Reinkarnasi Putri Cacat

Reinkarnasi Putri Cacat
Bab 35 Saling Mencari Informasi


__ADS_3

Kamar yang nyaman dengan ranjang yang empuk membuat kualitas tidur Winnie sangat baik, ia bangun dengan perasaan nyaman siap tempur.


Bergegas mengganti pakaian pagi itu ia yang telah resmi menjadi mahasiswa segera turun untuk menyapa keluarganya di ruang makan, seperti dugaannya semua anggota keluarga Wilson telah hadir di sana.


"Selamat pagi semuanya," sapanya sambil duduk di kursinya.


"Selamat pagi," sahut yang lain.


"Winnie ini adalah hari pertama mu kuliah, setelah sarapan tunggu ayah. Ada sesuatu yang ingin ayah tunjukkan," ujar Brian.


"Apa itu?" tanya Winnie penasaran.


"Nanti kau juga tahu," sahut Camila menjawabkan.


Sementara Brian memberi tatapan melotot sambil mengangkat kedua alisnya, seolah takut Camila akan membocorkannya.


"Baiklah... " sahut Winnie kemudian.


Sarapan kembali berlangsung dengan damai, sampai setelah mereka selesai Brian mengajak Winnie segera keluar namun dengan mata tertutup.


Winnie tahu ada sebuah hadiah yang telah Brian siapkan untuknya, jika bukan tidak mungkin dia di perlakukan seperti itu.


"Baiklah, berdiri di sini. Sekarang buka matamu!" perintah Brian.


Winnie menurut, dia membuka mata perlahan dan mehgerjap beberapa kali. Tepat dihadapannya sebuah mesin beroda empat nampak elegan dengan warna putih yang mengkilap, di tambah seorang sopir bersarung tangan membuat nilai lebih.


"Apa... itu.... " tanya Winnie menebak.


"Ya, ini hadiah untuk mu. Bagaimana? kau suka?" tanya Brian antusias.


"Ini adalah hadiah paling luar biasa yang pernah aku dapatkan!" seru Winnie.


"Syukurlah, ayahmu benar-benar galau memilih mobil mana yang sekiranya kau sukai. Dia sampai berkali-kali bertanya padaku," ujar Camila yang menonton di belakang.


"Terimakasih ayah," ucap Winnie memberikan pelukan hangat yang membuat Brian sampai terharu.


"Kau bisa gunakan langsung untuk pergi ke kampus, sopir sudah siap mengantarmu," ujar Brian.


"Um.... bolehkah aku bawa mobil ku sendiri?" tanya Winnie hati-hati.


"Kau bisa membawa mobil?" tanya Nicki terkejut.


"Ya, jadi... bagaimana?" tanyanya.


"Baiklah... terserah padamu sayang," sahut Brian tak bisa menolak permintaan putrinya.

__ADS_1


Kembali mengucapkan terimakasih kini Winnie memberikan kecupan di pipi Brian.


"Um... Nicki kau mau ikut dengan ku? aku bisa sekalian mengantarmu," tawar Winnie sebab jika dia tak salah kampur Nicki satu jalur dengan kampusnya.


"Tidak perlu, aku bisa naik mobil ku sendiri. Selamat bersenang-senang," tolak Nicki.


"Baiklah, aku berangkat dulu!" serunya.


Winnie segera naik ke dalam mobilnya, mulai menyarter ia membuka kaca mobil dan masih sempat memberi lambaian tangan sebelum akhirnya meluncur pergi.


Di susul dengan Nicki dan Brian beberapa menit kemudian, tinggallah Camila sendiri di rumah.


"Kemarin dia memilih pakaiannya sendiri, sekarang dia mengendarai mobilnya sendiri. Besok kejutan apa lagi yang akan doa berikan?" gumam Camila.


"Permisi nyonya," ujar seorang pelayan menghampiri.


Camila menoleh dan membiarkan pelayan itu berbisik di telinganya, mendengar kabar yang di bawa ia segera masuk ke dalam.


Di dalam kamar tamu asistennya yang merangkap sebagai kepala pelayan adalah seorang wanita setengah baya bernama Noer telah menunggu, menyambut kedatangan bosnya ia sedikit menundukkan kepala.


"Sudah kau dapatkan?" tanya Camila.


Noer memberikan sebuah amplop coklat yang segera Camila lihat isinya.


"Tak disangka, ku pikir dia benar-benar sudah mati," gumam Camila memasang raut wajah kesal.


"Bagaimana dengan keluarga angkatnya?" lanjutnya bertanya.


"Keluarga Martius cukup miskin, Fabio Martius sebagai kepala keluarga setelah di PHK dini mencari nafkah dengan berjualan eskrim keliling. Sementara istrinya Jeny bekerja di sebuah binatu setelah nona Winnie masuk SMP, sejak nona Winnie di adopsi sampai sekarang perekonomian mereka tidak pernah bertambah baik. Tapi nona Winnie berhasil masuk sekolah bergengsi dua kali lewat jalur beasiswa," jelasnya.


Seperti yang ia dengar sekilas dari Brian, Winnie memang tinggal di keluarga miskin. Tapi justru ini yang semakin mencurigakan sebab Winnie tak terlihat kampungan, ia memiliki selera yang bagus layaknya besar di keluarga orang kaya.


"Entah ini berguna atau tidak, tapi ada cerita menarik selama nona Winnie menuntut ilmu di sekolah bergengsi."


"Katakan!" perintah Camila.


"Nona Winnie terkenal dengan julukan penjilat, ini karena ia berteman baik dengan anak-anak berpengaruh di sekolahnya padahal memiliki latar yang bertolak belakang," sahut Noer.


"Ah... sekarang aku mengerti, heh pantas saja. Rupanya selama ini dia adalah kacung...hahahahaha," ucap Camila tak bisa menahan geli.


......................


Setelah memarkirkan mobilnya Winnie segera pergi ke pintu utama kampus, berdiri tepat di sana sambil sesekali memeriksa ponselnya.


"Winnie!" seru Deborah dari kejauhan sambil melambaikan tangannya.

__ADS_1


Winnie membalas lambaian tangan itu sembari tersenyum, menunggu kedatangan sahabatnya yang sedang berlari menghampiri.


Sebelum kelulusan SMU mereka pernah membicarakan kampus mana yang di tuju, karena tak mau jauh dari Winnie akhirnya Deborah masuk kampus yang sama bahkan mengambil jurusan yang sama.


Saat Aslan mengetahui hal ini ia merasa sedikit lega sebab Winnie ada yang menemani, tapi dengan bergurau Deborah berkata Aslan memanfaatkannya untuk memberi laporan jika ada pria yang mendekati Winnie.


Tentu Aslan menepis tapi sejujurnya memang dia mengharapkan hal itu, saat dalam kondisi LDR Aslan tak bisa banyak berbuat apa-apa karena itu harapannya besar pada Deborah.


"Ayo! sebentar lagi kelas akan segera di mulai," ajak Winnie.


Kedua gadis itu pun masuk ke dalam, kelas berjalan lancar dan membuat mereka cepat memiliki waktu senggang.


"Terlalu dini untuk pulang, kau mau ke kafe?" tanya Winnie.


"Boleh juga," sahut Deborah setuju.


Berjalan ke arah parkiran Winnie membuka pintu mobilnya dan mengajak Deborah untuk masuk.


"Apa ini mobil mu?" tanya Deborah terkesan.


"Akan ku ceritakan di kafe," sahut Winnie.


Tentu Deborah langsung masuk sebab ia lebih tak sabar mendengar cerita dari mana Winnie mendapatkan mobil itu, setelah memesan minuman Winnie pun menceritakan siapa dirinya sebenarnya.


Bahwa dia adalah anak dari keluarga Wilson yang di adopsi oleh keluarga Martius, itu termasuk pada cerita bagaimana ia bisa hilang dan di adopsi.


"Oh Winnie... aku tak menyangka kau mengalami takdir seperti ini," ujar Deborah ikut berduka akan kepergian ibu kandungnya.


"Aku menceritakan ini padamu sebab ada hal yang ingin aku pinta darimu, itu pun jika kau tidak keberatan."


"Katakan saja, kau tidak perlu sungkan padaku," sahut Deborah yakin.


"Aku butuh bantuan mu, aku sedang menyelidiki kasus ini. Aku yakin seseorang mengincar nyawaku," ujarnya.


"Maksud mu... kau merasa peristiwa sembilan belas tahun lalu itu bukan kecelakaan biasa?" tanya Deborah.


Winnie mengangguk yakin, membuat Deborah berfikir keras.


"Apa yang harus aku lakukan?" tanya Deborah memutuskan akan membantu sekuat tenaga.


"Pertama tolong rahasiakan ini dari Aslan, kedua aku ingin kau mencari tahu latar belakang ibu tiriku Camila," ujar Winnie sembari tersenyum.


"Ini adalah makanan sehari-hari ku," sahut Deborah membanggakan kepandaiannya dalam mengumpulkan informasi.


Winnie tersenyum dan berterimakasih, ia berkeyakinan semakin jauh ia melihat masa lalu maka akan semakin mudah ia melihat masa depan.

__ADS_1


__ADS_2