
"Kau mau kemana?" tanya Camila heran melihat Nicki yang berdandan sangat rapi.
"Rumah Leo, aku ingin memberinya kue ini," sahutnya.
"Kue? untuk apa?" tanya Camila belum mengerti.
"Aduh ibu... tentu saja agar aku bisa mendapatkan simpatinya, jika aku berperilaku baik pada keluarganya pasti dia akan mulai menyukaiku."
"Ah.. hahaha.. aku tidak menyangka putriku akan menjadi cerdas jika menyangkut seorang pemuda," ujar Camila.
"Sudahlah, aku pergi!" seru Nicki tak ingin mendengar ejekan lain.
"Semoga berhasil!" seru Camila.
Sedikit banyak Nicki tahu Jack menyukai makanan manis, karena dia sudah berteman cukup lama dengan Brian Nicki harap pertemanan antar orangtua itu dapat membawa keberuntungan untuk cintanya.
Sampai di kediaman Patckins ia di sambut baik oleh pelayan dan juga Jack.
"Ibu menyuruhku memberikan ini untuk paman," ujar Nicki sambil menyodorkan kue yang ia bawa.
"Oh terimakasih Nicki, ayo masuklah!" sahut Jack.
"Siapa yang datang?" tanya Diana istri Jack sambil melongo.
"Nicki, dia membawakan ini untuk kita. Katanya dari Camila," sahut Jack sementara Nicki tersenyum sambil mengangguk.
"Oh kebetulan sekali, kami kedatangan Teressa. Ayo bergabung!" ajak Diana.
Senyum di wajah Nicki seketika menghilang saat calon ibu mertuanya menyebut nama gadis lain dengan riang, saat masuk Nicki melihat gadis bernama Teressa ini tengah mengobrol dengan Leo yang membuat hatinya terbakar.
Mencoba tetap tenang dan menampilkan senyum ia ikut duduk, Teressa menyapanya dengan hangat sementara Leo memutuskan untuk pergi sebab kini Teressa sudah ada yang menemani.
"Teressa cobalah ini," ujar Diana datang dengan kue pemberian Nicki.
"Terimakasih tante," sahut Teressa mengambil piring kecil yang di sodorkan.
"Mm, enak sekali... " ujarnya setelah mencobanya.
Diana tersenyum, jelas sekali wanita paruh baya itu menyimpan perhatian lebih pada Teressa.
"Apa kalian sudah berkenalan?" tanya Diana.
"Ah kami baru akan mulai," sahut Nicki.
"Begitu rupanya, Teressa kau harus mengenal Nicki. Orangtuanya adalah teman baik kami jadi Leo juga kadang menghabiskan waktu dengannya," ujar Diana memperkenalkan.
Ada rasa bangga dalam hati Nicki mendengar cara Diana memperkenalkannya, sementara Teressa menganggukkan kepala.
"Dan Nicki Teressa ini adalah calon istri Leo, aku harap kau bisa berteman dengannya dan mengajak Teressa bertemu teman Leo lainnya."
PRANG
Ada satu suara pecah yang nyaring, saking nyaringnya Nicki sampai tak bisa mendengar apa pun. Ia melirik sekeliling mencoba mencari sumber suara, namun ternyata asalnya adalah dari hatinya yang hancur.
"Tante! hubungan kami belum sejauh itu," ralat Teressa dengan tersipu.
"Aish... memang kenapa? cepat atau lambat kalian memang akan menikah," sahut Diana.
"Tunggu! Leo... akan menikah?" tanya Nicki mencoba kembali pada kenyataan dengan harapan ia hanya salah dengar.
"Sudah sejak kecil Leo dan Teressa di jodohkan, hanya saja selama ini Teressa belajar di luar negri sehingga baru kali ini kami bisa bertemu. Memang keputusan yang tepat saat Leo akan menyelesaikan kuliahnya," jelas Diana.
Nicki tak tahu apa lagi yang dibicarakan Diana dan Teressa, ruhnya gentayangan entah kemana yang membuatnya tak bisa fokus.
Pada akhirnya ia pun pamit pulang sambil memungut satu persatu kepingan hatinya yang berserakan, membuka kaca mobil kemudian dia membuang kepingan itu bersama air mata sehingga begitu pulang jiwanya kosong tanpa ada suatu apa pun.
__ADS_1
Melihat kondisi Nicki yang pulang dengan murung Camila bisa menebak dengan mudah rencana putrinya tidak berjalan sesuai rencana, entah apanya yang salah ia memutuskan akan bertanya saat Nicki sudah merasa jauh lebih baik.
......................
Seperti kata Winnie meski banyak misteri yang harus di pecahkan tapi ia tak boleh lupa untuk bersenang-senang, mendapat ajakan kencan lagi dari Eggar tentu saja Deborah menerimanya.
Membuat janji bertemu di sebuah kafe Deborah di buat terharu dengan bunga yang diberikan Eggar untuknya, setelah puas menikmati hidangan kemudian Eggar membawanya ke toko pakaian milik keluarganya.
Di sana Deborah di ijinkan untuk memilih pakaian yang ia sukai dan boleh memilikinya, tentu saja semua pakaian yang di jual adalah yang keluaran terbaru dengan harga yang mahal.
"Ini sangat membingungkan, semuanya sangat bagus," ujar Deborah.
"Bagaimana dengan yang ini?" tanya Eggar mengambil satu pakaian.
"Ya, yang ini bagus."
"Lebih baik kau coba dulu," ujar Eggar.
Ia pun menyuruh pelayan untuk mengambilkan beberapa pakaian tadi sempat di pilih Deborah, lalu mereka pun naik ke lantai atas untuk mencobanya.
"Kau bisa menggantinya di sana," ujar Eggar menunjuk satu kamar.
Setelah Deborah masuk Eggar pun memerintahkan pelayannya untuk pergi setelah menyimpan pakaian.
"Bagaimana?" tanya Deborah keluar setelah berganti pakaian.
"Mmm, cantik. Tapi sepertinya kurang bagus, coba yang ini!" komentar Eggar.
"Baiklah," sahut Deborah mengambil pakaian yang di berikan.
Tak lama masuk kedalam Deborah keluar lagi dengan pakaian baru dan kembali bertanya, Eggar memiringkan kepala sambil menatap Deborah dari ujung kepala sampai ujung kaki.
"Hmm, coba yang ini!" ujarnya lagi sambil menyerahkan pakai lain.
"Mm, sepertinya yang ini tidak usah," ujar Deborah ragu.
"Pakaiannya terlalu terbuka," sahut Deborah dengan sedikit canggung.
Eggar tersenyum dan mendekat.
"Memang kenapa? kau punya kulit yang mulus dan bagus, sedikit terbuka tidak masalah. Justru kau harus menujukannya kepada orang-orang dengan bangga," ujarnya sambil membelai lengan Deborah.
"Maaf Eggar, tapi aku tidak suka pakaian seperti ini. Apalagi untuk di tunjukan di umum," sahutnya.
"Kalau begitu pakai hanya di hadapan ku saja," ucap Eggar.
"Apa?" tanya Deborah hampir tersedak karena kaget.
Eggar tersenyum nakal sambil memperhatikan bagian tubuh Deborah yang menonjol.
"Aku adalah kekasihmu, tidak apa menujukannya di hadapan ku. Bahkan kau harus menunjukkan yang lebih sebagai bukti cinta mu," ujarnya.
Eggar terus mendekat sampai membuat Deborah terhimpit diantara tembok dan dirinya, membuat Deborah tak nyaman karena sesak.
"Tidak Eggar, aku... aku... " entah bagaimana dia harus menjelaskannya.
Dia memang menyukai Eggar tapi jika harus intim secepat ini dia belum siap, apalagi Eggar terlalu agresif untuk ukuran baru beberapa kali kencan.
"Kenapa? bukankah kita saling menyukai?" tanya Eggar.
Dia mulai mengecup Deborah di kening, laku turun ke pipi dan dagu. Saat bibirnya turun ke leher Deborah benar-benar merasa sesak dan sangat tidak nyaman.
"Tolong hentikan Eggar!" seru Deborah sambil mendorong Eggar agar menjauh darinya.
Mendapatkan perlakuan penolakan Eggar malah semakin merasa tertantang, apalagi saat melihat dada Deborah naik turun mengatur nafas.
__ADS_1
Gairahnya tak dapat di tahan lagi sehingga satu kecupan yang menggebu ia berikan untuk Deborah, dengan kuat ia memaksa gadis itu membuka mulut dan membiarkannya menjelajah.
Ah
Plak
Satu dorongan dan tamparan keras Deborah berikan untuk sikap tidak sopan yang ia terima, rasa cinta yang mulai tumbuh seketika berubah menjadi jijik dan benci.
"Jangan hubungi aku lagi!" perintah Deborah muak akan perbuatan hina pemuda itu.
Hampir menangis Deborah berjalan melewati Eggar, namun tangan pemuda itu menarik Deborah dan menjatuhkannya di sofa.
"Apa yang kau lakukan? Eggar lepaskan aku!" jerit Deborah.
Tapi Eggar tak peduli, ia terus mengecup semua lekukan di tubuh Deborah tanpa peduli meski gadis itu meronta bahkan menangis sambil memohon.
Ia sudah memerintahkan pelayannya untuk menutup toko sebentar sampai urusannya selesai, karena itu meski Deborah menjerit sekalipun ia bisa bermain dengan puas.
Terbelenggu dalam ketakutan yang dalam Deborah terus mencoba menutup diri sambil menangis, dalam hati ia menjerit menyerukan nama Winnie.
Sahabat yang selalu ada untuknya, selalu menjaganya dan menghapus air matanya.
Ah
Buk
Uh
Bruk
Buk Buk Buk Buk
Perlahan Deborah membuka mata saat ia tak merasakan sentuhan lagi, hal pertama yang ia lihat dalam keadaan kacau adalah Eggar terkapar di lantai dengan kondisi bersimbah darah.
Meski begitu orang itu tak mau berhenti untuk memukul Eggar, ia terus saja menghajar dengan pukulan bertubi-tubi.
"Carl?" tanya Deborah bingung menatap keberadaan pemuda itu di sana.
"Carl! Carl! sudah cukup! hentikan!" seru Deborah tersadar bahwa Eggar tak sadarkan diri karena menerima banyak pukulan dari Carl.
Dengan nafas yang tak beraturan Carl menghentikan pukulannya, menatap Deborah yang kacau kemudian dia melepas jaket dan memakainya pada Deborah.
"Ayo pergi!" ajak Carl.
Tak bisa berkata Deborah kemudian menurut, dengan di tuntun Carl mereka pergi dari tempat itu sementara pelayan yang melihat aksi Carl sejak tadi karena tak berhasil mencegatnya untuk naik ke atas segera menolong Eggar.
Berkendara dengan kecepatan tinggi Carl membawa Deborah ke tempat sepi untuk menenangkan pikiran mereka, itu adalah pantai yang luas sehingga mereka bebas memilih tempat ternyaman.
"Aku akan membeli minum," ujar Carl setelah mereka mendapat satu tempat duduk yang nyaman.
Menatap ombak di laut lepas yang begitu bebas akhirnya Deborah dapat menenangkan hatinya, apalagi setelah ia meminum sekaleng soda yang dingin dari Carl.
"Terimakasih," ujar Deborah pelan.
"Lain kali hati-hati," sahut Carl.
Deborah terdiam, ia tak pernah menyangka Eggar yang begitu baik dan manis dapat berubah menjadi serigala.
Teringat kembali bagaimana perlakuan Eggar padanya membuat Deborah meneteskan air mata, tentu itu dapat di pahami oleh Carl.
"Kau tidak bersalah, tidak perlu menyesal juga. Tuhan dengan sengaja mempertemukan mu dengan pria brengsek seperti dia agar kau bisa lebih slektif mencari pasangan," ujar Carl sambil menghapus air mata Deborah.
Entah mengapa rasa takut di hati Deborah tiba-tiba lenyap, entah itu rasa takut karena perlakuan Eggar atau pun pada Carl.
"Terimakasih," ujar Deborah sekali lagi.
__ADS_1
"Sama-sama," sahut Carl sambil tersenyum.
Deborah pun tersenyum, dalam hati ia tak menyangka musuhnya hari ini menjadi pahlawan baginya.