Reinkarnasi Putri Cacat

Reinkarnasi Putri Cacat
Bab 93 Pertempuran Melawan Jack


__ADS_3

Saat mengetahui Jack adalah dalam dari pembunuhan ibunya tentu Winnie merasa syok, tapi yang membuatnya lebih syok adalah saat ia kembali ke kamar hotel seseorang mengirimkan sebuah video padanya.


Rupanya itu adalah video Jack yang mencoba menodai ibunya, entah siapa yang mengirimkan video yang jelas Winnie berterimakasih sebab kini sakit hatinya berubah menjadi rasa haus akan darah Jack.


Itulah mengapa ia menyusun semua rencana ini, ia telah memutuskan akan mengakhirinya. Entah Jack atau dia yang akan pergi ke alam baka duluan, yang jelas perang strategi itu telah berakhir.


"Lalu apa yang akan kau lakukan? membunuhku?" tanya Jack.


"Tentu saja, tapi sebelum itu aku butuh pemanasan," sahutnya.


Winnie kemudian mengeluarkan sebuah senjata api dari balik punggungnya, tanpa ancang-ancang kemudian.


Door..


Aaaaaa...


Satu tembakan melubangi kepala Roman, membuat darah bercampur bau mesiu mengalir di dahinya. Sementara perawat Iren yang menjerit menatap ngeri pada Winnie, apalagi saat Winnie berpaling padanya.


"T-tidak... aku mohon... ampuni aku... " pinta perawat Iren dengan uraian air mata ketakutan.


Winnie tersenyum, sementara Jack diam-diam mencoba menenangkan jantungnya. Ia tak pernah menyangka Winnie dapat membunuh seseorang tanpa ragu, jelas ini menunjukkan bahwa Jack harus serius dalam menghadapi gadis itu.


"Apa kau benar-benar anak Brian dan Maya?" tanya Jack.


"Kenapa?" tanya Winnie.


"Sebab orangtuamu adalah orang baik yang bahkan tidak tega memukul lalat," jawabnya.


Hahahahaha


Tawa Winnie membahana di seluruh sudut ruangan, membuat perawat Iren semakin takut hingga ia sedikit mengeluarkan air kencing.


"Bagaimana jika aku katakan bahwa sebenarnya aku meminjam raga ini untuk menghukummu? apa kau percaya reinkarnasi?" balas Winnie sambil tersenyum.


"Sungguh? apa di kehidupan sebelumnya aku sudah berlaku tidak adil padamu?" tanya Jack.


"Entahlah, dunia ku yang dulu sangat berbeda. Aku pun tidak mengenalmu di kehidupan sebelumnya, tapi itu tidak penting sebab kenyataannya di kehidupan sekarang kau membuat ku tidak beruntung. Anggap saja aku reinkarnasi putri bangsawan yang terlatih untuk menghukum pendosa," ujar Winnie.


"Heh, kalau begitu biar pendosa ini memberi pelajaran duluan!" seru Jack.


Dooor...


Satu tembakan terarah kepada Winnie, namun Winnie berhasil selamat sebab berlindung dibalik tubuh perawat Iren. Ia sudah memperkirakan Jack akan membawa senjata oleh karena itu ia juga membawa senjata dan terus waspada.


"Cih! sialan!" gerutu Jack.


Ia berjalan memutar untuk kembali menembak Winnie, tapi Winnie berhasil lolos dan sembunyi di tempat lain. Dari balik tembok Winnie membalas serangan itu sehingga adu tembak pun terjadi, reflek Jack yang kurang membuatnya hampir meregang nyawa saat peluru Winnie mengenai tembok di dekat kepalanya.


Dengan cepat ia sembunyi, mengatur nafas dan menghitung peluru yang masih tersisa. Sialnya ia hanya membawa satu senjata sebab ia kira akan mudah menangani gadis yang baru beranjak dewasa, kini keadaannya tidak menguntungkan.


Sebaliknya Winnie pun ternyata kehabisan peluru, tak ada senjata lain ia memutuskan untuk mengendap-endap mendekati Jack dengan mengitari ruangan.


Saat sudah cukup dekat ia pun menyergap Jack dengan memukul kepalanya dengan tongkat.

__ADS_1


"Arrrggghhh..." erang Jack.


Pukulan keras itu membuatnya terhuyung ke belakang, karena kehilangan keseimbangan dengan mudah Winnie memukul tangannya hingga pistol itu terlepas.


Kemudian ia menendang pistol itu menjauh sehingga perkelahian dengan tangan kosong pun menjadi pilihan, meski tak sekuat Aslan atau pun Carl tapi Winnie cukup tahu cara berkelahi yang benar.


Ia menyerang setiap titik kelemahan Jack seperti hidung, mata, pinggang dan alat ********.


Mendapat serangan bertubi-tubi tentu saja membuat Jack cepat ambruk, terlebih kemudian Winnie mengambil batang kayu lagi dan memukul Jack tepat di bagian kepala.


Darah mengalir dari luka sobekan di kepala, membuat Jack benar-benar kalah dalam pertarungan yang hanya delapan menit saja.


"Apa kau selemah ini? atau aku yang terlalu kuat?" tanya Winnie.


Ia pikir akan sulit menghabisi Jack, tapi ternyata cukup mudah. Mungkin karena Jack sudah cukup tua meski usianya baru setengah abad, apa pun itu ia bersyukur dirinya yang menang.


Buk


"Arghh!"


"Ini untuk kematian ibuku," ujar Winnie memberi satu pukulan di tubuh Jack yang sudah terkapar.


Buk


"Uh," erang Jack dengan kesadaran yang menipis.


"Ini untuk Winnie yang di culik."


Buk


Buk


"Ini untuk kesedihan nenek ku."


Buk


"Ini perwakilan Aslan."


Buk


"Ini perwakilan Carl."


Buk


"Ini perwakilan Deborah."


Buk


"Dan ini perwakilan Nagisa."


Terengah Winnie berhenti memukul, tubuh Jack sudah berhenti bergerak entah di pukulan keberapa.


"Hei! apa kau sudah mati?" tanya Winnie sambil menggoyangkan tubuh Jack dengan ujung kayu.

__ADS_1


Tak ada respon, tak ada gerakan. Winnie pun membuang batang kayunya, kini ia terduduk karena lelah. Sambil mengatur nafas ia menikmati sensasi membalas dendam yang rupanya memuaskan tapi tak merubah apa pun dalam hidupnya, Maya tetap tak kembali.


Door...


Sebuah suara tembakan tiba-tiba terdengar, Winnie menengok ke belakang dan mendapati Jack sudah berada di ujung ruangan dengan pistol ditangan meski dalam keadaan sekarat.


Sementara tubuh seorang pria yang melindunginya terkapar di lantai, perlahan Winnie beringsut mendekati tubuh pria itu.


"Leo... apa yang kau lakukan?" tanya Winnie kaget.


Ia melihat luka tembakan tepat di dada Leo, dengan cepat ia pun mencari kain dan menutup luka itu agar menahan darah yang terus mengalir keluar.


Sementara Jack yang kaget melihat senjatanya mengenai Leo hanya bisa pasrah, tubuhnya terlalu lemah karena menerima banyak luka fatal sehingga tak bisa mendekati Leo.


Bahkan ia tak bisa mengakhiri hidupnya sendiri karena peluru dalam pistol itu telah habis, dengan sisa tenaga yang telah ia pakai untuk merayap mengambil pistol dan menembak yang bisa ia lakukan hanya menghitung waktu sambil menunggu kematiannya.


"Bertahanlah," pinta Winnie.


Prioritas utamanya adalah keselamatan Leo, melihat keadaan Jack sekilas ia sudah tahu pria itu tak sanggup melukai mereka lagi. Juga tak ada waktu untuk bertanya mengapa Leo bisa berada di sana dan melindunginya.


"Yumna.... akhirnya... aku melindungi mu," ujar Leo pelan.


Winnie tertegun, fokusnya saat menekan kain pada luka tembak hilang seketika saat namanya di sebut.


Ia pun menatap Leo dengan penuh tanda tanya, sementara Leo mengangkat tangan untuk mengelus pipi Winnie.


"Kau masih cantik meski dengan wajah yang berbeda, Yumna... sejak lama aku tahu... itu adalah kau," ujarnya lagi.


"Bagaimana... mungkin?" tanya Winnie pelan.


"Apakah... kau sudah lupa padaku? padahal wajahku tidak berubah..." sahutnya sambil tersenyum.


"Pangeran... " panggil Winnie akhirnya.


Air mata seketika mengalir deras, ia tak pernah menyangka ternyata Leo benar-benar adalah pangeran mahkotanya.


Pelukan erat segera Winnie berikan untuk mencurahkan segala rasa yang bercampur aduk, sementara Leo hanya bisa tersenyum menikmati kehangatan yang selalu inginkan dari calon permaisurinya.


"Kenapa? kenapa kau tidak pernah memberitahuku?" tanya Winnie.


"Aku... sempat tidak yakin... tapi setelah mendengar pengakuan mu pada ayah.. aku tahu itu kau, Yumna... aku minta maaf. Bantuan ku terlalu kecil untuk membalaskan kematian ibumu," jawabnya.


"Kau... tahu kalau Jack dalangnya?" tanya Winnie memastikan.


"Sudah sejak lama, bahkan sebelum pertemuan pertama kita."


"Telepon misterius itu, lalu kiriman video. Itu adalah kau," ujar Winnie menyadarinya.


Kini Leo memegang tangan Winnie setelah ia menghapus air mata di pipi gadis itu, bibirnya menyunggingkan senyum.


"Sepertinya... dalam kehidupan mana pun kita tidak ditakdirkan bersama, meski begitu... aku tetap mencintaimu. Bagaimana pun wajahmu atau siapa pun namamu," ujar Leo.


"Pangeran," panggil Winnie lirih.

__ADS_1


__ADS_2