Reinkarnasi Putri Cacat

Reinkarnasi Putri Cacat
Bab 78 Sekutu Terkuat


__ADS_3

Camila cukup kebingungan saat datang ke kedai sederhana, tempat pertemuan yang cukup jauh dari rumahnya.


"Ice tea di sini cukup enak, kau mau mencobanya?" tanya Nagisa yang duduk tepat di dekat Camila berdiri.


"Ahh.. boleh," sahut Camila.


"Duduklah," ujar Nagisa.


"Aku sedang menunggu seseorang," sahut Camila.


"Aku yang memanggilmu," balas Nagisa.


Tentu Camila membelalak kaget, ia tak percaya orang yang memerasnya selama ini hanyalah anak bau kencur. Memasang wajah jengkel dengan berani kini ia duduk tepat di hadapan Nagisa, saat pesanannya datang barulah mereka bicara.


"Jadi kau yang selama ini meneror ku?" tanya Camila.


"Bukan, kakek ku yang melakukannya."


"Begitu rupanya, lalu sekarang dimana dia? kenapa dia menyuruh gadis kecil seperti mu?" tanyanya kesal.


"Bukankah sudah ku kirimkan foto-fotonya kepadamu?" balas Nagisa.


Camila mengerutkan kening, ia mencoba mengingat foto mana yang baru ia terima sampai akhirnya ia ingat berkas itu.


"Astaga... kau.. cucu Peter?" tanya Camila hati-hati.


"Selama ini aku mengandalkan kakek untuk biaya sekolah dan lainnya, dia tidak punya tunjangan apa pun juga tidak bekerja tapi mampu menghidupi kami. Saat aku bertanya dari mana ia mendapatkan uang dia selalu berkata akan memberitahuku suatu hari nanti, baru-baru ini akhirnya dia mengatakannya. Dia memiliki cukup uang dari orang bernama Williams," ujar Nagisa.


Camila tentu mengetahui hal ini, selama ini Will di peras oleh kakek Peter sebab dia selamat dari kecelakaan itu. Hal yang tak pernah di duga Will, karena itu dia terpaksa terus mengirim uang demi menutup mulut Peter.


"Suatu hari dia berkata Williams akan berhenti mengirim uang, sebagai gantinya ia akan mengirim dewa kematian. Saat itu terjadi aku di suruh menghubungi mu untuk mendapatkan uang terakhir," lanjutnya.


"Apa maksud mu? aku tidak ada hubungannya dengan kasus ini," ujar Camila berdusta.


"Aku tidak peduli, itu wasiat terakhir kakek ku. Dia menyimpan satu rahasia tentang Williams yang perlu kau ketahui dan jika kau ingin tahu maka kau harus membayar dengan harga yang benar," balas Nagisa.


Camila menggigit bibir bawahnya, sebenarnya ia cukup penasaran dengan hal ini tapi takut untuk mengambil resiko.


"Baiklah kau punya rekening? akan ku transfer sekarang juga," ujarnya memutuskan.


Nagisa tersenyum dan memberikan nomor rekeningnya, setelah transaksi akhirnya selesai Nagisa pun memberikan sebuah hardisk untuk Camila lihat sebelum pergi.


Tak bisa menunggu lebih lama lagi saat kembali ke dalam mobil Camila segera mengecek isi hardisk itu di laptopnya.


"Ah! sialan!" gerutunya mendapati isi hardisk itu adalah bukti bahwa ia melakukan perawatan ilegal di klinik Sara.


"Will memiliki ini? kalau begitu yang menghabisi Peter pasti Will, dia sengaja melakukannya agar aku tidak bisa menyerangnya. Sebaliknya dia akan menyerangku menggunakan ini," gumamnya menarik kesimpulan.


"Bedebah itu tak akan kubiarkan!" janjinya.

__ADS_1


Memacu mobil dengan kecepatan tinggi Camila memutuskan untuk menemui satu sekutu terkuatnya, penyokong yang membuatnya mendapatkan semua ini.


......................


"Jadi Will sudah tahu kalau dia ayah kandung Nicki," gumam Jack.


"Sekarang dia meminta hak asuh Nicki, kau tahu jika itu terjadi aku bisa kehilangan segalanya. Ku mohon bantu aku membereskan orang ini," pinta Camila.


Jack nampak berfikir keras, matanya tertuju pada segelas kopi yang baru ia seruput tapi benaknya bergentayangan.


"Kita ambil jalan paling cepat, habisi dia," ujar Jack akhirnya.


Camila tak bisa berkata-kata, ia sangat tahu Jack adalah orang yang paling tan suka membuang waktu. Ia akan menyelesaikan satu masalah dengan cepat meski itu adalah resiko yang tinggi, sebelumya ia sudah memperkirakan jawaban ini karena itu tetap datang meminta bantuan.


"Jika itu yang terbaik," sahut Camila.


Ia memilih untuk mempercayakan hal ini pada Jack karena ia tahu bahkan sudah dua puluh tahun berlalu sejak kematian Maya dan mereka masih bisa bernafas bebas.


Ya, pertemuan pertama mereka adalah dua puluh tahun yang lalu dimana Jack menghampirinya untuk mengajaknya berbisnis.


Sebuah bisnis dengan keuntungan jangka panjang namun resiko besar, itu adalah masuk ke dunia Brian.


Jack tidak menceritakan apa pun namun ia cukup tahu kematian Maya adalah tanggungjawab Jack, saat Brian dalam keadaan terpuruk ia menyuruh Camila menghibur Brian hingga berhasil mendapatkan hatinya.


Camila yang saat itu baru tahu kalau dirinya sedang mengandung anak Will menjadikannya kesempatan agar Brian mau menikahinya, pada akhirnya ia pun menjadi nyonya Wilson dengan begitu mudah.


Sampai sekarang Camila masih belum tahu kenapa Jack menghabisi Maya dan anaknya, ditanya pun Jack tidak akan menjawab. Justru ia mendapat ancaman jika Camila terus bertanya atau mencari tahu maka ia tak segan untuk menghabisi Camila juga.


Karena Jack menyimpan banyak rahasia tentang dirinya maka tak ada yang bisa Camila lakukan selain menjadi sekutu, atau lebih tepatnya mungkin pion catur yang tak bisa bergerak sendiri.


"Ibu sudah pulang?" sapa Nicki melihat Camila yang berjalan masuk.


"Mm, apa yang sedang kau lakukan?" balas Camila segera memasang senyum.


"Tidak ada," sahutnya.


"Kau tidak pergi bersama teman-teman mu?" tanya Camila.


"Teman yang mana? mereka semua hanya gadis bodoh," sahut Nicki kecut.


"Kalau begitu ayo temani ibu minum teh," ajak Camila.


......................


Sejauh ini semuanya berjalan dengan lancar, meski begitu Winnie tahu dia tak boleh lengah. Apa pun bisa terjadi dan keadaan dapat berubah sewaktu-waktu, oleh sebab itu ia memutuskan untuk berlari demi menjaga kebugaran tubuhnya.


Mulai saat ini ia akan semakin sibuk, diawali dengan berbagai pertanyaan yang di ajukan sutradara dan Bram mengenai kemundurannya dari film.


Ia sepakat dengan Will alasan kepergiannya adalah karena ia harus fokus pada mata kuliahnya, sesederhana itu dibantu dengan pendapat Will yang mengatakan gadis muda seperti Winnie memang labil sehingga mudah merubah keputusan.

__ADS_1


Sutradara dapat memaklumi dan akhirnya menyerah, tapi ia tetap menantikan dirinya kembali berakting. Berbeda dengan Bram yang terus saja meneror lewat ponsel, sakit seringnya Bram menghubungi Winnie sampai terpaksa mematikan handphonenya untuk sementara waktu.


Bahkan ia juga memutuskan untuk tinggal di apartemen sampai Bram berhenti datang ke rumahnya, untung Brian tak curiga saat ia mengatakan Jeny sedang kurang sehat dan butuh dirinya sehingga ia harus menginap beberapa hari di rumah orangtua angkatnya.


Hhhhh hhhh hhhh


Tiga puluh menit sudah berlalu, keringatnya yang mengalir banyak cepat ia lap.


Set


Kepalanya yang menunduk diangkat menatap orang yang menyodorkan minuman, mantap senyum Leo ia hanya mengambil botol itu dan berterimakasih.


"Sudah aku tebak kau pasti di sini," ujar Leo sambil duduk di samping Winnie.


"Aku... sudah mencarimu ke rumah tapi kau tak ada, karena itu satu-satunya tempat yang bisa ku pikirkan hanya ini. Ternyata aku tidak salah," lanjutnya.


Winnie nampak tak peduli, sampai Leo menarik tangannya agar mereka saling berhadapan.


"Waktu itu aku belum sempat menjelaskan padamu, meski Teressa adalah tunangan ku tapi bukan berarti kami akan menikah nantinya. Aku sudah menolak perjodohan ini jadi dia bukan siapa-siapa ku," ujarnya tegas.


Winnie menatap mata Leo yang jelas sedang mencoba meyakinkannya.


"Kenapa kau katakan ini padaku?" tanya Winnie datar.


"A-aku... pikir... " Leo bingung harus menjawab apa sebab dia tak menyangka Winnie akan bertanya seperti itu dengan wajah datar.


Seolah dia tak peduli tentang Teressa, bahkan seolah tak pernah terjadi apa pun diantara mereka.


"Maafkan aku, ternyata hanya aku besar kepala," ujar Leo sembari tersenyum pahit.


Degh


Entah mengapa tiba-tiba Winnie merasa hidup kembali sebab ia merasa bersalah atas apa yang ia lakukan, seolah kini dia adalah Yumna yang telah menyakiti pangerannya.


"Apa yang sedang kalian lakukan?" tanya seseorang.


Reflek Winnie dan Leo memalingkan wajah pada si penanya.


"Aslan... " ujar Winnie hampir tak percaya dengan apa yang dia lihat.


Dengan mata tajam Aslan menatap tangan Leo yang masih menggenggam tangan Winnie, sadar kemana arah pandangan itu dengan cepat Winnie melepaskannya dan berdiri.


Membuat Leo kaget sebab tangannya di hempaskan begitu saja seolah tak berharga.


"Kapan kau pulang?" tanya Winnie dengan mata berbinar.


Tapi Aslan tetap memasang wajah dingin, bahkan ia berbalik dan pergi begitu saja tanpa mengatakan apa pun.


"Aslan? Aslan! tunggu!" seru Winnie segera mengejar.

__ADS_1


Menatap bagaimana Winnie berusaha mengejar Aslan membuat Leo bertanya-tanya siapa pemuda itu, pemuda yang membuat dirinya seakan tak berharga bagi Winnie.


__ADS_2