Reinkarnasi Putri Cacat

Reinkarnasi Putri Cacat
Bab 41 Seikat Bunga


__ADS_3

Kekesalan yang merajai hatinya membuat Nicki malah melakukan segala hal, oleh sebab itu seharian ia hanya diam di rumah bermalas-malasan.


Bermain gadget di ruang tengah sambil menikmati jus jeruk yang segar.


"Permisi nona, ada tuan Ashar datang bertamu," ujar pelayan melaporkan.


"Ashar? tumben sekali dia datang ke rumahku," gumam Nicki heran.


Meninggalkan gadgetnya di sofa ia bangkit dan pergi ke depan untuk menyambut, melihat Ashar berdiri dengan seikat bunga tentu membuatnya lebih heran lagi.


"Kau mencari siapa?" tanya Nicki.


"Ah... aku berniat menberikan bunga ini pada Winnie, tapi katanya dia tidak di rumah ya. Sayang sekali," ujarnya nampak kecewa.


"Atas dasar apa kau memberinya bunga? dia kan tidak ulan tahun," tanya Nicki lagi tak mengerti.


"Memangnya tidak boleh? bunga ini sangat cantik seperti wajahnya, aku ingin melihat senyumnya saat dia menerima bunga pemberianku," ujar Ashar sembari mengisap bunga itu.


Kini Nicki baru sadar bahwa ada ketertarikan khusus dari Ashar, pria yang terkenal playboy itu jika disandingkan dengan Winnie maka ia bisa bebas mendekati Leo.


"Oh kau baik sekali, biar aku yang sampaikan bunga itu padanya," tawar Nicki.


"Baiklah, sampaikan juga salam ku untuk nya ya!" pinta Ashar.


"Tentu saja," sahut Nicki.


Setelah mengantar kepergian Ashar hingga depan pintu Nicki masuk sembari sesekali mencium aroma bunga yang harum, hingga terbesit sebuah ide cemerlang untuk memberi pelajaran pada Winnie.


Diam-diam Nicki menaburkan bubuk gatal pada seluruh bunga itu, saat nanti Winnie menciumnya ia bisa membayangkan gatal di seluruh wajah Winnie yang kemudian akan menghancurkan wajah cantiknya.


Setelah selesai dengan tak sabar ia menunggu kepulangan Winnie, sungguh terasa lama sebab ia sudah tak sabar menonton pertunjukan yang ia buat sendiri.


"Aku pulang!" seru Winnie yang membuat Nicki terlonjat dari tempat duduknya.


"Eh Winnie, selamat datang!" sambutnya.

__ADS_1


"Mana ibu?" tanya Winnie sebab ia ingat harus menyapa.


"Sedang pergi ke rumah temannya," sahut Nicki.


"Oh baiklah, aku mau masuk ke kamarku dulu."


"Eh Winnie tunggu!" sergah Nicki menghentikan langkahnya.


"Tadi Ashar datang kemari, dia menitipkan bunga ini untuk mu," ujarnya sambil menyerahkan bunga itu.


Melihat senyum aneh di wajah Nicki tentu membuatnya penasaran, tentu selain bunga yang di kirim Ashar. Dengan ragu Winnie mengambil bunga itu, perlahan ia memperhatikan bunga itu yang memang nampak nomal bahkan indah.


"Dia sangat baik ya, kau juga pasti menyadarinya. Ashar itu pemuda yang tidak hanya tampan tapi juga di populer dikalangan gadis-gadis, kau sangat beruntung mendapatkan perhatian darinya," ujar Nicki.


"Terimakasih, jika kau mau kau bisa mendapatkan bunga ini," tawar Winnie.


"Eh tidak! i-itu kan bunga untuk mu," tolak Nicki dengan cepat.


Kegugupannya saat Winnie menyodorkan bunga itu terlalu janggal, seolah ada yang sedang di sembunyikan. Mengerti sebuah permainan baru di mulai Winnie memutuskan untuk ikut.


Saat makan malam tiba baru Winnie keluar dan bergabung dengan yang lain di meja makan, Nicki yang sudah memperkirakan efek bubuk gatal mulai bekerja tak bisa berhenti menatap Winnie.


Tentu Winnie sadar akan tatapan itu, ia yang merasa tak nyaman sesekali mengusap lehernya.


"Kau kenapa?" tanya Brian melihat Winnie tidak makan dengan baik.


"Tidak, hanya saja rasanya wajahku terasa aneh. Mungkin karena kelelahan jadi terasa kaku," sahut Winnie.


"Kalau begitu malam ini cepatlah tidur," perintah Brian.


"Baik ayah," sahut Winnie.


Selesai makan malam Winnie kembali ke kamarnya, mengambil ponsel ia menemukan sebuah pesan dari Aslan yang berterimakasih atas obat yang telah ia kirimkan.


Obat itu sangat manjur sebab kini flunya sudah sembuh, mengetahui hal itu tentu Winnie sangat bersyukur. Beberapa saat mereka saling bertukar pesan, meski hanya lewat tulisan tapi Winnie bisa melihat bagaimana ekspresi Aslan yang membuatnya tertawa kecil.

__ADS_1


Sementara Winnie beriang gembira dikamar yang lain pun Nicki tak bisa berhenti tertawa, ia sudah menyaksikan efek bubuk gatal yang ia tabur sudah bekerja. Esok pagi Winnie pasti bangun dengan wajah bengkak dan kehilangan kepercayaan diri, begitu puas hati Nicki memikirkannya sampai ia memutuskan untuk cepat tidur agar besok bisa bangun pagi dalam keadaan segar.


Rencananya memang seperti itu, tapi esok paginya Nicki merasa sulit untuk membuka mata. Seolah ada sesuatu yang menghalangi pandangannya, mengucek matanya ia justru merasakan wajahnya mengeras.


Heran dan penasaran ia bangkit dari tempat tidur dan segera pergi ke kamar mandi untuk mencuci muka, tapi saat ia mengangkat kepala dan melihat pantula wajahnya di cermin.


Aaaaaaaaaa......


Jeritannya sangat nyaring sampai semua penghuni rumah kaget, cemas mendengar suara Nicki Camila cepat berlari menuju kamarnya. Di susul dengan Brian dan Winnie tepat di belakangnya, beberapa pelayan juga ikut menghampiri takut sesuatu yang buruk menimpanya.


"Nicki! ada apa?" tanya Camila sambil menerobos masuk ke dalam kamar Nicki.


Melihat putrinya menangis di kamar mandi sambil menutup wajah tentu Camila semakin di buat cemas, segera ia pun menghampiri bersama Brian sementara Winnie dan para pelayan menunggu di depan pintu kamar mandi.


"Kenapa? ada apa? katakan pada ibu!" perintah Camila.


"Ibu... Hu... Hu... " panggil Nicki tersedu.


Perlahan ia membuka tangan yang menutup wajahnya, saat itulah mereka semua kaget melihat wajah Nicki yang bengkak.


"Nicki? apa yang terjadi dengan wajahmu?" tanya Camila.


"Aku tidak tahu, saat bangun tiba-tiba wajahku sudah begini. Bagaimana ini ibu? Hu... Hu... " sahut Nicki masih tersedu.


Entah Camila harus menjawab apa ia pun tak tahu, ia hanya menatap kebingungan sementara para pelayan diam-diam menahan senyum. Tak kuasa melihat wajah Nicki yang lucu sebab bengkak seperti bonek porselen dengan pipi gembul dan merah.


"Mungkin alergi, apa Nicki alergi terhadap sesuatu?" tanya Winnie.


"Tidak, aku tidak memiliki alergi terhadap apa pun!" sahut Nicki kesal.


Saat melihat wajah Winnie yang masih cantik seperti biasanya tentu ia keheranan, sebab harusnya Winnie yang mengalami hal ini.


Tentu saja tanpa sepengetahuan Nicki sebenarnya Winnie tahu bunga itu telah di beri bubuk gatal, itu karena Winnie melihat ada bercak putih-putih di seluruh kelopak bunga jika di perhatikan lebih seksama lagi.


Saat Winnie mencoba menyentuhnya pun semakin lama ia merasa gatal pada tangannya dan mulai timbul ruam, mengerti taktik Nicki tentu Winnie membalasnya dengan menaburkan bubuk gatal di bantal Nicki secara diam-diam.

__ADS_1


Sementara bunga pemberian Ashar itu ia buang pada akhirnya permainan itu Winnielah yang keluar sebagai pemenang, kini Nicki sudah menunjukkan kebusukannya maka Winnie pun tak akan segan untuk memberi pelajaran.


__ADS_2