
Mereka memutuskan untuk pulang meski pesta belum berakhir, sepanjang perjalanan hanya suara nafas mereka yang terdengar.
"Tuan, sepertinya kita di ikuti," ujar supir sambil melihat dari kaca spion.
Philip menengok ke belakang, jelas terlihat sebuah mobil memang mengikuti mereka.
"Belok kiri," perintah Philip.
Tanpa mengurangi kecepatan supir langsung belok kiri yang membuat Winnie terhempas pada Philip, kembali menengok ke belakang mobil itu masih mengikuti mereka.
Aaaaa...
Ckiiiittt....BRUK
Peristiwa itu terjadi dengan sangat cepat, entah apa yang mereka tabrak tapi hal itu membuat mobil mereka hilang kendali sampai terjungkil balik.
Mendapat guncangan hebat tentu saja membuat Winnie pusing dan telinganya berdengung.
"Kau baik-baik saja? ayo berdiri!" seru Philip sambil membuka seatbelt milik Winnie.
Meski keseimbangannya kurang karena mendapat benturan keras Winnie bangkit dan mengikuti Philip berlari, sekilas ia melihat kebelakang dan mendapati mereka sedang di kejar.
"Ah!" pekik Winnie saat kakinya keseleo.
Buru-buru melepaskan sepatu haknya Winnie juga menyobek gaun yang ia pakai sampai lutut agar memudahkannya berlari, entah siapa yang mengejar mereka namun yang jelas niat mereka pasti jahat.
Perlahan kini indera Winnie sudah normal, kecepatan larinya pun dapat bertambah mengimbangi Philip.
Tiba di persimpangan jalan sayangnya mereka memilih jalan yang salah, itu merupakan jalan buntu dan tak mungkin mereka kembali.
"Bersembunyilah disana," perintah Philip.
Winnie mengangguk dan segera bersembunyi di balik tong-tong besar sementara Philip di sisi yang lain, begitu mereka mendengar suara langkah kaki Winnie semakin dalam bersembunyi.
"Tidak ada! kemana mereka?" seru salah satu dari mereka.
"Berpencar!" perintahnya kemudian.
Tiga diantaranya masuk ke gang tempat mereka bersembunyi, dengan teliti mereka memeriksa setiap sudut sampai salah satunya berdiri tepat di hadapan Winnie.
Menelan ludah menyiapkan tinju untuk memberi pelajaran, tapi Philip tiba-tiba keluar yang membuatnya segera berbalik.
Salah satunya menggunakan senjata tapi karena ini pertarungan jarak dekat mereka dapat di lumpuhkan oleh Philip, tidak sampai mati tapi cukup untuk memberi mereka kesempatan kabur.
__ADS_1
"Ayo!" ajak Philip.
Winnie keluar dari tempat persembunyian dan segera mengikuti Philip, tapi sebelum itu ia memungut senjata terlebih dahulu setelah memastikan masih terdapat peluru di dalamnya.
"Itu mereka!" seru seseorang.
Karena ketahuan mereka segera mempercepat larinya, melewati jalan buntu Philip kembali memanfaatkannya untuk melumpuhkan lawan.
Dalam waktu beberapa menit saja ia berhasil melumpuhkan empat lawan meski ia juga mendapat luka sobek di tangan bekas sayatan pisau.
Dooor..
Philip menengok karena kaget, menatap Winnie yang berdiri memegang senjata. Melihat kebelakang tempat Winnie mengarahkan senjata ia menemukan musuh ambruk dengan luka tembak, rupanya Winnie melihat Philip lengah hingga tak menyadari musuh di belakang.
"Kau cepat belajar," ujarnya.
Mengulurkan tangan Philip kemudian mengajak Winnie meninggalkan tempat itu, terus berjalan sampai mereka menemukan sebuah motel yang aman untuk tempat istirahat.
"Mandilah dulu," ujar Philip setelah mereka masuk ke dalam satu kamar.
Philip juga memberikan sebuah kaus untuk Winnie berganti pakaian, sementara Philip pergi ke luar mencari telepon umum.
"Kau baik-baik saja?" tanya Philip setelah kembali dan menemukan Winnie sudah mandi.
Philip setuju, ia segera mandi dan keluar hanya dengan menggunakan handuk yang menutup pinggang hingga lutut. Menampilkan badannya yang atletis terbalut kulit basah menggoda, itu sedikit menggetarkan hati Winnie tapi ia cepat fokus saat melihat luka di lengan Philip.
"Siapa yang mengejar kita?" tanya Winnie sembari mengobati luka.
"Hanya saingan bisnis."
"Kau tidak meminta bantuan organisasi?" tanyanya lagi.
"Mereka hanya akan turun saat kepolisian mengendus, toh sesama anggota oraganisasi juga adalah pesaing semua."
Winnie mengerti, ia tak mengajukan pertanyaan lagi. Menatap wajah datar Winnie membuat Philip ingin mengorek lebih jauh lagi tentang siapa Winnie sebenarnya dan bagaimana kehidupan dia dulu.
"Berapa banyak yang telah kau bunuh?" tanya Philip tiba-tiba.
"Entahlah," sahut Winnie setelah sekilas menatap Philip dengan tajam.
"Kau sama sekali tidak terguncang apalagi takut menghadapi peristiwa ini, justru kau bisa diandalkan dengan mengawasi punggungku. Apa dulu kau juga pernah mengalami hal ini?" tanyanya.
"Aku tidak punya masalalu," jawab Winnie singkat.
__ADS_1
Philip merasa seperti ditampar dengan tangannya sendiri, dialah yang membuat peraturan itu dan Winnie benar-benar menerapkannya bahkan kepada Philip sekalipun.
"Kita tidak bisa pulang ke mansion sementara, terlalu berbahaya," ujar Philip.
Winnie tak peduli, lagi pun ini bukan kali pertama ia terlibat pada hal yang berbahaya. Berbagi ranjang sisa malam itu mereka habiskan dengan tidur untuk menghilangkan penat setelah berlari, esoknya baru mereka pergi dengan kembali berjalan kaki.
"Philip aku lapar," keluh Winnie setelah mereka menghabiskan waktu berjam-jam dengan berjalan.
"Tunggu disini," ujar Philip.
Berteduh dibawah pohon yang rimbun Winnie menatap Philip yang berjalan menyebrang jalan untuk membeli makanan.
"Aku kagum kau masih bisa bertahan dengannya sejauh ini," ujar seseorang tiba-tiba.
Winnie menengok dan segera waspada, tepat disampingnya seorang pria tukang sapu jongkok di sampingnya.
Dari arah jalan ia tak terlihat karena pohon yang cukup besar, karena itu ia berani muncul dihadapan Winnie itu pun dengan kostum tukang sapu.
"Marck?" tanya Winnie mengenali wajah itu.
Marck tersenyum, membuat Winnie sadar bahwa musuh yang mengejar mereka adalah anak buah Marck.
"Aku yakin kau sudah cukup mengenal Philip, aku akan memberimu dua pilihan. Pertama ambil ini dan habisi Philip atau aku akan terus memburu kalian berdua," ujarnya sambil menyodorkan sebuah botol kecil.
Winnie menatap botol itu cukup lama sambil berfikir keras, kini ia mendapat kesempatan untuk bebas dari Philip tapi tentu resikonya terlalu besar.
"Jika aku menghabisinya apa kau akan menjamin keselamatan ku?" tanya Winnie ragu.
"Aku akan mengabulkan satu permintaan mu apa pun itu," sahutnya.
Winnie pun mengambil botol itu.
"Ini," ujar Philip sambil menyodorkan sebungkus roti.
Winnie yang kaget melihat kedatangan Philip langsung pucat dan kembali menengok kesamping untuk melihat Marck, tapi pria itu sudah menghilang entah kemana.
"Oh ya, terimakasih," sahut Winnie sambil mengambil roti itu sementara tangannya yang lain memegang kuat botol kecil pemberian Marck.
"Kau baik-baik saja?" tanya Philip melihat wajah Winnie sepucat rembulan dan kegugupan yang tidak jelas.
"Mm, ya.. " sahutnya mencoba tenang.
"Baiklah, ayo pergi!" ajak Philip mulai berjalan lagi.
__ADS_1