
Mereka di jemput saat malam sudah tiba, dengan menggunakan lingerieng satu persatu gadis di bawa ke atas panggung.
Saat tiba waktu Winnie ia di panggil nomor A442, semua lampu menyorot kepadanya yang sejenak membuatnya silau. Sementara bangku penonton gelap sehingga ia tak bisa melihat mereka semua, saat harga dibuka ia menatap sekeliling tanpa ekspresi.
Angka terus naik saling bersautan diantara penonton, rupanya ada banyak yang tertarik padanya. Dalam waktu sekejap harganya sudah di atas satu miliyar, sungguh rekor baru yang membuat pelelang senang.
Pada akhirnya Winnie dimenangkan oleh seseorang yang menawar dengan harga tiga miliar, setelah palu di ketuk ia dibawa turun dari panggung dan diserahkan kepada seorang pria bertubuh gemuk.
"Ikuti aku!" ujar pria itu sambil membuka ikatan tapi di tangan Winnie.
Di kawal oleh beberapa pria bertubuh besar kemudian Winnie di suruh naik ke dalam sekoci bersama mereka, sampai di kapal pesiar lainnya ia pun di suruh naik dan menunggu di sebuah kamar.
Melihat sekeliling kamar itu besar dan mewah, terdapat beberapa lukisan yang menarik perhatiannya terlebih lukisan padang bunga tulip.
"Kau suka lukisan itu?" tanya sebuah suara tepat di belakangnya yang baru masuk.
"Aku suka bunga jenis apa pun, termasuk itu bunga bangkai," sahut Winnie tanpa berbalik.
"Aku bawakan baju lain, mandilah agar kau lebih segar."
Winnie berbalik, menatap seorang pria yang tingginya kira-kira 180 dengan stelan jas. Wajahnya tampan dengan jambang yang di cukur rapi, matanya sebiru lautan dan rambut klimis.
"Apa yang akan kita lakukan setelah aku mandi?" tanya Winnie.
"Mmm, entahlah. Tapi aku cukup penasaran juga apa yang bisa dilakukan gadis seharga tiga miliar," sahutnya sembari tersenyum.
Ia pun pergi keluar, mengambil pakaian yang diberikan Winnie melihat gaun itu berasal dari salah satu brand terkenal.
Setelah mandi dan berpakaian ia pergi keluar, rupanya tak ada penjaga di pintu. Yah lagi pun di tengah lautan itu ia tak bisa kabur kemana pun, terus berjalan menjelajah tempat itu akhirnya Winnie melihat tuanya tengah duduk sambil menikmati wine.
Di ruangan itu juga terdapat banyak pengawal dan orkestra yang sedang bermain, berjalan menghampiri kemudian Winnie duduk tepat dihadapan tuannya.
"Kau terlihat cantik dengan gaun itu," pujinya.
"Terimakasih," sahut Winnie sembari tersenyum.
"Siapa namamu?" tanyanya.
"Winnie."
__ADS_1
"Winnie, kau bisa memanggilku philip. Boleh aku tanyakan sesuatu padamu?" ujarnya.
Winnie tersenyum sambil mengulurkan tangan sebagai isyarat Philip berhak bertanya apa pun.
"Kau pasti bukan dari kalangan rendah, kau sangat cantik dan memiliki tubuh yang dijaga dengan baik. Caramu berjalan, bicara bahkan menatap mengatakan kau orang yang terdidik. Siapa kau sebenarnya?" tanyanya.
Saat melihat Winnie diatas panggung ia sudah bisa merasakan bahwa Winnie adalah wanita berkelas, memang beberapa gadis juga ada yang menunjukkan keberanian mereka. Tapi Winnie sama sekali berbeda.
Ia sangat tenang seperti air, membuatnya penasaran hingga ingin terjun dan melihat sedalam apa ketenangan Winnie.
"Aku hanya seorang putri pengusaha, tidak ada yang spesial dari itu jika dibandingkan dengan anda."
"Apa kau tidak takut?" tanya Philip lagi.
"Bagaimana aku bisa takut pada pria setampan anda? aku yakin gadis-gadis di luar sana bahkan mengantri untuk menghabiskan satu malam dengan anda secara gratis. Tapi anda malah membuang-buang uang hanya demi gadis seperti ku," sahutnya.
Philip tersenyum, itu memang benar. Tapi ia sama sekali tak tergoda secantik apa pun gadis yang mendekatinya, ia tak suka cara mereka mengumbar rayuan secara terang-terangan.
"Kau mau berdansa denganku?" tanya Philip sambil menyodorkan tangan.
"Dengan senang hati," sahut Winnie.
Menghisap aroma tubuh Winnie yang wangi karena sabun miliknya Philip merasa tergoda hingga membenamkan wajahnya dileher Winnie, entah mengapa ia merasa seperti sedang berkencan dengan gadis pujaannya.
Rupanya pesona Winnie begitu kuat hingga membuatnya luluh dalam waktu sekejap, malam itu ia tak bisa berpaling pada yang lain. Meski semalaman mereka hanya berbincang tapi Philip betah melakukannya, sampai ketika mereka berada di dek kapal untuk melihat cahaya matahari pagi yang muncul.
"Indahnya.... " ujar Winnie terkagum.
Saat cahaya matahari berjalan ke arah mereka Winnie menutup mata, membiarkan tubuhnya menerima asupan matahari.
Philip yang menatap dari samping tersenyum, kagum pada pemandangan yang jauh lebih indah dari cahaya matahari pagi.
......................
Semalaman bergadang tentu saja membuat Winnie tidur dengan sangat nyenyak, saat terbangun ia cukup kaget melihat Philip tidur diatas kursi yang menghadap ke ranjangnya.
"Apa dia terus menatapku sampai tertidur?" pikirnya.
Turun dari ranjang ia melihat jam yang ternyata ini sudah sore, pantas saja perutnya keroncongan. Tapi selain itu ada hal yang lebih penting, ia harus mengirim pesan kepada Aslan dan yang lain bahwa ia baik-baik saja.
__ADS_1
Namun dalam kamar itu tak ada apa pun yang bisa digunakan untuk mengirim pesan, melirik pada Philip ia yakin pria itu pasti memiliki ponsel.
Mencoba mendekati Philip perlahan Winnie mengulurkan tangan untuk merogoh saku kemeja, tapi belum sempat ia memasukan tangannya tiba-tiba Philip bangun dan menarik tubuh Winnie dan menjatuhkannya diatas kursi.
Terengah karena kaget Winnie menatap Philip yang kini berada tepat diatasnya, sorot matanya tajam menatap Winnie.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Philip dengan suara berat dan dingin.
"Aku bertanya-tanya apa kau mengawasiku terus, bahkan dalam keadaan tidur."
Jawaban Winnie membuat tatapan Philip melembut, ada senyum juga yang merubah wajah Philip jadi lebih lembut.
"Aku tidak akan membiarkan gadis tiga miliar ku kabur begitu saja," sahutnya.
"Kau sangat sayang pada uang mu rupanya, tidakkah kau lihat bahwa aku sudah terperangkap?" tanya Winnie.
Pertanyaan itu menyadarkan Philip bahwa ia sedang menindih Winnie, bukannya bangun ia malah semakin menekan tubuh Winnie.
"Aku baru membeli seluruh tubuhmu, tapi belum dengan isinya."
Satu tangan Philip kemudian membelai bahu Winnie yang terbuka sementara bibirnya menghisap leher Winnie, tanpa sadar Winnie mengerang lembut yang membuat Philip semakin gencar melakukan aksinya.
Lembut dan basah, Winnie tak bisa menahannya lagi dan ingin segera melarikan diri. Tapi Philip terlalu kuat hingga tak bisa ia dorong mundur, semakin ia meronta aksi Philip semakin menjadi hingga bibir mereka saling bertaut.
Percuma, akhirnya Winnie membalas dengan membenamkan jarinya kuat-kuat di punggung Philip. Itu membuat Philip kaget sampai melepaskan bibirnya.
"Kau mau bermain?" tanya Philip.
Winnie tak menyahut, ia terengah karena Philip tak memberi ruang untuk bernafas. Melihat wajah Winnie yang memerah dan dadanya yang naik turun membuat Philip kegerahan, ia pun membuka kemejanya dan menampilkan perutnya yang sixpack.
Kembali menghimpit Winnie ia mulai dengan leher kembali, membuat setiap erangan menjadi *******.
Kkkkkrrreeeeeookkk
Suara nyaring yang tiba-tiba itu membuat mereka membatu, menatap Winnie yang tengah tersenyum kaku Philip kemudian terbahak.
"Jangan tertawa, itu tidak lucu!" omel Winnie menahan malu.
"Ayo bangun! kita lihat ada apa di dapur," ajak Philip.
__ADS_1