Reinkarnasi Putri Cacat

Reinkarnasi Putri Cacat
Bab 54 Ulang tahun


__ADS_3

Aslan membawanya ke pantai, di malam dengan cahaya bulan yang terang tempat itu seolah memiliki dua langit. Pemandangan yang begitu luar biasa indah tak dapat memalingkan matanya pada hal yang lain.


"Kau selalu tahu apa yang aku suka," ujar Winnie pelan.


"Meski begitu aku masih takut kau tidak puas," sahut Aslan.


Desir angin di pantai yang begitu lembut menyapa Winnie, sementara ombak di lautan lepas itu melambai padanya. Dalam ketenangan terbesit sebuah pikiran kapan keadilan itu akan datang, kapan misinya akan berakhir sehingga jiwa ibunya tenang di alam sana.


Tanpa sadar air matanya mengalir begitu saja, membuat Aslan terkejut.


"Ada apa? kau sakit?" tanyanya cemas.


"Tidak, entah mengapa aku merasa terharu saja," sahutnya berdusta.


"Kau membuatku khawatir," keluh Aslan sembari menghapus air mata itu.


"Tunggu aku, setahun lagi aku akan terus di sampingmu," lanjutnya.


Winnie hanya tersenyum dan mengangguk, puas menikmati indahnya malam Aslan mengajaknya bermalam di hotel terdekat.


"Kau pergilah duluan, aku mau mengambil barang yang ketinggalan di mobil," ujar Aslan setelah mereka mendapatkan kunci.


Winnie mengangguk dan pergi duluan, kamar yang mereka pesan mengarah langsung ke laut sehingga ia mendapat pemandangan yang bagus.


Ceklek


Terdengar pintu yang terbuka, Winnie menengok dan rupanya itu Aslan dengan tas paperbag di tangan. Ia mengeluarkan sebuah kotak dari tas itu dan membukanya, ternyata itu merupakan kue ulangtahun.


"Kapan kau membelinya?" tanya Winnie heran sebab di malam itu ia yakin semua toko kue sudah tutup.


"Tadi siang, aku sengaja menyimpannya agar kita bisa merayakan di tempat yang lebih nyaman. Sebenarnya di pantai tadi sudah nyaman tapi aku mulai mengantuk jadi sebaiknya cari hotel dulu," jelasnya.


Winnie menggelengkan kepala, ia sungguh tak mengerti bagaimana jalan pikir keromantisan Aslan.


"Ayo duduk dan buat permohonan," ujar Aslan.


Winnie menurut, ia menutup mata dan meminta sanga Dewa membantunya mengungkap siapa dalang di balik kematian ibu kandungnya dan meniup lilin.


"Selamat ulang tahun," ucap Aslan mesra.

__ADS_1


"Terimakasih," sahut Winnie.


Potongan pertama kue tentu Winnie berikan pada Aslan, ia menyuapi Aslan yang membuat pemuda itu senang. Kali ini mereka tak bercanda, Winnie membiarkan dirinya di dekap Aslan yang membuatnya nyaman.


Saling diam dalam keheningan mereka bisa merasakan nafas satu sama lain, semakin lama Aslan mulai merasakan kepalanya berdenyut. Irama jantungnya pun semakin cepat saat ia membenamkan wajahnya di leher Winnie.


"Jika kau tidak mau katakan sekarang," bisik Aslan sambil melingkarkan tangannya di perut Winnie.


"Kau tahu aku tidak bisa membantahmu," sahut Winnie.


Aslan tersenyum kegirangan, kepatuhan Winnie tidak berubah sedikit pun. Ia tetap menjadi pelayan dengan dedikasi yang tinggi, menggendong Winnie perlahan Aslan membaringkannya di tempat tidur dan memposisikan dirinya yang di atas.


......................


Sebuah telepon dari Dasim membuat Deborah ngebut hingga sampai di kediamannya dengan cepat, tergesa-gesa ia masuk ke rumah itu dimana Dasim memang sudah menunggu sejak tadi.


"Apa yang kau katakan di telepon itu benar?" tanya Deborah.


"Ya, ini barangnya," ujar Dasim yakin.


Deborah mengambil sebuah berkas yang di berikan Dasim, di dalamnya terdapat informasi seorang wanita bernama Iren. Menurut informasi yang Dasim dapat dialah perawat yang masuk ke kamar Maya saat itu, yang lebih mencengangkan adalah ternyata pria yang menculik Winnie merupakan pacar Iren.


"Informasi ini sangat berharga, terimakasih sudah mau berusaha dengan keras. Sisanya serahkan saja padaku," ujar Deborah.


"Harusnya aku yang berterimakasih, uang yang kau kirimkan bisa aku gunakan untuk pengobatan ibu. Sekarang dia sudah mendapat perawatan yang lebih baik sehingga kesehatannya lebih baik," sahut Dasim.


Deborah tersenyum dan berpamitan, ia tak bisa menunda lagi karena itu ia segera tancap gas menuju kediaman Iren. Namun saat sampai Deborah di buat syok dengan lingkungan yang bobrok dan kejam, di setiap sudut ada preman dengan wajah mengerikan dan bau alkohol.


Merasa terancam nyali Deborah cepat ciut sehingga ia tak memeriksa lebih dalam, ia memang tak bisa berurusan dengan orang-orang seperti itu.


Selama ini ia mendapatkan informasi dengan cara membobol situs keamanan dan mendekati orang-orang elite, itu lebih mudah karena sesuai dengan lingkungannya yang memang terlahir kaya.


Tak ada cara lain Deborah memilih untuk menghubungi Winnie, mendapat perintah untuk datang ke sebuah hotel Deborah yang tak lupa bahwa hari itu adalah hari ulangtahun Winnie dengan sengaja mampir ke toko pakaian untuk menbeli hadiah.


Ia sangat tahu karakter Winnie sehingga mudah mendapatkan pakai yang cocok untuknya, setelah sampai bukannya Winnie namun Aslan yang menyambut kedatangannya.


"Kapan kau datang?" tanyanya kaget.


"Kemarin," sahutnya.

__ADS_1


"Ayo bicara di luar, kebetulan kami belum makan siang," ajaknya.


"Pantas saja Winnie mengajak bertemu di hotel, meski kau sudah mandi aku masih bisa mencium pengantin darimu. Aaah... ini membuatku malu," erang Deborah.


Aslan hanya tertawa kecil, sampai di resto terdekat setelah mereka memesan makanan baru Winnie datang.


"Ini dia bintang utama kita! selamat ulang tahun," seru Deborah menyambut kedatangan Winnie.


"Terimakasih," sahut Winnie.


"Ini untuk mu," ujar Deborah menberikan kado yang telah ia beli.


Mendapat hadiah berupa gaun Winnie kembali mengucapkan terimakasih, warna dan modelnya sangat ia sukai sehingga ia berjanji akan mengenakannya nanti.


"Kalian pasti sudah merayakan ulang tahun berdua, meski begitu aku tetap menuntut perayaan. Kita harus membuat pesta sebab aku yakin orangtua mu juga ingin merayakannya," protes Deborah.


"Entahlah, kau tahu rumah orangtuaku kecil," sahut Winnie.


"Kita bisa menyewa tempat," ujar Deborah.


"Tolong jangan membebani orangtuaku," pinta Winnie yang tahu kalau Fabio dan Jeny akan berusaha keras mendapatkan uang untuk membayarnya.


"Aku akan membayarkannya untuk mu," sahut Deborah.


"Jangan terlalu memaksa, biarkan Winnie mengadakan pesta kecil bersama orangtuanya. Kau bisa datang jika kau mau," ujar Aslan membela.


Deborah mendelik sinis, jika Aslan yang bicara maka dia tak bisa membantah. Obrolan pun beralih ke yang lebih santai, Aslan yang penasaran mulai bertanya tentang pacar baru Deborah.


Itu membuat Deborah malu sehingga banyak mengatakan omong kosong sampai mengalihkan topik pembicaraan, Aslan yang kegirangan semakin menggoda Deborah sampai akhirnya Deborah merajuk.


"Hentikan Aslan!" perintah Winnie yang kasian melihat sahabatnya itu.


"Baiklah, baiklah, aku pergi ke toilet sebentar," ujar Aslan mengalah.


"Aku menemukan perawat yang membawa penculik itu masuk," ujar Deborah pelan setelah beberapa menit kepergian Aslan.


Wajah mereka yang tadinya di penuhi senyum kini mendadak serius.


"Setelah pesta ulang tahun mu selesai periksalah sendiri, akan kirimkan berkasnya padamu. Lingkungan tempat perawat itu berbahaya jadi kau harus hati-hati," lanjutnya.

__ADS_1


"Aku mengerti," sahut Winnie.


__ADS_2