
Perasaan tak nyaman itu terus bergumul di hati tanpa batas, mulai dari pelajaran di mulai sampai waktu istirahat ketika dia makan siang.
Seseorang tengah mengawasinya dengan cukup jelas, tanpa malu memandangnya dengan sebuah tatapan yang sulit untuk di jelaskan.
Ini adalah kali pertama ia mendapat tatapan seperti itu, membuatnya tak karuan hingga bingung harus bersikap seperti apa.
Dan saat ia berada di perpustakaan itu adalah puncak dari ketidaknyamanannya.
"Berhenti menatapku!" itu merupakan sebuah perintah yang jelas.
"Kenapa? aku punya hak untuk itu," balas Aslan sambil tersenyum.
Winnie mengerutkan kening, hampir tak memiliki kata-kata untuk membalas.
"Kau membuatku tak nyaman," sahutnya.
"Biasanya kau akan membalas," tukas Aslan.
Tentu Winnie akan membalasnya, tapi jika itu sebuah tatapan yang menantang seperti sebuah intimidasi. Sementara tatapan yang di berikan Aslan benar-benar berbeda dan baru kali ini Winnie menerimanya.
"Aku mau ke toilet," ujar Winnie memilih untuk pergi.
Sampai di toilet ia menatap pantulan wajahnya di kaca, melihat dengan teliti ada apa di sana yang membuat Aslan terus memandanginya.
"Oh Winnie, kebetulan. Kau punya tisu wajah?" tanya Deborah menghampiri.
Tanpa kata Winnie segera mengeluarkannya.
"Ada apa? kau keliatan stress," tanya Deborah jelas mendengar dengusan kesal Winnie meski pelan.
"Aku tidak mengerti, sepanjang hari Aslan bersikap aneh. Dia terus memandangku tanpa mengatakan apa pun," ujarnya kesal.
Hahahahahaha
Gelak tawa Deborah begitu nyaring dalam toilet, membuat Winnie bingung sendiri sebab dia tak mengerti dimana letak lucunya.
"Seorang pria tidak akan pernah bisa menutupi rasa cintanya, sementara gadis tidak bisa menutupi rasa cemburunya. Dia adalah pacarmu jadi peka-lah," ujar Deborah setelah puas tertawa.
Winnie membatu, ia hanya memerlukan waktu lima menit saja untuk menyelesaikan rumus kimia yang sulit sementara bahkan setelah Deborah pergi ia masih tak bisa memecahkan arti dari kalimat itu.
Kembali berkaca perasaan Yumna tiba-tiba hadir, perlahan ingatan tentang kehidupan sempurna putri bangsawan terpampang dalam kaca.
Hingga tatapan pangeran mahkota yang bersikukuh mempersuntingnya meski ia adalah gadis cacat, kini ia sadar tatapan itu mirip dengan tatapan yang di berikan Aslan.
__ADS_1
"Mungkinkah... Aslan... menyukai ku?" tanyanya pada cermin.
Betapa perjuangan demi memiliki hidup yang baik telah mengeraskan hatinya hingga tak sadar akan sebuah ketulusan dalam sebuah hubungan, entah mengapa tiba-tiba Winnie merasa malu tatkala ia mengingat semua waktu yang telah ia habiskan bersama dengan Aslan.
"Astaga.. tidak! Aslan tidak lebih dari diktator dan aku mau pacaran dengannya hanya demi keselamatan ku," gumamnya melempar jauh pikiran romantis itu.
Cepat mencuci muka dan tangan Winnie berencana kembali ke kelas saja, tapi saat ia keluar dari toilet rupanya Aslan sudah menunggu dari tadi.
"Sejak kapan kau di sini?" tanya Winnie takut ia mendengar semua ucapannya.
"Dari tadi, kau sakit perut? kenapa lama sekali?" balas Aslan bertanya.
Melihat dari wajahnya Winnie bisa bernafas lega sebab keliatannya Aslan tak mendengar apa pun.
"Tidak, aku baik-baik saja," sahutnya pelan.
"Kalau begitu ayo kembali," ajak Aslan sambil menggandeng tangan Winnie.
Entah mengapa perkataan Deborah kembali terngiang di kepalanya saat menatap bagaimana cara Aslan memegang tangannya, ia mulai membandingkan bahwa cara diktator bersikap bukanlah seperti ini.
"Besok aku akan menjemputmu seperti biasa, kenakan gaun yang waktu itu aku belikan," ujar Aslan tanpa berpaling.
"Baik," sahut Winnie pelan sambil menyimpulkan Aslan tetaplah penguasa sekolah yang arogan.
* * *
"Ah.. itu.. iya, teman ku ada yang ulangtahun dan aku harus menghadirinya," sahut Winnie cukup kaget akan teguran itu.
"Ahh... pesta orang kaya, tunggu sebentar!" ujar Jeny segera berlari ke kamarnya.
Tak berapa lama kemudian ia kembali dan menyerahkan sejumlah uang lusuh, bisa di pastikan itu adalah uang yang ia tabung hasil dari pekerjaannya.
"Belilah hadiah yang bagus, kau pandai memilih barang jadi semoga ini cukup," ujarnya mengepalkan uang itu pada Winnie.
"Tidak perlu ibu, aku di larang bawa hadiah jadi aku tidak perlu memberi apa pun," sahut Winnie menolak.
"Apa? kenapa begitu?" tanya Jeny heran.
"Um... teman ku anak seorang pejabat, selain teman sekolah ada juga beberapa orang penting yang hadir. Orangtuanya melarang tamu memberi hadiah dalam bentuk apa pun sebagai bentuk syukurnya," jelas Winnie tentu yang hanya sebuah omong kosong.
"Oh begitu, orang kaya memang hebat," gumam Jeny terpukau.
"Kalau begitu aku pergi dulu," ujar Winnie cepat sebelum ibunya bertanya tentang yang lain lagi.
__ADS_1
Bergegas meninggalkan rumah seperti biasa Winnie menemukan Aslan sudah menunggunya, dari kejauhan Aslan yang sudah cukup lama menanti segera melambaikan tangan sambil tersenyum.
Ini bukan kali pertama Winnie melihat Aslan dalam balutan pakaian bebas, tapi entah mengapa Aslan terlihat berbeda dari biasanya.
Padahal ia hanya mengenakan celana jeans dan kaus hitam yang di timpa kemeja kotak-kotak, rambutnya pun dibiarkan berantakan di sapu angin. Tapi kali ini di mata Winnie Aslan terlihat keren, ketampanannya jelas terlihat dengan senyum yang menawan.
"Kita akan pergi kemana?" tanya Winnie begitu ia sampai di hadapan Aslan.
"Kau akan tahu nanti," sahut Aslan sambil tersenyum penuh arti.
Meski cukup penasaran tapi Winnie tak bertanya lagi, ia segera masuk ke dalam mobil dan membiarkan Aslan membawanya kemana pun.
Di tengah jalan Aslan membuka atap mobil yang membuat angin berhembus cukup kencang menerpa mereka, semakin lama Winnie mulai merasa nyaman dengan angin itu hingga ia menikmati setiap belaian ada rambutnya yang berkibar.
Entah sudah berapa lama mereka berkendara, yang jelas cukup lama sebab Winnie tahu mereka sudah berada cukup jauh dari kota.
Memasuki pedesaan dan melewati bukit akhirnya Aslan menghentikan mobilnya di sebuah toko bunga, mengikuti Aslan turun dari mobil Winnie memperhatikan sekitar toko tersebut.
"Selamat datang tuan muda," sambut seorang wanita paruh baya di pintu.
"Terimakasih, Winnie ayo!" ajak Aslan mengulurkan tangannya.
Saat Winnie menggapai tangan itu dan membiarkan Aslan menggenggamnya wanita paruh baya itu tersenyum, tentu itu membuat Winnie merasa malu secara tiba-tiba.
"Saya sudah siapkan semuanya," sahutnya kemudian memimpin jalan.
Aslan dan Winnie mengikuti tepat di belakang, mereka berjalan melewati ruangan yang di penuhi berbagai macam tanaman hingga keluar dari bangunan itu.
Tak di sangka di belakangnya ada sebuah taman bunga yang megah, di tanami berbagai jenis bunga dan tepat di tengahnya sebuah tenda kecil berdiri.
Semakin ia berjalan mendekat Winnie bisa melihat tenda kecil itu di isi dengan perbekalan piknik, lengkap dengan makanannya.
"Seperti yang anda pesan," ujar wanita itu menunggu komentar dari Aslan.
"Bagaimana menurut mu?" tanya Aslan kepada Winnie.
"Indah," sahut Winnie yang tak menemukan kata tepat lainnya.
"Kau bisa pergi," ujar Aslan kemudian kepada wanita itu.
Wanita itu mengangguk dan pergi, membiarkan mereka berdua saja di tengah taman bunga.
"Aku sudah berusaha mencari padang bunga yang kau inginkan, sayangnya tak ada yang cocok. Apakah taman bunga ini tidak masalah?" tanya Aslan.
__ADS_1
Perhatian Winnie pada indahnya bunga-bunga segera teralihkan, matanya lurus memandang Aslan dengan benak yang segera mengingat permintaannya akan kencan di padang bunga.
Ternyata Aslan sedang memenuhi janjinya, dan di sanalah mereka saat ini.