Reinkarnasi Putri Cacat

Reinkarnasi Putri Cacat
Bab 28 Akhir Pekan Yang Sial


__ADS_3

Winnie baru menyadari ternyata menjadi pacar Aslan telah menyita banyak waktunya, sudah dua kali ia melewatkan akhir pekan membantu Jeny karena terus berurusan dengan Aslan.


Meski diam-diam ia menikmati kebersamaan itu tapi ada rasa bersalah kepada orangtuanya sebab ia seolah telah mengabaikan orang tuanya.


Karena itu akhir pekan ini ia sudah meminta Aslan untuk jangan mengganggunya sebab ia ingin waktu yang damai bersama orangtuanya, seperti biasa Winnie membantu pekerjaan Jeny di binatu di akhir pekan itu.


"Hari ini kita akan pulang cepat, ibu sudah minta ijin untuk pulang siang sebab ada urusan di rumah teman ibu. Nanti kau langsung pulang saja ya!" ujar Jeny di sela pekerjaan mereka.


"Oh, baiklah," sahut Winnie agak kecewa sebab ia pikir akan menghabiskan seharian dengan orangtuanya.


Setelah makan siang mereka berpisah di persimpangan jalan, menatap kepergian Jeny yang berjalan ke arah berlawanan ia mulai berfikir untuk membantu ayahnya.


Tapi ia tidak tahu dimana ayahnya sekarang, lagi pula Fabio tidak pernah mengijinkannya untuk membantu pekerjaannya.


Tak ada pilihan ia kembali ke rumah, sebelum itu ia ke pergi ke pasar dulu untuk membeli sayuran untuk makan malam nanti.


Setidaknya ia menghabiskan waktu satu jam hanya untuk membeli beberapa jenis sayuran dan ikan, memilih jalan memutar untuk menikmati hari yang damai rupanya akhir pekan itu ia memang sedang sial.


Di ujung gang yang sepi itu Carl berdiri menatapnya, senyumnya yang menyebalkan membuat Winnie menggerutu.


"Apakah aku semenarik itu sampai kau selalu mencari kesempatan?" tanya Winnie.


"Pacarmu terlalu overprotective, aku hanya ingin mengobrol santai dengan mu," sahut Carl.


"Sungguh? karena itu kau menjebak Aslan bahkan menjebak Carmen juga?" tanya Winnie.


"Kau ingin jujur?" tanya Carl sambil mendekat hingga memojokkan Winnie ke tembok.


"Kejujuran apa yang ingin kau katakan? bahwa meski sempurna tapi kau tidak mampu membuatku tertarik? itu pasti menyebalkan bukan?" balas Winnie.


Pertanyaan yang tajam tepat melubangi hati Carl, ia adalah pria tanpa celah yang mampu naik ke puncak tanpa musuh. Jika berada di pihak Carl sudah bisa di pastikan Winnie mendapat posisi serta masa depan yang cerah, tapi sifat mereka cukup mirip sehingga justru itu akan menjadi boomerang.


Karena Carl cerdas dan tanpa celah-lah yang membuat Winnie mengambil keputusan untuk menjadikannya lawan, tentu saja karena ia tak bisa membodohi pria itu seperti yang lain sehingga ia takut akan menjadi pelayan yang sesungguhnya.


"Tebakan yang benar, aku menginginkanmu lebih dari apa pun. Sayang kau menentang keras," bisik Carl.


Tangan yang kuat itu tiba-tiba menyergap leher Winnie, seketika pernapasannya terputus sehingga Winnie membuka mulut lebar-lebar demi tidak kehilangan oksigen.

__ADS_1


"Maaf Winnie sayang... jika aku tidak bisa mendapatkan mu maka tak ada yang boleh memilikimu," ujar Carl dengan mata merah yang berkaca-kaca.


Sebisa mungkin Winnie meronta, menendangkan kakinya pada Carl namun gerakan itu membuat Carl lebih mengunci Winnie dalam tubuhnya yang kekar.


Ia mencoba menggapai wajah Carl dengan kedua tangan namun dengan mudah Carl terus mengelak, apa ini akhir hidup Winnie? ia mulai lemas dan pandangannya mulai kabur.


Jika di kehidupan sebelumnya ia mati terbakar dan kehabisan darah, apakah di kehidupan ini ia akan mati kehabisan oksigen? dalam benak yang sebentar lagi terlelap ia hanya berkata 'Dewa, tokoh utama ini membutuhkan tokoh pendukung yang hebat.'


......................


Ada sepoi angin yang begitu sejuk menerpa wajahnya, mungkin itu angin surga yang menyambut kedatangannya. Menghirup nafas anehnya ia mencium aroma mint, apakah surga berbau mint? perlahan Winnie mengerjapkan matanya.


Butuh beberapa menit untuknya sampai bisa melihat dengan jelas, hal pertama yang nampak adalah wajah tokoh pendukung dengan raut wajah cemas.


"Kau sudah sadar? bagaimana perasaan mu? ada yang sakit?" tanya Aslan cepat.


Winnie bangkit, melihat sekeliling dan sadar ia berada di rumahnya.


"Ah! kemana si keparat itu?" tanyanya yang ingat Carl.


"Oh begitu rupanya, eh! kenapa kau ada di sini?" tanya Winnie yang baru sadar akan janji mereka.


Tersenyum sambil menggaruk belakang kepalanya ia menjawab "Aku ingin melihatmu, dalam perjanjian aku hanya tidak boleh mengganggu kan? jadi aku melihat mu dari kejauhan, saat itulah aku melihat Carl bersikap kurang ajar padamu. Maaf karena aku terlambat menolongmu, tadinya jika kalian hanya bicara aku hanya akan memperhatikan dari jauh."


"Penguntit," ujar Winnie dengan sikap seolah jijik.


"Hei hei! begitukah sikap mu pada orang yang sudah menyelamatkanmu?" keluh Aslan.


"Ah baiklah, maafkan aku. Terimakasih tokoh pendukung," sahut Winnie.


Ia pun bangkit dan hendak mempersiapkan makan malam sebab saat melirik jam sore telah tiba, sementara Aslan bergumam tak jelas keheranan akan panggilan tokoh pendukung.


"Kau lihat belanjaanku?" tanya Winnie yang tak dapat menemukannya.


"Tidak," sahut Aslan sambil menggeleng.


"Ah sial! sepertinya tertinggal di sana," gerutunya.

__ADS_1


Tanpa kata Winnie mengambil jaketnya dan pergi ke tempat dimana ia di serang Carl, tentu saja Aslan mengikuti dari belakang.


Sialnya lagi sayuran yang sudah Winnie beli itu habis berantakan, dilihat dari sisanya mungkin bekas kucing liar atau anjing. Terpaksa ia harus belanja lagi dengan sisa uang yang sedikit, selesai membeli sayuran Winnie menghitung sisa uang di dompet.


Menatap jajaran ikan dan daging ia hanya bisa menghela nafas sebab uangnya tak cukup, kembali berjalan ke arah rumah malam ini menu makan malam mereka hanyalah sayuran.


"Kau mau ikut makan malam di rumah ku atau pulang?" tanya Winnie.


Anehnya Aslan tidak menjawab, saat ia menengok kebelakang rupanya Aslan sedang bicara dengan si pedagang.


"Apa yang kau lakukan?" tanya Winnie segera menghampiri.


"Ah, menu makan malam kita hari ini adalah barbeque, bagaimana? kau suka?" sahut Aslan balas bertanya.


"Ini tuan, ini daging sapi dengan kualitas terbagus," ujar si pedagang menyodorkan bungkusan plastik.


"Terimakasih," sahut Aslan segera mengambilnya dan membayar.


"Ayo pulang!" ajak Aslan seraya tersenyum.


"Dewa, rupanya kau membayar kesialan ku lewat dia," gumam Winnie sambil tersenyum.


Segera mengikuti langkah Aslan mereka pulang ke rumah, tentu awalnya Aslan berniat membuat barbeque tapi Winnie tak setuju sehingga pada akhirnya mereka sepakat membuat hotpot.


Bagi Winnie hidangan itu cocok untuk menghilangkan penat setelah seharian bekerja, tentu saja ia melakukannya demi orang tuanya.


Seperti yang telah mereka tunggu, begitu Fabio dan Jeny pulang mereka di buat kaget serta gembira akan penyambutan itu.


"Om, tante. Perkenalkan saya Aslan, saya teman Winnie di sekolah," ujar Aslan memperkenalkan diri.


Tentu Winnie cukup kaget sebab ia kira Aslan memperkenalkan diri sebagai pacarnya, tapi tentu itu lebih baik sebab jika Fabio tahu Aslan pacarnya maka Fabio akan segera menginterogasi dan malam yang menyenangkan itu akan berakhir.


"Aish...jika tahu akan kedatangan tamu aku akan membatalkan pertemuanku, aku jadi merasa tidak enak telah meninggalkan mu dengan semua pekerjaan memasak ini," ujar Jeny.


"Tidak apa-apa, tolong jangan sungkan seperti itu. Justru aku yang berterimakasih karena sudah diijinkan makan malam bersama," sahut Aslan tersenyum ramah.


'Bagaimana bisa ia bersikap begitu sopan? apa benar dia berandalan penguasa sekolah?' batin Winnie yang kaget melihat sisi lain Aslan.

__ADS_1


__ADS_2