
Ada banyak misteri di dunia ini yang belum terpecahkan, bagi Aslan salah satu misteri dunia yang paling ingin dia kupas adalah gadis bernama Winnie.
Di tengah taman bunga itu Winnie tak bisa hanya diam melihat keindahan alam yang telah di rawat sedemikian rupa, ia terus berjalan menghampiri setiap satu tanaman bunga dan berinteraksi dengannya.
Tersenyum bahkan bicara, anehnya ketika ia membuat sebuah interaksi seperti memuji keindahan bunga tersebut angin sepoy berhembus yang membuat bunga itu sedikit menunduk seolah mengucapkan terimakasih.
Pada awalnya Aslan hanya butuh seseorang yang mengakui kehebatannya, ia menyukai Winnie karena hal itu. Tapi waktu yang telah berjalan bersama mereka sedikit demi sedikit mengupas sifat Winnie yang tak pernah muncul ke permukaan, hingga tanpa sadar ia akhirnya jatuh cinta pada gadis itu.
Entah bagaimana perasaan Winnie kepadanya ia tak tahu, terkadang Winnie akan bersikap seperti pelayan yang ia harapkan kesetiaannya. Kadang ia begitu asik menjadi teman yang bisa di ajak berbagi, kadang ia juga perhatian seakan takut kehilangannya.
Namun mengingat bagaimana dengan mudahnya Winnie menerima ajakannya untuk berpacaran jelas sudah bahwa Winnie memang membutuhkannya sebagai hubungan saling menguntungkan.
"Aaahhh... aku haus," ujar Winnie kembali ke tenda.
"Kau sangat suka bunga ya?" tanya Aslan menyadari ekspresi bahagia di wajah Winnie.
"Mm, andai saja rumah ku memiliki halaman yang luas aku pasti akan menanam banyak bunga seperti di sini," jawabnya.
"Rumah ku luas, apa kau mau merawat bunga di rumah ku?" tanya Aslan.
Brruuuuhhhh... uhuk uhuk uhuk
"Kau tidak apa-apa? minumlah secara perlahan!" seru Aslan panik sambil mengusap punggung Winnie.
Masih terbatuk Winnie menggelengkan kepala, yang membuatnya tersedak bukanlah caranya minum melainkan pertanyaan Aslan.
Di dunianya yang sebelumnya pertanyaan seperti itu merujuk pada sebuah lamaran, tentu saja Winnie kaget mendengarnya. Tapi jika di pikir lagi kini ia berada di dunia yang berbeda, tentu maknanya berbeda.
"Aku tidak apa-apa," ujarnya pelan setelah batuknya reda.
"Winnie aku mencintaimu," ujar Aslan tiba-tiba.
Matanya lekat memandangi Winnie dengan penuh perasaan yang baru saja ia ucapkan, hatinya tak mampu menahan lagi kegetiran itu sehingga mengakuinya adalah satu-satunya jalan.
"Bicara apa kau ini?" tanya Winnie yang tak tahu harus menjawab apa.
__ADS_1
Ia hendak berdiri dan pergi namun Aslan dengan cepat menarik tangannya hingga Winnie jatuh dalam dekapan, ketika mata bertemu mata telapak tangan Winnie dapat merasakan debaran jantung Aslan yang kencang di balik dadanya.
"Aku tidak tahu bagaimana pendapatmu tentang ku, tapi satu hal yang harus kau tahu perasaan ku tulus. Aku mencintaimu," ulang Aslan kini dengan suara yang hampir seperti bisikan.
Winnie selalu dapat membaca isi pikiran seseorang dari ekspresi mereka, melihat wajah Aslan satu hal yang pasti namun enggan ia terima. Aslan memang benar-benar tulus kepadanya.
"Kau masih mau ku peluk atau kita pulang? sebab aku rasa sebentar lagi hujan akan turun," tanya Aslan dengan senyum nakal.
Dengan cepat Winnie mendorong diri menjauh dari Aslan, entah mengapa ia malah malu mendapat godaan seperti itu dari Aslan.
"Kita pulang," sahutnya pelan sambil membuang muka.
Tentu saja wajah Winnie yang memerah membuat Aslan tak tahan ingin menggodanya lagi, dengan menahan senyum ia pun bangkit dan menggandeng tangan Winnie keluar dari sana.
Seperti yang Aslan katakan langit yang awalnya berwarna biru cerah dengan arakan awan putih kini tiba-tiba mendung, saat mereka sudah berkendara meninggalkan toko bunga tetesan air hujan mulai membasahi bumi. Menyebarkan bau basah yang khas.
Beruntung saat mereka sudah sampai di dekat rumah Winnie hujan sudah berhenti, saat Aslan menepi ia baru sadar ternyata Winnie ketiduran.
Wajah polosnya saat tidur membuat Aslan tergoda untuk melakukan sesuatu pada wajah itu, tapi ia orang yang cukup sabar sehingga yang ia lakukan hanya menatap Winnie sampai ia terbangun sendiri.
"Sudah sejak tadi," sahut Aslan.
"Kenapa kau tidak membangunkan ku?" tanya Winnie.
"Wajah mu saat tidur sangat lucu, sayang jika tidak ku nikmati," balasnya.
"Kau memotret ku?" tanya Winnie sudah takut.
"Aah... benar! kenapa tadi tidak kepikiran?" seru Aslan menyesal sambil membenturkan kepalanya pada setir.
Sementara Winnie tersenyum lega, ia pun mengucapkan terimakasih dan berpamitan sebelum keluar dari mobil.
"Aslan," panggil Winnie dari balik kaca jendela mobil.
"Terimakasih atas kencannya," ujarnya seraya tersenyum.
__ADS_1
Itu adalah ucapan yang tulus yang membuat Aslan merasa lega sekaligus senang, ia pun mengangguk dan membiarkan Winnie pergi.
Setelah kencan itu ada sedikit rasa canggung bagi Winnie karena pernyataan Aslan, tapi untungnya Aslan bersikap seperti biasa yang membuat Winnie bisa bersikap normal.
Namun jelas ada sedikit perbedaan, Aslan mulai memberinya kebebasan seperti waktu jam istirahat itu.
"Aku mau membakar bersama yang lain, kau makanlah dengan Deborah," ujar Aslan sebelum pergi bersama anak buahnya.
Tentu Winnie tahu maksud membakar yang dikatakan Aslan, mengangguk Winnie cepat mengajak Deborah pergi sebelum mereka antrian semakin panjang.
"Kau tidak ikut dengan Aslan?" tanya Deborah heran.
"Dia sendiri yang menyuruh ku makan dengan mu," sahut Winnie.
"Tumben sekali, apa kalian bertengkar?" tanya Deborah.
"Tidak! hubungan kami baik-baik saja, sudahlah tidak perlu di hiraukan. Apa kau tidak senang makan siang dengan ku?" balas Winnie.
"Tentu saja aku senang, aku sangat rindu makan berdua dengan mu!" sahut Deborah.
Memang sudah cukup lama mereka tidak makan bersama, karena itu di sepanjang makan siang mereka terus mengobrol sambil sesekali tertawa.
"Wah Wah... apa yang ku lihat ini? Winnie tidak bersama dengan Aslan?" tanya Carl menghampiri dan duduk tepat di hadapan Winnie.
Seketika wajah Winnie berubah dingin tanpa ekspresi, ia tahu kedatangan Carl bukanlah membawa keberuntungan.
"Bagaimana kabar Carmen? bukankah cukup lama ia membolos?" balas Winnie dengan senyum mengejek.
"Sudah membaik, jika kau merindukannya kenapa kenapa kau tidak menjenguknya?" tanya Carl.
"Tidak... aku ini orang miskin, jika aku menjenguknya aku khawatir Carmen akan jatuh sakit lagi karena kuman yang ku bawa," sahut Winnie.
Beradu pandang yang saling mengintimidasi ada aura dingin keluar dari mereka, membuat suhu sekitar menurun drastis hingga Deborah yang paling dekat berfikir ia akan terserang flu.
"Besok aku ulangtahun, datanglah bersama Aslan," ujar Carl menyerahkan sebuah undangan kemudian pergi.
__ADS_1
Winnie tetap menatap Carl sampi ia benar-benar pergi baru mengambil undangan itu, tertera sebuah alamat hotel dimana pesta akan diselenggarakan. Winnie tahu pesta ini hanya sebuah alasan untuk perang dingin yang akan terjadi, meski firasatnya tidak bagus tapi bukan caranya untuk lari.