Reinkarnasi Putri Cacat

Reinkarnasi Putri Cacat
Bab 103 Pulau Pribadi


__ADS_3

Kapal berlabuh di sebuah pulau pribadi milik Philip, pemandangannya yang indah begitu memanjakan mata Winnie. Bertelanjang kaki ia berlari diatas pasir putih yang lembut, saat ombak datang ia berlari menghindar namun saat surut ia mendekat.


Begitu air laut membasahi kakinya Winnie tertawa kegirangan, ia kembali melakukan hal yang sama.


Sementara itu Philip yang melihat dibuat heran karena tingkah Winnie yang seperti anak kecil, namun anehnya ia ikut senang melihat tawanya.


"Philip...." seru Winnie sambil melambaikan tangan.


Philip mengangkat satu tangan dan tersenyum, Winnie pun memberi isyarat agar Philip ikut bersamanya. Tergoda akan ajakan Winnie akhirnya Philip melepas sepatu dan jasnya, menggulung celana dan baju ia pun berlari menghampiri Winnie.


Bersama mereka bermain air dan kejar-kejaran sampai akhirnya kelelahan, berteduh di bawah pohon Winnie kamudian menyandarkan kepalanya dibahu pria itu.


"Aneh sekali, padahal aku tahu kau bukan orang baik. Tapi rasanya aku akan aman jika bersama mu," ujar Winnie pelan.


Philip menoleh menatap Winnie, ia pun merasakan hal yang sama. Saat Winnie mengangkat kepalanya mata mereka beradu, larut dalam buaian alam dan pesona Winnie perlahan Philip mendekatkan kepalanya.


Jelas ia ingin mengecup Winnie namun Winnie mundur sampai membuang muka.


"Maaf," ujar Winnie pelan.


Philip yang bingung sekaligus kecewa sama sekali tak mengerti mengapa kali ini Winnie tak mau dengannya, padahal waktu itu jelas Winnie membalas ciumannya dengan ganas.


"Ayo kita masuk!" ajak Philip.


Winnie mengangguk dan berjalan mengikuti Philip, ia diberi satu kamar di resort yang memiliki pemandangan langsung ke laut.


Kamarnya sangat nyaman sampai membuat Winnie betah tinggal lama-lama disana, dia juga diberi banyak pakaian dan perlengkapan make up lengkap.


Saat tiba waktunya makan malam ia di panggil salah satu pelayan yang menuntunnya ke ruang makan outdoor, melihat kedatangan Winnie Philip bangkit dari tempat duduknya dan menyambut.


"Apa kau coba merayuku dengan makan malam romantis?" goda Winnie.


"Hahaha... jika ada wanita cantik mana mungkin aku sia-siakan," sahut Philip.


Philip kemudian menarik kursi untuk Winnie duduk, barulah ia sendiri duduk dan memulai makan malam itu dengan bersulang segelas Wine.


Winnie menikmati apa yang disuguhkan Philip, itu termasuk obrolan ringan. Sebenarnya Philip ingin lebih lama lagi menghabiskan waktu bersama Winnie, tapi anak buahnya membisikkan sesuatu yang membuatnya harus undur diri.


Winnie dibebaskan untuk melakukan apa pun yang ia mau, ia juga boleh pergi kemana saja asal jangan ke tempat berbahaya. Seperti naik kapal sendirian.


Berjalan-jalan melihat setiap ruangan di resort itu tanpa sengaja kemudian Winnie mendengar suara Philip, menempelkan telinga pada daun pintu ia mencoba mendengar apa yang diributkan.


Winnie mendengar Philip mengatakan sesuatu tentang pasar dan kerugian, saat ia mencoba fokus agar bisa mendengar lebih jelas lagi sebuah bayangan membuatnya kaget.


Ceklek


"Tuan, dia menguping di balik pintu," lapor seorang pria sambil membawa Winnie masuk.

__ADS_1


"Winnie apa yang kau lakukan disini?" tanya Philip sambil memberi isyarat untuk melepaskannya.


"Maaf, aku tak sengaja mendengar mu berteriak dan penasaran."


Menatap sekeliling Winnie sadar Philip tengah rapat, hanya saja orang-orang itu memiliki wajah keras yang menyeramkan seperti yakuza di film-film.


"Sejauh mana yang kau tahu?" tanya seorang pria dengan stelan jas putih.


"Cukup untuk membuat nyawaku melayang," sahut Winnie berbohong.


Ia paling tidak bisa menahan diri jika sudah penasaran akan sesuatu, itulah sebabnya ia sering terkena masalah yang tidak perlu bahkan berbahaya.


"Kalau begitu kau sudah siap menerima hukumannya," ujar pria tersebut.


Beberapa pengawal yang berjaga di belakang pria berjas putih itu kemudian berjalan menghampiri Winnie, tapi Philip segera pasang badan melindungi.


"Tuan Rush, jika kau berani menyentuhnya maka kerjasama kita berakhir sudah," tegas Philip.


"Kalau begitu pastikan dia tidak lepas dari pengawasan mu," sahutnya jengkel.


Berbalik kepada Winnie ia pun memintanya untuk tetap berada disampingnya, Winnie mengangguk dan mulai memperhatikan rapat yang kembali dimulai.


Rupanya Philip memiliki bisnis jual beli perhiasan ilegal, ia adalah tengkulak yang menjualnya kepada para kolektor. Tentu saja perhiasan yang dimaksud adalah barang-barang antik yang dicuri dari museum ada juga yang dari tambang.


Masalahnya adalah bisnis ini mengalami kemunduran pesat karena ada seseorang yang menjual barang palsu kepadanya, Philip kurang teliti sehingga ketika ia jual pada kolektor hasilnya malah merugi.


"Kenapa tidak menjual pada orang kaya baru?" celetuk Winnie yang gatal ingin berkomentar.


Semua mata tertuju padanya, karena terlanjur jadi pusat perhatian ia pun mengungkapkan isi pikirannya.


"Orang kaya baru belum begitu mengerti perhiasan seperti ini, yang penting bagi mereka adalah status mereka naik karena barang-barang branded. Sekali saja puaskan mereka aku yakin mereka akan menjadi pelanggan tetap, memang merepotkan karena harus mulai dari awal. Tapi itu lebih baik dari pada merayu yang sudah tidak memiliki hati, toh pada akhirnya para kolektor itu pasti akan kembali melirik jika mengetahui banyak yang berminat pada barang kalian."


Philip menatap takjub pada Winnie, tidak salah ia mengeluarkan tiga miliar.


"Jika kau tidak ingin menunggu maka turunkan pasarmu," lanjutnya.


"Bagaimana Tuan Rush? aku setuju pada gadis ku," tanya Philip.


"Patut di coba, seperti biasa kau yang atur segalanya," sahutnya.


Philip mengangguk, lalu ia pun mengantar kepergian Tuan Rush bersama para ajudannya hingga naik ke kapal.


"Apa kau sungguh gadis biasa?" tanya Philip.


"Sejak SMP aku sudah terbiasa membeli obat-obatan dan minuman, menurut mu bagaimana caraku mendapatkan barang ilegal sementara aku masih di bawah umur?" sahut Winnie.


Philip tersenyum, rupanya Winnie gadis nakal. Pantas saja ia tak terlihat takut dikelilingi orang-orang berbahaya.

__ADS_1


......................


Bangun terlalu pagi bahkan sebelum tiba waktu sarapan membuat Winnie memutuskan untuk jogging, biasany ia melakukannya di sore hari sebab hanya itu waktu yang ia miliki.


Berlari disepanjang pesisir pantai benaknya berfikir keras mencari cara untuk menghubungi Deborah, dia belum tahu sifat asli Philip karena itu ia tak boleh gegabah.


Untuk saat ini yang bisa ia lakukan hanya mencuri hati pria itu, setidaknya dengan begitu nyawanya masih aman.


"Apa kau melihat Philip?" tanya Winnie kepada pelayan sekembalinya dari jogging.


"Tuan ada di ruang latihan," sahutnya.


"Baiklah," balas Winnie.


Sambil melap keringat yang bercucuran di kening hingga leher ia berjalan mencari Philip, di sebuah ruangan kedap suara yang disebut ruang latihan ia menemukan Philip sedang latihan menembak.


Tubuhnya yang tegap dengan tatapan tajam fokus pada sasaran Philip berhasil menembak sasaran di tempat yang sama sebanyak lima kali padahal sasaran itu bergerak.


Itu menunjukkan kehebatan Philip yang bukan main-main, sepertinya dalam hal menggunakan senjata Aslan kalah dari Philip.


Tapi itu dapat dimaklumi sebab gaya bertarung Aslan memang tangan kosong, mungkin karena Aslan lebih sering berkelahi dijalanan.


Prok Prok Prok


Tepuk tangan Winnie membuat Philip menurunkan senjatanya.


"Kau ingin coba?" tawar Philip sambil tersenyum.


Winnie mengangguk dan segera mengambil satu pistol, melihat cara Winnie memegangnya Philip bisa tahu kalau Winnie pernah menggunakan senjata.


Doooorrr.. Trang


"Ah sial, sasarannya terlalu cepat bergerak," gerutunya.


"Aku terlalu jauh berharap rupanya," gumamnya Philip sambil tertawa kecil.


"Selama ini aku tidak pernah menembak dari jarak sejauh ini," ujar Winnie.


Lagi pun memang sasaran Winnie selalu diam ditempat, karena itu saat duel dengan Jack tak ada satu pun peluru yang berhasil mengenai Jack.


"Jangan buru-buru, perhatikan kemana sasaranmu bergerak. Terus ikuti sampai kau tahu celahnya," jelas Philip sambil mengarahkan tangan Winnie.


Lagi, dengan memeluk tubuh Winnie dari belakang ia bisa mencium aroma tubuh Winnie. Kali ini bukan wangi sabun mandinya tapi aroma khas gadis yang panas, sementara Winnie memfokuskan dirinya benak Philip justru buyar.


Dooorrr....


"Yes! tepat sasaran!" seru Winnie.

__ADS_1


Ia menengok ke belakang dan menatap Philip, tapi ekspresi Philip yang hanyut dalam geloranya sendiri membuat Winnie mematung. Hatinya menjadi tak karuan.


__ADS_2