
Menatap buku yang ia dapat dari Marito Winnie merasa harus menyiapkan mental sebelum membacanya, saat mengetahui Leo ternyata benar pangeran mahkota saja ia sudah merasa cukup syok.
Hhhhhhhh
Menarik nafas yang dalam dan menghembuskannya kemudian Winnie membuka lembaran pertama, tangannya mengusap kalimat yang di tulis tangan oleh Leo dalam kertas itu.
'Mimpiku hampir sama setiap malam, aku berdiri mematung karena terpesona akan kecantikan seorang gadis. Setelah aku mengenalnya ternyata ia memiliki kecerdasan dan kebaikan yang tak bisa dilihat secara langsung, betapa aku kagum pada kesempurnaan yang dimilikinya.
Namun suatu malam mimpi itu berubah menjadi mengerikan, aku melihat kobaran api yang begitu hebat. Semua orang berusaha untuk memadamkannya, entah butuh waktu berapa lama untuk menjinakkan api itu. Tapi cahaya matahari pagi sudah muncul saat bangunan itu hangus terbakar, lalu dari puing-puing yang tersisa ada sosok tubuh yang hangus terbakar.
Kami terpaku menatap giok yang ada didekat mayat, aku mengelanya. Itu milik gadis yang ku puja, itu milik Yumna.
Semakin hari semakin lama semua mimpi itu terus hadir, membuatku merasa menjalani dua kehidupan sekaligus di dunia yang berbeda.
Di sini aku sebagai Leo Patckins dan di sana sebagai Pangeran Mahkota, setiap hari aku bahkan tak tahu mana diriku yang asli.
Sampai suatu hari aku bertemu dengannya, seorang gadis yang menatap ku seolah kami sudah lama saling mengenal. Aku ingin mengetahui siapa dia, dan takdir akhirnya menjelaskan semuanya.
Namanya adalah Winnie, gadis yang tinggal di keluarga sederhana. Tapi aku yakin dia adalah Yumna, entah mengapa aku mempercayainya.'
'Kami bertemu kembali, rupanya dia menyimpan rahasia yang cukup besar. Ini membuatku memiliki kesempatan untuk mencari tahu kebenaran, aku yakin Winnie adalah reinkarnasi Yumna.'
'Ada dua kenyataan yang membuat ku terguncang, pertama Winnie memang reinkarnasi Yumna dan yang kedua ayahku bertanggungjawab atas kematiannya.
Ini mengingatkan ku akan nasib buruk Yumna, kebakaran yang menewaskannya membuatku hati hancur. Aku merasa ada suatu kejanggalan yang harus ku periksa, akhirnya Rinu berhasil membantuku membongkar kebusukan selir Mo.
Kematian ibu Yumna, perampokan terhadap Yumna yang membuat luka di wajahnya bahkan kebakaran yang menewaskan Yumna. Semua adalah kejahatan satu wanita itu, aku ingin membalasnya tapi selir itu terlalu jahat.
Ia menggunakan kekuatan hitam untuk membuatku mengakhiri hidupku sendiri, tapi aku tidak ingin menyerah. Meski mati seribu kali aku akan tetap hidup menjadi orang baru demi membalaskan kematian Yumna yang tak adil.
Tapi, apa mau dikata? aku berengkarnasi menjadi seseorang dalam dunia yang tak ada selir Mo, meski begitu dewa membantuku dengan menunjukkan kebusukan ayahku. Apa pun caranya aku sudah memutuskan, aku akan membantu Winnie membalaskan kematian ibunya. Aku yakin alasan inilah yang membuat Yumna berengkarnasi juga.'
Winnie meneruskan bacaannya, setiap kata dalam setiap lembaran adalah hal yang tak pernah Leo katakan padanya.
Rupanya selama ini Leo sudah banyak membantunya, wajar jika semuanya menjadi mudah. Kini setelah mengetahui kebenarannya ia hanya bisa mengunjungi makam Leo untuk mengucapkan terimakasih.
__ADS_1
......................
Ceklek
Pintu terbuka, mereka menatap dengan kaget ke arah pintu saat Winnie masuk ke dalam. Senyumnya yang kecil membuat mereka menghembuskan nafas.
"Kalian sudah makan?" tanya Winnie.
"Ah, um. Sudah," sahut Deborah.
Winnie kemudian duduk, menatap satu persatu teman yang selama ini telah membantunya. Sementara mereka terlihat tegang menatap Winnie.
"Semuanya sekarang sudah selesai, aku akan meminta Camila untuk menceraikan ayahku. Melihatnya hidup dengan rasa ketakutan membuatku jauh lebih lega dari pada dia di penjara," ujarnya.
Mereka mendengarkan dengan seksama dan mengangguk, menyerahkan seluruh keputusan pada tangan Winnie.
"Terimakasih atas bantuan kalian selama ini," lanjutnya.
Kemudian dia mengeluarkan sebuah amplop putih yang menggembung, isinya berupa uang tunai bayaran Nagisa.
Nagisa mengambil uang itu, ini adalah kali pertama ia melihat dan menyentuh uang sebanyak itu.
"Sekarang kau bisa kembali ke luar negri untuk melanjutkan kuliahmu," ujar Winnie kemudian kepada Aslan.
Tapi Aslan tak menyahut, ia hanya menatap Winnie saja.
"Kalian bebas melakukan apa pun yang kalian mau, misi telah berakhir. Aku pun akan sibuk mengurus hotel dan kuliahku," umumnya.
"Bagaimana dengan ku?" tanya Carl.
"Memang kau tidak meminta bantuan ku, aku juga mau membantu itu karena tuan. Tapi setidaknya aku harus dapat imbalan," jelasnya.
"Apa yang kau inginkan?" tanya Winnie.
"Ijinkan aku menggunakan apartemen ini dengan bebas, aku mengambil cuti yang cukup lama dan berniat menghabiskan banyak waktu disini."
__ADS_1
"Kau sudah punya kuncinya," sahut Winnie yang berarti dia mengijinkan.
"Ada lagi?" tanya Winnie.
Mereka semua saling menatap kemudian menggeleng.
"Kalau begitu aku pergi duluan, ada yang harus aku lakukan," ujarnya berpamitan.
Winnie kemudian bangkit dan pergi ke luar, setelah beberapa menit Aslan berlari menyusulnya. Anehnya Winnie tak ada di tempat parkir, seolah ia menghilang begitu saja.
Gep
Aslan terpaku, sebuah tangan merangkulnya dari belakang. Ia bisa melihat cincin berlian tersemat di jari gadis itu, membuatnya teringat akan pesta perpisahan mereka di vila.
Perlahan kemudian Aslan berbalik, menatap Winnie dengan wajah merah dan uraian air mata.
"Pemuda itu, Leo... kami pernah akan menikah tapi gagal. Kemudian kami bertemu kembali bukan untuk bersatu tapi melainkan saling mengucapkan perpisahan," ujarnya di tengah isak tangis.
"Aslan...dia adalah orang pertama yang menerima keadaan buruk ku, tapi meski begitu saat aku bersama mu aku merasa hebat. Dalam satu waktu ini tanpa kusadari aku mencintai dua pria sekaligus, bukankah aku gadis yang buruk?" tanyanya.
Aslan tahu itu, tanpa perlu Winnie mengatakannya ia sudah tahu ada tempat untuk Leo di hati Winnie yang tak bisa ia singkirkan.
"Ya, kau memang gadis yang jahat," sahut Aslan pelan.
"Lalu aku harus bagaimana? sekarang Leo sudah tidak ada dan aku ingin kau tetap bersama ku."
"Dasar serakah," omel Aslan tapi dengan sebuah senyuman.
Winnie tetaplah Winnie, ia jujur dan tak mau rugi. Setiap hubungan adalah timbal balik, saling memberi dan menguntungkan.
"Meski sakit hati tapi bagaimana bisa aku marah pada gadis ku yang penurut? sejujurnya walau pun Leo masih ada aku tidak akan membiarkan mu berpaling padanya, itu karena aku sudah menuliskan nama mu di langit sebagai permaisuri ku."
Tangisan Winnie berhenti, ia kemudian menatap langit. Selama ini dia selalu meminta pada Dewa tentang segala hal yang ia inginkan, rupanya bukan hanya permintaannya saja yang di kabulkan.
"Aku akan pergi untuk menyelesaikan kuliah ku, dan setelah semua yang terjadi aku memutuskan untuk meninggalkan dua bodyguard bersama mu," ujar Aslan.
__ADS_1
Winnie menatap ke belakang, rupanya Deborah dan Carl berdiri disana sudah cukup lama untuk melihat sisi lain dari Winnie. Sisi feminin yang selama ini hanya dilihat Aslan, menangis dengan manja karena kebimbangan hatinya dalam menyukai seorang pria.