
Winnie dapat merasakannya, ada yang berbeda dengan Aslan. Ia menjadi lebih tempramen dari biasanya, ia juga terlihat sering gusar.
Saat ada seseorang yang tak sengaja membuat hatinya tak senang maka ia akan segera membuat perhitungan, hari itu tepat di depan matanya Aslan tak hentinya memukul seorang murid yang tak sengaja menyenggolnya.
Tak ada yang berani menghentikannya, semua hanya menonton meski jelas murid itu sudah tak berdaya.
Winnie yang semakin tak tahan akhirnya nekat maju dan menghentikan Aslan, tentu tidak mudah sebab Aslan jauh lebih kuat sehingga yang terjadi malah ia tersungkur.
"Winnie!" seru anak buah Aslan kaget sebab Winnie memang jatuh cukup keras.
Tersadar Aslan segera berhenti, menatap Winnie yang masih di lantai ia segera menghampiri.
"Maaf, kau tidak apa-apa?" tanyanya.
Menemukan kekhawatiran di mata Aslan bukannya menjawab Winnie malah menarik tangannya dan mengajaknya pergi, di atap Winnie baru melepaskan genggaman tangannya.
"Kenapa kau mengajak ku sini?" tanya Aslan.
"Carl meminta ku untuk berpaling darimu dan pergi ke sisinya," ujar Winnie tiba-tiba.
Tentu Aslan kaget mendengarnya, ia tak menyangka Carl akan berbuat sejauh itu.
"Apa jawabanmu?" tanyanya harap-harap cemas.
"Aku memintanya untuk mengalahkan mu, jika dia bisa membuktikan bahwa dia lebih baik darimu maka tak ada asalan ku untuk tetap di sampingmu," sahut Winnie datar.
Ada banyak hal yang telah membuat Aslan sakit hati, tapi ucapan Winnie kini menjadi hal yang paling menyakitinya.
Mungkin ini rasanya di khianati oleh orang yang paling berharga, tersenyum kecut Aslan menyahut "Begitu ya, jadi aku sudah kalah."
Tersentak Winnie tak menyangka Aslan akan mudah putus asa, tak dapat menerimanya Winnie bergerak cepat mendekati Aslan dan.
PLAK
Satu tamparan keras mendarat tepat di pipi Aslan, kaget Aslan menatap Winnie dan menemukan amarah di seluruh wajahnya.
"Bodoh! pertarungan baru saja di mulai dan kau sudah mengalah? lalu bagaimana dengan janjimu yang akan mengajak ku ke padang bunga? jangan-jangan kau sengaja mengalah karena ingin mengingkari janjimu, hei tuan arsitek! aku tidak akan melepaskan mu dengan mudah!" hardik Winnie penuh ancaman.
Ini adalah kali pertama Winnie bicara dengan lantang dan penuh emosi, biasanya Aslan tidak membiarkan siapa pun menghardiknya apalagi mengaturnya.
__ADS_1
Ia menjadikan Winnie kekasihnya pun karena sifat Winnie yang penurut dan selalu tanggap, harusnya dia marah balik kepada Winnie tapi tidak.
Sebuah senyum tersungging di bibirnya, hatinya yang penuh akan kecemasan tiba-tiba menjadi terasa tenang.
"Maaf, aku hampir melupakan janji kita. Baiklah... kalau begitu aku harus mulai menyusun strategi," ujar Aslan penuh semangat.
Hhhhhhh
Winnie membuang nafas lega, sejenak ia sempat berfikir Aslan akan marah balik dan menghukumnya habis-habisan. Di luar nalar ternyata Aslan tercerahkan, kembali pada jati dirinya kini Aslan bersikap lebih tenang.
Tentu saja Carl menjadi kesal karena hal ini, ia hampir berhasil membuat Aslan terpuruk dan ditinggalkan oleh semua orang. Hanya selangkah lagi menuju kemenangan dan ia gagal total, ia sadar semua pasti karena pengaruh Winnie.
"Ternyata aku memang harus menggunakan rencana B," gumam Carl sambil memegang kepalanya.
......................
"Aku mau beli sesuatu dulu ke toko, tidak apa kan kita mampir sebentar?" tanya Aslan tanpa memalingkan pandangannya dari depan.
"Ya," sahut Winnie yang berfikir tak masalah terlambat pulang sedikit.
Setelah memarkir mobil mereka berdua masuk ke dalam sebuah toko, Aslan segera pergi menuju rak dimana barang-barang yang ia butuhkan tersedia sementara Winnie hanya melihat-lihat.
Tangannya terulur untuk melihat lebih jelas benda seperti apa pena ajaib itu, tapi rupanya bukan dia saja yang ingin mengambilnya sehingga tangannya bertabrakan dengan seseorang yang baru saja datang ke sampingnya.
"Eh maaf!" seru orang itu.
Winnie menatapnya dan hendak menyahut tapi semua kata-katanya tersangkut di tenggorokan, matanya terbelalak menatap orang yang sangat ia kenali.
"Permisi.. " ujar orang itu mengambil satu bungkus kemudian pergi.
Tersadar dari lamunan Winnie dengan cepat membututi orang itu dari jauh, mengawasinya hanya untuk memastikan dia tak salah orang. Meski potongan rambut dan pakaiannya berbeda tapi Winnie tak akan pernah melupakan wajah tampan dengan senyum menenangkan itu, apalagi tatapan penuh cinta yang di berikan untuknya.
Untuk Yumna si cacat, ya. Orang itu adalah pangeran mahkota, cinta pertamanya yang memberi kepercayaan hidup di tengah dunia yang kejam.
"Bagaimana mungkin... " gumamnya tak percaya melihat pangeran di dunia yang berbeda.
"Winnie!" panggil Aslan mengagetkannya.
"Ah ya, kau sudah selesai?" tanyanya gugup.
__ADS_1
"Mm, ayo pergi!" ajaknya sambil berjalan lebih dulu.
Kembali menengok ke kasir dimana tadi pangeran mahkota berdiri Winnie menemukan tempat itu sudah kosong, saat ia melihat ke luar rupanya pangeran mahkota sudah pergi dengan sebuah mobil.
Pertemuan yang tak disangka itu membuat Winnie berfikir keras apakah yang ia lihat adalah orang lain yang mirip pangeran atau memang pangeran mahkota, jika dia benar pangeran artinya ia berengkarnasi sama sepertinya.
Menatap pantulan wajahnya di kaca spion ia menatap wajah Winnie yang sangat berbeda dari Yumna, jelas saja pangeran mahkota tidak akan mengenalinya.
Wajah milik Winnie ini sudah sempurna tanpa kecacatan, dengan hidung mancung dan bibir penuh ia masuk kategori manis dan cantik jika menggunakan make up yang sesuai.
Tapi entah mengapa tiba-tiba kepercayaan dirinya hilang, meraba pipi ia takut akan mendapat hinaan yang kejam lagi. Jika hal itu sampai terjadi akankah di dunia yang sekarang ada pria seperti pangeran mahkota yang mau menerimanya?.
"Winnie!" panggil Aslan lebih keras lagi sebab mereka telah sampai tapi Winnie malah melamun.
"Ah maaf.. " ujarnya tersadar.
"Kenapa? kau sakit?" tanya Aslan segera menaruh tangannya di kening Winnie.
Sentuhan yang penuh isyarat perhatian itu membuat Winnie menatap Aslan dengan cukup lama.
"K-kenapa menatap ku seperti itu?" tanya Aslan gugup.
"Apa aku cantik?" tanya Winnie tiba-tiba.
"Apa-apaan kau ini? kenapa bertanya hal konyol seperti itu?" hardik Aslan menanggung malu.
"Mmm, begitu ya..." sahut Winnie pelan.
Dengan wajah sedih Winnie membuka pintu dan pergi tanpa mengucapkan terimakasih, ia juga tak menunggu sampai Aslan pergi.
Langkahnya tanpa energi menyusuri trotoar sambil memikirkan nasibnya yang masih saja kurang beruntung.
"Tunggu!" seru Aslan sambil berlari menghampiri.
Winnie berhenti dan berbalik, tepat saat itu Aslan sudah sangat dekat dengannya dan tanpa pemberitahuan merangkul pinggang Winnie sambil memberikan kecupan yang dalam.
Beberapa detik itu terasa lama hingga Winnie bisa merasakan sensasinya jauh lebih dalam, saat Aslan melepaskannya terlihat wajahnya memerah.
"Kau cantik, selalu cantik. Kau tidak perlu bertanya untuk fakta itu," ujarnya menatap sambil menatap Winnie dengan serius.
__ADS_1