
Brian tak pernah menduga akan kedatangan tamu yang sangat penting ke kantornya, itu adalah orang-orang dari Asher yang tertarik untuk bekerja sama.
Merasa cukup gugup Brian menyambut kedatangan Emrit bersama rombongan, ia pun mempersilahkan mereka duduk.
"Tuan Brian kita akan langsung ke intinya saja," ujar asisten Emrit yang tak ingin basa basi.
"Kami sangat tertarik dengan perusahaan anda, karena itu kami ingin membelinya dengan harga yang sesuai."
"Apa? membelinya?" tanya Brian kaget.
Ia kira Emrit datang untuk menawarkan kerja sama, tentu saja itu membuatnya tak habis pikir.
"Tuan Brian, jujur saja aku menginginkan perusahaan mu karena aku tidak bisa menarik putrimu untuk datang pada Asher. Karena itu hanya ini yang bisa aku lakukan," jelas Emrit.
Brian lebih kaget lagi, entah sejak kapan ia mengenal Winnie bahkan menginginkan Winnie. Sampai ia ingat kasus tuntutan di pengadilan yang membuat Winnie cukup terkenal dikalangan pengusaha, memang saat itu sebenarnya Winnie terkenal karena kecantikannya juga ketampanan Carl yang bagai aktor.
"Maaf tuan Emrit, tapi perusahaan ini adalah perusahaan keluarga yang ku jaga dan sudah menjadi turun temurun. Jika aku menjualnya bagaimana aku menghadap leluhur ku?," sahut Brian.
"Aku mengerti, kau tenang saja. Meski aku membelinya tapi kau berhak berinvestasi secara pribadi dalam saham," ujarnya.
Kini Brian berfikir keras, memang Winnie akan menjadi pewaris tapi masih belum bisa dipastikan apakah ia mau memimpin perusahaan.
Meski pintar dan bertalenta tapi Winnie memiliki sifat tak bisa diatur, ia cenderung melakukan apa pun yang ia sukai meski memang tak merugikan siapa pun.
"Baiklah, aku setuju," ucap Brian akhirnya memutuskan.
"Terimakasih tuan Brian," kata Emrit senang.
Mereka pun bersalaman sebagai tanda kesepakatan telah tercapai sebelum Emrit dan orang-orangnya pergi.
......................
Weekend itu Winnie hanya bermalas-malasan di rumah dengan bermain gadget, setiap hari bekerja keras dikantor tentu saja ia butuh waktu untuk me time.
"Nona, ada tamu yang ingin bertemu," ujar seorang pelayan memberitahu.
Bertanya-tanya Winnie bangkit dari tempat duduknya dan pergi ke ruang tamu, begitu melihat wanita tua yang duduk disana Winnie segera berlari menghampiri.
"Oma! kenapa memberitahuku dulu kalau mau kemari?" tanya Winnie.
__ADS_1
"Aku tidak ingin merepotkanmu," sahut Oma Nana.
"Aish... tidak sama sekali, ayo masuk!" ajak Winnie senang.
"Ibu.... " panggil Brian kaget melihat ibu mertuanya berdiri di sana.
Dengan memasang wajah datar Oma Nana berjalan mendekati Brian, ini adalah kali pertama mereka bertemu lagi setelah sekian lama. Tentu saja Brian kaget sebab ia tak tahu kalau selama ini Winnie sering berkunjung ke rumah ibu mertuanya.
"Bagaimana kabarmu?" tanya Oma Nana.
"Ah ya, baik. Bagaimana... dengan ibu?" sahut Brian balik bertanya masih dengan tak percaya.
"Mm, ada hal yang ingin ku bicarakan dengan mu."
"Baik," sahut Brian gugup.
Mengambil tempat duduk Oma Nana segwra memerintahkan Brian untuk ikut duduk begitu juga dengan Winnie, suasana yang tiba-tiba tegang membuat Winnie merasa tak nyaman.
"Kau pasti kaget karena kedatangan ku yang tiba-tiba, aku sudah memikirkan hal ini ribuan kali dan keputusan ku sudah bulat. Mulai hari ini aku akan ikut tinggal bersama dengan kalian," ujar Oma.
"Apa? ibu.. akan tinggal disini?" tanya Brian.
"Tidak, bukan begitu," sahutnya pelan.
"Sekarang Winnie sudah sibuk dengan pekerjaannya, dia semakin jarang menjenguk ku karena itu aku ingin tinggal di sini. Lagi pula aku masih tidak bisa mempercayakan cucu ku padamu," jelas Oma.
"Aku mengerti," sahut Brian.
Segera Brian pun menyuruh pelayan untuk menyiapkan kamar, sementara itu di belakang Oma Winnie segera menjelaskan kepada Brian bahwa memang selama ini ia selalu menjenguk Oma Nana.
Dia juga banyak bercerita tentang keluarganya, karena itu Oma tahu semuanya. Brian sama sekali tak marah karena Winnie berhak untuk mengetahui siapa neneknya, justru ia senang karena berkat Winnie Oma Nana bisa tinggal bersama mereka.
Kesempatan ini akan ia gunakan untuk menebus dosanya dimasa lampau, akan ia tunjukkan bahwa Winnie hidup bahagia dan sejahtera bersamanya.
Namun semenjak kedatangan Oma Nana pelayanlah yang paling banyak mengeluh, meski tak sekejam Camila tapi Oma sangat disiplin sampai membuat para pelayan kewalahan.
Semua tempat harus benar-benar bersih dan makanan yang dihidangkan harus sesuai dengan permintaannya, semuanya memang makanan sehat tapi cita rasanya kurang menurut Winnie yang lebih suka rasa micin.
Winnie yang akhirnya tak tahan pasa makanan sehat diam-diam pulang kerja pulang ke apartemen untuk menikmati semua makanan cepat saji, kepada Oma ia mengatakan harus lembur dan akan pulang terlambat karena itu tak perlu menunggunya untuk makan malam.
__ADS_1
"Wah wah... curang sekali kau! pesta sendirian," komentar Carl masuk bersama Aslan.
"Diamlah, aku benar-benar sedang tersiksa sekarang ini."
"Ada apa?" tanya Aslan.
"Oma Nana sekarang tinggal di rumah, ia benar-benar tidak mengijinkan makanan seperti ini di hidangkan di rumah. Setiap hari aku hanya makan salad dan makanan lain yang sehat," jelasnya.
"Bukankah itu bagus?" komentar Carl sambil mengambil selembar piza.
"Bagiku itu neraka," balas Winnie dengan raut menderita.
Hahahahahaha
Aslan dan Carl tentu saja tak bisa menahan tawa mereka, memang meski sudah terbiasa hidup sebagai orang kaya yang penuh peraturan tapi Winnie paling sulit makan makanan sehat.
"Jangan terlalu banyak, nanti perut mu bisa sakit," ujar Aslan kemudian.
"Aku mendapat tiket konser, apa kalian mau ikut?" tawar Carl.
"Kapan?" tanya Winnie.
"Rabu besok, kau masih disini kan?" sahutnya sambil bertanya pada Aslan.
"Ya, aku pergi hari sabtu."
"Bagus, kalau begitu aku akan tanya Nagisa apa ia bisa."
"Kau beli lima tiket?" tanya Winnie.
"Sebenarnya hanya dua, tapi kemudian teman-teman ku tak jadi pergi. Mereka memberiku tiga tiket, sayang kan kalau tidak di pakai."
"Kau hanya beli dua? siapa yang kau ajak?" tanya Winnie dengan wajah curiga.
"Itu... tentu saja temanku!" jawab Carl yang menyesal telah memberitahu Winnie.
"Temanmu yang mana?" tanya Winnie lagi.
"Kenapa kau suka sekali menginterogasi ku? sudahlah! yang jelas kita pergi berlima," hardik Carl kesal meski sebenarnya itu untuk menutupi kecurigaan Winnie.
__ADS_1
Memang, awalnya Carl berniat menonton konser hanya berdua saja dengan Deborah. Tapi teman-temannya tiba-tiba memberinya tiga tiket, di pikir lagi jika hanya pergi berdua akan menimbulkan masalah akhirnya ia pun mengajak yang lain. Belum tentu juga Deborah mau jika hanya berdua.