Reinkarnasi Putri Cacat

Reinkarnasi Putri Cacat
Bab 7 Murid Baru


__ADS_3

Dewa benar-benar mengabulkan permintaannya, dua tahun berlalu tanpa ada masalah serius. Winnie tumbuh semakin cantik dan pintar, kini ia telah duduk di bangku kelas tiga dimana para pria mulai mengejarnya untuk di jadikan istri.


Bahkan sebuah lamaran datang dari anak kepala desa yang membuat Winnie hanya menggelengkan kepala, ia sudah bertekad akan meneruskan sekolahnya ke jenjang universitas.


Meski mungkin jika menikah perekonomiannya akan membaik tapi ia tak peduli, baginya kepala desa tidaklah terlalu kaya dan berpengaruh sehingga ia memilih untuk mencari uang sendiri.


Sementara orangtuanya tak bisa memaksa, mereka menyerahkan keputusan hidup Winnie di tangannya sendiri.


"Sayang sekali... " ujar Deborah.


Seorang anak pengusaha yang telah berteman dengan Winnie sejak kelas satu, di sekolah bergengsi itu tak ada satu pun yang mau berteman dengan Winnie karena latar belakangnya yang seorang anak miskin.


Deborah adalah orang pertama yang mau berteman dengannya, Winnie maklum karena Deborah punya sifat manja dan lemah sehingga ia butuh teman seperti Winnie yang kuat dan pemberani.


"Apanya yang sayang?" tanya Winnie.


"Seharusnya kau terima lamaran itu, setidaknya setelah lulus nanti kau tidak perlu pusing memikirkan biaya kuliahmu," sahut Deborah.


"Astaga.... kau tidak mengenal bagaimana orang-orang itu, setelah lulus aku akan langsung di nikahkan dan di paksa menjadi ibu rumah tangga. Kau tahu kan aku tidak suka terikat," ketus Winnie.


"Ah benar juga, kau lebih memilih mengais sampah menggunakan otak mu daripada makan enak dengan tangan dirantai," balas Deborah.


Winnie hanya tersenyum, Deborah benar-benar tahu sifatnya. Setelah berengkarnasi Winnie benar-benar berbeda dengan Yumna, bagai bulan dan matahari mereka seolah bertolak belakangan.


Memang semenjak hidup sebagai Winnie ia telah meninggalkan semua sifat Yumna yang penurut dan baik, kini ia menjadi Winnie yang tak ragu untuk melawan jika terancam.


"Selamat pagi... " sapa seorang guru memasuki kelas.


Kegaduhan segera berhenti, tapi tak lama kemudian bisikan demi bisikan terdengar ricuh saat seorang murid laki-laki berjalan ikut masuk ke dalam kelas.


"Hari ini kita kedatangan teman baru, silahkan perkenalkan dirimu," perintah guru.


"Namaku Aslan, senang bertemu kalian," ujarnya sambil menundukkan kepala sedikit.


Murid-murid perempuan semakin gaduh mendengar suara Aslan yang serak dan berat.


"Kau bisa duduk di sana! kita akan mulai pelajarannya," ujar guru tersebut sambil menunjuk sebuah bangku kosong tepat di samping Winnie.


Aslan berjalan dengan wajah datar yang membuat Winnie berfikir dia tipe orang pendiam, saat Aslan telah duduk dan mengeluarkan buku Winnie dapat melihat plester yang menempel di tangannya.


Winnie cukup penasaran apa yang membuat tangan pria itu terluka, sadar tengah di perhatikan Aslan menatap Winnie sehingga pandangan mereka bertemu.

__ADS_1


Bukannya memalingkan wajah Winnie malah tetap diam menatap Aslan dengan ekspresi datar, membuat Aslan cukup kaget dan merasa tertantang untuk memberikan tatapan dingin.


Ia mengira Winnie akan takut namun ternyata tidak, Winnie malah mengangkat satu alisnya sebagai sebuah pertanyaan. Itu membuat Aslan segera tertarik padanya, dengan sebuah senyuman penuh arti Aslan melepaskan pandangannya.


Tiba di jam istirahat seperti biasa Winnie ke ruang guru dulu untuk mengumpulkan tugas barulah ia ke kantin bersama Deborah, baru saja mereka menginjakkan kaki di kantin sebuah keributan terjadi.


Penasaran mereka segera melihat apa yang terjadi, di tengah kerumunan itu nampak Aslan berdiri menghadapi Adnan si preman sekolah. Kiprahnya tak perlu diragukan lagi, dari kelas satu Adnan sudah terkenal arogan bahkan kepada seniornya.


Tak ada yang berani membuat masalah dengannya sebab meski dia yang salah tetap akan dia yang menang, ini karena status orang tuanya yang tinggi.


Melihat keadaan itu kini Winnie bertanya-tanya apa yang telah Aslan buat hingga membuat Adnan menatap benci padanya.


"Hei apa yang terjadi?" bisik Deborah kepada orang disampingnya.


"Murid baru itu menyenggol Adnan dan tidak mau minta maaf," sahutnya.


"Astaga... kurasa hari ini dia sedang sial," gumam Winnie.


"Hajar dia!" seru Adnan tiba-tiba.


Tiga anak buah Adnan segera menyerbu, tak disangka dalam hitungan detik itu Aslan dapat mengalahkan ketiganya dengan mudah. Tentu saja itu membuat decak kagum penonton sementara Adnan semakin kesal, tak ingin reputasinya rusak ia segera maju untuk menyerang.


Beberapa pukulan melayang dan mengenai sasaran, membuat senyum Adnan mengembang lebar. Tapi Aslan membalas dengan lebih hebat, ia memberikan pukulan yang langsung membuat hidung Adnan berdarah.


"Berhenti.... berhenti...." teriak seseorang.


Rupanya guru dan beberapa penjaga datang setelah menerima laporan, para murid pun segera memberi jalan agar merka bisa memisahkan Adnan dan Aslan.


"Oh astaga... apa yang kau lakukan?" hardik guru itu melihat bagaimana Adnan tak sadarkan diri dengan bersimbah darah.


"Bawa dia ke ruang guru!" perintah guru itu kepada para penjaga yang memegang Aslan.


Bagai segera kriminal Aslan di apit dan di bawa pergi sementara Adnan yang terluka parah segera di bawa ke rumah sakit.


"Aku berani bertaruh murid baru itu pasti akan segera di keluarkan, huh.. padahal dia baru beberapa jam saja di sini," ujar Deborah berkomentar.


Semua berfikiran yang sama tapi entah mengapa Winnie merasa hal itu tidak akan terjadi, di lihat dari gelagatnya yang masih tenang saat dibawa pergi Winnie menerka ini bukan kali pertama Aslan terlibat masalah seperti ini.


Lagi pula jika dia bisa masuk ke sekolah bergengsi ini dan berani membuat onar di hari pertama bisa di pastikan orangtuanya memiliki status yang setara dengan orangtua Adnan, atau mungkin lebih tinggi lagi.


Prediksi Winnie benar terjadi, hanya selang satu hari saja Aslan kembali masuk seolah tak ada yang terjadi.

__ADS_1


Seketika ia menjadi bintang yang latar belakangnya di buru, semua orang mencari tahu siapa Aslan sebenarnya hingga bisa tetap masuk sekolah tanpa mendapat hukuman.


"Aku sudah tahu," bisik Deborah saat mereka sedang mengganti baju di ruang ganti.


"Apa?" tanya Winnie.


"Aslan, orangtuanya sangat kaya. Aku mendengar gosip ayahnya seorang CEO Asher, pantas saja dia tidak kena hukum sedikit pun."


"Maksudmu perusahaan Asher yang sedang naik daun itu?" tanya Winnie kini penasaran.


"Mm, perusahaan fashion yang menarik anggota Bee sebagai brand ambassadornya," jawab Deborah.


Tak ada yang tak mengenal Asher, bagi kaum elite produknya sedang menjadi tren. Meski belum sekelas dengan Chanel tapi orang-orang sudah memprediksi perusahaan ini memiliki kelasnya sendiri yang tak akan padam.


Bagi pengamat perusahaan ini di puji karena berani mengambil boyband Bee yang sedang naik daun untuk menjadi brand ambassadornya, padahal awalnya Bee akan menandatangani kontrak di perusahaan lain.


"Jika gosip itu benar maka kini kita punya bintang baru," komentar Winnie.


Menutup lokernya Winnie segera bergegas pergi ke lapangan basket, hari ini untuk pelajaran olahraga mereka akan bermain basket.


"Awas.... " seru seseorang tiba-tiba.


Dalam waktu sepersekian detik Winnie dapat melihat bola melayang ke arah Deborah yang berdiri tepat di sampingnya, dengan reflek Winnie merentangkan tangan dan menangkap bola itu.


Ada rasa nyeri di telapak tangannya sebab kekuatan meluncur bola yang cepat, tapi itu tidak masalah.


"Hei! kau mau aku tenggelamkan! bermain dengan benar!" seru Winnie jengkel sambil kembali melempar bolanya.


"Maaf, aku tidak mengira bolanya akan melayang ke arah sana," sahut si pelempar bola.


"Dasar," keluh Winnie masih kesal.


"Kau tidak apa-apa?" lanjutnya menatap Deborah.


Tapi mata Deborah sudah berkaca-kaca dan sedetik kemudian ia pun menangis si bahu Winnie.


"Aah... aku takut... " rengeknya.


"Oh cup cup, bolanya tidak mengenai mu. Kau baik-baik saja," ujar Winnie menenangkan.


Tapi Deborah masih saja menangis, tak ada pilihan Winnie harus membawa Deborah pergi untuk menenangkannya. Tanpa mereka sadari Aslan sedang menatapnya sejak tadi.

__ADS_1


"Bayi dan pengasuhnya," gumam Aslan sambil tersenyum.


__ADS_2