Reinkarnasi Putri Cacat

Reinkarnasi Putri Cacat
Bab 67 Dikejar Para Preman


__ADS_3

Karena pekerjaan yang sudah menunggu mereka mengakhiri makan siang dengan cepat, ingin melihat bagaimana Winnie berakting Leo berencana ikut ke lokasi syuting.


"Maaf tapi rasanya kau tidak bisa ikut kami, film ini masih dalam tahap pembuatan promosi. Apalagi setelah insiden kemarin kami tak bisa membiarkan orang asing masuk," cegah Bram agar kedekatannya dengan Winnie tak terganggu.


"Tapi menurut ku Leo tidak masalah, perusahaan yang menaungi film kami adalah om Will. Kau pasti mengenalnya karena dia teman main golf bersama ayahmu," ujar Winnie.


"Oh kalau om Will aku tinggal menelponnya saja," sahut Leo senang.


Bram tak menyangka ternyata pemuda yang dekat dengan ingin dekat juga dengan produser, jika seperti ini ia akan kalah saing.


Tak bisa menahan niat Leo lagi akhirnya mereka kembali bersama ke lokasi, beberapa menit kemudian syuting kembali di mulai.


Leo benar-benar terpukau akan kehebatan akting Winnie, ia sudah seperti bintang profesional.


"Ini," ujar Leo menyodorkan sebotol air minum setelah Winnie kembali untuk beristirahat.


"Terimakasih," sahut Winnie.


"Aku baru tahu kalau kau jago berakting," ucap Leo.


"Pak Sutradara mengarahkan ku dengan tepat, setiap perintahnya mudah di pahami. Lagi pula menghapal skenario sama saja dengan menghapal pelajaran saat sekolah," jawabnya.


Leo tersenyum, Winnie memang pintar sehingga ia mudah menangkap apa pun. Tapi sebagai gadis kepekaannya kurang, sampai sekarang Winnie masih belum sadar juga bahwa ia menyukainya.


Ia berani bertaruh Winnie juga tidak sadar bahwa Bram menyukainya, bisa di lihat dari cara Winnie bersikap.


"Ada pesta di rumah Marito nanti malam, apa kau mau ikut?" tanya Leo.


"Entahlah, besok aku libur syuting tapi ada rencana lain."


"Begitu ya," ujar Leo sedikit kecewa.


......................


Tak pernah ia sangka bekerja sebagai asisten Winnie akan membosankan seperti ini, pekerjaannya menemani kemana pun Winnie pergi. Paling ia hanya di suruh mengambilkan minum atau makanan, sisanya menjadi kambing conge.


Rupanya jika di bandingkan ia lebih senang memata-matai seseorang, setelah syuting selesai ia mengabari Deborah untuk bertemu di apartemen.


Ia ingin mendiskusikan sampai mana mereka ke titik terang, sayangnya Deborah belum menemukan hal lainnya. Berjalan mendekati foto-foto itu Nagisa memperhatikan setiap gambar, sampai ia terpaku pada foto supir taksi yang sudah meninggal.


"Ada apa?" tanya Deborah melihat raut wajah Nagisa yang berkerut.


"Rasanya aku pernah melihatnya," ujarnya.


"Mana mungkin, dia sudah meninggal lama sekali," sahut Deborah.


Tapi Nagisa tetap menatapnya sampai ia ingat sesuatu.

__ADS_1


"Benar! tato yang ada di tangan pria itu mirip dengan tato kakek Peter," serunya.


"Apa?" tanya Deborah.


"Ada seorang kakek bernama Peter yang cukup misterius, bukan sikapnya tapi kekayaannya. Dia seorang pengangguran tapi memiliki banyak uang, ada yang bilang itu kiriman dari anaknya. Tapi setelah di cek dia bahkan tidak pernah menikah," jelas Nagisa.


Deborah mulai memperhatikan tato yang di miliki supir itu.


"Apa kau yakin itu tato yang sama?" tanya Deborah memastikan.


"Semua orang bisa membuat tato di tangan kiri mereka, tapi apa kau lihat titik hitam tepat di dekat ekor ular itu? kakek bernama Peter itu memilikinya juga," jawab Nagisa yakin.


"Kalau begitu berikan aku alamatnya, akan ku periksa sekarang juga."


"Aku ikut dengan mu," sahut Nagisa.


"Tidak!" sergah Deborah.


Winnie sudah menceritakan kecelakaan yang menimpanya di lokasi syuting, mulai hari itu ia menyuruh Deborah untuk jangan melibatkan Nagisa pada pekerjaan yang terlalu berbahaya.


"Bukankah kau harus belajar? ingat kau tidak boleh mengesampingkan tugas utama mu sebagai pelajar," ujarnya.


Deborah bukanlah sosok yang ditakuti, bahkan saat menasehati suara Deborah sangat imut hingga membuatnya ingin tertawa.


Tapi ia menghargai seseorang yang lebih tua darinya, terlebih Deborah sangat perhatian dan baik. Maka ia pun tetap diam di apartemen dan belajar sementara Deborah pergi.


......................


"Ya tuan ku," sahutnya.


Tuan itu bertanya bagaimana perkembangan pekerjaannya.


"Gadis itu pergi meninggalkan apartemen, aku tidak tahu kemana tujuannya tapi sedang ku ikuti. Jika ada sesuatu akan kuhubungi lagi," sahutnya.


Telepon pun di tutup.


"Ini akan semakin menarik," gumamnya dengan seringai.


......................


Deborah menghentikan mobilnya, ia sudah berada di daerah dalam alamat yang diberikan Nagisa. Dari sana ia mengenakan jaket dan topi untuk menutupi wajah dan berjalan menyusuri gang, tempatnya memang sedikit kumuh seperti yang di katakan Nagisa.


Tak ada yang perlu dia khawatirkan asalkan tidak terlibat dengan penduduk sekitar, menurut keterangan Nagisa wilayah itu banyak di huni preman yang mudah marah.


Menatap satu persatu bangunan Deborah mencari dimana kakek bernama Peter tinggal tanpa bertanya, terus menyusuri jalan kecil akhirnya ia menemukan kakek Peter tengah duduk di teras rumah sambil mengisap rokok.


Diam membatu Deborah mencoba fokus pada tangan kiri si kakek untuk melihat tato yang ia miliki, ternyata Nagisa benar. Kakek itu memiliki tato yang sama dengan si supir, menemukan fakta mengejutkan Deborah segera berbalik untuk melapor pada Winnie.

__ADS_1


Tapi sialnya saat ia berbalik dan baru melangkah seseorang menabraknya hingga terjatuh.


"****! berani sekali kau menabrak ku!" hardik pria besar yang bertelanjang dada.


Deborah hendak minta maaf tapi melihat pria itu bersama teman-temannya yang berwajah seram hilang sudah kata dalam tenggorakannya.


"Hei bukannya minta maaf kau malah menatap kami, berani sekali!" hardik salah satunya.


Saat sadar Deborah melirik ke belakang dan mendapati kakek Peter tengah menatap penasaran ke arahnya, tanpa pikir panjang Deborah segera bangkit dan mengambil langkah seribu.


"Hei dia kabur! cepat kejar!" seru pria itu.


Drap Drap Drap Drap Drap


Hhhhh Hhhhh Hhhhh


Tak berani menengok ke belakang Deborah terus saja berlari, tak peduli meski kakinya tersandung dan terasa nyeri.


Suara langkah kaki yang cepat mengejarnya semakin membuat jantungnya berdebar ketakutan, tiba di persimpangan jalan pikirannya yang buntu bingung memilih jalan mana yang harus ia lewati tiba-tiba.


Aaahhh...


Seseorang menarik tangannya, mendorong tubuhnya ke tembok dan mengecupnya.


"Tetap fokus," ujar pria itu.


Saat mendengar suara para pria yang mengejarnya Deborah segera menutup mata dengan takut dan berdoa dalam hati, sementara pria itu kembali mengecupnya.


......................


Ia tak menyangka Deborah akan di kejar banyak pria, saat ini nyawa gadis itu dalam bahaya maka ia harus cepat membantunya jika tidak tuannya akan marah.


Di persimpangan jalan di tariknya tangan Deborah dan di dorongnya ke tembok untuk mengecupnya, saat ini hanya ini cara agar mereka bisa selamat.


Setelah menyuruh Deborah fokus ia kembali mengecup gadis itu sambil membuka topi yang di kenakan Deborah dan menggerai rambutnya, ia juga membukakan jaket gadis itu dan mengikatnya di pinggang tanpa melepaskan bibirnya yang termangut.


"Ah sial! hanya orang sedang pacaran," gerutu preman yang memimpin pengejaran saat melihat mereka.


"Kita berpencar!" serunya memberi perintah.


Para preman itu kembali berlari ke segala arah, setelah situasi cukup hening ia baru melepaskan Deborah.


Tapi Deborah masih menutup mata, nafasnya yang tak beraturan membuat dadanya kembang kempis. Entah mengapa dalam kondisi itu kejantanannya terbangun seketika, wajah manis Deborah dan bibirnya yang bergetar membuatnya panas dan penasaran sampai ia kembali memberi kecupan.


Tapi kali ini hanya kecupan ringan untuk merasakan seberapa besar ia dapat menikmati.


"Kita sudah aman," ujarnya setelah melepaskan Deborah.

__ADS_1


Perlahan Deborah membuka mata, tapi melihat pria yang berdiri tepat di hadapannya membuatnya kaget hingga syok. Dengan susah payah ia menelan ludah, matanya yang menyorot tak dapat membohongi perasaan takut di hatinya yang melebihi saat di kejar para preman tadi.


"Sepertinya aku lebih menyeramkan dari para preman itu ya," ujarnya sadar akan tatapan mengerikan Deborah.


__ADS_2