Reinkarnasi Putri Cacat

Reinkarnasi Putri Cacat
Bab 16 Penguasa Ke Dua


__ADS_3

"Aslaaan.... gawat! gawat!" seru salah satu anak buahnya.


Obrolan santai itu segera berhenti, menatap bawahannya yang nampak cemas ia bertanya "Ada apa?."


"Jimmy di keroyok," laporanya.


"Apa? siapa yang melakukannya?" tanya Aslan heran ada orang yang berani pada bawahannya.


"Sebaiknya kita cepat ke sana dulu," ujarnya.


Tanpa pikir panjang Aslan dan anak bawahnya segera pergi, tentu saja Winnie juga ikut.


Di kelas yang sudah tak terpakai benar saja anak buahnya yang bernama Jimmy tengah terkapar di lantai dengan kondisi memprihatinkan, kesadarannya yang semakin menipis bahkan tak bisa lagi meminta pertolongan di tengah tendangan.


"Hajar mereka!" perintah Aslan sambil berjalan memimpin.


Pertarungan segera terjadi, tentu saja dalam hitungan detik saja Aslan dan anak buahnya menang melawan tiga orang yang berani mengeroyok Jimmy.


Sementara Winnie segera mendekati Jimmy untuk memastikan keadaannya, melihat betapa parahnya luka yang di dapat Winnie mencoba memberi pertolongan pertama.


"Aslan!" panggil seseorang tiba-tiba.


Mereka berhenti memberi menyerang, menatap Carl yang baru saja datang.


"Apa yang kau lakukan? kenapa kau memukul teman-temanku?" tanya Carl mendekat.


"Oh... jadi kau bosnya," sahut Aslan.


"Apa maksud mu?" tanya Carl dengan wajah polos.


"Mereka mengeroyok Jimmy!" seru anak buah Aslan yang tadi melapor.


"Itu karena dia menghina kami," sahut teman Carl mencoba bangkit sambil menahan sakit.


"Ah... sepertinya telah terjadi kesalahpahaman, ini masalah antar mereka jadi ku harap kau bisa sedikit lebih bijak lagi," ujar Carl dengan suara lembut yang menjengkelkan.


"Aku tidak akan pernah membiarkan siapa pun berbuat seenaknya pada bawahan ku, apalagi mereka mengeroyok seperti pecundang di saat aku tidak ada," balas Aslan.

__ADS_1


Carl tersenyum seolah puas akan jawaban Aslan.


"Jadi kau menolak untuk berdamai?" tanya Carl.


"Aslan!" panggil Winnie sebelum Aslan sempat mengeluarkan kata untuk menjawab.


"Kumohon prioritas kan Jimmy dulu, keadaannya cukup parah," ujarnya.


Aslan menatap Jimmy yang berada dalam pangkuan Winnie, darah telah membanjiri seragamnya dan jelas ia memang terluka parah.


"Urusan kita belum selesai," ucap Aslan pelan dan dingin.


Segera ia memerintahkan bawahannya yang lain untuk membawa Jimmy pergi, karena keadaannya yang parah ia segera di bawa ke rumah sakit.


Tuk


Rasa dingin mengejutkan Winnie yang tengah melamun, dilihatnya Aslan yang membawakan sekaleng soda untuknya.


"Terimakasih," ujarnya.


"Kau memikirkan pria itu kan?" tebak Aslan merujuk pada Carl.


"Dia sengaja melakukannya," ujar Winnie.


"Aku tahu, mungkin dia ingin berkompetisi dengan ku. Itu hal biasa," sahut Aslan sambil sesekali meneguk minumannya.


"Kalau begitu jangan terbawa emosi, jangan sampai masuk ke dalam perangkapnya," pinta Winnie bersungguh-sungguh.


Aslan menatap Winnie dan lagi-lagi ia menemukan kecemasan di sana.


"Mau mampir ke rumah ku?" tanya Aslan mengubah topik agar benak Winnie segera terfokus pada yang lain.


"Sekarang?" tanya Winnie.


"Aku baru menyelesaikan satu bangunan yang waktu itu baru setengahnya, aku ingin tahu pendapatmu," jawabnya.


"Oh, baiklah," sahutnya kembali santai.

__ADS_1


......................


"Carl! jelaskan padaku sekarang juga apa yang kau rencanakan," perintah Carmen memasuki ruangan itu.


Carl yang tadinya sedang memainkan piano berhenti, menatap Carmen dengan wajah penasaran ia tersenyum.


"Rencana apa maksud mu?" balasnya.


"Hah, jangan pura-pura bodoh! kau menyuruh beberapa orang untuk memukuli anak buah Aslan, kenapa tidak kau ikut dalam perkelahian itu malah menghentikannya!" jelas Carmen.


"Hahaha... Carmen inilah alasan kenapa kau kalah dari Winnie."


"Apa kau bilang?" tanya Carmen merasa tersinggung.


Beralih dari Piano Carl menatap keluar jendela, dari sana ia bisa melihat jalan yang di lalui semua orang untuk masuk ke area sekolah.


"Untuk mengalahkan raja maka kau harus bisa menundukkan penasehatnya dulu, meski seorang raja berkuasa tapi jika ia hanya seorang diri maka ia tak lebih dari sekedar manusia biasa," ujarnya.


"Bicara yang jelas!" perintah Carmen enggan melakukan permainan kata yang menjadi kelemahannya.


"Aku akan mengambil Winnie dari sisi Aslan," jawab Carl.


Tentu Carmen kaget bukan main, ia segera berjalan mendekati temannya itu dan menarik pundaknya hingga Carl berbalik.


"Jangan bilang kau juga menyukai gadis bodoh itu," ancam Carmen dingin.


"Entah suka atau tidak, yang jelas aku tertarik padanya. Mulai saat ini jika kau harus pandai membaca situasi jika ingin mengalahkan mereka," sahut Carl sambil melepaskan diri.


"Carl, aku tidak akan mengijinkan kau dengan gadis itu," ucap Carmen kali ini bukan sebagai ancaman melainkan sebagai perintah.


Anehnya Carl malah tersenyum.


"Itu urusan nanti, bagaimana kalau kita fokus pada tujuan ku dulu. Tadi kau menanyakan rencana ku kan? rencana ku adalah menjadi penguasa kedua di sekolah ini," sahut Carl.


Carl benar dan serius dengan ucapannya, dalam waktu beberapa hari ia berhasil mengumpulkan beberapa anak buah yang ia sebut sebagai teman.


Tak hanya para murid pria tapi murid perempuan juga, bagai raja yang baru memenangkan pertarungan ia di kelilingi oleh banyak bawahan dan pelayan.

__ADS_1


Yang lebih mencengangkan adalah Adnan kembali masuk sekolah dan menjadi kaki tangan Carl, ini membuat bawahan Aslan merasa takut pamor Aslan akan jatuh sehingga mereka kena imbasnya.


Tentu saja Aslan juga mulai risih, ia tak suka ada orang lain yang lebih di puja dari dirinya.


__ADS_2