
Mendengar penjelasan Deborah membuatnya tak habis pikir, tentu saja karena Carl adalah musuh mereka. Namun terlepas dari hal itu ia merasa bersyukur karena Carl telah menolong Deborah juga memberi pelajaran pada Eggar.
Kesempatan ini ia gunakan untuk menemui Carl, setelah sekian lama tak bertemu akhirnya mata mereka kembali beradu pandang dengan tajam.
"Lama tak bertemu, sepertinya kau baik-baik saja," ujar Carl setelah duduk di hadapan Winnie.
"Kau lebih tahu bagaimana kondisi ku," sahut Winnie.
Carl tak terkejut akan ucapan yang sarat akan makna itu, ia sudah bertemu dengan Deborah secara sengaja dan tentu saja cepat atau lambat Winnie akan tahu kalau dia mencintai mereka.
"Ada banyak hal yang ingin ku tanyakan padamu, tapi aku tahu aku harus mencari jawabannya sendiri. Selain dari itu aku cukup kaget wajah mu masih terlihat tampan setelah terakhir kita bertemu," ujar Winnie.
Pertemuan terakhir mereka sekaligus menjadi pertarungan terakhir rupanya hanya sebuah cerita yang bersambung, kini mereka kembali berhadapan dalam babak baru yang entah akan seperti apa ceritanya.
"Meski mendapat banyak luka tapi pengobatan yang mahal mampu mengembalikan ketampanan ku, sayang sekali setelah kejadian itu aku malah di kirim ke luar negri. Kau pasti menganggapku pengecut kan?" tanya Carl.
"Aku cukup tahu kau orang yang tidak mungkin lari setelah di hajar, sekarang aku tahu alasan kepergian mu. Aku sama sekali tidak berfikir rendah tentangmu," sahut Winnie.
"Melegakan sekali," balas Carl sembari tersenyum.
"Terimakasih," ujar Winnie kemudian.
Sejenak tatapan dingin Winnie berubah hangat dengan gestur yang lembut, bak anak kucing.
"Apa pun alasanmu dengan ini aku percaya kau tidak memiliki niatan untuk menyakiti Deborah, sekarang aku menjadi tenang meski kau sangat dekat dengannya."
"Dulu aku menyeretmu karena kau bahkan lebih dominan dari Aslan, tapi Deborah hanya bayo kecil kalian yang tak berdosa. Aku bukan pengecut yang akan menjadikannya tameng," sahut Carl.
"Aku percaya," balas Winnie.
Selesai bicara dengan Carl ia memutuskan untuk pergi ke rumah sakit untuk menjenguk Eggar, setidaknya ia ingin tahu separah apa pukulan yang diberikan Carl sampai membuat pemuda itu harus di rawat.
Sampai di sana baru saja ia hendak masuk saat melihat mobil ambulans datang, rasa penasaran membuatnya berhenti dan melihat para petugas membawa keluar seseorang untuk masuk ke IGD.
__ADS_1
Dari tempat ia berdiri wajah pasien dapat ia lihat dengan jelas, rasa terkejut dan penasaran sebab mengenali pasien itu membuat Winnie ikut masuk ke dalam mengikuti para petugas.
"Maaf, apa yang terjadi padanya?" tanyanya pada petugas yang membawa pasien.
"Oh, dia kena serangan jantung. Apa kau mengenalnya?" sahut petugas itu.
"Ya, dia atasan ku," sahut Winnie.
"Bagus sekali, bisakah kau menghubungi keluarga nya?" tanya petugas itu lagi.
"Tidak perlu, biar aku menjadi walinya," sahut Winnie yakin.
Beberapa jam berlalu dengan cukup lama saat Winnie menunggu dokter keluar dengan hasil pemeriksaan, karena ada sesuatu yang harus Winnie ketahui sebagai wali maka dokter memintanya datang ke ruangannya.
"Apakah sesuatu yang buruk terjadi padanya?" tanya Winnie.
"Pasien sudah lebih baik sekarang, dia sudah di pindahkan ke ruang rawat. Aku meminta mu datang untuk membahas pemicu serangan jantungnya," sahut sang dokter.
Winnie mendengarkan dengan seksama penjelasan dokter, rupanya setelah dilakukan segala macam pengecekan pasien mengalami peradangan hebat yang membuatnya sulit bernafas.
Kebingungan Winnie masuk ke ruang rawat, ia menatap pasien yang tak lain adalah Will. Matanya masih terpejam meski masa kritisnya sudah lewat, dalam hati ia bertanya-tanya alergi apa yang di miliki Will.
Pertanyaannya akhirnya terjawab setelah Will siuman, saat ia sudah lebih segar hingga bisa berterimakasih dan makan dengan benar.
"Aku memiliki alergi terhadap kacang, sialnya saat makan siang aku tidak memperhatikan betul apa yang ku makan sampai akhirnya terjadi seperti ini. Terimakasih sudah menemaniku selama ini," jawabnya.
"Tidak masalah, Nicki juga punya penyakit yang sama jadi aku sudah terbiasa."
"Apa?" tanya Will kaget.
Itulah respon yang ingin Winnie lihat, ia sendiri kaget mendapati Will dan Nicki memiliki alergi yang sama.
"Nicki... juga punya alergi kacang?" tanya Will memastikan.
__ADS_1
"Mm, karena itu di rumah sama sekali tidak da makanan berbahan dasar kacang. Kami takut ia makan tanpa menyadarinya," sahut Winnie.
......................
"Ini sebuah kebetulan yang luar biasa," ujar Deborah.
Setelah mendapat fakta ini Winnie segera memanggil Nagisa dan Deborah untuk rapat di apartemen, ia ingin mendengar apa pendapat mereka.
"Apa ini sungguh kebetulan? bagaimana kalau kenyataannya Nicki adalah anak Will?" tanya Nagisa.
"Itulah yang sedang ku pikirkan, Camila datang tepat saat ayah sedang alkoholik. Mungkin mereka memang melakukan hubungan tapi Nicki belum tentu anak ayah," ujar Winnie.
"Kalau begitu kita lakukan tes DNA untuk memastikannya," sahut Deborah.
"Selain dari itu kita mulai serangan pertama, kau sudah kirimkan laporan tentang klinik itu?" tanya Winnie.
"Mm, besok pemeriksaan akan mulai. Setelah itu sesuai rencana Nagisa akan meneror Sara dengan nomor yang sama untuk meneror Camila," ujarnya.
"Bagus! kita lakukan sesuai rencana," ujar Winnie.
Awalnya ia ingin menyuruh Jimmy namun di pikir lagi terlalu beresiko jika terus meminta bantuannya, karena itu ia melatih Nagisa untuk pekerjaan ini.
Deborah yang bertugas melaporkan esoknya mengintai klinik Sara, tentu saja ia sudah memperhitungkan tentang keberadaan Sara di klinik itu tepat saat pemeriksaan berlangsung.
Mendapati banyaknya polisi yang datang untuk memeriksa apalagi mengetahui alasan dari pemeriksaan tersebut membuat Sara ketar ketir, untungnya ia sudah melakukan antisipasi sehingga tak ketahuan.
Tapi tetap saja hal itu membuatnya takut, terlebih ia merasa heran siapa yang membocorkan praktek ilegalnya. Tepat saat dalam kebingungan sebuah pesan masuk yang di kirim Nagisa, sebuah kalimat yang membuat Sara semakin takut.
Sara membalas pesan itu dengan sebuah pertanyaan tentang siapa dirinya, tapi Nagisa menjawab untuk datang besok ke tempat yang telah ia tentukan.
Hari itu rencana mereka berjalan dengan lancar tanpa kendala dan tanpa mengetahui bahwa Carl sudah mengerti apa yang di lakukan mereka dan apa tujuan mereka.
"Halo tuan, sebaiknya kau datang sebab Winnie bertindak sangat jauh. Jujur saja aku sudah gatal hanya menjadi pengintai," lapor Carl.
__ADS_1
Tuannya tak menyahut, tapi Carl tahu tuannya pasti akan datang.