
Menemani Tony sampai ke depan pintu ada sedikit rasa penyesalan di hati Camila, bagaimana pun juga Tony adalah keponakannya.
"Aku sangat yakin semalam yang bersamaku adalah Winnie, bagaimana bisa dia berubah menjadi pelayan?" ujar Tony masih tak terima.
"Pasti dia membuat suatu cara untuk menjebak mu, bagaimana pun juga aku tidak akan tinggal diam. Tony lain waktu kau harus membalas tindakan Winnie yang telah mempermalukan mu," sahut Camila.
"Tentu saja tante, aku tak akan biarkan gadis itu lepas begitu saja."
Api kebencian telah menyala di hati Tony, jika tak bisa mendekati Winnie di kediaman Wilson maka ia akan mendekat di tempat lain. Menitip salam kepada Nicki ia pun berpamitan dan pergi, sementara Camila kembali masuk dan bergabung di meja makan.
Melihat tatapan Winnie yang senyum yang seakan mengejeknya tentu membuatnya kembali naik pitam, apalagi dengan sengaja Winnie bermanja kepada Brian untuk diajari main golf.
Brian yang badmood karena tingkah Tony kembali bersemangat, golf adalah salah satu olahraga yang ia suka dan tentu ia akan mengajari Winnie jika ada kesempatan.
"Aku akan menantikannya, kalau begitu aku berangkat duluan. Dah ayah! ibu!" ujar Winnie berpamitan.
Mengambil tasnya ia segera pergi ke luar dan memacu mobilnya, setelah sampai di kampus Deborah yang sudah menunggu sejak tadi melambaikan tangannya.
"Ada perkembangan?" tanya Winnie sambil duduk tepat di samping sahabatnya itu.
"Belum, apa kau tahu pengawal yang berjaga hari itu? mungkin kita bisa menemukan petunjuk dari sana," sahutnya.
"Satu di antaranya masih bekerja dengan ayah tapi aku tak tahu yang mana, yang lainnya memutuskan berhenti beberapa tahun yang lalu dengan alasan harus mengurus orangtuanya."
"Kalau begitu kita tanya pengawal yang masih bekerja pada ayahmu, dan itu harus kau sendiri yang lakukan!" perintah Deborah.
Itu ide yang bagus, setelah kelas selesai tepat jam sepuluh Winnie memutuskan untuk pergi ke kantor Brian dengan alasan mengajak makan siang bersama.
Ia tahu dimana alamat kantor Brian dan tentu hanya dengan memberitahu namanya saja ia akan diijinkan masuk, malah ia disambut oleh pegawai di sana yang mengantarnya langsung ke ruang kerja Brian.
Tepat di samping pintu ia melihat seorang pria berjas, dari wajahnya keliatan ia sudah tak muda lagi namun memiliki fisik kekar dan bugar.
Saat melihat kedatangan Winnie ada sedikit raut kaget yang nampak di mata pria itu, tentu Winnie memperhatikan dan menaruh curiga. Mencoba bersikap normal Winnie mengetuk pintu, saat ia di persilahkan masuk segera ia pun membuka pintu itu dan masuk.
"Winnie?" tanya Brian tak menduga akan kedatangan putrinya.
"Apa aku mengganggu?" tanyanya.
__ADS_1
"Tentu saja tidak, apa yang membawamu kemari?" ucap Brian balik bertanya.
"Kelas ku selesai dengan cepat, aku pikir bisa kita bisa makan siang bersama jadi aku datang."
"Oh tentu saja, mari kita pergi!" ajak Brian bersemangat.
Mengambil jasnya ia kemudian merangkul Winnie dan mereka pun berjalan ke luar.
"Kau ingin makan apa?" tanya Brian.
"Aku percayakan pada ayah, aku belum tahu restoran mana saja yang makanannya enak," sahut Winnie.
"Baiklah," ujar Brian segera teringat pada tempat langganannya.
Sampai di tempat ia memesan menu andalan yang menjadi favoritnya, tentu awalnya Winnie menikmati makanan mewah itu sampai menemukan waktu yang pas untuk bertanya.
"Ayah siapa pria yang berdiri di samping pintu kantor ayah?" tanyanya dengan gestur yang seolah hanya basa basi saja.
"Dia pengawal ayah, namanya Dady. Kenapa?" sahut Brian.
"Ah tidak, hanya saja dia keliatan sudah tua."
"Sungguh? apa dia sehebat itu?" tanya Winnie mulai pada topik utama.
"Tentu saja, dia mantan militer. Berkat dia juga ayah bisa menemukan mu," sahut Brian.
"Maksud ayah?" tanyanya tak mengerti.
Brian pun kembali mengingatkan Winnie pada kejadian lampau dimana ia berhasil menemukan penculik Winnie, pria bernama Dady itulah yang berhasil meringkus si penculik dan meyakinkan Brian bahwa Winnie masih hidup.
Dalam peristiwa itu Dady teringat akan selimut bayi yang juga hilang bersama dengan Winnie, dari situlah ia menyarankan Brian dan Roy untuk mencari Winnie lewat selimut bayi.
"Selain Roy Dady adalah orang kedua yang ayah percayai karena kesetiaannya, di usianya yang sekarang bahkan dua taun lebih tua dari ayah tapi ia memutuskan untuk tidak menikah demi mengabdi pada ayah. Lain kali mari kita adakan pesta untuk kepulangan mu bersamanya," ujar Brian di akhir cerita.
"Saat itu bukankah yang berjaga dua orang? selain Dady siapa lagi? aku lupa namanya," tanya Winnie padahal ia memang tak pernah mendengar nama pengawal itu.
"Dasim, bukankah ayah sudah cerita dia mengundurkan diri dan pulang kampung?" sahut Brian.
__ADS_1
"Oh iya, yang itu!" seru Winnie.
Sebenarnya masih banyak yang ingin Winnie tanyakan, tapi ia memutuskan untuk berhenti di sini agar tak menimbulkan kecurigaan.
Selesai makan siang Winnie berpamitan untuk pulang dan menantikan makan malam di rumah bersama, karena itu ia meminta Brian untuk pulang cepat seperti biasa.
Kembali berkendara Winnie segera mengajak Deborah kembali bertemu setelah mendapat informasi, ia menceritakan semua persis seperti yang di katakan Brian.
"Aku akan menyelidiki orang bernama Dasim, kau Dady. Mereka adalah saksi hidup yang tak boleh kita lepaskan," ujar Deborah.
"Aku mengerti," sahut Winnie.
Pertemuan mereka berakhir dengan cepat, Winnie memilih pulang namun tiba-tiba sebuah mobil menghadangnya di tengah jalan.
Beruntung Winnie cepat membanting stir sehingga tak terjadi kecelakaan, mengatur nafas sambil menggerutu karena kaget ia keluar dan bersiap memaki si pengemudi yang sembrono.
Tapi begitu ia mendekat yang keluar dari mobil ternyata Tony, wajahnya yang keras jelas menantikan sebuah pembalasan.
"Singkirkan mobilmu," perintah Winnie tegas.
"Jika aku tidak mau?" balas Tony sambil mendekat.
"Dengar j*lang, aku tidak akan melepaskan mu. Bersiaplah untuk menerima hukuman dariku," ancam Tony.
Tapi ucapan yang penuh dengan tekanan itu justru membuat Winnie tertawa, betapa di dunia ini banyak sekali serangga yang menyebalkan.
"Satu hal yang perlu kau ingat, kau tak akan pernah bisa menyentuh sehelai pun rambutku. Apa yang terjadi kemarin adalah kesalahan mu sendiri dan kau pantas mendapatkannya," ujar Winnie.
Tak ingin membuang waktu untuk hal yang tidak penting Winnie membalikkan badan dan bersiap untuk pergi.
"Jeny dan Fabio Martius! jika tak bisa menyentuh mu maka aku akan menghancurkan hati mu terlebih dulu," seru Tony menghentikan langkah Winnie.
Melihat Winnie tak bergeming Tony tahu ia telah menemukan kelemahan Winnie, dengan ancaman itu dengan percaya diri Tony menghampiri Winnie dan berbisik "Bagaimana jika kita ke hotel untuk menyelesaikan masalah ini?."
Perlahan Winnie berbalik, menatap Tony ada senyum penghinaan yang ia berikan.
"Sayang sekali sepertinya tidak bisa, sebab jika aku kirimkan vidio tentang malam itu ke polisi berserta bukti nyata sang pelayan kau akan terjerat pasal pelecehan dan pemerkosaan terlebih banyak orang yang bisa menjadi saksi. Aku sudah tahu kau pasti akan melakukan ini jadi aku menyiapkan kamera inframerah di kamar itu," ujar Winnie.
__ADS_1
"Apa?" tanya Tony tak percaya.