Reinkarnasi Putri Cacat

Reinkarnasi Putri Cacat
Bab 15 Rumah Dengan Kenangan


__ADS_3

Tak cukup tidur semalam membuat Winnie merasa lesu di pagi hari, tapi ia tak menunjukkan sikap lemah sehingga tak ada yang tahu bahkan Aslan sendiri.


Tiba di sekolah sekumpulan gadis-gadis membuat kericuhan, tentu itu mengundang rasa penasaran mereka.Tapi tanpa mencari tahu sang biang keluar dari kerumunan itu dan menghampiri mereka seolah memberi jawaban.


"Hai Winnie, senang melihat mu lagi," sapa Carl sambil tersenyum ramah.


Winnie tak menyahut, tapi ia menganggukan sedikit kepalanya.


"Jadi kau yang bernama Carl," ujar Aslan.


"Ah benar, mulai sekarang aku juga sekolah di sini. Sebagai sesama murid baru mari kita berteman," sahut Carl sambil mengulurkan tangannya.


"Sayangnya aku tidak suka berteman dengan pecundang, apalagi dia adalah orang yang menyebabkan kekasihku terluka," balas Aslan dingin.


Entah mengapa ketika Aslan dengan menyebutnya seperti itu Winnie merasa malu, di jamannya dulu itu dianggap sangat romantis jadi mungkin itu alasannya.


"Soal itu aku minta maaf, aku juga tidak menyangka Carmen akan berbuat sejauh itu. Bisa kita berbaikan?" tanya Carl.


"Entahlah, sayangnya aku tidak mudah memaafkan."


"Begitu ya," sahut Carl menarik tangannya.


"Baiklah kalau begitu sampai nanti," ujarnya kemudian beranjak pergi.


"Ah Winnie yang semalam terimakasih, sudah lama aku tidak makan seenak itu. Rasanya hadiah yang ku bawa jadi tidak sepadan sebab itu adalah bentuk permintaan maafku, lain kali aku akan membalasnya," ujar Carl berhenti sejenak sebelum kemudian benar-benar pergi.


Tentu Aslan di buat heran dengan ucapan itu, jelas itu merujuk pada hal menyenangkan yang dilakukan oleh mereka berdua. Mendapat tatapan dingin dan haus akan penjelasan dari Aslan Winnie menelan ludah dengan susah payah.


"Kemarin setelah kau pergi ada Carl datang ke rumah, dia sudah lama di sana bahkan sebelum aku sampai. Dia bicara dengan orangtuaku dan kami makan malam bersama," jelas Winnie.


"Apa? dari mana dia tahu rumah mu?" tanya Aslan.


"Aku juga tidak tahu," jawab Winnie.

__ADS_1


"Nanti aku mampir ke rumah mu dulu," ujar Aslan tiba-tiba sambil berjalan pergi.


Sementara Winnie hanya terpaku, bingung harus bereaksi seperti apa.


"Winnie... aku punya kabar terbaru!" seru Deborah tiba-tiba menyerbu saat Winnie baru saja memasuki kelas.


"Apa?" tanya Winnie.


Ia duduk di kursinya dan Deborah memulai aksinya dengan duduk di depan Winnie.


"Ada murid baru bernama Carl, dia sangat tampan dan seketika populer padahal baru saja masuk hari ini. Katanya dia teman Carmen sejak kecil, kau tahu? hal yang paling menakjubkan adalah dia pandai bermain piano dan pernah mendapatkan penghargaan," jelas Deborah antusias.


Winnie yang mendengarnya hanya bisa mengejapakan mata tak percaya, di balik sifat manja Deborah ia memang pandai menyelidiki seseorang dalam waktu singkat jika dia memang benar-benar tertarik.


"Apa informasi mu dapat di percaya?" tanya Aslan tiba-tiba menyela.


"Hah.. oh.. ya.. tentu saja," sahut Deborah kaget.


"Kalau begitu cari tahu lebih banyak lagi tentang dia," perintah Aslan.


Seperti yang dikatakan Deborah Carl begitu populer, saat jam istirahat ia masih di kerubungi gadis-gadis bagai bangkai di serbu lalat. Anehnya Carmen tak ada bersamanya, padahal mereka sangat akrab namun Winnie bertanya-tanya mengapa Carmen tidak sombong di hadapan semua murid kalau mereka berteman sejak kecil.


Justru Carmen sibuk dengan teman satu gengnya, merias diri dan meremehkan gadis lain.


......................


Karena Aslan mampir dulu maka ia memarkir mobil dekat dengan rumah Winnie, sebelum pulang dengan sengaja mereka belanja terlebih dahulu padahal Winnie sudah melarang.


"Rumah ku sangat kecil dan kumuh, aku harap kau tidak keberatan," ujar Winnie memberitahu sebelum mereka masuk.


"Tidak masalah," sahut Aslan.


Karena Aslan bersikeras akhirnya mereka pun turun dari mobil, begitu melihat penampakan rumah Winnie Aslan di buat benar-benar ayok. Ia tak menyangka Winnie begitu miskin sampai tinggal di rumah yang menurutnya bahkan kandang sapi pun lebih baik.

__ADS_1


"Orangtuaku masih bekerja, mungkin mereka akan datang nanti saat makan malam tiba," ujar Winnie memimpin jalan memasuki rumah.


Keadaan dalam rumah sama kumuhnya, hanya saja tempat itu bersih dan rapi. Benar-benar menunjukkan karakter Winnie yang selama ini ia lihat.


"Aku akan siapkan rumah untuk mu, besok kau tidak perlu sekolah dan mulailah berbenah," ujar Aslan tiba-tiba.


"Apa?" tanya Winnie.


"Kau bilang kau tidak perlu diberitahu dua kali," ketus Aslan.


"Aku tidak bertanya tentang apa yang baru saja aku dengar, tapi aku mempertanyakan maksudmu," ralat Winnie.


"Hhhhh.... kau masih tidak mengerti? apa aku harus mengatakan aku akan memberimu rumah yang lebih layak untuk ditinggali?" tanya Aslan jengkel.


Aslan tak menyangka ia akan menerima sebuah tatapan dingin dan benci dari Winnie, jelas sekali Winnie marah padanya karena hal yang baru saja dia ucapkan.


"Lalu apa yang harus aku lakukan untuk membayarnya?" tanya Winnie dingin.


"Kau adalah pacarku, kenapa kau harus membayar untuk sesuatu yang ku berikan?" balas Aslan.


"Maaf tuan, sekalipun aku adalah istrimu jika menyangkut rumah ini maka akan ada sebuah perhitungan. Kau tahu kenapa? karena yang akan ku tinggalkan bukanlah gubuk dengan atap yang sering bocor, tapi sebuah kenangan yang di penuhi kasih sayang semenjak aku kecil. Hal yang tidak akan kau mengerti dan tak diperjualbelikan dengan bebas," jelas Winnie.


Ini adalah kali pertama Winnie menentangnya secara terang-terangan, tatapan dingin tanpa ekspresi yang biasa ia lihat termakan oleh amarah yang memuncak di ubun-ubun.


Seketika Aslan sadar ia telah menyinggung Winnie, merasa bersalah ia pun meminta maaf.


Aslan yang tidak dibesarkan dengan kasih sayang yang cukup tentu mengerti bahwa benda berharga di dunia adalah kenangan indah bersama orang tersayang, harusnya ia tak asal memerintah jika menyangkut keluarga.


Melihat Aslan yang menyesal membuat Winnie melunak, ia tahu telah keterlaluan padahah ia tak perlu marah sampai seperti itu.


"Di rumah ini ada banyak kenangan kami, terutama perjuangan kami untuk hidup yang lebih baik. Setelah ayah di PHK ia berjualan keliling sementara ibu mulai menjadi tukang cuci setelah aku beranjak dewasa, aku sudah berjanji pada diriku sendiri akan terus menempuh pendidikan hingga ke Universitas. Aku lakukan itu agar bisa mendapatkan pekerjaan dengan gaji besar, tentu saja gaji itu akan kugunakan untuk biaya hidup dan membeli rumah yang lebih layak lagi. Di usia orangtuaku yang semakin renta aku ingin mereka hidup nyaman menikmati hidup, jadi sebelum aku mewujudkan mimpi ku itu kami tidak akan meninggalkan tempat ini meski ada yang memberi bantuan," jelas Winnie.


Aslan menatap gadisnya lekat-lekat, betapa Winnie terlihat keren di matanya sebagai wanita yang mandiri dan pekerja keras.

__ADS_1


"Berjuanglah, aku yakin kau bisa melakukannya," ucap Aslan memberi semangat.


__ADS_2