Reinkarnasi Putri Cacat

Reinkarnasi Putri Cacat
Bab 84 Telepon Misterius


__ADS_3

Pulang ke rumah kedamaian Camila sedikit terusik saat melihat mobil pengacara Brian terparkir di halaman rumahnya, jika mobil itu ada di sana berarti pengacara sedang ada urusan dengan Brian.


Segera ia pun masuk dan bertanya kepada pelayan, ternyata memang pengacara sudah berada di ruang kerja Brian selama hampir dua jam.


Rasa penasaran membuatnya tak bisa tenang hingga akhirnya pengacara itu keluar dari ruang kerja Brian, segera bersembunyi agar tak terlihat oleh Brian kemudian dia memanggil pengacara yang hendak masuk ke dalam mobil.


"Tunggu!" serunya.


"Oh nyonya Wilson, selamat siang."


"Ah siang juga, apa Brian yang menyuruhmu datang?" tanyanya langsung pada inti.


Pengacara itu melirik sekitar sebelum menjawab.


"Pak Brian merubah isi surat wasiatnya, kini ia membagi rata hartanya untuk nona Winnie dan Nicki. Tapi ia sudah memutuskan nona Winnie akan menjadi penerus di perusahaan," ujarnya.


"Sungguh?" tanya Camila kaget.


"Pam Brian sudah membuat keputusan bulat dan menandatanganinya," sahutnya.


Membisu Camila tak tahu harus bicara apalagi, ia pun membiarkan pengacara pergi sementara ia harus segera mencari cara agar perusahaan tak jatuh begitu saja pada Winnie.


Menghadapi jalan buntu lagi-lagi ia menemui Jack untuk berkonsultasi, hanya dia yang bisa membantunya saat ini.


"Nicki tak punya bakat untuk memimpin perusahaan, kita tak punya pilihan selain menghabisi anak itu. Toh seharusnya dia sudah mati dua puluh tahun yang lalu," ujar Jack.


"Kau benar, Winnie pergi bertugas di hotel pinggir pantai. Ini adalah kesempatan kita untuk menyingkirkannya," sahutnya.


"Baiklah, aku akan mengatur orang ku."


"Oh Jack, bagaimana dengan Will? kau bilang akan membereskannya," tanya Camila yang baru teringat.


"Masalah dia kita urus nanti, toh dia tidak akan berani langsung memberitahu Nicki. Aku yakin dia cukup pintar untuk tidak membuat kecerobohan," jawabnya.


Camila mengangguk, ia percayakan semuanya kepada Jack karena itu jalan yang terbaik.


Setelah berkonsultasi hatinya menjadi jauh lebih lega, kini ia bisa pulang dengan perasaan tenang.


"Ibu sudah pulang?" sambut Nicki.


"Iya, bagaimana kelas mu tadi?" ujarnya balik bertanya.


"Seperti biasa, tak ada yang berubah."


Camila tersenyum, membiarkan putrinya berjalan lebih dulu. Saat itulah ia melihat sebuah gelang melingkar di tangannya, gelang yang memang sedang cukup ngtren.

__ADS_1


"Kapan kau beli gelang itu?" tanya Camila.


"Oh ini pemberian paman Will, kami tak sengaja bertemu di mall. Dia sangat baik sampai mentraktir ku makan dan belanjaan lainnya termasuk gelang ini," sahutnya.


Camila tersentak, rupanya Will mencoba mendekati Nicki selagi ia sibuk dengan hal lain. Tak bisa membiarkannya Camila memutuskan untuk mengajak Will bertemu.


"Aku tidak punya banyak waktu, cepat katakan ada perlu apa!" perintah Will saat ia baru datang.


"Berhentilah menemui Nicki, meski kau ayah kandungnya tapi dia tidak akan menerimamu begitu saja. Dia cukup tahu kau bukan pria yang baik," sahut Camila.


"Heh, besar kepala sekali kau! jika dia tahu selama ini kau menyembunyikan identitas aslinya justru dia akan membencimu," balas Will.


"Will aku sudah peringatkan kau! Nicki akan tetap menjadi bagian dari Wilson," tegas Camila.


Tapi Will sudah tak peduli, dia yakin jika bisa meraih hati Nicki maka pada akhirnya ia akan mendapatkan hak nya sebagai ayah.


"Kenapa kau begitu bersikeras? apa hebatnya menjadi nyonya Wilson? aku tidak kalah kaya seperti Brian jadi kenapa kau tidak pernah memberitahuku tentang Nicki?" tanya Will.


"Karena aku tidak ingin kau menjadi ayah untuk Nicki, aku mencintai Brian dan hanya dia ayah Nicki!" tegas Camila.


Percuma untuk terus berdebat tentang masalalu, Camila memutuskan untuk pergi karena baginya urusannya telah selesai.


......................


Setelah berkeliling tempat itu dan bicara dengan kepala desa Winnie menemukan yang menjadi andalan destinasi wisata adalah pantai dan budaya daerah tersebut.


Lalu mereka berjalan mengelilingi desa sampai tiba di pantai, setelah upacara resmi diadakan oleh pemangku adat akan ada tarian dan nyanyian menyambut upacara itu. Lalu di penghujung acara mereka akan saling bertukar persembahan dan memakannya bersama sambil mengenang hal-hal baik yang sudah terjadi selama setahun sebagai bentuk syukur.


Sayangnya upacara itu sudah jarang dilakukan karena memang beberapa tahun terakhir perekonomian mereka semakin sulit, para anak muda pergi merantau tanpa pernah kembali sehingga menyisakan para lansia saja.


Winnie tahu ia harus menarik lebih dulu wisatawan jika ingin hotelnya ramai, dan ia menemukan cara cepat yaitu dengan sosial media.


Segera ia kembali ke hotel dan mengambil kameranya, untuk permulaan ia akan mengambil gambar di pantai yang menjadi primadonanya.


Tempatnya yang sepi dengan pemandangan khas pantai dengan air laut yang jernih membuat Winnie yakin ia akan mendapatkan views yang epic.


Selesai merekam ia kembali ke hotel dan melihatnya lagi di laptop, sayangnya meski terlihat bagus Winnie merasa ada yang kurang sehingga nampak biasa saja.


"Sebaiknya aku mencoba meminta bantuan Deborah," gumamnya.


Diambilnya ponselnya untuk menghubungi Deborah, ia mengatakan akan mengirimkan vidio dan meminta Deborah untuk mengeditnya agar terlihat menarik.


"Baiklah, tapi aku tidak bisa mengerjakannya dengan cepat. Carl baru saja memberiku tugas untuk mengecek sebuah nomor plat mobil," sahutnya.


"Plat mobil?" tanya Winnie.

__ADS_1


"Ya, katanya mereka mendapatkan nomor itu dari perawat iren."


"Sungguh? kau sudah memeriksanya?" tanya Winnie penasaran.


"Sedang ku periksa," sahut Deborah.


Tok Tok Tok


Tiba-tiba pintu kamar di ketuk, Winnie yang penasaran segera bangkit untuk membukanya.


"Nona Winnie ada telepon untuk mu di resepsionis," ujar Milo.


"Baiklah, terimakasih."


Milo mengangguk dan segera pergi, Winnie pun memutus teleponnya dengan Deborah kemudian pergi ke resepsionis.


"Halo," ucap Winnie mengangkat telepon.


Tak ada suara apa pun di seberang sana, membuat Winnie heran dan kembali memanggil.


"Kematian ibumu adalah misteri terbesar yang belum terpecahkan," ujar seseorang di seberang telepon.


"Halo, siapa ini?" tanya Winnie sebab suara itu jelas telah di ubah agar ia tak dapat mengenalinya.


"Aku tahu siapa yang sebenarnya telah membunuh ibumu, dia masih hidup sampai sekarang dan sedang mencoba untuk melenyapkan mu. Berhati-hatilah," ucapnya.


"Katakan mengapa aku harus percaya padamu?" tanya Winnie dingin.


"Karena kau tidak punya pilihan selain percaya," sahutnya.


......................


Lama mengutak-atik komputer akhirnya Deborah menemukan pemilik nomor plat mobil itu, dia adalah seseorang yang mereka kenal bahkan sempat mereka mata-matai.


Tiba-tiba Deborah teringat ucapan Carl yang mengatakan perawat Iren memberi nomor plat mobil itu sambil berkata bahwa ia diawasi, jika itu benar maka ada kemungkinan dia memiliki hubungan dengan kematian Maya atau bahkan mungkin dia adalah dalang di balik kematian itu.


Merasa khawatir Deborah langsung mengambil ponselnya dan mencoba menghubungi Winnie, tapi sayangnya tak ada jawaban.


Berkali-kali ia menelpon masih tak ada jawaban, hingga lima belas menit kemudian akhirnya Winnie mengangkat telepon.


"Ya Deborah, ada apa?" tanya Winnie.


"Winnie sebaiknya kau hati-hati, aku sudah mengetahui siapa pemilik nomor plat mobil itu."


"Sungguh? siapa dia?" tanya Winnie penasaran.

__ADS_1


"Jack Patckins, mobilnya terus terlihat oleh perawat Iren hingga ia percaya bahwa dia sedang di awasi setelah kematian pacarnya. Jika benar Jack ikut andil dalam kematian ibumu," sahutnya.


"Deborah... aku baru saja menerima telepon misterius," ujar Winnie pelan.


__ADS_2