
Setiap hari adalah neraka monoton yang membuat Winnie bosan, ia butuh sesuatu yang bisa membuatnya bersemangat. Mungkin karena ia terbiasa menghadapi masalah besar sehingga ketika kedamaian datang rasanya ia bagai dia ikat.
Ini lebih buruk dari selesai membalas dendam, saat tujuan itu tercapai ia punya keinginan lain seperti membangun perusahaan menjadi lebih besar.
Tapi kini ia terperangkap toxic relationship bersama pria yang tak bisa ia pengaruhi, selain Carl Philip adalah pria lain yang tidak ingin ia hidup bersamanya.
"Sally," panggil Philip.
"Malam ini kita harus menghadiri pesta, aku sudah menyiapkan gaun untuk mu."
Winnie mengambil gaun itu dan berkata akan bersiap, menghabiskan banyak waktu hanya untuk berendam di bathtub ia kembali memutar otak untuk lepas dari Philip.
Selesai bersiap dengan gaun pilihan Philip ia pun keluar, Philip yang sudah menunggu di buat terpesona akan kecantikan Winnie. Apalagi cara Winnie berjalan menuruni tangga membuatnya terlihat seperti sang dewi yang turun dari langit.
"Gaun itu sangat cocok untuk mu, kau terlihat cantik."
"Terimakasih," sahut Winnie.
Berpegangan pada lengan Philip mereka pun siap berangkat, pesta di adakan di sebuah gedung di puncak bukit.
Untuk masuk ke gerbangnya saja mereka di periksa oleh orang-orang bersenjata, hanya mereka yang bisa menunjukkan surat undangan yang boleh masuk.
Sampai di depan gedung supir terus melaju ke tempat parkir sementara mereka turun tepat di depan pintu masuk, sekali lagi mereka harus menujukan surat undangan kepada petugas sebelum masuk.
Harmoni yang keluar dari berbagai alat musik menciptakan nada indah pengiring pesta, suara orang-orang bicara dan ketukan gelas bersulang bersatu dengan simfoni.
Ini adalah pesta kelas atas khas mafia, begitu klasik, teratur, damai, namun setiap kepala berputar keras mencari kelemahan masing-masing.
Seorang pria dengan bahasa Perancis menyapa Philip, Winnie tidak tahu apa yang mereka bicarakan tapi secara garis besar ia tahu Philip memperkenalkan dirinya sebagai Sally.
Mereka kemudian mengobrol sambil menikmati minuman yang disajikan, ada juga cemilan berupa kue-kue.
Selesai bicara dengan satu orang Philip kemudian menyapa yang lain, mengobrol beberapa menit dan terus seperti itu sampai Winnie benar-benar merasa bosan.
"Kepala sedikit pusing, boleh aku mencari udara segar dulu?" bisik Winnie.
"Baiklah," sahut Philip.
Menaruh gelasnya pada nampan seorang pelayan Winnie cepat pergi ke luar, ia menatap ada banyak penjaga dimana-mana. Menarik nafas panjang rasanya ia baru bebas dari pakaian ketat yang menyesakkan.
"Malam ini cukup indah bukan?" ujar seseorang.
__ADS_1
Winnie menoleh dan menatap seorang pria dengan rambut pirang, kemudian dia menatap langit yang hanya dimiliki bulan.
"Tidak juga, tapi setidaknya cukup cerah," sahutnya.
"Namaku Marck," ucapnya memperkenalkan diri.
"Sally," sahutnya.
Marck mencium punggung tangan Winnie namun matanya tertuju begitu dalam pada wajah Winnie.
"Apa kau baru menghadiri pesta ini?" tanyanya.
"Aku datang bersama Philip," sahutnya.
"Ah... pantas sebelumnya aku tidak pernah melihat mu," balasnya.
"Sepertinya kau tahu banyak tentang Philip," terka Winnie.
Marck tersenyum, ia pun berjalan ke arah taman diikuti Winnie. Ia hanya menjawab semua orang yang hadir dipesta itu saling mengenal, Philip sering datang tapi gadis yang bersamanya selalu berbeda.
"Apa kau pernah bekerja sama dengan Philip?" tanya Winnie lagi.
"Aku mengerti," balas Winnie.
Beralih topik Winnie menanyakan seputar pesta, rupanya pesta itu diadakan oleh sebuah organisasi yang Philip ikut serta didalamnya sebagai anggota.
Siapa pun yang pernah datang ke pesta itu artinya mereka sudah diakui sebagai orang penting, bisnis mereka pun akan berkembang pesat menuju kejayaan.
Bahkan ketika bisnis mereka tercium aparat organisasi itu akan mengurusnya agar bisa lepas.
Terus berjalan sambil mengobrol tak terasa mereka sampai di ujung tebing, dari sana angin berhembus lebih kencang sehingga membuat Winnie bergidik.
"Sebaiknya kita kembali ke dalam," saran Marck.
Winnie mengangguk, namun saat mereka berbalik Philip yang sudah berdiri disana membuat mereka terkejut hingga membatu. Tatapan matanya tajam terarah pada mereka berdua bagai mata pisau yang siap menusuk.
"Kalau begitu sampai nanti," ujar Marck kepada Winnie.
Saat melewati Philip ia tersenyum seakan mengejek, Winnie yang merasakan amarah Philip sampai kepadanya hanya diam. Tiba-tiba.
"Aahh... " pekik Winnie saat Philip mendorongnya.
__ADS_1
Beruntung tangannya sempat meraih baju lengan Philip sehingga ia tertahan di ujung tebing itu, menatap ke dasar jurang yang gelap seakan tak berdasar membuat Winnie tak percaya akan tindakan Philip.
"Aku tidak suka kau bicara dengan pria mana pun kecuali aku," ujar Philip membiarkan Winnie menggantung di sana.
Angin berhembus mengibarkan rambut Winnie yang terurai, tetap berdiri tegak Philip sama sekali tak memegang Winnie. Ia hanya memperhatikan ekspresi Winnie, berharap ada rasa takut yang diikuti dengan permohonan maaf.
Sayangnya Winnie adalah sebongkah batu dipesisir pantai, meski ia terus diterjang ombak ribuan kali dirinya tetap utuh tak terkikis.
Wajahnya tetap datar tanpa rasa takut atau penyesalan meski tangannya jelas berpegangan pada kain baju Philip, ia tak akan memberikan apa yang paling diinginkan Philip.
"Apa arti dari kecemburuan itu? jika begini caramu untuk mendapatkan kesetiaan ku justru kau membuatku bebas dari peraturanmu, setelah aku mati tidak ada lagi yang dapat mengatur ku. Tidak kau bahkan Dewa sekalipun," ujar Winnie.
Ia tersenyum, sebuah senyum kemenangan yang paling Philip takuti. Lalu ia lepaskan satu-satunya pegangan yang dapat menyelamatkan hidupnya, membiarkan tubuhnya melayang jatuh dengan mata terbuka untuk melihat ekspresi kekalahan Philip.
......................
"Tidak...... " jerit Aslan sambil mengulurkan tangan.
Nafasnya terengah dengan buliran keringat yang membasahi seluruh tubuhnya, beberapa menit tersadar bahwa ia terbangun dari mimpi buruk segera diteguknya segelas air untuk memenangkan diri.
Menatap sekeliling rupanya hari masih gelap, tapi saat ia kembali merebahkan diri matanya tak dapat terpejam.
Mengerutkan dahi ia merasa membutuhkan psikiater, akhir-akhir ini setelah kematian Winnie ia sering sekali bermimpi buruk.
Itu adalah perpisahan mengerikan yang terjadi padanya dan Winnie, terkadang mimpi itu merupakan kematian tragis Winnie dengan berbagai cara.
Carl sudah membujuk untuk coba melupakan Winnie, anggap saja bahwa kematian itu alami dan terima kenyataan. Tapi ini lebih sulit dari saat dia pergi ke luar negri untuk menimba ilmu.
Rasa tidak ikhlas atas kehilangan membuatnya benar-benar tersiksa, bahkan ia sampai membatalkan semua pekerjaan karena belum bisa fokus.
Sudah pukul empat dini hari sejak ia terbangun dan terus melamun, karena tak kunjung bisa tidur Aslan memutuskan untuk jogging.
Pergi ke taman tempat biasa Winnie lari di sore hari, itu adalah tempat saat ia melihat Winnie bersama dengan Leo untuk pertama kalinya.
Saat itu Winnie mencoba menjelaskan bahwa tak ada apa pun diantara mereka, tapi nyatanya kematian Leo berpengaruh besar padanya.
Tiba-tiba ia bertanya-tanya jika dirinya yang pergi duluan akankah Winnie menangisi mayatnya seperti pada Leo, atau lebih tersiksa lagi seperti dirinya sekarang.
Winnie pernah berkata hati mereka pernah saling terpaut tapi takdir mereka bukan untuk bersatu, nyatanya sekarang takdir dirinya dan Winnie pun bukan untuk bersatu.
Entah permainan macam apa yang sedang dimainkan takdir pada mereka, yang jelas Aslan menuntut keadilan pada Tuhan karena telah berlaku tidak adil.
__ADS_1