
Dengan penuh perjuangan akhirnya mereka sampai di lokasi, lapangan yang cukup luas untuk mendirikan tenda. Hanya ada dua tenda yang mereka bawa dan itu di sengaja agar Winnie tidur tanpa perlindungan.
"Aku akan mencari kayu bakar," ujar Winnie tanpa memperdulikan bagaimana dia akan tidur nanti.
"Aneh sekali, kenapa dia masih bisa bersikap tenang padahal dia tahu akan tidur di luar?" tanya Megan setelah kepergian Winnie.
"Hah, dia pasti pura-pura tegar. Mungkin mencari kayu bakar hanya alasan agar ia bisa menangis di suatu tempat tanpa ketahuan," sahut Nicki.
"Kau benar, hahahaha," timpal Lilia.
"Ayo sebaiknya kita cepat pasang tendanya," ujar Nicki yang kesusahan hanya untuk mengeluarkan tenda dari tasnya.
Bersama dengan Lilia ia melebarkan tenda dan mengikatnya pada pasang, pekerjaan mudah yang butuh tenaga. Sekuat mungkin Nicki menarik tali namun ia terlalu lemah hingga pada akhirnya yang terjadi malah ia yang terpental dan membuat tali itu putus.
"Awww.. " erangnya sambil mencoba bangkit.
"Apa yang kau lakukan? oh Nicki! bisakah kau lakukan sesuatu dengan benar?" hardik Lilia.
"Kenapa kau marah padaku? kau tidak lihat aku yang cedera?" balas Nicki jengkel.
"Itu karena salah mu sendiri! sekarang lihat bagaimana kita bisa tidur dengan tenda seperti ini?" sahut Lilia.
"Sudahlah, jangan berkelahi," pinta Jenna.
"Ada apa?" tanya Winnie yang baru kembali dengan setumpuk kayu bakar di tangan.
"Oh tidak, hanya tenda kami rusak karena seseorang," sahut Lilia sambil menatap tajam pada Nicki.
Menghampiri tenda yang reyot itu Winnie menemukan masalahnya, tanpa kata kemudian dia menyambung tali yang putus itu. Kemudian tanpa bantuan siapa pun ia menyelesaikan tugas Nicki hingga tenda itu mampu berdiri dengan kokoh.
"Oh hebat, kau memperbaikinya dengan sangat cepat!" seru Jenna.
"Ini sangat gampang, kau hanya perlu menyambung talinya saja," sahut Winnie sembari tersenyum.
Tanpa memperdulikan tatapan Nicki yang semakin jengkel padanya Winnie menyusun bebatuan di tengah-tengah, kemudian ia juga menyusun kayu bakar dan membuat gantungan untuk memasak.
"Tenda sudah selesai, kayu bakar juga sudah selesai. Bagaimana jika istirahat sambil menikmati cemilan?" tawar Winnie.
"Ide bagus," sahut Megan.
Mereka pun mulai mengeluarkan makanan yang mereka punya, berkumpul di api unggun yang telah menyala mereka menikmati hari yang sebentar lagi akan malam dengan membawa udara dingin.
"Uh, di sini terlalu banyak nyamuk!" keluh Nicki sambil mengibaskan tangan di telinganya.
__ADS_1
"Nyamuk itu sudah biasa, ini kan di hutan!" tukas Lilia.
Nicki mendelik dengan tajam, satu temannya ini memang selalu kurang akur dengannya.
"Sangat membosankann! harusnya kita undang beberapa teman pria," keluh Megan.
"Bagaimana kalau kita buat permainan? aku tahu permainan yang menyenangkan," ujar Jenna.
"Ide bagus!" seru Nicki antusias.
"Bagaimana permainannya?" tanya Megan.
Jenna segera berlari ke depan, tepat di bawah pohon ia menyimpan satu gelas. Kemudian ia mengambil banyak ranting kecil dan membuatnya menjadi ukuran yang sama.
"Sangat mudah, kita hanya perlu melempar satu ranting sampai masuk ke dalam gelas. Siapa pun yang tidak berhasil dia akan di hukum," jelasnya.
"Sepertinya seru, apa hukumannya?" tanya Nicki.
"Yang kalah dia harus berjalan masuk ke dalam hutan sambil menghitung langkah kaki, setelah mencapai hitungan empat puluh dia harus mengikat pita pada satu dahan," jawabnya sembari memperlihatkan pita merah yang awalnya ia gunakan untuk mengikat rambut.
"Aku setuju! mari kita lakukan!" seru Nicki.
Semua orang ikut dan tentu Winnie juga ikut, ia rasa permainan itu akan lebih seru dari yang di bayangkan.
Ia memiliki firasat semua telah di atur untuk kekalahannya, maka tanpa berusaha Winnie akan mengalah demi permainan yang seru.
"Sayang sekali Winnie, ku pikir kau bisa melakukannya," ujar Nicki melihat ranting yang di lempar Winnie tak masuk ke dalam gelas.
"Sesuai perjanjian kau harus masuk kedalam hutan dan mengikat pita di dahan, jangan coba-coba untuk curang!" lanjutnya mengingatkan.
"Akan ku lakukan," sahut Winnie tenang.
Ia mengambil pita dari Jenna dan mulai masuk ke dalam hutan sambil menghitung setiap langkahnya, keadaan hutan di malam hari terlihat menyeramkan dengan berbagai suara yang cukup mengganggu.
Udaranya pun dingin, beruntung saat di swalayan tadi Winnie membeli jaket yang tergantung tepat di belakang kasir.
Itu adalah jaket milik kasir, tentu saja saat itu kasir merasa heran mengapa Winnie ingin membeli jaketnya. Tapi setelah di jelaskan ia mau berkemah kasir itu justru ingin memberinya secara gratis.
Mencapai hitungan ke empat puluh Winnie kemudian mengikat pita pada dahan terdekat, tapi saat itu ia tiba-tiba mendengar sebuah suara langkah kaki.
Mematikan senter ia kekuatan bersembunyi di balik pohon dan mengawasi siapa yang berjalan ke arahnya, tak di sangka ternyata itu Nicki dan Lilia.
"Hei ini pitanya," ujar Lilia menerangi dahan di atas kepala mereka.
__ADS_1
"Berarti Winnie sudah menyelesaikan hukumannya, tapi dimana dia?" bisik Nicki.
"Jangan-jangan dia sudah kembali ke tenda," ujar Lilia.
"Apa? tidak seru, padahal kita mau mengagetkannya dengan topeng. Pasti wajah ketakutannya sangat lucu," ucap Nicki sembari menahan tawa sebab ia langsung membayangkannya.
Mengerti permainan yang sesungguhnya Winnie mulai membuat suara-suara aneh, tentu saja itu membuat Nicki dan Lilia segera waspada sambil menatap sekeliling dengan cahaya senter.
"Kau dengar itu?" bisik Nicki mulai ketakutan.
"S-sebaiknya kita kembali," ujar Lilia cemas.
Mereka pun berjalan cepat meninggalkan tempat itu, tapi Winnie mengikuti di kegelapan dengan langkah yang sama cepatnya sambil terus membuat suara-suara.
Saat ketakutan benar-benar telah menguasai mereka berdua Winnie segera lompat ke depan mereka untuk menghadang jalan dengan wajah yang di tutupi rambut.
Aaaaaaaaaaaa....
Jeritan keduanya begitu nyaring namun lenyap seketika, mereka ambruk ke tanah dan tak sadarkan diri.
"Heh, kalian ingin menakutiku tapi malah ketakutan sendiri," gumam Winnie sambil tertawa kecil.
Membiarkan dua gadis itu Winnie kembali ke tenda, tentu saja itu membuat Jenna dan Megan heran.
"Kau kembali? dimana Lilia dan Nicki?" tanya Megan.
"Entahlah, aku mendengar suara jeritan aku pikir asalnya dari sini," sahut Winnie dengan wajah tanpa dosa.
"Sial, jangan-jangan itu jeritan Nicki dan Lilia. Kita harus mencari mereka!" seru Jenna.
Tanpa pikir panjang mereka segera mengambil senter dan masuk ke dalam hutan, tentu Winnie ikut dalam pencarian itu dan setelah mendapati Nicki dan Lilia tak sadarkan diri mereka cepat membangunkan mereka.
"Um... hantu! teman-teman aku melihat hantu!" seru Nicki begitu ia tersadar.
"Kau bicara ngawur! ayo kembali ke tenda!" hardik Jenna.
Bukan hanya Nicki tapi Lilia juga mengatakan hal yang sama sehingga membuat mereka ketakutan, mencoba terlihat berani Jenna memarahi mereka dan menyuruhnya berhenti bicara omong kosong.
Setelah kembali ke tenda ia segera menyuruh semua orang untuk tidur, tentu Winnie yang tak kebagian tenda harus tidur di luar beralaskan tikar seadanya.
Tapi ia tak keberatan, bahkan ia bisa tidur dengan nyaman meski di tengah dinginnya hutan.
Paginya Nicki yang tak ingin melewati malam mengerikan lagi di hutan memaksa untuk pulang, rencana yang sudah di susun sedemikian rupa akhirnya gagal dan mereka pun mengakhiri perkemahan itu.
__ADS_1