Reinkarnasi Putri Cacat

Reinkarnasi Putri Cacat
Bab 114 Kado Untuk Pangantin


__ADS_3

Merenggangkan tangan akhirnya pekerjaan hari ini berakhir, melihat ponsel ia mengirim pesan pada Carl untuk menjemputnya sebab mereka akan terus ke restoran untuk merayakan kelulusan Nagisa dengan nilai yang sempurna.


"Debo kami mau ke karaoke, kau mau ikut?" tawar teman kerjanya.


"Ah maaf sekali.. hari ini aku ada janji," sahutnya menyesal.


"Apa kau ada kencan?" tanya temannya yang lain.


"Bukan, adik ku menyelesaikan kuliahnya dengan nilai sempurna. Jadi kami mau merayakannya," jelasnya.


"Bagitu rupanya, baiklah."


Mereka pun pamit untuk pergi duluan, tapi sampai di jalan mereka justru bertemu lagi.


"Kalian belum pergi?" tanya Deborah.


"Kami menunggu yang lain," sahutnya.


Deborah mengangguk, kembali menatap jalan raya sebuah mobil kemudian berhenti tepat di hadapan mereka. Saat Carl turun mata mereka tertuju pada Carl dan tak bisa berpaling, tapi begitu Carl menyapa Deborah seribu pertanyaan segera terlintas di benak mereka.


"Deborah... kau mengenalnya?" tanya teman kerjanya.


"Tentu saja, kenapa?" sahut Deborah bingung.


"Bukankah kau pengacara tampan itu?" tanya pula yang lain.


"Ah.. itu... benar," sahut Carl sungkan.


"Aaa... memang benar! aku tidak percaya ini. Lalu... apa hubungan kalian?" tanya mereka.


"Kami pacaran," ujar Carl sambil menarik tubuh Deborah agar melekat padanya.


Mereka terkejut, tak menyangka selama ini Deborah menjalin hubungan dengan pengacara terkenal. Tapi mereka kembali berfikir sangat wajar Deborah menyembunyikannya mengingat ketenaran Carl.


"Apa-apaan kau ini?" tanya Deborah saat mereka sedang melaju di jalan.


"Apa?" tanya Carl tak mengerti.


"Kenapa kau mengatakan kita pacaran?" tanya Deborah lebih jelas.


"Memangnya kenapa? tidak boleh?" balas Carl.


"Tentu saja! kita tidak memiliki hubungan yang spesial seperti itu," tegas Deborah.


Mendengarnya Carl mendadak menepikan mobil yang membuat Deborah sedikit kaget.


"Jadi selama ini aku salah berprasangka pada hubungan kita begitu?" tanya Carl dengan nada kesal.


"Kau ini bicara apa?"


"Apa selama ini kau tidak menyukaiku?" tanya Carl lagi.


"Kenapa kau tiba-tiba menanyakan hal itu?" balas Deborah yang tidak tahu harus menjawab apa.


"Karena aku pikir.. kau.., selama ini kita terus bersama. Lalu kita juga pernah.. " Carl mencoba menjelaskan tapi ia juga bingung karena sejauh ini mereka hanya pernah berciuman dan berpegangan tangan.


Tapi tetap saja banyak momen kebersamaan mereka yang tak bisa di bilang hanya teman, karena itu ia pikir Deborah juga merasakan hal yang sama dengannya.


"Kau ini bicara apa? aku sama sekali tidak mengerti," ujar Deborah.


Tak bisa menjelajahi dengan ucapan Carl mengambil inisiatif dengan tindakan, ia mengecup bibir Deborah secara tiba-tiba yang tentu saja membuat Deborah kaget.


"Aku mencintaimu," ujar Carl pelan.


Mata Deborah melotot, ia sama sekali tak mengira Carl memiliki perasaan seperti itu padanya.


"Sejak kapan?" tanya Deborah.


"Ingat saat aku menyelamatkan mu dari kejaran preman? setelah aku mencium mu aku pikir kau gadis yang manis, setelah itu setiap memperhatikan mu perasaan ini muncul."


"Selama itu?" tanya Deborah kaget.


"Kau tidak percaya?" ujar Carl balik bertanya.

__ADS_1


"Kau selalu di kelilingi banyak gadis, jadi... "


"Apa kau tidak pernah merasa bahwa aku perhatian padamu?" potong Carl.


"Ku pikir itu karena aku lemah, Aslan juga perhatian padaku."


Carl menepuk jidatnya sendiri, ia tak percaya sudah sekian lama ia memberi sinyal tapi Deborah sama sekali tidak peka.


"Sekarang kau sudah tahu, apa kau mau menjadi kekasih ku?" tanya Carl.


Jantungnya berdebar kencang, takut pada jawaban yang diberikan Deborah tapi juga penasaran. Dengan malu kemudian Deborah mengangguk, membuat mata Carl terbuka lebar dengan senyum di wajahnya.


Hubungan yang baru di jalin seumur jagung itu mendadak serius, Carl melamar Deborah tepat di hari ulang tahunnya. Tentu saja kedua orang tua mereka setuju dan bahagia mendapat calon menantu seorang pengacara.


Dalam waktu dua bulan mereka pun segera melakukan persiapan pernikahan, namun menjelang hari bahagia itu kedua mempelai justru memasang wajah duka.


Satu minggu menjelang hari pernikahan mereka datang ke pemakaman dengan membawa seikat bunga, di cuaca yang cerah itu air mata Deborah membasahi batu nisan bertuliskan nama Winnie Wilson.


"Kami datang untuk meminta restu mu, jangan melotot begitu. Aku pasti akan menjaga Deborah dengan nyawaku dan membahagiakannya," ujar Carl.


"Haruskah aku mengadakan bridal shower disini? aku ingin kau menghias kuku ku dan menyisir rambut ku, saat acara nanti aku juga ingin kau yang membawa bunga," tambah Deborah.


Air mata Deborah yang tak bisa berhenti membuat Carl cemas, ia pun segera mengajaknya pulang agar tak berlarut dalam kesedihan.


Malamnya mereka mengadakan makan malam di restoran dengan mengundang Aslan, Brian, Nagisa serta ibunya.


"Bersulang!" seru mereka serentak sambil mengadukan masing-masing gelas di atas meja makan.


Menghabiskan minuman dalam sekali teguk mereka menikmati makan malam untuk menggantikan bridal shower.


"Aku tak menyangka kalian akan memutuskan menikah secepat ini," ujar Brian.


"Itu karena Deborah takut aku direnggut gadis lain," gurau Carl.


"Apa-apaan, sejak pertama kau yang menyatakan cinta lalu tiba-tiba melamar dan mengajak ku untuk menikah. Bukankah kau yang terlalu mencitai ku?" sahut Deborah tak terima.


"Iya sayangku... " balas Carl sembari mencubit pipi Deborah.


Mereka tertawa melihat kemesraan pasangan yang sedang di mabuk asmara.


Aslan mengangguk setuju, andai Winnie masih ada patilah yang pertama menikah adalah mereka. Itu karena Aslan bahkan sudah melamar Winnie saat mereka lulus SMA.


"Nagisa maukah kau nanti menjadi pembawa bunga?" tanya Deborah.


"Sungguh?" tanya Nagisa berbinar.


"Tentu saja, kau adalah adik ku."


"Baiklah, aku akan melakukannya."


"Kalau begitu mari kita bersulang lagi," ujar Carl sembari mengangkat gelas.


Aslan mengangkat gelasnya dan minum dengan sekali teguk, tapi itu tidak cukup. Ia terus minum bahkan saat yang lain makan, semakin lama semakin banyak yang ia minum sampai akhirnya ia mabuk.


"Aah... kenapa kau minum banyak sekali?" erang Deborah.


"Sudahlah, biar aku yang membawanya ke apartemen," ujar Carl mengerti isi hati tuannya yang sedang sakit.


"Tidak, kakak harus cepat pulang dan beristirahat. Kau adalah calon pengantin jadi jangan sampai sakit, biar aku saja yang membawanya. Paman tolong antar ibu pulang duluan," sergah Nagisa.


"Oh baiklah," ujar Brian setuju.


Mereka pun berpisah, meski tubuh Nagisa jauh lebih kecil dan pendek tapi ia mampu menopang Aslan dan membawanya ke apartemen.


Membaringkannya di atas ranjang kemudian dia melepaskan sepatu Aslan.


"Winnie... " panggil Aslan pelan.


Nagisa bangkit, berjalan perlahan mendekati Aslan dan duduk disampingnya. Memperhatikan bagaimana air bening mengalir keluar dari matanya yang tertutup, sementara mulutnya tak henti menyebutkan nama Winnie.


"Sebesar itukah luka mu kak? kapan kau bisa keluar dari pusaran kesedihan mu?" tanya Nagisa.


Penderitaan Aslan sampai kepadanya hingga air mata Nagisa pun ikut mengalir.

__ADS_1


"Aku juga sedih karena kehilangan kak Winnie, tapi tolong jangan sakiti dirimu seperti ini... sudah cukup aku melihat paman, kau tidak boleh... " pinta Nagisa dengan lirih.


......................


Entah itu tegukan yang keberapa Aslan tak peduli, tapi Nagisa peduli sehingga ia memaksa Aslan untuk berhenti. Jangan sampai dia mabuk sebelum acara di mulai.


Aslan meminta maaf karena tidak menghormati kebahagiaan sahabatnya, ia pun duduk tenang di bangkunya. Menatap Deborah dan Carl yang berjalan melewatinya.


Saat kedua sahabatnya berlalu matanya menangkap sosok seorang wanita yang tengah berdiri di dekat vas bunga, meski ia memakai kacamata hitam tapi ia jelas mengenali siapa wanita itu.


Dengan cepat ia bangkit dan berlari menghampiri wanita itu.


Buk


"Oh maaf!" ujarnya sebab tak sengaja menyenggol tamu yang lain.


Saat ia kembali berpaling wanita itu sudah hilang, menatap sekeliling kemudian ia menemukan wanita itu sedang berjalan pergi.


"Tunggu!" sergahnya sambil berlari.


"Winnie," panggilannya.


Wanita itu berbalik menatap Aslan dengan bingung.


"Oh maaf, aku pikir kau temanku," ujar Aslan yang juga bingung sebab wajahnya berbeda dengan Winnie.


Menatap sekeliling ia kembali mencari tapi Winnie tak ada dimana pun.


"Kak Aslan apa yang kau lakukan? kenapa kau tiba-tiba pergi? ayo! pengantin ingin mengambil foto dengan kita," tanya Nagisa menghampiri.


"Tidak Nagisa, aku melihat Winnie."


"Apa? dimana?" tanya Nagisa kaget.


"Tadi dia disini, tapi sekarang sudah menghilang."


Nagisa menatap pilu pada Aslan yang sedang menebar pandangan mencari.


"Tidak ada kak Winnie di sini, kau mungkin berhalusinasi karena minum terlalu banyak," ujar Nagisa.


Aslan mematung, ucapan Nagisa mungkin benar. Dengan perasaan kecewa ia pun pergi bersama Nagisa.


......................


Malam pengantin di hotel yang telah mereka sewa Carl terus menggoda Deborah hingga membuatnya kelelahan, bahkan Carl sudah memberikan tanda merah di leher Deborah.


"Cukup! ini masih sore, aku ingin membuka kado pernikahan ku," ujar Deborah.


"Aaahh... kau lebih suka kado dari pada aku," ucap Carl kecewa.


"Hahaha.. tidak begitu sayang, pergilah mandi duluan. Nanti aku menyusul," jelas Deborah.


"Baiklah," balas Carl dan mengecup istrinya di kening.


Dengan antusias Deborah mulai membuka kado, ia memilih kado dengan bentuk kotak panjang yang menyita perhatian.


"Wow... ini... sangat indah, Carl lihatlah ini!" seru Deborah takjub begitu melihat isi kado itu.


"Apa?" tanya Carl menghampiri.


Itu merupakan perhiasan satu set yang dipenuhi berlian, harganya pastilah selangit.


"Siapa yang memberi kado seperti ini?" tanya Carl.


Ia mengambil sebuah kartu ucapan dan membacanya.


"Sally? apa itu teman mu?" tanya Carl.


"Aku tidak punya teman bernama Sally, dikeluargaku juga tidak ada. Apa jangan-jangan ini dari fansmu?" sahutnya.


"Aku bukan anggota grup BTS, mana ada yang memberi hadiah semahal ini."


"Benar juga, lalu siapa dia kalau kita tidak mengenalnya? apa jangan-jangan dia salah masuk pesta?" tanya Deborah.

__ADS_1


"Entahlah," jawab Carl.


Sebenarnya itu tidak mungkin karena mereka adalah satu-satunya pasangan yang menikah di tempat itu, Carl curiga ini sebuah pesan rahasia dari seseorang. Entah dari orang baik atau orang jahat.


__ADS_2