
Saat Nagisa mengatakan bahwa Will mendekatinya Winnie sama sekali tak terkejut, ia tahu cepat atau lambat Will akan melakukannya.
Mulai hari itu Winnie meminta Nagisa untuk ikut menghafal skenario dan mulai belajar akting, Winnie berencana perannya akan di gantikan Nagisa untuk memudahkan Nagisa masuk ke dalam perusahaan.
Setelah Nagisa masuk ia akan mudah memojokkan Will dengan semua kartu yang ia miliki.
Hari ini Winnie memutuskan untuk pulang dan ikut makan malam bersama keluarganya, mendapati Winnie yang akan ikut Camila segera kehilangan selera makannya.
"Apa hanya akan pulang saat akan makan malam di luar?" tanya Camila mendekat.
"Meski aku sibuk tapi setidaknya aku tidak boleh melewatkan acara keluarga kan?" balas Winnie.
Ingin sekali rasanya Camila menampar Winnie untuk melupakan kekesalannya, tapi ia harus tahan apalagi saat Brian datang menghampiri mereka.
Tentu saja Winnie akan selalu ada untuk merusak kesenangan ibu tirinya, ia tak akan pernah membiarkan Will dan Camila hidup tenang setelah apa yang mereka lakukan pada Miya.
Sampai di restoran Camila segera memesan makanan yang paling mahal, ia tak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk bersenang-senang.
Sementara Brian terus mencoba mendekatkan diri lagi kepada Winnie, ia banyak bertanya tentang pekerjaan dan kuliahnya.
Mereka juga mulai bercanda yang membuat Nicki cemburu, beruntung Camila bertindak sigap dengan memuji penampilan putrinya malam itu.
"Ah ini dia!" seru Camila saat makanan mereka datang.
Mereka mulai menikmati sepotong daging berbumbu yang di hidangkan di piring.
"Mm ini sangat enak, pilihan ibu memang tidak pernah salah," ujar Nicki setelah makan satu suapan.
"Tentu saja," sahur Camila berbangga hati.
Sementara Winnie sama sekali tidak terkesan meski steak itu memang enak, rasa nikmat di lidahnya sudah lama hilang semenjak ia masuk ke kediaman Wilson.
Semua makanan yang ia makan memang enak tapi sama sekali tidak nikmat, baginya masakan Jeny yang kadang keasinan jauh lebih nikmat dan menggugah selera.
Selesai menikmati hidangan utama mereka beralih pada makanan penutup, Camila memilih beberapa puding yang tidak terlalu manis untuk penutup.
"Puding milik ibu terlihat lebih enak," ujar Nicki melihat Camila sangat menikmatinya.
"Oh jangan sayang, ini mengandung kacang. Ibu sudah pilihkan puding susu untuk mu jadi nikmatilah," sahut Camila.
"Aahh... begitu rupanya," ucap Nicki.
Winnie yang merasa heran menatap semua puding yang di pesan, semuanya puding yang sama kecuali milik Nicki. Ini membuatnya menyadari bahwa di rumah ia sama sekali tidak menemukan makanan yang berbahan dasar kacang, setelah mendengar ucapan Camila bisa di tebak bahwa Nicki memiliki alergi kacang yang tidak ia sadari.
__ADS_1
Makan malam yang menyenangkan pun berakhir, mereka pulang dengan hati senang kecuali Winnie. Sampai di rumah ia mengabari Jimmy agar mulai meneror Camila dengan kasus pembunuhan Miya.
Tanpa membuang waktu Jimmy segera mengirim pesan yang membuat Camila membatu, wajahnya seketika pucat membaca pesan dari nomor tak di kenal itu.
Meski heran dan ada rasa takut ia mencoba tak menggubrisnya, di hadapan Brian ia bersikap normal namun esoknya ia segera mengajak Will bertemu.
Deborah yang sudah di beritahu membututi Camila sampai ke kafe, duduk tepat di belakang Camila ia melemparkan mikrofon kecil ke bawah kursi Camila agar bisa mendengar dengan jelas lewat handsfree.
Saat Will datang Deborah sebgera menyembunyikan wajah di balik buku menu, setelah Will duduk tepat di hadapan Camila baru Deborah memesan minuman.
"Ada apa?" tanya Will heran mendapat ajakan bertemu yang begitu mendadak.
"Apa kau mengurus supir itu dengan baik?" tanya Camila tanpa basa basi.
"Tentu saja, kenapa?" sahut Will.
Tanpa kata Camila menunjukkan pesan yang semalam ia terima, jelas pesan itu merujuk pada pemerasan. Dengan terkejut Will bertanya siapa yang mengirim pesan itu, tentu saja Camila tidak tahu karena hal itulah ia mengajak Will bertemu.
"Selain supir itu tidak ada lagi yang tahu tentang masalah ini, jadi siapa?" tanya Will.
"Ada satu lagi," sahut Camila mengingat satu nama.
"Siapa?" tanya Will.
Mata saling beradu pandang dengan ngeri, untuk beberapa saat kebisuan meraja sampai Will membuka pikirannya lebih luas.
"Jika Jack melakukannya apa tujuannya? jelas ini sebuah pemerasan, Jack cukup kaya tentu dia tidak butuh receh darimu. Ini bukan perbuatannya," ujarnya.
Itu benar, bahkan Jack jauh lebih kaya darinya. Kini mereka harus memikirkan kemungkinan lain, lama tak menemukan jawaban Will memutuskan untuk menyelidiki nomor itu.
Ia meminta bantuan inspektur yang telah lama bekerja sama dengannya, jika sudah ada kabar Will berjanji akan menghubungi karena itu untuk sementara Camila hanya perlu mengacuhkannya saja.
......................
Ia sudah mengelilingi taman sebanyak tiga kali, tubuhnya sudah di penuhi keringat namun kakinya masih belum ingin berhenti.
Dengan benak yang terus berputar dalam kasus kematian Miya ia sudah punya cukup bukti untuk memberatkan tersangka, tapi itu semua belum cukup.
Winnie sama sekali tak berkeinginan menjebloskan mereka semua ke penjara, ia ingin menghukum mereka dengan tangannya sendiri.
Tapi di dunia yang penuh dengan undang-undang ini ia berfikir hukuman apa yang pantas untuk menyakiti mereka, mungkin ia bisa memulai dengan menguras seluruh harta mereka atau meneror sampai mereka kehilangan akal.
Apa pun caranya pasti akan ia lakukan dengan tepat.
__ADS_1
Memperlambat langkahnya Winnie menatap Leo yang berdiri di depannya, ada senyum sapaan yang membuat Winnie kemudian menghampiri pemuda itu.
"Minum?" tawar Leo seraya mengulurkan sebotol air.
"Terimakasih," sahut Winnie menerima air itu.
"Jadi kau suka joging juga ya," komentar Leo.
Winnie tak menyahut, ia membiarkan matanya berkeliling menatap sekitar taman yang di penuhi orang dengan berbagai aktivitas.
"Lusa ayahku meresmikan pameran seni yang rencananya di buka untuk umum, apa kau mau melihatnya?" tawar Leo.
"Entahlah, aku sibuk."
"Aku sarankan sebaiknya kau datang," ujar Leo.
"Kenapa?" tanya Winnie.
"Karena kau terus menolak ajakan ku," sahut Leo.
Entah mengapa tiba-tiba Winnie merasa bersalah, ia menatap mata Leo dan menemukan kesedihan disana.
"Kalau begitu akan ku usahakan," ujar Winnie.
"Bagus, ada sesuatu yang ingin ku tunjukkan padamu di sana. Kalau begitu sampai nanti!" ucap Leo senang.
Winnie menatap kepergian Leo, bertanya-tanya dalam hati mengapa ia dapat luluh pada pemuda itu hanya karena wajahnya mirip dengan pangeran.
Asik melamun tiba-tiba sebuah telepon menyadarkannya, rupanya itu Deborah yang menyuruh Winnie untuk segera datang ke apartemen.
Sampai disana ia dikabari tentang pertemuan Camila dengan Will, saat nama Jack di sebut Winnie seketika curiga pada Jack Patckins ayah Leo.
"Sepertinya kita harus memeriksa Jack lebih lanjut," ujar Winnie.
"Aku setuju," sahut Deborah.
"Masalah ini biar aku yang ambil, kau fokuslah pada mereka berdua," perintah Winnie.
Deborah mengangguk tanda mengerti.
"Oh ya, apa Carl mengikutimu lagi?" tanya Winnie yang teringat satu benalu itu.
"Aku tidak tahu, aku sudah bertindak hati-hati dan aku rasa dia sudah berhenti mengikuti ku. Mungkin dia beralih mengikuti mu tanpa kau sadari," jawab Deborah.
__ADS_1
Itu bisa jadi, akhir-akhir ini pikiran Winnie terbagi-bagi sampai ia kehilangan kewaspadaannya. Mungkin saja Carl sudah menguntit selama beberapa hari tanpa ia sadari, meski begitu Winnie masih bersikap tenang dan akan mengurusnya nanti.