.


Carl kemudian mengajari Nagisa bagaimana memecahkan sebuah rumus matematika, cara bicara yang lembut dan pelan membuat Nagisa mengerti.


Akhirnya ia bisa mengisi beberapa soal tanpa bantuan Carl, setelahnya terasa mudah setelah Nagisa dapat menghafal rumus di luar kepala.


"Hebat sekali, cara mengajarmu bahkan lebih mudah di pahami dari guru lesku," ujar Nagisa takjub.


"Sungguh? kalau begitu berhenti les dan belajar saja padaku, bukankah itu lebih menghemat uangmu?" tanya Carl.


"Apa boleh seperti itu?" balas Nagisa.

__ADS_1


"Bukankah kau lebih sering menghabiskan waktu di sini? lebih efektif seperti ini kan? kau bisa menggunakan uang lesmu untuk tambahan biaya kuliah mu nanti," ujar Carl.


"Baiklah," sahut Nagisa memutuskan.


Tring


Ponsel Carl berbunyi menandakan ada sebuah pesan masuk, rupanya itu dari Aslan yang memberitahu bahwa dia akan pulang larut karena baru pergi dari hotel jadi mereka tak perlu menunggunya.


"Kau sudah makan malam?" tanya Carl.


"Belum, aku hanya makan keripik dari tadi."


"Aslan akan pulang terlambat, sebaiknya kita cari makan setelah itu aku akan mengantarmu pulang," ujar Carl.


Nagisa mengangguk tanda setuju, mereka pun pergi ke restoran terdekat. Selain dengan dua kakak angkat perempuannya ini adalah kali pertama Nagisa makan di tempat mewah, apalagi itu dengan seorang pemuda yang tampan.


Orang-orang di sekeliling mereka saling berbisik sambil memperhatikan Carl, tentu saja karena ketampanannya.


"Nagisa!" seru seseorang.


Nagisa menengok dan mendapati tiga mantan pembullynya, setelah pelajaran yang mereka dapatkan semenjak itu mereka tidak pernah mengganggunya lagi. Jika berpapasan pun mereka akan bersikap seolah tak mengenal satu sama lain, oleh karena itu ia heran kali ini mereka menyapanya.


"Apa kalian teman Nagisa?" tanya Carl.


"B-benar, selamat malam."


"Malam juga, senang bertemu dengan kalian. Namaku Carl, aku kakak Nagisa. Apa kalian juga mau makan?" ujarnya memperkenalkan diri.


"Iya," jawab mereka.


"Kalau begitu bergabunglah dengan kami, boleh Nagisa?" tanya Carl.


Nagisa mengangguk tak peduli, sementara mereka kegirangan dan segera duduk.


"Maaf, aku tidak tahu kalau Nagisa memiliki kakak laki-laki," ujar salah satu dari mereka.


"Ah sebenarnya Nagisa punya empat kakak, dua laki-laki dan dua perempuan. Kebetulan selama ini kami kakak laki-lakinya berada di luar negri," jawabnya.


"Oh.. " sahut mereka sambil mengangguk dengan mata terpesona.


"Kalian sudah bertemu salah satu kakak perempuan ku, aku yakin kalian masih ingat pelajaran yang dia berikan malam itu," ujar Nagisa.


Seketika wajah mereka menjadi pucat, tentu saja mereka mengingat Winnie dengan mata tajamnya yang mengintimidasi. Sekarang mereka sudah bertemu Carl yang tampan bak pangeran, itu membuat mereka penasaran seperti apa kakak Nagisa yang dua lagi.

__ADS_1


__ADS_2