
Sudah sembilan tahun berlalu, selama sepuluh tahun ia bekerja keras mencari putri kandungnya dengan keyakinan kuat putrinya itu masih hidup.
Segala upaya telah ia lakukan, sampai akhirnya Roy mengabari ada pasangan suami istri yang melaporkan telah menemukan bayi pada polisi.
Mencoba keberuntungan Roy bersama polisi itu datang ke panti asuhan yang polisi itu minta untuk di titipkan bayi itu, namun terdapat kendala saat ternyata pasangan itu mengadopsi bayi tersebut dan telah pindah rumah.
Tak menyerah Roy terus mencari pasangan itu sampai akhirnya bisa menemukan Jeny, mengatakan apa yang sebenarnya terjadi Roy meminta selimut yang di pakai Winnie saat mereka menemukannya sebab selimut yang di gunakan putri Brian saat hilang tidak banyak di jual sehingga mudah di kenali.
Ia juga membawa helai rambut dari sisir Winnie untuk menguji DNA, seperti yang di harapkan Winny benar adalah anak kandung dari Brian Wilson yang hilang sembilan belas tahun yang lalu.
Brian telah menyiapkan hati dan membayangkan sebuah pelukan hangat melepas kerinduan, tapi yang ia temukan justru tatapan acuh seolah Winnie tak peduli.
"Apakah... kau tidak senang bertemu dengan ayah kandungmu?" tanya Brian dengan hati yang patah.
"Aku senang," sahut Winnie tetap bersikap acuh.
"Tapi kau tidak kelihatan senang!" bantah Brian.
"Karena aku senang dengan kehidupan ku saat ini, apakah kau tidak berfikir tuan Brian? aku tahu selimut itu di produksi hanya dengan jumlah terbatas, hanya beberapa orang yang memilikinya. Jika aku mau sudah sejak dulu aku menyelidiki siapa orangtua kandungku yang sebenarnya lewat selimut itu, tapi aku memilih untuk tidak melakukannya," jelas Winnie.
"Kau marah karena kau merasa di buang," terka Brian.
__ADS_1
Winnie menatap mengerutkan kening, ia tak mengira Brian masih ngotot berharap Winnie akan memeluknya dan memanggilnya ayah. Sungguh bagi Winnie itu tak berarti, ia benar-benar tak peduli tentang identitas aslinya.
"Sembilan belas tahun yang lalu Maya mendiang ibumu dan aku pergi ke rumah sakit karena kontraksi, sampai di rumah sakit kau lahir sempurna dan ibumu sangat bahagia menyambut kelahiran mu. Tapi saat tengah malam, begitu aku kembali ke kamar kalian Maya sudah kaku dengan mata terbuka lebar dan kau hilang. Kami cepat mencarimu ke seluruh tempat tapi kau menghilang," ujar Brian mengerikan kisah pilu itu.
Sekarang Winnie tahu ada yang mengincar nyawanya, bahkan ibu kandungnya di habisi dengan kejam.
"Kau tahu pelakunya?" tanya Winnie.
"Dua hari kemudian Roy berhasil menangkap seorang pria yang menculik mu, dia berkata telah menghabisimu. Tapi aku tak percaya sebab sampai sekarang aku tidak menemukan mayatmu," jawabnya.
"Kenapa dia menculikku dan menghabisi ibu?" tanyanya lagi.
"Dia memang seorang pencuri bayi, dia berbisnis dalam hal itu."
Mencium ada yang tidak beres Winnie mulai berfikir mungkin ia berengkarnasi pada tubuh Winnie adalah untuk menguak kebenaran, maka itu ia telah memutuskan.
"Selama ini kami kesulitan dalam ekonomi, tapi aku sangat bahagia sebab kedua orangtua ku begitu sayang dan memanjakan ku. Berkat mereka aku terus mendapatkan beasiswa di sekolah bergengsi, saat mengetahui bahwa aku anak adopsi seminggu penuh aku mengurung diri di kamar. Kau tahu apa yang mereka lakukan? mereka memberiku waktu untuk meluapkan emosi dan setelahnya berjanji tidak akan mengungkit hal ini lagi, saat itu aku sadar untuk apa bersedih jika aku memiliki kehidupan yang sempurna. Tapi sekarang setelah mendengar perjuangan mu aku baru sadar ternyata aku sudah egois," ujarnya.
"Winnie.... " panggil Brian pelan dengan mata yang berkaca-kaca.
"Ayah... maafkan aku... " ucapnya.
__ADS_1
Sebuah pelukan yang sejak tadi Brian inginkan Winnie berikan sampai ia puas, dalam dekapan itu Winnie bersumpah akan membalas dendam pada orang-orang yang membuat Maya mendiang ibu Winnie meninggal dalam ketidakberuntungan.
"Sudah lama aku menginginkan hal ini, kemasi barangmu dan kita akan segera pulang ke rumah mu yang sebenarnya," ujar Brian melepas pelukan.
"Tidak, aku tidak bisa pergi begitu saja," sahut Winnie.
"Kenapa?" tanya Brian heran.
"Selama ini aku adalah Winnie Martius, tolong pikirkan perasaan orangtua angkat ku juga. Bagaimana pun mereka yang telah membesarkan ku, setidaknya biarkan aku tetap di sini sampai kelulusan," pintanya.
Brian mengerti, ia pun tak boleh egois. Ia mengijinkan Winnie tetap tinggal sampai kelulusan, tos itu tidak akan lama. Tapi ia juga minta di ijinkan untuk sering menjenguknya sebab ada banyak hal yang harus Winnie ketahui, mencapai kesepakatan mereka mengijinkan Jeny serta Roy masuk kembali.
Setelah Brian dan Roy pulang Winnie mengatakan kesepakatan mereka kepada kedua orangtuanya saat makan malam, tentu Fabio yang paling sedih menerima kenyataan ini.
"Dulu aku sempat berfikir hal bagus tidak memiliki anak sebab biaya hidup itu sangat mahal, jika ditambah memiliki anak aku pikir bebanku akan bertambah. Tapi setelah bertemu dengan mu semuanya berubah, meski hidup serba kekurangan aku selalu bahagia sebab ada sesuatu yang bisa ku sombongkan kepada teman-teman ku. Saking bahagianya aku sempat berfikir akan bagus kau tidak pernah bertemu orangtua kandungmu, benar-benar pikiran yang jahat," ujar Fabio menahan tangis.
"Ayah...bertemu keluarga kandung dan akan hidup bersama mereka bukan berarti seketika kalian menjadi orang asing, meski Brian Wilson terbukti ayah kandungku tapi hanya kau ayah yang tahu apa makanan favorit ku. Hanya kau yang tahu kebiasaan ku dan segala hal tentang ku," ujar Winnie mencoba mengobati kesedihan Fabio.
Dan itu berhasil, Fabio tersenyum sambil memegang tangan Winnie.
"Sesibuk apa pun aku pasti akan menyempatkan diri menjenguk kalian," janjinya.
__ADS_1
"Yeah... aku tahu," sahut Fabio.
Meninggalkan momen melow itu Winnie mulai bercanda yang membuat mereka tertawa, dalam sekejap kehangatan keluarga Martius kembali seperti sediakala.