
"Aslan! kumohon tunggu!" seru Winnie.
Berkali-kali ia memanggil tapi Aslan tetap saja tak mau mendengar, ia terus berjalan dalam kebisuan dengan wajah datarnya yang lebih di dominasi rasa jengkel.
Bruk
"Aduh!" erang Winnie saat akhirnya Aslan berhenti namun secara tiba-tiba sampai dia menabrak.
Membalikkan badan dengan mata menyipit namun tajam ia menatap Winnie.
"Siapa pria itu?" tanyanya.
"Hah? oh... namanya Leo," jawab Winnie.
"Kenapa dia memegang tangan mu seperti itu?" tanya Aslan lagi.
Winnie terdiam, seketika ia ingat bagaimana wajah Leo yang takut bercampur khawatir saat menjelaskan tentang Teressa kepadanya.
"Ck," decak Aslan.
Kini ia menampilkan kecemburuannya dengan nyata, wajahnya jelas kesal melihat Winnie tak dapat menjawab pertanyaan sederhana seperti itu.
"Sudahlah, kapan kau kembali? kenapa tidak bilang aku dulu?" ujar Winnie.
"Jangan mengalihkan pembicaraan! kau bahkan tak bisa menjawab hal sesederhana itu," ujar Aslan.
"Kenapa? dia hanya memegang tangan ku kan? lagi pula dia hanya teman, kau bisa tanya sendiri pada Deborah."
"Untuk apa? aku lihat sendiri apa yang kau lakukan," ujar Aslan.
"Berhenti bersikap seperti anak kecil! apa yang kau lakukan lebih buruk dari pada aku," seru Winnie mulai kesal.
"Memang apa yang aku lakukan?" tanya Aslan merasa tak bersalah.
Winnie menatap tak percaya, dalam hati ia berkata 'berani sekali Aslan melupakannya'.
"Kau bertanya? kau tidur dengan Carmen di kamar hotel," sahut Winnie.
Aslan terpaku, ia merasa tak pernah melakukan hal bodoh seperti itu.
"Jangan bercanda, hanya kau satu-satunya gadis yang ku ajak tidur."
"Berhenti membual! aku lihat sendiri kau telanjang dan tidur bersama Carmen saat ulangtahun Carl, bahkan saat itu aku masih berbaik hati membawa mu pulang. Jelas sekali waktu itu kalian mabuk sampai tak sadarkan diri," ungkapnya.
__ADS_1
Samar-samar sebuah ingatan kemudian muncul di benak Aslan, kini ia tahu alasan mengapa waktu itu Winnie marah padanya.
"Winnie... itu... aku pasti di jebak Carl," ujar Aslan gugup.
"Sungguh? apa kau juga akan menyalahkan ku karena membiarkan mu menerima ajakan Carmen untuk berdansa?" tanya Winnie dengan jengkel.
Tak tahan lagi Winnie segera pergi membawa perasaan marahnya, membiarkan Aslan termenung memikirkan betapa tajamnya ingatan seorang gadis terlebih akan kesalahan orang padanya meski itu hanya salah paham.
Dua jam berlalu akhirnya Winnie melembut dengan semangkuk eskrim, wajahnya kembali cerah dengan senyum yang dirindukan Aslan.
"Dasar, bukankah awalnya aku yang marah? kenapa sekarang malah aku yang merasa bersalah?" gumam Aslan.
"Kau ingin memulainya lagi?" tanya Winnie tajam.
"Eh tidak, sebaiknya kita pulang. Kau harus berganti pakaian," sahut Aslan.
Dia benar, pakaian Winnie telah bercampur keringat jadi dia juga harus mandi. Pergi menggunakan mobil Winnie benar-benar syok mendapati mereka berhenti di apartemen tempat Winnie menyewa.
"Ayo!" ajak Aslan keluar lebih dulu.
Perlahan Winnie keluar dari mobil, menatap pacarnya yang dengan santai berjalan lebih dulu.
"Dari mana kau tahu aku tinggal disini?" tanya Winnie.
"Kau akan tahu setelah kita masuk," sahut Aslan.
Menelan ludah sambil mencoba memikirkan segala kemungkinan saat sampai di depan pintu kamarnya Winnie tahu tebakannya akan tepat.
Ceklek
"Oh, kalian sudah pulang?" sambut Carl.
"Sudah kuduga," ujarnya.
Sangat aneh selama ini Carl membututi mereka tapi tak melakukan apa pun, sekarang Aslan tiba-tiba pulang dan tahu dimana ia tinggal. Tentu saja siapa lagi yang memberitahu jika bukan Carl.
"Sejak kapan kau jadi anak buah Aslan?" tanya Winnie sambil berjalan masuk.
"Bukan anak buah, aku adalah tangan kanan tuan Aslan. Tolong jangan salah sebut lagi," ralat Carl.
Winnie duduk dan menatap tajam pada Carl, aura yang ia pancarkan seketika membuat Deborah dan Nagisa kedinginan.
Beginilah jadinya jika musuh bebuyutan di pertemukan, untung kali ini ada Aslan sehingga Deborah tak terlalu khawatir.
__ADS_1
"Begitu rupanya, semoga kau selalu tahu dimana posisimu," ujar Winnie.
"Aku pasti selalu mengingatnya, justru sebaiknya kau harus lebih menjaga posisi mu sendiri," balas Carl.
"Ah.. hahaha Winnie sebaiknya kau pergi mandi, setelah itu kita bisa makan malam bersama," ujar Deborah mencoba mencairkan suasana.
Akhirnya Winnie mengedipkan mata, ia pun bangkit dan pergi mandi sementara Deborah menyiapkan makan malam. Karena tak bisa memasak tentu saja mereka hanya membuat mie instan, itu sudah cukup bagi anak-anak muda seperti mereka.
"Sejauh mana kalian tahu?" tanya Winnie setelah mereka selesai makan.
"Sejauh langkah yang kau ambil, karena itu aku memanggil tuan untuk pulang. Jika dia tak ada di sampingmu aku khawatir nyawa mereka berdua akan melayang karena mu," sahut Carl sambil menunjuk Deborah dan Nagisa.
Winnie tak bisa berkata, sebelum melangkah lebih jauh tentu ia sudah memperhitungkan segala kemungkinan terburuk.
"Aku mengerti kondisi mu, tapi melibatkan Deborah seperti ini apalagi gadis yang masih di bawah umur itu sudah keterlaluan. Aku tidak bisa diam saja saat mendengar apa yang terjadi pada Deborah terakhir kali," ujar Aslan.
"Aish ini bukan salah Winnie! kenapa kalian menyalahkannya? aku sendiri yang menawarkan bantuan, jangan bicara seperti itu pada Winnie!" hardik Deborah.
Matanya memerah dan air mata sudah menggenang disana, meski ia sempat mengalami kehinaan yang membuat trauma tapi apa pun yang terjadi dia tak akan meninggalkan Winnie.
"Mereka benar, ini sudah terlalu jauh. Lawan kita bukanlah geng SMU biasa," ucap Winnie pelan.
"Aku tidak peduli," ujar Nagisa.
"Ini adalah satu-satunya pekerjaan yang bisa aku lakukan, dengan gaji yang tinggi tentu saja aku tidak akan mundur. Toh justru aku mendapatkan banyak pengetahuan disini," lanjutnya.
Winnie tersenyum, cukup terharu dengan ucapan kedua temannya yang setia.
"Aaahh... setelah apa yang menimpa pada kalian, Winnie.. kau benar-benar berhasil mencuci otak mereka," keluh Carl.
"Kau ingin ku bantai?" tanya Winnie dengan serius.
"Untuk itulah aku memerintahkan Carl, kau bisa menjaga dirimu sendiri tapi mereka berdua tidak. Sekarang kita tidak bisa mundur lagi," ujar Aslan.
Saat pulang untuk merayakan ulangtahun Winnie tanpa sengaja ia mendengar pembicaraan Deborah dan Winnie yang mencurigakan, karena itu setelah kembali ke luar negri ia memerintahkan Carl untuk mencari tahu apa yang mereka sembunyikan.
Mengetahui fakta bahwa Winnie adalah anak angkat dari keluarga Martius tentu Aslan sempat syok, apalagi mendengar laporan lagi bahwa mereka tengah mencari pembunuh ibu kandung Winnie.
Aslan sangat tahu karakter Winnie, ia kuat dan bertekad besar. Mengingat apa yang dilakukan Winnie pada Carmen membuatnya sadar Winnie akan memberikan hukuman kejam pada pembunuh itu, dan untuk mewujudkan keinginannya pasti ia memasukkan dirinya dalam kurungan bahaya.
Tapi mendengar Winnie melibatkan Deborah dan Nagisa membuat Aslan yang tadinya tak mau ikut campur akhirnya harus turun tangan, ia pun memerintahkan Carl untuk menjaga Deborah karena tahu Deborah terlalu lemah dan merupakan mangsa empuk.
Alasan terakhir yang membuat Aslan akhirnya pulang adalah kematian Peter, perang dingin ini akan dipenuhi darah yang tak boleh ia tonton begitu saja.
__ADS_1