
Memberi serangan selanjutnya Winnie memutuskan untuk mengirimkan bukti perawatan ilegal yang di lakukan Camila kepada Will, tentu saja hal ini membuat Will senang.
Dengan senjata baru ini ia dapat membalas Camila, bukti itu segera ia serahkan kepada polisi.
Tentu saja Camila tak pernah menduga harinya yang cerah tiba-tiba berubah mencekam karena kedatangan polisi ke rumahnya.
"Ibu ada apa ini? kenapa polisi mencari ibu?" tanya Nicki panik.
"Entahlah, ibu juga tidak tahu."
"Camila sebaiknya kita temui dulu petugas itu," saran Brian yang juga penasaran.
Bersama mereka segera menunggu aparat yang sudah menunggu di depan.
"Nyonya Camila Wilson?" tanya salah satu petugas.
"Ya, saya," sahut Camila.
"Bisakah anda ikut kami ke kantor untuk pemeriksaan?" tanyanya.
"Pemeriksaan? atas dasar apa? memang apa yang aku lakukan?" tanya Camila mulai panik.
"Kami membawa surat perintahnya, anda di dakwa bersalah karena telah melakukan perawatan ilegal."
Tak dapat berkata-kata Camila hanya bisa melongo saat kedua aparat itu menggiringnya ke mobil polisi.
"Ibu! ibu... tunggu dulu!" sergah Nicki mencoba menghentikan kepergian ibunya.
"Sayang... tolong aku, aku tidak bersalah. Ini pasti salah paham," pinta Camila dengan memelas.
"Ikutlah dulu, aku akan mencoba yang terbaik untuk segera membebaskan mu," sahut Brian mencoba bersikap tenang.
"Ayah... bagaimana ini?" tanya Nicki yang sudah beruraian air mata.
"Tenanglah nak, ini hanya pemeriksaan," ujar Brian mencoba menenangkan.
Sampai di kantor polisi dengan semua bukti yang ada Camila pun segera di periksa dan melakukan segala macam tes, sementara ia bersifat kooperatif benaknya tak bisa berhenti mengira-ngira siapa yang melaporkannya.
"Aku ingin bertemu pengacaraku," pinta Camila kepada petugas yang berjaga.
"Anda akan segera bertemu dengannya," sahut petugas itu.
Sementara Brian dan Nicki yang ikut menyusul ke kantor tidak ijinkan bertemu dengan Camila apa pun alasannya, hanya pengacaranya saja yang di ijinkan masuk.
Saat melihat pengacaranya Camila segera bangkit dan bertanya "Apa aku akan ditahan?".
" Hasil pemeriksaan akan keluar besok, jika terbukti jelas kau melakukan pelanggaran itu maka kemungkinan kau memang akan di tahan."
"Apa? tidak! aku tidak mau!" seru Camila takut.
__ADS_1
"Tenanglah, untuk saat ini teruslah bersikap baik. Aku akan mencoba mengeluarkan mu," ujar pengacara itu.
"Beritahu Jack, dia pasti bisa mengeluarkan ku dari sini."
"Baik, akan aku lakukan," sahutnya.
......................
Sebagai ahli memata-matai Carl bersikap santai saat masuk kantor polisi meski ia tak memiliki kepentingan apa pun, seperti yang telah mereka diskusikan pasti Camila akan melakukan sesuatu agar bisa bebas. Dan sesuatu inilah yang akan menuntun mereka pada kartu As selanjutnya.
Bruk
"Oh maaf, kau tidak apa-apa?" tanya Carl saat dengan sengaja ia menabrak Nicki.
Nicki mematung saat menatap wajah Carl yang begitu dekatnya, wajah blasteran yang bahkan lebih tampan dari Leo. Menurutnya.
"Oh, aw! kaki ku... " erang Nicki cepat berpura-pura sakit untuk menarik lebih banyak perhatian.
"Sungguh? ayo duduk dulu, hati-hati!" seru Carl sambil memapah Carl ke kursi.
Dengan perlahan ia mengusap kaki Nicki, memeriksanya dengan cukup serius sementara Nicki tak bisa melepaskan pandang dari pangeran baru yang membuatnya seketika lupa pada Leo,
"Apa sakit?" tanya Carl sambil mencoba memijitnya.
"A... ya... sedikit," sahut Nicki tersipu malu.
Dia pun pergi dengan cepat kembali dengan sekaleng soda yang dingin, perlahan ia mengompres pergelangan kaki Nicki dengan benda itu.
Cukup lama sampai rasa dinginnya hilang, selama itu pula Nicki bertanya-tanya siapakah pangeran yang mau berlutut cukup lama untuknya itu.
"Sudah baikan?" tanya Carl.
"Mm, terimakasih."
"Ah syukurlah," ujar Carl bangkit dan menaruh kaleng itu tepat di samping Nicki.
"Kalau begitu sampai jumpa," ucapnya sambil mengangkat tangan kemudian pergi.
Sekali lagi Nicki memandangnya hingga hilang dari pandangannya.
"Ah sial! aku lupa menanyakan namanya," gerutunya begitu sadar.
Mengerutkan bibir kini ia kembali merasa lemas, tapi saat bangkit tanpa sengaja ia menatap kaleng yang di gunakan Carl untuk mengompres kakinya.
Tersenyum Nicki mengambil kaleng itu, untuk pertama kalinya ia berdoa kepada Tuhan agar mereka dapat di pertemukan lagi.
"Nicki! kau dari mana saja?" tanya Brian.
"Maaf, aku hanya mencari udara segar."
__ADS_1
"Begitu, sebaiknya kita pulang dulu. Besok kita datang lagi untuk mendengar keputusan polisi," ujarnya.
"Baiklah," sahut Nicki setuju.
Dalam perjalanan pulang Brian menyempatkan diri untuk menelepon Winnie, sekedar memberitahu apa yang telah terjadi pada Camila.
Di telepon Winnie bersikap baik dengan seolah ikut khawatir dan mengatakan akan pulang, tapi Brian menahannya. Ia pikir itu perlu sebab ini baru penahanan untuk pemeriksaan, ia berjanji akan mengabari lagi besok setelah mereka dapat kabar.
Sementara itu Jack yang diberitahu segera menyuruh pengacara Camila untuk memberi kabar kepada Camila bahwa ia tak perlu khawatir, ia akan mengurus hal ini dengan cepat.
Karena Jack juga melakukan perawatan ilegal itu maka ia sudah memutuskan akan mengorbankan Sara, ia pun meminta Camila untuk memberi kesaksian bahwa ia tak tahu bahwa perawatan ilegal karena Sara tidak menjelaskannya dengan benar.
......................
"Apa lagi yang kau butuhkan?" tanya Sara tajam menatap Nagisa.
"Jangan dingin seperti itu, aku datang justru untuk memperingatkan mu pada salah satu klien mu."
"Apa maksud mu?" tanya Sara penasaran.
"Camila Wilson, aku tahu dia salah satu klien mu yang melakukan perawatan itu. Dia baru saja di tangkap dan aku rasa dalam waktu dekat kau akan ikut di giring," jelasnya.
"Heh, meski dia melaporkannya dia tidak akan memiliki cukup bukti. Aku sudah melakukan antisipasi," sahut Sara.
"Syukurlah kalau begitu, aku hanya takut kau berfikir akulah yang melaporkan mu. Aku bukan orang yang suka ingkar janji jadi ku harap kau mengerti," balas Nagisa.
Ia pun pamit pergi, namun setelah kepergian Nagisa ia mendapat telepon dari asistennya bahwa klinik mereka di grebek polisi dan ketahuan telah melakukan praktek ilegal.
Tentu saja itu membuat Sara syok, dengan cepat ia pun segera pergi ke kliniknya. Saat sampai disana polisi segera menahannya tanpa mau mendengar penjelasan atau pertanyaan, setelah di kantor polisi ia baru di perbolehkan bicara dengan di dampingi pengacaranya.
Sayangnya apa pun yang ia katakan semua bukti sudah jelas dan dia tak bisa meminta keringanan apa pun, bahkan pengacaranya tak bisa berbuat banyak untuk membantunya.
"Panggil insfektur, aku ingin bicara dengannya," pinta Sara di ruang tahanan.
Pengacaranya pun mengangguk dan meminta insfektur untuk menemui Sara.
"Apa bantuan yang ku kirimkan selama ini kurang? bagaimana bisa kau membuat kesalahan sebesar ini?" tanya Sara dingin.
"Maaf nyonya, semua bukti sudah sangat jelas."
"Siapa yang membayarmu?" tanya Sara kaget sebab ia sadar seseorang telah menyuap insfektur itu dengan harga yang lebih tinggi dari yang selama ini berikan.
"Apa Camila?" tebaknya.
"Nyonya Camila terbukti tidak bersalah," sahut insfektur.
"Ah... Jack Patckins, pasti dia kan?" tanya Sara.
Wajah insfektur berubah pucat, ia segera menundukkan kepala dan pergi begitu saja. Membuat Sara semakin yakin bahwa tebakannya benar, memang hanya Jack yang dapat melakukan ini sebab ia lebih kaya dan lebih berpengaruh dari yang lainnya.
__ADS_1