Reinkarnasi Putri Cacat

Reinkarnasi Putri Cacat
Bab 50 Pencarian Nenek


__ADS_3

"Apa maksud mu?" ujar Deborah balik bertanya.


Sadar bahwa ia telah salah paham Leo segera meminta maaf dan meninggalkan mereka berdua dalam kebingungan.


"Apa terjadi sesuatu dengan kalian?" tanya Winnie merujuk pada ucapan Leo.


"Tidak, kencan kami berjalan lancar. Malah Agger mengajak ku kencan lagi nanti," sahutnya.


"Aneh sekali, lalu apa maksud ucapan Leo?" gumam Winnie.


"Entahlah, aku juga tidak mengerti. Ah lupakan! kenapa kau bersikap baik padanya?" tanya Deborah ketus.


"Kenapa? aku hanya bersikap ramah seperti biasa," sahut Winnie merasa tak berdosa.


"Winnie ingatlah posisi mu sekarang! kau bukan lagi Winnie Martius yang harus mendekati pemuda populer seperti Leo, kau adalah Winnie Wilson. Lagi pula kau punya Aslan jadi jangan pernah biarkan pria mana pun memiliki kesempatan!" tegas Deborah.


"Woah, kenapa kau sangat berpihak padanya?" tanya Winnie.


"Aku berpihak padamu tapi aku lebih takut pada Aslan," ralat Deborah.


Melihat wajah serius Deborah membuat Winnie tak bisa menahan tawa, akhirnya ia melepaskan kegelian itu sampai puas.


"Hei aku belum pernah datang ke rumah barumu, hari ini aku bebas. Boleh aku berkunjung?" tanya Deborah.


"Oh benar! bagaimana kalau kita pergi sekarang?" sahut Winnie merasa bersalah sebab beberapa teman pria sudah datang berkunjung tapi sahabat terdekatnya belum.


Memberi isyarat setuju dengan anggukan kepala mereka pun segera pergi, sampai di rumah Winnie mengajak Deborah untuk menyapa Camila dulu sesuai tradisi keluarga.


"Jadi kau teman Winnie, tolong jangan berisik ya? Nicki sedang tidur," ucap Camila jengkel kemudian berlalu begitu saja.


"Astaga... jutek sekali," gumam Deborah.


"Sudahlah, ayo ke kamar ku saja!" ajak Winnie.


Deborah sudah menerka-nerka akan seperti apa kamar Winnie, mengingat sifatnya ia berfikir akan ada tumpukan buku di sana sini namun ternyata tidak.


Kamar Winnie sangat biasa bahkan terkesan terlalu biasa untuk ukuran kamar seorang gadis, dengan cat putih dan tak banyak furnitur ia di buat menggelengkan kepala.


"Setidaknya pajanglah beberapa hiasan dinding," komentar Deborah menatap tembok yang kosong.


"Segini sudah bagus," sahut Winnie.


Memperhatikan setiap benda yang ada di kamar Winnie kemudian perhatian Deborah tertuju pada sebuah foto yang di pajang di dekan lampu tidur, mengambilnya untuk melihat lebih jelas tiba-tiba Deborah melotot kaget.


"Winnie siapa orang ini?" tanya Deborah.


"Orangtua kandungku, Brian dan Maya saat muda. Kenapa?" sahut Winnie bingung.


Deborah segera mengeluarkan ponselnya, mencari sesuatu yang jelas ia simpan dalam berkas penting.

__ADS_1


"Lihatlah!" ujar Deborah setelah berhasil menemukannya.


Winnie mengambil ponsel itu dan membaca sebuah surat kabar lama, yang membuatnya ikut terkejut adalah sebuah foto perempuan dimana wajahnya mirip dengan Maya.


"Ini... " ujarnya sambil berfikir keras.


"Ini artikel yang memuat berita kematian seorang model yang kontroversial, aku sudah menceritakannya padamu. Ibu tirimu pernah terlibat dalam skandal ini," ucap Deborah melanjutkan ucapan Winnie untuk mengingatkan.


"Wajahnya, wajahnya mirip dengan mendiang ibuku," ujar Winnie.


Saling menatap berbagai pertanyaan mulai bermunculan di benak mereka.


"Tunggu! ibumu meninggal tepat setelah kau lahir, tapi model ini meninggal jauh saat ibu tirimu bahkan masih muda. Itu artinya mereka dua orang yang berbeda," ujar Deborah meluruskan.


"Kau benar, tapi wajah mereka terlalu mirip," sahut Winnie.


"Mungkinkah mereka kembar?" tanya Deborah.


Winnie menatap panjang, itu bisa saja terjadi dan mereka harus menyelidikinya. Tak ada yang bisa mereka tanyai sebab Brian sedang berada di luar kota, berfikir keras Winnie teringat kartu tahun baru yang hendak di kirim Maya untuk ibunya.


Di sana tertera jelas alamatnya, jika mereka beruntung mereka dapat bertemu dengan nenek Winnie yang tak lain adalah ibu Maya.


Tanpa pikir panjang mereka segera tancap gas, meski hari menjelang sore dalam pencarian alamat itu Winnie sama sekali tak peduli.


Di sepanjang jalan mereka terus bertanya kepada orang-orang agar mencapai tujuan dengan tepat dan cepat, tapi tetap saja saat tiba di desa itu hari sudah malam.


"Kita sudah melewatkan jam makan malam, sebaiknya kita cari tempat makan dulu dan tempat istirahat," saran Deborah.


Mengendarai mobil dengan perlahan mereka menatap kiri kanan namun yang ada hanya rumah-rumah, sebenarnya itu hal yang wajar karena mereka berada di pedesaan.


Menghabiskan waktu beberapa menit akhirnya mereka menemukan sebuah kedai yang masih buka, segera mereka pun menepi dan masuk ke kedai itu.


"Permisi... " seru Winnie.


"Ya?" sahut pemilik kedai.


"Tolong mie rebus dua dan teh panasnya," ujar Winnie.


Tanpa canggung Winnie langsung duduk di bangku depan pemilik toko yang mulai menyiapkan mie, sementara Deborah terlihat kurang nyaman karena tempatnya yang seperti tidak higienis.


"Duduklah," ujar Winnie sambil menepuk bangku di sampingnya.


Mengambil tisu Deborah me-lap bangku itu terlebih dahulu sebelum duduk, hal sepele yang membuat Winnie tersenyum geli.


"Ini mienya, dan ini tehnya," ujar pemilik kedai sambil menaruh pesanan tepat di hadapan mereka.


"Terimakasih," sahut Winnie.


Tanpa ragu Winnie yang sudah kelaparan segera melahap mienya, sementara Deborah mencium aromanya terlebih dahulu sebelum mencicipi.

__ADS_1


"Aku tidak pernah lihat kalian, apa kalian baru di desa ini?" tanya pemilik kedai.


"Oh benar, kami sedang mencari alamat. Ini!" sahut Winnie segera menyerahkan kertas berisi alamat.


Pemilik kedai membaca alamat yang tertera.


"Kalian mencari oma Nana?" tanyanya.


"Anda mengenalnya?" balas Winnie bertanya.


"Tidak ada yang tidak mengenalnya, semua orang di desa pasti mengenal oma Nana."


"Sungguh? bisakah anda menunjukkan dimana rumahnya?" tanya Winnie bersemangat.


"Tentu, tapi kenapa kalian mencarinya?" tanya pemilik kedai penasaran.


"Um... kami keluarga jauh," sahut Winnie.


"Begitu ya, akan ku antar kalian setelah ini. Tapi aku harap kalian tidak kaget setelah bertemu dengannya," ucapnya.


"Memangnya kenapa?" tanya Deborah penasaran.


"Setelah kematian putrinya oma Nana jadi tempramen, dia mudah sekali marah karena hal kecil. Ini sudah malam dan dia pasti marah karena kalian berkunjung di waktu dia istirahat," jelasnya.


"Tidak masalah, anda hanya perlu mengantar kami. Selebihnya biar kami yang urus," jawab Winnie tak ingin kehilangan kesempatan.


Karena Winnie bersikeras pemilik kedai pun setuju, mereka adalah pelanggan terakhir karena itu pemilik kedai segera menutup kedainya setelah mereka selesai makan.


Barulah setelahnya mereka pergi ke rumah oma Nana sesuai petunjuk yang di berikan pemilik kedai, rumah itu nampak seram karena lampu depan yang temaram terlebih halaman depan di penuhi tanaman.


Menelan ludah Deborah memberanikan diri maju melewati pekarangan sampai tiba di pintu, saling menatap dengan Winnie mereka kemudian mengetuk pintu itu.


Awalnya tak ada respon, tapi setelah mereka mengetuk untuk yang kedua kalinya terdengar seruan dari dalam "Siapa?".


"Siapa yang tidak punya sopan santun seperti itu, bertamu di jam istirahat seperti orang bodoh saja!" hardik suara wanita tua yang di sertai langkah berat.


Winnie dan Deborah saling menatap, setuju pada ucapan pemilik kedai.


Ceklek


"Mau apa kalian?" hardik wanita tua itu dengan mata melotot.


"Maaf, apa anda oma Nana?" tanya Winnie tanpa rasa takut sementara Deborah mundur beberapa langkah.


"Jika sudah tahu kenapa bertanya?" hardik oma.


"Oma... aku Winnie," sahutnya penuh syukur.


"Winnie siapa? aku tidak mengenalmu!" ujar oma jutek.

__ADS_1


"Winnie Wilson, putri Maya Wilson yang hilang," sahut Winnie.


__ADS_2