
Bertemu di kampus Winnie bisa melihat kantung mata Deborah yang besar dan hitam, sangat jelas ia tak tidur semalaman.
"Kau baik-baik saja?" tanya Winnie.
"Tidak, jelas ada sesuatu tapi... entah kenapa semuanya rapih," sahutnya dengan nada kesal.
"Apa maksud mu?" tanya Winnie tak mengerti.
"Penculikan dirimu di rumah sakit itu, pada hari kejadian CCTV sedang rusak sehingga tidak ada bukti. Tapi semua penjaga bersaksi tidak meninggalkan tempat mereka, lalu kau pikir dari mana penjahat itu masuk dan keluar? tidak mungkin dari jendela sebab itu lantai sepuluh. Satu-satunya jalan hanya pintu depan yang di jaga," jelas Deborah.
Winnie mengerti, jelas ada sebuah kejanggalan tapi penculikan itu sangat rapih sehingga sebuah kejanggalan tak di hiraukan.
"Aku tidak suka ini, perasaan tak bisa menyelesaikan dan tidak mengetahui sesuatu yang jelas sebuah misteri," gumam Deborah.
Rupanya hasrat Deborah untuk memecahkan kasus ini jauh lebih besar dari yang di miliki Winnie, tersenyum Winnie berfikir harus memberi hadiah.
"Bagaimana kalau nanti kita bertemu teman-teman ku?" tawar Winnie.
"Sungguh? tapi aku kan belum berhasil," ujar Deborah.
"Tak apa, mungkin setelah bertemu mereka kau bisa memecahkan misterinya."
"Ah Winnie... aku sayang kau!" seru Deborah sembari memeluk.
Mengambil ponsel Winnie langsung menghubungi Marito dan bertanya apakah ia bisa mampir ke kafe dengan membawa teman, tentu Marito mempersilahkan.
Winnie juga meminta agar Marito mengajak yang lain untuk lebih memeriahkan suasana.
Setelah kelas selesai mereka langsung meluncur ke kafe Marito, Deborah yang tadinya lesu segera terlihat segar begitu mereka naik ke atas dan bertemu dengan teman-teman Winnie.
"Hai!" sapa Winnie.
"Ah akhirnya bintangnya datang juga," seru Ashar.
"Cepat sekali kalian berkumpul," komentar Winnie.
"Salah Marito, dia menyuruh kami berkumpul karena permintaan Winnie tapi tidak bilang jam berapa," sahut Agger.
"Hahaha... oh kenalkan ini Deborah, dia temanku sejak SMU," ujar Winnie memperkenalkan.
"Senang bertemu dengan mu Deborah, perkanalkan aku Ashar," ujar Ashar sembari mencium punggung tangan Deborah.
__ADS_1
Tentu saja itu membuat Deborah kaget sebab mereka bukan di pesta resmi, perbuatan itu juga membuatnya sedikit malu. Sementara yang lain memperkenalkan diri dengan hanya bersalaman, sisanya di perkenalkan oleh Winnie dan hanya mengangguk tanpa bangku dari tempat duduk.
"Kau sudah berteman dengan Winnie begitu lama, kau pasti tahu banyak hal tentangnya," ujar Ashar mengajak Deborah berbincang di sudut yang lain terpisah dari Winnie.
"Begitulah," sahut Deborah.
"Katakan bagaimana kriteria pria yang di sukai Winnie," pinta Ashar.
Jika di tanya seperti itu tentu saja Deborah segera teringat pada Aslan.
"Tinggi, tampan, dingin, kejam, diktator," ujar Deborah tidak bisa menemukan sisi baik dari Aslan.
"Sungguh? jadi Winnie suka yang dominan ya," ucap Ashar tak percaya.
"Sepertinya," sahutnya.
Kembali berfikir Deborah mencoba mencari sisi baik apa yang ada dalam diri Aslan sampai mereka bisa bertahan meski dalam jarak yang begitu jauh.
"Hai semuanya!" sapa Leo yang baru datang.
"Hai... kau baru datang?" tanya Marito.
Winnie tersenyum dan membiarkan Leo duduk di sampingnya, melihat gerak gerik Leo hanya dalam waktu beberapa menit saja Deborah menemukan ketertarikan yang berbeda.
Dari semua teman pria yang ada Leo memberi perhatian khusus pada Winnie, memang sekilas semua pria disana sedang mencoba menarik perhatian Winnie.
Tapi Leo hanya diam dan memperhatikan Winnie seolah menikmati Winnie untuk dirinya, itu membuat Deborah tak nyaman sebab instingnya mengatakan Leo menginginkan Winnie.
"Semalam kau kemana? kenapa pergi terburu-buru?" tanya Leo yang masih penasaran.
Saat melihat Winnie pergi sambil berlari keluar beberapa menit kemudian Leo pamit pulang dengan alasan ada urusan, padahal sebenarnya ia mengejar Winnie sebab sekilas ia melihat ekspresi cemas di wajah Winnie.
Sayangnya di tengah jalan ia kehilangan jejak sehingga tak tahu kemana Winnie pergi.
"Oh itu, ada urusan mendadak," jawabnya yang tak menyangka Leo melihat.
"Urusan apa di malam hari? lagi pula kau kelihatan cemas," tanya Leo tak puas.
"Seharusnya kau tahu batasan privasi seseorang," sahut Winnie dingin.
Degh
__ADS_1
Tatapan yang diberikan Winnie sangat tajam dan memancarkan aura gelap yang membekukan, hanya dalam beberapa detik saja Leo segera merasa menggigil kerena tatapan itu.
Hanya beberapa detik dan Winnie kembali tersenyum seperti biasa, begitu bersahabat hingga seperti domba kecil.
Sementara Leo masih syok, ia bagai menemukan sisi lain dari diri Winnie yang tak terduga.
Menjelang sore Winnie pamit pulang begitu juga dengan Deborah, dalam perjalanan mengantar Deborah pulang ke rumahnya Deborah segera memperingatkan Winnie tentang Leo.
"Memang ada apa dengannya?" tanya Winnie.
"Dia menyukaimu, aku bisa merasakannya. Berbeda dengan yang lain dia ingin memiliki hubungan spesial dengan mu," ujar Deborah.
"Sungguh?" tanyanya lagi santai.
"Winnie aku serius! jika kau tidak membuat jarak dengan Leo aku akan melaporkannya pada Aslan," ancam Deborah.
"Astaga... kau benar-benar di pihak dia?" tanya Winnie tak percaya.
"Tidak begitu, hanya saja aku tahu Aslan tidak pernah menyakiti mu meski dia diktator," sahut Deborah.
Mendengarnya Winnie segera bungkam, memang benar Aslan tidak pernah menyakitinya justru selalu ada untuk mendukung dan membuatnya bahagia.
"Kau tenang saja, sekalipun aku mendekati Leo itu karena ada sesuatu yang aku inginkan. Tak ada hubungannya dengan perasaan," jawab Winnie.
......................
Berniat menikmati teh di taman Camila malah menemukan Nicki duduk disana dengan wajah di tekuk, ia tahu sesuatu pasti telah membuat putrinya kesal.
"Kecantikan mu hilang jika kau cemberut seperti itu," ujar Camila.
"Aku benci!" serunya dengan wajah memerah.
"Ada apa? ceritakan pada ibu," pinta Camila sembari duduk tepat di samping Nicki.
"Leo... sedikit pun dia tidak perhatian padaku tapi pada Winnie seolah dialah satu-satunya gadis di dunia ini, ibu juga pasti lihat caranya memperlakukan Winnie semalam kan?" jelasnya.
"Jadi itu masalahnya, ini hanya hal kecil saja sayang. Winnie nampak tidak tertarik pada Leo jadi kau tidak perlu khawatir," ujar Camila menenangkan.
"Tapi tetap saja itu tidak membuat Leo melihat ku!" protesnya.
"Ouh... putriku... kau tenang saja, ibu tidak akan biarkan Winnie mengambil apa yang kau mau," janji Camila dengan sungguh-sungguh.
__ADS_1