
Satu tahun telah berlalu dengan begitu cepat, Winnie baru saja menyelesaikan kuliahnya dan langsung masuk ke perusahaan dengan memegang posisi sekertaris pemasaran.
Meski ia adalah anak Brian yang akan mewarisi perusahaan tapi sama sekali ia tak ingin langsung lompat memegang tanggungjawab besar, ia ingin memulai semuanya dari bawah untuk memperluas ilmunya.
Selama setahun yang damai itu Brian tetap mengunjungi Camila dan Nicki untuk mencukupi kebutuhan mereka, Winnie tak begitu peduli sebab ia merasa kasian pada Brian yang hanya karena bercerai saja sudah membuatnya galau.
Berjalan cepat menuju parkiran ini adalah hari penting dimana setahun sudah ia menjalin hubungan jarak jauh dengan Aslan, selama setahun mereka benar-benar fokus pada cita-cita masing-masing sehingga hari dimana Aslan pulang menjadi hari yang paling dinantikan.
Sampai di bandara ketiga temannya yang lain sudah menunggu, lama berpisah membuat mereka juga ingin segera bertemu dengan Aslan.
"Kau lama sekali," omel Deborah menatap kedatangan Winnie.
"Maaf, tadi ada pekerjaan yang tidak bisa ditunda."
"Ternyata waktu berjalan dengan cepat ya, padahal aku menantikan tuan ku pulang setiap hari. Tapi saat hari ini tiba rasanya cepat juga," ujar Carl.
"Mm, entah mengapa tiba-tiba aku jadi teringat setelah kita lulus SMU. Saat itu bukankah kau mengantar kepergian Aslan ke luar negri?" tanya Deborah mencoba mengingat.
"Ya," sahut Winnie.
"Oh itu kak Aslan!" seru Nagisa.
Mereka menengok dan menemukan Aslan berjalan sambil menarik kopernya, senyum mengembang diwajah tampannya.
"Hai semuanya! ah..senang akhirnya bisa pulang, " sapa Aslan.
"Aslan! kau terlihat sangat berwibawa, aahh.... aku sampai lupa sejenak kalau dulu kau adalah berandalan sekolah," komentar Deborah sambil menatap dari ujung kaki sampai ujung kepala.
Semua hanya tersenyum setuju sementara Carl kali ini merasa tidak sependapat, memang Aslan terlihat lebih berwibawa tapi entah mengapa ia tak senang mendengar pujian itu.
"Kalau begitu ayo pulang! aku sudah memasak banyak makanan untuk menyambut kepulangan kakak," ajak Nagisa.
Mereka mengangguk dan segera masuk ke dalam mobil, Aslan ikut bersama Winnie sementara yang lain dalam satu mobil yang dibawa Carl.
"Mereka lebih antusias dari pada aku, Nagisa sudah memasak banyak makanan sementara kau tahu Deborah bahkan merancang banyak acara penyambutan. Tapi pada akhirnya Carl menolak semua karena terlalu merepotkan," ujar Winnie bercerita.
"Aku merasa terharu," sahut Aslan.
"Bagaimana dengan orangtua mu? kau sudah memberitahu mereka?" tanyanya.
"Ya, aku bilang akan pulang ke rumah besok."
"Baguslah," jawab Winnie.
Sampai di apartemen mereka segera masuk dan berpesta, meski cukup lelah dari perjalanan jauh tapi Aslan menikmati pesta penyambutannya.
"Oh sudah jam segini, aku harus menjemput ibu!" ujar Nagisa saat melirik jam tangan.
Ia segera bangkit dan berpamitan untuk pulang lebih dulu, tinggallah empat sekawan yang masih menikmati anggur mereka.
__ADS_1
"Bagaimana dengan pekerjaanmu? apakah sulit bekerja di jasa asuransi?" tanya Aslan sambil menuang anggur ke gelasnya.
"Lumayan, untung aku bukan bagian seles-man. Itu lebih merepotkan bagiku," sahutnya.
"Kau memang tidak punya bakat di bidang itu," ujar Carl.
"Kau lebih tidak masuk akal dengan pekerjaan mu, aku benar-benar tidak bisa membayangkan bagaimana kau bekerja," timpal Winnie.
"Kenapa? menjadi pengacara itu hebat," balas Carl.
"Benar, bukankah ayahmu memiliki perusahaan? kenapa kau malah menjadi pengacara?" tanya pula Aslan.
"Itu karena aku tidak ingin bersaing dengan kakak ku, memang ayah lebih berharap banyak padaku tapi dia bisa memahami saat aku menjelaskan dengan perlahan. Toh aku juga menjadi pengacara demi perusahaan juga," sahutnya.
"Bagaimana dengan ku sendiri?" tanya Deborah kepada Aslan.
"Dua minggu lagi aku harus terbang ke turki untuk pekerjaan pertama ku sebagai arsitek, tentu saja aku juga membuat kesepakatan ganda yang menyangkut perusahaan keluarga."
"Wow! kau benar-benar mencapai dua pulau dengan satu dayungan," ujar Deborah kagum.
Obrolan terus berlanjut, sambil mendengarkan Deborah mengambil pisau untuk mengupas apel. Tapi ia terlalu teledor sampai tangannya sendiri ikut teriris.
"Kenapa kau tidak hati-hati!" hardik Carl.
Dengan panik ia segera menarik jari Deborah yang terluka dan membalutkan tisu untuk membersihkan darahnya, sementara Deborah meringis kemudian Carl menempelkan plester.
"Sudah, tidak apa. Biar aku yang teruskan," ujar Carl mengambil alih pekerjaannya Deborah.
Aslan dan Winnie saling menatap dan bicara lewat mata mereka, pertemanan yang sudah terjalin cukup lama membuat mereka dapat membaca gestur tubuh masing-masing.
"Ah akan ku ambil piringnya," ucap Deborah sambil bangkit dan pergi ke dapur.
Carl mengangguk dan sempat menatap kepergian Deborah, begitu sadar sedang diawasi Aslan dan Winnie ia segera menundukkan kepala dengan salah tingkah.
"Tolong katakan bahwa apa yang ku pikirkan ini salah," ujar Winnie.
"Memang apa yang kau pikirkan?" tanya Carl pura-pura bodoh.
"Terkadang wanita mengejar yang bukan miliknya tanpa sadar bahwa dia pusat dari seseorang, karena itu aku yang orang lain ini bisa melihat jelas bahwa Deborah sedang menjadi titik pusat itu."
"Aaaahhh.....apa kau selalu ikut campur dalam masalah pribadinya?" tanya Carl kesal.
"Aku pernah melakukan satu kesalahan untuk Deborah padahal maksud ku baik, aku bersyukur saat itu kau menolongnya. Tapi bukan berarti aku juga akan memberi lampu hijau untuk mu," balasnya.
Ada satu ketakutan yang membuat Winnie cukup protektif pada Deborah, itu merupakan kesalahan fatalnya sehingga trauma bukan hanya terjadi pada Deborah tapi padanya juga.
"Walaupun aku pernah mencoba menghabisi mu tapi meski enggan ku akui kita berada di kubu yang sama, aku tidak akan menyakiti bayi mu," ujar Carl.
"Aku harap begitu," sahut Winnie.
__ADS_1
"Ini piringnya!" ujar Deborah sambil menyimpannya di atas meja.
Ekspresi mereka yang awalnya keras berubah lembut karena kedatangan Deborah, obrolan santai kembali berlangsung sampai malam.
......................
Ting Tong
Bel rumah yang sudah berbunyi tiga kali itu akhirnya membuat langkah Camila semakin di percepat menuju pintu.
Ceklek
"Kau... " gumam Camila kaget melihat tamu yang datang ke rumahnya.
"Hai Camila, bagaimana kabarmu?" tanya Diana.
"Baik, silahkan masuk," jawab Camila.
Diana masuk dan menatap rumah sederhana itu, agak aneh baginya Camila dapat tinggal disana sementara yang ia tahu Camila selalu hidup glamor.
"Sudah lama kita tidak bertemu, semenjak kepergian suami dan anak ku terakhir yang kudengar kau sudah bercerai dengan Brian. Rupanya cukup sulit menemukan mu setelah itu," ucapnya.
Camila tak menyahut, ia memang sengaja menyembunyikan diri karena tak ingin terlibat dalam masalah apa pun lagi. Tentu saja karena ia juga takut pada Winnie.
"Aku membawakan sesuatu untuk mu, semoga kau suka."
Diana kemudian mengeluarkan sebuah kotak perhiasan berwarna hitam, begitu Camila melihatnya ia tahu harga perhiasan itu tidaklah murah.
"I-ini untuk ku?" tanya Camila tergagap.
"Kita sudah berteman sejak lama, anggap ini hadiah pertemanan yang tak boleh putus."
Mendengarnya membuat Camila seketika takut untuk menyentuh perhiasan itu, di balik wajah keibuan Diana ia tahu wanita itu cukup berbahaya.
"Apa... yang bisa aku lakukan untuk mu?" tanya Camila hati-hati.
"Aku senang kau cepat mengerti," sahut Diana sembari tersenyum.
Kemudian dia mendekatkan diri kepada Camila.
"Katakan padaku siapa yang menghabisi keluarga ku!" bisik Diana.
Camila tertegun, ia cukup tahu Diana sangat menyayangi keluarganya dan akan melakukan apa pun untuk mereka. Saat Jack dan Leo mati sudah pasti Diana tidak akan tinggal, berfikir keras Camila menimbang apakah dia harus mengatakan yang sebenarnya.
"Jika aku katakan, apakah kau akan menjamin keselamatan ku?" tanya Camila.
"Tentu saja, bukankah perhiasan ini cukup untuk memberitahumu bahwa aku bisa melakukan apa saja?" balas Diana.
Menelan ludah pada akhirnya Camila memutuskan untuk mengambil resiko.
__ADS_1
"Winnie, dia hanya gadis biasa yang bisa merebut hatimu dengan ucapan manisnya. Begitu juga dengan Jack dan Leo," sahutnya pelan.
Dia menatap tajam, mengantongi satu nama sudah cukup baginya.