Reinkarnasi Putri Cacat

Reinkarnasi Putri Cacat
Bab 75 Ayah Nicki


__ADS_3

Sara kaget bukan main saat mengetahui orang yang menerornya ternyata seorang gadis SMU, wajahnya yang tegang segera berubah meremehkan.


"Jangan katakan tuan mu sengaja menyuruh anak SMU untuk menggertak ku? pengecut sekali," oloknya.


"Itulah yang aku suka dari orang-orang seperti kalian, terlalu menganggap remeh musuh. Aku memiliki bukti jelas yang sengaja tak berikan pada polisi untuk membuatmu percaya bahwa ini bukan lelucon," ujar Nagisa dengan aksen yang telah di latih Winnie.


"Berapa yang kau inginkan?" tanya Sara sambil menelan ludah.


Nagisa tersenyum puas sementara jantungnya kini berdetak normal karena lancar meyakinkan.


"Aku ingin koneksimu," sahut Nagisa.


Ia kemudian memberikan fotonya yang tengah di lecehkan, tentu saja wajahnya sudah di sensor serta rekaman kepada Sara. Ia meminta Sara untuk menaikkan berita pelecehan yang di lakukan Will hingga seluruh dunia dapat mengetahuinya.


Sebuah pekerjaan mudah namun beresiko tinggi sebab Sara tahu siapa Will, tentu saja ia tak ada pilihan selain menyetujuinya.


......................


"Bagaimana keadaan mu sekarang?" tanya Camila.


"Sudah lebih baik," sahut Will dengan mata yang mengawasi setiap gerak gerik Camila.


"Aku benar-benar kaget saat tahu kau di rawat, apa yang terjadi?" tanyanya lagi.


"Alergi kacang," sahut Will singkat.


Mata Camila segera terbelalak mendengarnya, bukan satu dua tahun ia mengenal Will sudah barang tentu penyakit Will ini ia ketahui.


Saat di Universitas adalah kali pertama ia mengetahui penyakit Will, saat itu Will sampai di rawat selama seminggu karena makan selain kacang.


"Astaga... bagaimana bisa kau ceroboh seperti ini?" hardiknya.


"Lupakan tentang aku, bagaimana dengan Nicki?" sahutnya.


"A-apa maksud mu?" tanya Camila gugup.


"Katakan yang sebenarnya siapa ayah Nicki!" perintah Will tegas.


Susah payah Camila menelan ludah, ternyata rahasia ini pada akhir akan terungkapkan juga.

__ADS_1


"Jika ku katakan apa kau akan tetap jadi pamannya?" tanya Camila yang membuat Will termenung.


"Jadi... Nicki memang... " ucap Will yang tak bisa terselesaikan karena syok.


Ia tak pernah menyangka rupanya di luar sana ia memiliki seorang putri, terlebih putri itu ternyata sangat dekat dengannya.


"Kenapa? aku mampu menghidupi Nicki dengan baik, lagi pula Brian sudah menemukan anaknya yang hilang!" protes Will.


"Oleh sebab itu kau tidak boleh mengatakan siapa kau sebenarnya!" seru Camila.


"Dengar! saat itu kita sama-sama sedang mabuk, aku juga tidak tahu kalau aku sedang hamil hingga usia dua bulan. Aku terlanjur mengatakan Nicki adalah anak Brian, lagi pula memang itu yang aku inginkan. Jadi jangan pernah coba-coba!" ancam Camila.


"Camila aku punya hak atas Nicki!" balas Will tak ingin menyerah.


Dengan tajam Camila menatap Will dan sekali lagi memberi peringatan.


"Jika kau berani menyentuh Nicki aku akan mengungkap kematian Miya, ingat bahwa supir itu masih hidup dan dia siap bersaksi kaulah dalang di balik kematian Miya."


"Heh kau pun akan terlibat," sahut Will tak takut.


"Sayang sekali Will, kau tidak punya bukti apa pun. Justru aku akan menjadi saksi bahwa kau sakit hati karena Miya menolakmu sehingga kau membunuhnya," balas Camila.


Tak ingin terus berada di sana hanya untuk beradu argumen Camila segera pergi dengan benak yang semakin penuh tanda tanya, belum selesai teror yang menghantuinya kini ia di hadapkan dengan satu masalah yang lebih serius.


Mengambil ponsel untuk menghubungi anak buahnya Will malah dikejutkan oleh berita yang memuat tentang dirinya, berita itu memuat video berisi foto dirinya yang berusaha menodai Nagisa dengan percakapan mereka.


Hanya dalam waktu hitungan detik berita itu menjadi tranding dengan #produserWill.


"Sial! jangan-jangan pria itu yang memuat berita ini," gerutunya mengingat orang yang menolong Nagisa.


Tak bisa diam saja ia langsung menghubungi anak buahnya untuk mengurus kabar berita itu sebelum semakin besar, ia tak mau sampai Nicki membaca berita ini karena itu akan membuatnya di benci.


Ia juga menyuruh anak buahnya untuk mencari Nagisa, ia ingin memberi pelajaran pada gadis bodoh yang membuatnya terjebak dalam situasi sulit.


......................


Drrrrrrrttttt Drrrrrrrttttt


Winnie menatap ponselnya, jelas di layar tertulis produser Will yang menelpon.

__ADS_1


"Halo," ujar Winnie mengangkat telpon sembari tersenyum.


"Ah Winnie, apa aku menganggumu?" tanyanya.


"Oh tidak, aku baru selesai syuting. Ada apa?" sahutnya.


"Asisten mu itu, apa dia bersama mu?" tanyanya.


"Tidak, entah di pergi ke mana tapi tiba-tiba saja dia pergi dan tidak kembali lagi."


"Begitu ya," sahut Will yang hanya ingin memastikan.


Sempat ia berfikir Winnie ada hubungannya mengingat Nagisa adalah asistennya, tapi karena Winnie mengurusnya dengan baik saat dia di rawat kecurigaan itu berkurang sehingga ia hanya ingin memastikan.


"Ya, lagi pula aku tidak menyukainya," sambung Winnie.


"Kenapa?" tanya Will penasaran.


"Kerjanya tidak becus, dia tidak pernah fokus dan terus saja melakukan kesalahan. Saat aku mengadu pada ibu karena memang ibu yang menyuruhnya menjadi asisten ku saat tahu aku akan berakting ibu malah membelanya, ibu bilang nanti juga terbiasa tapi sekarang malah hilang. Sudah ku adukan juga pada ibu tapi dia sepertinya tidak peduli," jelas Winnie.


"Oh begitu rupanya, jadi Camila yang memberimu asisten."


"Tentu saja, semua di atur oleh ibu. Termasuk siapa yang akan jadi supir dan pelayanku," sahutnya.


"Baiklah, terimakasih."


Telpon kemudian di putus tanpa mengatakan mengapa Will menanyakan tentang Nagisa.


"Walah... kau memang berbakat dalam hal akting," ujar Deborah memperhatikan bagaimana Winnie meyakinkan Will dengan setiap katanya.


"Aku sudah berlatih sejak bayi," sahut Winnie yang memang sebuah kenyataan.


"Aku masih tidak mengerti, kenapa kakak menyuruh Sara yang memuat berita? kenapa tidak Camila?" tanya Nagisa.


Winnie tersenyum, perang strategi ini memang sulit di mengerti untuk anak polos seperti Nagisa juga Deborah.


"Orang-orang seperti mereka tidak akan pernah menyesal jika hukumannya jeruji besi, dengan uang dan kekuasaan meski hidup di balik penjara mereka masih bisa makan enak dan hidup layak. Hukuman yang paling tepat untuk mereka adalah rasa takut, aku akan menghancurkan kepercayaan mereka sedikit demi sedikit. Membuat mereka saling mencurigai hingga pada akhirnya saling menghancurkan satu sama lain," jelas Winnie.


Setelah mendapatkan semua bukti Winnie sadar semua itu masih belum cukup untuk membuat mereka mendapatkan hukuman berat di penjara, paling mereka hanya akan mendekap beberapa tahun saja dan bebas sebagai orang yang tak akan berubah.

__ADS_1


Ia bertekad akan membalas dendam dengan caranya, meski itu akan membuat tangannya bau amis karena darah.


Setidaknya dalam hidup ini meski terlahir sebagai pembunuh seseorang yang akan ia habisi memang layak mendapatkannya.


__ADS_2