
Hujan mengguyur sudah seminggu, membuat Deborah malas untuk turun dari ranjangnya. Yang merepotkan adalah ia harus tetap bekerja untuk menunjukkan bahwa ia bisa hidup mandiri, sebagai anak semata wayang dikeluarga kaya tentu saja keinginannya mencari pekerjaan sendiri di tentang.
Ada sedikit drama yang membuatnya hampir minggat meningalkan rumah, tapi akhirnya orangtuanya mengijinkan dengan syarat ia tak boleh keluar dari rumah.
Kini karena hujan yang terus mengguyur bumi membuatnya malas bergerak sementara dimata orangtuanya ia sudah lelah bekerja, ia mulai di rayu untuk berhenti bekerja.
Bosan terus berada di rumah meski masih gerimis ia memutuskan untuk pergi ke apartemen, rupanya disana tak ada seorang pun yang membuatnya kecewa.
"Oh ku pikir tak ada orang!" seru Carl yang baru tiba.
"Aku juga baru sampai," sahut Deborah kini bersemangat.
"Bagus ada kau, aku butuh bantuan mu."
"Apa itu?" tanya Deborah.
"Aku mendapat klien yang ingin menuntut kepemilikan tanah, ini adalah tanah warisan yang memang sudah menjadi bagiannya. Tapi saudaranya menjual tanpa memberitahunya," jelasnya.
"Begitu ya," sahut Deborah.
Duduk bersama, Carl memberikan informasi yang baru ia dapat mengenai kliennya kepada Deborah. Dengan kemampuannya Deborah pun segera mencari informasi si pembeli dan bagaimana transaksi mereka mengenai tanah tersebut.
"Sudah waktunya makan malam, apa ada mie instan?" tanya Carl sambil mengelus perutnya.
"Sudah habis," sahut Deborah.
"Eh aku melihat warung makan yang baru buka di dekat sini, bagaimana kalau kita makan disana?" tanya Carl.
"Boleh saja," jawab Deborah setuju.
Mereka pun membereskan semua berkas sebelum pergi, karena tempatnya tak jauh mereka memilih untuk jalan kaki mumpung hujan sudah reda.
"Makan makanan pedas di cuaca dingin memang enak," ucap Deborah.
Carl hanya tersenyum melihat Deborah yang lahap makan.
"Kau ingin pesan lagi?" tawar Carl melihat pesanan mereka yang sudah mau habis.
"Tidak, nanti perut ku bisa meledak."
"Hahaha mana ada yang seperti itu," ucap Carl tertawa.
"Silahkan, ini minumannya," ujar pemilik kedai menyimpan dua gelas minuman di meja mereka.
"Oh maaf, kami tidak pesan ini," ucap Carl.
"Ini gratis, kalian adalah pasangan ke lima puluh yang makan di kedai kami. Dimusim hujan begini suasana semakin romantis dengan kehadiran kalian, aku bahkan merasa muda lagi berkat kalian."
"Oh.. hehe.. terimakasih," ujar Carl bingung melihat pemilik kedai yang tersipu sendiri.
Menatap Deborah rupanya ia juga tak mengerti dengan isyarat mengangkat bahu, selesai makan mereka kembali ke apartemen. Di sepanjang jalan yang hanya di sinari lampu jalan udara semakin larut semakin dingin, meski mereka sudah mengisi perut rupanya itu tak bisa melawan angin yang terasa membekukan.
__ADS_1
"Awas!" seru Carl tiba-tiba.
Ia menarik tangan Deborah dan merentangkan kedua tangan melindunginya, membuat Deborah kaget tapi di detik kemudian saat sebuah mobil melintas dan menyipratkan air mengertilah ia.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Carl.
Deborah mengangguk perlahan, matanya masih menatap Carl dan posisi mereka belum berubah kecuali tangan Carl yang sudah di turunkan.
"Syukurlah," ujar Carl sembari tersenyum.
Senyum yang membuat jantung Deborah tak aman, dengan jarak sedekat ini ia bisa melihat keseluruhan wajah Carl yang tanpa cela.
Ketampanan wajahnya kini mendapat nilai lebih dari tindakannya sebagai pria yang melindungi wanita.
"Pakaian mu jadi kotor," ujar Deborah tersadar dari kekagumannya.
"Tidak apa, ini bisa di cuci nanti. Ayo pergi!" ajak Carl.
Deborah mengangguk, mereka pun berjalan beriringan. Entah mengapa keheningan yang terjadi di antara mereka membuat suasana canggung, rupanya diam-diam Carl sedang menenangkan jantungnya yang terus saja berdetak kencang.
Melihat Deborah dalam jarak yang begitu dekat ia kembali hanyut dalam wajah manis gadis itu, di luar ia memang nampak biasa saja tapi hatinya benar-benar tak karuan.
Inilah alasan kebisuan Carl, terus berjalan menuju apartemen punggung tangan mereka sempat bersentuhan. Itu membuat Carl merasa tersengat yang menimbulkan keinginan untuk menggenggamnya, perlahan memberanikan diri kemudian ia mengulurkan tangan tanpa menoleh.
Jarinya menggapai tangan Deborah sampai akhirnya menggenggamnya, tentu saja itu membuat Deborah cukup kaget hingga menatap tangan mereka.
Tapi begitu melihat wajah Carl yang datar Deborah jadi bingung sendiri, itu membuatnya berfikir Carl sedang memperlakukannya seperti adiknya. Perlakuan yang selalu ia terima dari Winnie.
Siang hari Winnie sudah lelah bekerja di kantor malam pun ka harus menghadiri sebuah pesta demi meningkatkan perusahaan ke level yang lebih tinggi, ini merupakan pesta yang di hadiri oleh banyak investor dan para petinggi lainnya.
Pesta ini biasa dimanfaatkan untuk menjalin hubungan kerja yang baik dan mencari kolega, di gedung yang mewah itu terdapat dua tempat berbeda sesuai kastanya.
Para penguasa baru biasanya berkumpul di lantai satu sementara mereka yang sudah mencapai tingkatan lebih tinggi berada dilantai dua, Winnie sebagai wakil perusahaannya yang baru naik kasta tentu saja berada di lantai satu.
Disana banyak para CEO yang juga mengincar kerja sama dengannya mengingat kemenangan yang Winnie raih di pengadilan kemarin, semua berlomba untuk mendekatinya.
"Winnie! apa itu kau?" tanya seseorang dibalik kerumunan.
Winnie menoleh dan menatap seorang pria yang sudah sangat lama tidak ia jumpai.
"Paman Emrit," sapa Winnie segera mendekat.
"Rupanya benar, aku pikir tadi aku salah lihat orang. Bagaimana kabarmu?" tanya Emrit.
"Baik, bagaimana dengan kalian? kita sudah lama tidak bertemu."
"Benar, aku dan istriku juga baik. Ah dia pasti senang mendengar kita bertemu," sahut Emrit.
Winnie tersenyum, sementara orang-orang mulai berbisik tentang mereka. Tentu saja sebab Asher perusahaan Emrit berada di level yang tinggi, Emrit terkenal susah diajak bekerja sama karena itu banyak yang gagal mendekatinya.
Tapi jika orang itu berhasil sudah dipastikan pasar mereka akan naik drastis, bagi mereka sangat aneh Winnie yang mana perusahaannya baru naik daun sudah bisa seakrab itu dengan pemimpin Asher.
__ADS_1
"Mumpung kau disini mari kita berbincang di atas," ajak Emrit.
"Baik, terimakasih," sahut Winnie.
Mereka segera naik ke atas di temani beberapa orang Asher lainnya, di suatu ruangan besar Winnie dapat melihat para wanita dari beberapa perusahaan sedang mencoba menggoda para petinggi.
Melihat kedatangan bidadari muda tentu saja mata mereka segera tertuju pada Winnie, apalagi Winnie berjalan bersama Emrit bahkan duduk di sampingnya.
"Siapa ini? nona Winnie dari keluarga Wilson? ternyata kau lebih cantik dari yang diberita," ujar seseorang mendekat.
Winnie tersenyum, ia mengenal pria itu meski mereka baru pertama bertemu. Namanya Han, pemilik perusahaan permata.
"Ini adalah kali pertama kita bertemu, mari bersulang untuk saling mengenal lebih jauh."
"Terimakasih, anda sangat murah hati," sahut Winnie.
Ia menerima satu gelas dan meneguknya sampai habis.
Prok Prok Prok
"Rupanya nona Winnie ini pandai minum juga," ujarnya.
"Anda terlalu memuji," sahutnya.
"Kalau begitu mari satu gelas lagi," ujarnya.
"Cukup! dia terlalu muda untuk terus menemanimu," larang Emrit.
"Kenapa?" tanya Han tersinggung.
Tapi begitu ia melihat mata tajam Emrit segera ia sadar telah melakukan kesalahan, ia pun menarik diri dan kembali duduk ditemani para wanitanya.
Merasakan aura kuat yang ditebarkan Emrit kini Winnie tahu darimana karakter pemimpin yang Aslan miliki.
"'Aku sudah mendengar banyak tentang perusahaan Wilson sejak kasus persidangan itu, kau memang berbakat. Sudah berapa lama kau bekerja disana?" tanya Emrit.
"Sejak lulus kuliah," sahut Winnie.
"Mm, perusahaan Wilson sejak dulu tidak pernah padam tapi juga tidak bersinar. Baru kali ini mendapat perhatian, aku yakin itu karena kau bekerja disana," ujarnya.
"Tidak mungkin seperti itu, hanya kebetulan saja saat kasus itu terjadi aku sebagai penanggungjawabnya. Lagi pula yang sebenarnya terjadi bukan perusahaan kami yang terkenal tapi pengacara yang kami pakai," sahutnya.
"Orang awam hanya akan melihat apa yang hangat di berita, aku sudah tahu sejak lama kau memiliki kemampuan. Winnie bagaimana jika kau bekerja untuk ku? ada kau di dalam perusahaan aku akan tenang tak peduli Aslan lebih sibuk sebagai arsitek," pintanya.
Winnie merenung, di perusahaan Asher ia tahu segalanya akan terjamin. Bukan hanya masa depan tapi ilmu yang ia dapat pun akan jauh lebih banyak, tapi tentu meninggalkan perusahaan keluarga tidaklah mudah.
"Maaf, tapi aku tidak bisa meninggalkan ayahku. Dia sudah dua kali ditinggal pergi oleh wanita yang ia sayangi, jika aku pun pergi dia pasti hancur."
"Apa maksud mu?" tanya Emrit tak mengerti.
"Brian Wilson, dia adalah ayahku. Nama ku yang sebenarnya bukan Winnie Martius melainkan Winnie Wilson," jelasnya.
__ADS_1