
Keluarga Wilson mendapat undangan pesta dari Jack Patckins, ia adalah salah satu teman Brian di lapangan golf. Melihat sebuah kesempatan yang bagus Brian dengan sengaja mengajak Winnie ikut pergi untuk mengenalkannya pada pesta orang kaya dan orang-orang penting yang pasti akan hadir.
Tentu saja Camila dan Nicki juga ikut sebab pesta itu tak hanya akan di hadiri para orangtuanya saja, anak-anak mereka pun pasti hadir untuk mengikat tali klub anak orang kaya.
Dalam balutan gaun yang elegan Winnie terlihat cantik saat ia keluar dari kamarnya dan menghampiri Brian, melihatnya membuat Brian teringat mendiang istrinya Maya sampai ada setitik air mata yang jatuh begitu saja.
"Kau terlihat cantik," puji Brian dari lubuk hatinya.
"Terimakasih ayah," sahut Winnie tersenyum.
"Baiklah, mari kita berangkat!" ajak Camila.
Mereka pun segera pergi, Brian dan Camila berada di satu mobil yang sama sementara Winnie dan Nikci di mobil yang lain.
Selama perjalanan Nicki banyak menyebutkan beberapa nama yang sudah menjadi temannya dalam pesta, tentunya mereka adalah anak-anak berstatus sama dengannya.
Winnie mendengarkan dengan baik tapi tidak begitu peduli, ia sudah pernah mengikuti pesta orang kaya namun bukan yang resmi seperti ini.
Itu adalah pesta gila khas anak yang kurang perhatian, dulu dia ikut karena selain di ajak tentu ia juga ingin tahu sejauh mana pengaruh anak orang kaya jika di luar wilayah mereka.
Sampai di sebuah gedung mobil berhenti tempat di pintu, beberapa penjaga berdiri di kiri kanan dan tentunya membukakan pintu untuk mereka.
"Ayo!" ajak Brian.
Ia mengulurkan tangan agar Camila dapat berpegangan padanya, berjalan memimpin di depan sementara kedua putrinya mengikuti dari belakang.
Begitu masuk ke dalam Winnie segera di sambut alunan musik jazz dan hiruk pikuk orang-orang yang bercengkrama, berdiri membentuk kelompok kecil yang terdiri dari empat sampai lima orang di dekat meja kecil.
Masih mengikuti langkah orangtuanya mereka menghampiri sang pemilik pesta, yakni Jack Patckins.
"Hei... Brian!" sambut Jack sambil merentangkan kedua tangannya.
"Jack! terimakasih telah mengundang kami," sahut Brian melepaskan Camila untuk memeluk temannya itu.
"Mana mungkin aku melupakan teman ku, dan Nyonya Wilson. Kau sungguh cantik malam ini," ujar Jack kemudian mengecup punggung tangan Camila.
"Terimakasih tuan Jack, anda pun terlihat tampan," balas Camila.
"Selama ini kau mengenal putriku Nikci, tapi belum dengan saudaranya. Ini Putriku yang lainnya Winnie," ujar Brian memperkenalkan.
"Selamat malam tuan," sapa Winnie sambil memberi hormat dan tersenyum.
__ADS_1
"Ah... cantik sekali, mengapa kau baru memperkenalkannya sekarang?" tanya Jack.
"Saya sekolah di tempat yang cukup jauh, itu pilihan saya sejak kecil karena ingin mandiri. Sekarang setelah dewasa justru saya ingin dekat dengan ayah karena itu baru tinggal bersama lagi," jelas Winnie sebab Brian langsung gelagapan entah harus menjawab apa.
"Um... aku mencium bau pemimpin yang kuat dari mu sayang," ujar Jack sambil meneliti wajah Winnie.
"Anda bisa saja," sahut Winnie sambil tertawa kecil.
"Ya sudah, kenapa berdiri saja di sini? aku membuat pesta besar untuk memanjakan kalian jadi silahkan di nikmati," ujar Jack.
Mereka mengucapkan terimakasih dan membiarkan Jack pergi untuk menyambut tamunya yang lain.
"Terimakasih Winnie, jawaban mu sangat tepat," ujar Brian merasa tertolong.
"Sama-sama ayah," sahut Winnie.
Tak lama Brian melihat temannya yang lain, ia segera menghampiri dan kembali memperkenalkan Winnie. Hal itu terus berlangsung sampai membuat Camila bosan, ia pun berpisah dengan dalih ingin menyapa yang lain bersama Nicki.
Sementara Winnie tetap disamping Brian dan kadang ikut mengobrol, tak ada rasa gugup atau canggung. Jika ada satu obrolan yang memang menarik menurutnya maka Winnie juga akan ikut bicara, itu membuatnya mendapat pujian sebab Winnie bicara dengan selalu merendah agar yang lain tidak jengkel padanya.
"Oh sayang, kau benar-benar membuat ayah bangga malam ini. Ayah tak mengira kau bahkan tahu hal-hal yang hanya di ketahui para orangtua," ujar Brian saat mereka hanya berdua.
"Aku senang bicara dengan orangtua, karena itu obrolan mereka bisa masuk denganku," sahut Winnie.
"Ayah mau ke toilet dulu, kau tidak apa kan ditinggal sendiri?" tanya Brian.
"Aku bukan anak kecil ayah," sahut Winnie agar Brian tak perlu mencemaskannya.
"Baiklah," ujar Brian kemudian pergi.
Di tinggal sendiri Winnie mengangkat jari saat melihat seorang pelayan yang membawa minuman di nampan, pelayan itu pun mendekat dan menyodorkan nampan agar Winnie dapat memilih minumannya sendiri.
Mengambil satu gelas ia pun menikmati minuman sambil lebih fokus pada musik yang mengalun, jika tak ada hiruk pikuk keramaian ia yakin akan nikmat mendengar musik itu.
"Permisi.." sapa seseorang dari belakang.
"Ya?" sahut Winnie segera berbalik.
Mata mereka beradu pandang, melotot untuk beberapa detik sebab tak menyangka akan bertemu di tempat yang terduga.
"Sudah ku duga, itu pasti kau Winnie!" seru Leo.
__ADS_1
"Leo? kau sedang apa di sini?" tanya Winnie.
"Harusnya aku yang bertanya, kau sedang apa di pesta ayahku?" balas Leo.
"Tuan Jack Patckins ayahmu?" tanya Winnie tak menyangka akan dunia yang hanya selebar daun kelor.
"Kau mengenal ayahku?" balas Leo lagi bertanya.
Tak ada gunanya saling melempar pertanyaan, akhirnya Winnie menjelaskan sebuah kenyataan bahwa ia anak adopsi keluarga Martius. Hal ini ia lakukan sebab Leo pernah berkunjung ke rumahnya dulu dan tentu setahu Leo dia anak keluarga Martius, Leo yang mendengarnya tak pernah menyangka akan hal ini tapi cukup pengertian.
"Aku berkata jujur sebab kita saling mengenal awalnya, aku harap kau bisa mengerti cerita ini tak bisa ku sebarkan," ujar Winnie di akhir penjelasannya.
"Tentu saja, kau bisa mempercayai ku," sahut Leo.
"Ah... tapi sangat tidak terduga ya? aku melihat mu dari kejauhan dan ku rasa mengenalmu, karena itu aku mendekat untuk menyapa. Tak disangka ternyata itu kau," ujarnya.
Winnie tersenyum, tentu saja ia juga tak menyangka akan bertemu dengan Leo.
"Hei Leo! wah... ada gadis secantik ini dan kau hanya bicara berdua, pelit sekali!" hardik seseorang.
Winnie melihat tiga orang pria yang sebaya dengan mereka, ketiganya memiliki ketampanan yang cukup untuk kategori anak orang kaya.
"Apa maksud mu?" tanya Leo sembari tertawa kecil.
"Hai, aku Ashar. Senang bertemu dengan mu," ujar satu pria memperkenalkan diri dengan mengecup punggung tangan Winnie.
"Kau bisa memanggilku Winnie," sahutnya.
"Aku Marito," ujar yang lain namun hanya bersalaman.
"Dan aku Eggar."
Dari perkenalan itu mereka mulai mengobrol, lebih tepatnya menginterogasi Winnie tentang dirinya. Kecantikan Winnie yang anggun rupanya menarik minat mereka untuk mengenal lebih jauh tentangnya, mendengar ia dari keluarga Wilson tiba-tiba Ashar membandingkannya dengan Nicki.
Rupanya di mata mereka Nicki sangat caper dan terlalu manja, beberapa kali mereka pernah liburan bersama dan mengalami sedikit kesulitan karena Nicki.
Contoh kecil saja saat ke pantai Nicki begitu cerewet hanya karena masalah tak kebagian air kelapa, saat itu memang mereka liburan ke pantai yang sedikit terpencil hingga akses sedikit sulit.
Karena hal itu beberapa gadis yang lain menjadi marah dan liburan berakhir dengan tidak menyenangkan, sebagai saudara Winnie memberikan sedikit pembelaan karena selama ini Nicki cukup baik padanya.
Tapi pembelaan itu rupanya membuat mereka semakin menyukai Winnie hingga meminta no ponselnya, Winnie tentu tak keberatan karena ia juga butuh teman-teman seperti mereka.
__ADS_1
Semakin larut Winnie semakin di gandrungi, banyak pria dan gadis yang merupakan anak orang kaya ingin berkenalan hingga akhirnya mengobrol bersama.
Sampai Brian mengajak pulang beberapa diantara mereka mengajak Winnie bertemu di lain waktu, Winnie tak bisa berjanji tapi ia akan mengusahakannya jika ada waktu.