
Pada akhirnya Winnie tak jadi menjenguk Eggar di rumah sakit, tapi ia tetap datang ke pesta kecil yang di laksanakan teman-teman untuk menyambut kepulangan Eggar setelah dirawat.
Pesta itu seperti biasa di hadiri oleh banyak teman yang sudah Winnie kenal, karena pesta itu di khususkan untuk Eggar tentu saja Winnie tak lupa membawa bunga sebagai hadiah sekaligus permintaan maaf karena baru menjenguk.
"Terimakasih," ujar Eggar canggung sebab ia tahu Winnie adalah teman dekat Deborah.
"Lain kali tolong minta persetujuan dulu, aku tidak suka membeli bunga untuk hal memalukan seperti ini," olok Winnie.
Eggar hanya tersenyum ketir, ia sudah tak bisa menahan malu sejak Marito mengadakan pesta. Masalahnya adalah kabar ia di hajar karena mencoba meniduri seorang gadis sudah tersebar, untung saja tidak ada yang tahu siapa gadis itu kecuali Winnie.
"Aku pikir kau tidak akan datang, aku sangat kaget kau tiba-tiba menutup telpon waktu itu dan tak bisa di hubungi," ujar Leo mendekat.
"Waktu itu aku mendapat telepon dari sutradara, ada sesuatu yang harus kami rundingkan masalah syuting. Maaf karena tidak mengabarimu," sahut Winnie.
"Tidak masalah, lalu bagaimana sekarang? apa masalahnya sudah selesai?" tanyanya.
Winnie mengangguk sembari tersenyum, tiba-tiba mereka membisu di tengah hiruk pikuk pesta. Membuatnya seolah mereka berada di dimensi yang berbeda.
"Hei! Marito adu panco dengan Dean," ujar salah satu teman mereka memberitahu.
Winnie dan Leo segera memutar badan untuk melihat pertandingan itu, nampak keduanya terlihat sangat berusaha keras sambil di soraki semua teman.
"Aku berani bertaruh Marito yang menang," ujar Winnie.
"Kalau begitu aku bertaruh di Dean," sahut Leo.
Mereka saling menatap dan tersenyum, kemudian menonton pertandingan itu dengan perasaan berdebar. Beberapa menit berlalu akhirnya pertarungan selesai dengan Marito yang keluar sebagai pemenang, Winnie yang berbangga menyodorkan tangan untuk meminta haknya.
Pertarungan panco kembali di mulai dengan kandidat baru, Winnie dan Leo juga kembali bertaruh pada jagoan masing-masing. Hanya butuh sepuluh detik saja dan Winnie menang kembali, itu membuat tawa ceria yang sudah lama ingin Leo lihat.
"Hei! apa yang kalian lakukan?" tanya Nicki sambil berjalan mendekat.
Semua mata seketika tertuju padanya beserta keheningan yang membuat Nicki sedikit canggung.
"Ada apa? kenapa kalian menatap seperti itu?" tanyanya salah tingkah.
__ADS_1
"Oh kami sedang adu panco, apa dia teman mu?" tanya Eggar yang terpesona.
Nicki seketika sadar bahwa yang jadi pusat perhatian bukanlah dia melainkan Teressa, senyumnya yang sudah mengembang segera pupus.
"Perkenalkan ini Teressa, dia baru datang dari luar negri. Dia.... eh harusnya kau yang memperkenalkannya, bukan begitu Leo?" ujar Nicki saat matanya menatap Leo.
Untuk itulah ia membawa Teressa, seperti yang di katakan ibunya berhentilah mengejar Leo. Sebaliknya cinta yang tak terbalas ini akan ia buat menjadi keyakinan untuk menghancurkan Winnie, banyak gosip berseliweran tentang kedekatan Winnie dan Leo.
Setelah semua orang tahu bahwa Teressa adalah tunangan Leo maka mudah baginya menghancurkan Winnie karena kedekatannya dengan Leo.
"Apa maksud mu?" tanya Eggar bingung.
"Maksud ku adalah Teressa ini tunangan Leo, jadi sudah seharusnya Leo yang mengenalkannya pada kalian bukan aku," sahut Nicki yang membuat semua orang terbelalak kaget termasuk Winnie.
Hanya Leo yang menatap tajam ke arah Nicki sementara Marito menundukkan kepala, sebagai sahabat lama Marito sudah tahu tentang hal ini dan dia juga lebih tahu bahwa Leo tidak pernah setuju.
"Leo? apa itu benar?" tanya salah teman gadisnya.
Mata Leo justru tertuju pada Winnie dengan tatapan bingung, ia ingin menjelaskan sejelas-jelasnya agar Winnie tidak langsung percaya tapi bingung harus berkata apa.
"Itu benar," sahut Marito yang membuatnya kini jadi pusat perhatian.
"Ooohh... " sahut mereka sambil mengangguk.
Sementara Leo memberi isyarat terimakasih.
"Nah Teressa kau pasti sudah melupakan aku, kita sudah lama tidak bertemu. Kemarilah dan bergabung dengan kami," ajak Marito.
"Terimakasih," sahut Teressa sambil segera menghampiri.
Para pemuda seketika berubah menjadi nyamuk yang terbang di sekeliling Teressa, menarik perhatiannya dengan suara dan lain sebagainya.
"Teressa itu memang cantik dan sangat anggun, dia adalah gadis dengan wibawa tinggi yang berkelas layaknya putri. Tak heran jika dia jadi pusat perhatian," ujar Nicki kepada Winnie.
Mendengar bagaimana nada bicara Nicki ia tahu saudara tirinya itu sedang mencoba menarik emosinya.
__ADS_1
"Kau benar, aaah.... akhirnya ada juga gadis yang cantik selain aku. Terus menjadi pusat perhatian sangat melelahkan, terimakasih sudah membawa Teressa. Dengan begini aku bisa istirahat sejenak dari godaan para pria," sahut Winnie.
Tatapan Nicki seketika berubah tajam, mengawasi saat Winnie berjalan pergi ke arah toilet.
Byuurrr...
Satu basuhan untuk wajahnya yang entah mengapa terasa panas, bercermin untuk melihat pantulan wajahnya Winnie benar-benar merasa bodoh.
Ia juga mengusap dadanya sebab jantungnya berdebar sangat kencang saat mengetahui siapa Teressa, sungguh ia tak mengira Leo sudah memiliki gadis lain.
"Dia Leo bukan pangeran, sekarang aku benar-benar yakin akan hal ini. Arrghh apa yang ku pikirkan? aku sudah punya Aslan, aku tidak boleh berkhianat meski ini hanya sebatas pikiran," erangnya.
"Bodoh bodoh bodoh, kembali pada kenyataan," perintahnya sambil menunjuk kepalanya sendiri.
Kembali mencuci muka kini Winnie mendapat kesegaran, ia harus benar-benar melupakan pangeran dan segala hal yang berkaitan dengan Yumna sebab semua itu adalah kelemahannya.
Di dunia Winnie banyak hal yang membutuhkan fokus dan loyalitas, ia hanya boleh jatuh cinta pada misi balas dendamnya.
Menatap kedua tangannya ia mulai mengingat sensasi saat menyeret Carmen yang tak berdaya, lalu membelai tubuh-tubuh untuk menaklukkannya.
Dengan kedua tangan itu ia telah berhasil menundukkan banyak kepala dan menjadikannya boneka, sensasi yang membuatnya duduk sebaris dengan rakyat namun dengan posisi yang paling di takuti.
Dia adalah pemegang kendali, maka dia tidak boleh hanyut hanya karena sekuntum bunga yang di petik.
Dddrrrrrttt
"Halo," ujarnya mengangkat telepon.
"Winnie Will memulai pergerakan, berita yang memuatnya terlupakan karena kasus seorang artis. Sekarang bagaimana?" tanya Deborah.
"Suruh Nagisa untuk mengirimkan foto serta rekamannya pada Camila, aku akan mengatasi yang selanjutnya," jawab Winnie.
"Baik, aku mengerti," balas Deborah.
Telpon pun berakhir, Winnie segera menyelesaikan urusannya di toilet kemudian pergi ke luar. Namun saat akan pergi meninggalkan pesta ia melihat Leo yang seolah sedang menunggunya.
__ADS_1
"Bisakah kita bicara?" tanya Leo.
"Maaf, aku ada urusan mendadak. Sampai nanti," sahut Winnie datar.