
Tok Tok Tok
Saat pintu itu diketuk Winnie segera buyar akan lamunannya, ia segera membukanya dan menemukan Philip disana.
"Bersiaplah, kita akan pergi," ujarnya.
"Tak ada yang perlu ku bawa," sahut Winnie.
"Kalau begitu kita bisa langsung pergi," balasnya.
Berjalan tepat di samping Philip ia di beritahu kalau mereka akan meninggalkan pulau, ada pekerjaan menanti Philip.
"Mulai sekarang nama mu Sally, kau adalah tunangan ku dan kau tidak punya masa lalu apa pun," ujar Philip setelah mereka naik ke kapal.
Winnie menyahut dengan sebuah anggukan, Dulu dia adalah Yumna yang berengkarnasi menjadi Winnie. Sekarang Winnie sudah mati bagi dunia dan kini ia menjadi Sally, entah esok ia akan menjadi siapa. Yang jelas satu hal yang ia ketahui Philip adalah seorang toxic relationship.
Ia akan sangat memuja Winnie tapi jika Winnie berani pergi maka ia tak akan segan membunuh.
Satu malam dalam perjalanan dengan kapal pesiar dan pesawat pribadi, akhirnya mereka sampai di sebuah mansion. Banyak pelayan yang akan bertugas melayani segala kebutuhan mereka, tapi jumlah penjaga dua kali lebih banyak.
Ini membuat Winnie menduga bahwa Philip memiliki banyak musuh yang mengincar nyawanya, jika mengingat bisnis yang dijalankan Philip memang itu cukup masuk akal.
"Ah aku lupa membeli pakaian untuk mu, bisakah kau tunggu sampai nanti sore? aku ada pekerjaan dulu baru kita pergi belanja," ujar Philip.
"Tidak masalah," sahut Winnie.
Philip kemudian membawanya ke dalam satu kamar, itu akan menjadi kamar Winnie yang bebas ia atur sesukanya.
Membuka bagian lemari ternyata tempat itu benar-benar kosong, hanya ada satu handuk.
"Seseorang pernah tinggal disini?" tanya Winnie.
"Selalu berganti, setiap kali mereka melakukan kesalahan aku tak hanya membuangnya dari hidupku tapi juga barang-barangnya dari rumahku. Tapi mulai sekarang dan untuk selamanya hanya akan ada kau, Sally... " sahut Philip.
Tangannya masuk ke sela-sela rambut Winnie sementara bibirnya menyapu pipi.
"Kau bisa istirahat, nanti sore kita pergi," ujarnya kemudian sebelum pergi.
Sorenya sesuai janji Philip mengajak Winnie ke pasar raya untuk belanja, pertama mereka masuk ke toko pakaian. Winnie melihat satu persatu pakaian yang menarik perhatiannya setelah memutuskan ia pun mengambil beberapa setel.
__ADS_1
"Bungkus saja semuanya, aku tidak ingin kau memakai pakaian yang sama setiap hari," perintah Philip.
"Tidak! aku hanya akan memakai pakaian yang aku suka, ini cukup untuk hari ini. Besok kita bisa beli lagi," sahut Winnie.
"Dasar, ternyata kau tidak segan menghamburkan uangku," ucap Philip sembari tersenyum.
"Kau bisa mengatur ku untuk hal apa pun, tapi jangan sekalipun ikut campur dengan pakaian dan makanan. Aku akan memakai dan memakan yang aku suka," balas Winnie.
"Baiklah terserah padamu," sahut Philip.
Jika hanya itu syaratnya Philip tentu tidak keberatan, yang terpenting adalah Winnie selalu setia padanya.
Selesai pada pakaian kini mereka beralih pada toko sepatu, itu adalah tempat hits untuk orang-orang kaya. Rupanya Philip sudah sering belanja sehingga saat ia datang toko segera di tutup agar mereka tidak terganggu oleh pelanggan lain.
"Aku pergi menelpon dulu," bisik Philip saat Winnie baru saja duduk.
"Silahkan nona," ujar seorang pelayan menyodorkan sepatu yang ia tunjuk.
Winnie mengulurkan kakinya, membiarkan pelayan itu memasangkannya.
"Kau baik-baik saja? wajahmu terlihat pucat," tanya Winnie menatap pelayan itu.
"Boleh aku tahu berapa lama Nona berhubungan dengan tuan Philip?" bisiknya sembari sesekali melihat ke arah pengawal.
"Itu privasi," sahut Winnie namun hatinya segera penasaran akan pertanyaan tiba-tiba itu.
"Sebaiknya anda cepat kabur darinya," bisik pelayan itu lagi.
"Apa maksud mu?" tanya Winnie.
"Beberapa minggu yang lalu tuan Philip mengajak teman ku untuk makan malam, semenjak itu aku tidak pernah bertemu lagi dengannya. Hanya satu kali saat tuan Philip datang ke sini bersamanya untuk membeli sepatu, itu sekitar seminggu yang lalu. Ada memar di kakinya seperti bekas cambukan, wajahnya pun terlihat pucat. Bahkan dia sempat memberi sinyal SOS padaku namun sayangnya aku tidak cukup mengerti saat itu dia sedang minta tolong," jelasnya.
Winnie tiba-tiba teringat pada mayat yang menggantikan kematiannya, meski hanya melihat bagian atas saja tapi firasatnya mengatakan bahwa mayat itu adalah teman pelayan ini.
"Sally bagaimana? ada yang kau suka?" tanya Philip sekembalinya setelah menelepon.
"Ya, aku sudah memilih beberapa. Setelah ini kita kemana?" sahutnya.
"Sebaiknya kita makan malam dulu, baru kau boleh belanja lagi."
__ADS_1
"Baiklah," ujarnya.
"Ah sayang... tolong beri dia tips, aku suka caranya melayaniku," lanjut dengan suara manja.
Ini adalah kali pertama Winnie memanggilnya mesra karena itu tak tanggung-tanggung Philip memberikan banyak uang untuk pelayan itu.
Karena banyak yang harus di beli mereka sampai menghabiskan waktu hingga tengah malam, meski lelah berjalan setidaknya hanya kakinya yang terasa pegal sebab ia membawa beberapa pelayan untuk membawakan belanjaan.
Merebahkan diri diatas ranjang Winnie cepat tertidur saking lelahnya, berbeda dengan Philip ia sama sekali tak bisa menutup mata.
Ia terus mengingat cara Winnie bermanja kepadanya, terkesan seperti anak kecil yang menggemaskan. Berbeda dengan wanita-wanita sebelumnya yang terkesan genit.
Selama belanja pun mereka menjadi pusat perhatian, bagaimana tidak? Philip memiliki postur yang sempurna dengan wajah tampan dan mata indah, sementara Winnie sendiri cantik dan memiliki senyum yang manis.
Mereka masuk ke toko-toko mewah dengan tiga pelayan dan lima pengawal bak putri kerajaan.
Sudah pukul tiga dini hari dan Philip masih belum bisa tidur, ia pun memutuskan untuk pergi melihat Winnie.
Wajah polos gadis itu saat tertidur membuat Philip gemas sendiri, ingin rasanya ia menggigit pipi Winnie tapi itu akan membuatnya terbangun.
Membaringkan tubuh tepat disamping Winnie ia hanya memperhatikan sampai akhirnya tertidur.
......................
Saat cahaya masuk Winnie tahu hari pasti sudah siang, tapi ranjang yang empuk tak membiarkannya untuk bangun.
Masih menutup mata ia menggeliat, merenggangkan otot-otot yang terasa kaku. Saat tangannya meraba sesuatu yang terasa keras benaknya segera membayangkan bentuk, ia tersenyum saat mendapat bayangan perut yang sixpack.
Naik ke atas Winnie tahu itu adalah dada kemudian dagu, saat tangannya menyentuh bibir seketika yang terbayang adalah wajah Aslan.
Senyum nakal tersungging di wajahnya, berpegangan pada tengkuk Winnie mensejajarkan tingginya dan memberi kecupan lembut pada sebagian bibir itu.
Ia mendengar sebuah erangan yang membuatnya kemudian membuka mata, tapi yang ia lihat bukanlah Aslan melainkan Philip.
Jantungnya seakan mau copot karena salah mengira, ia hampir lupa bahwa kini namanya Sally bukan Winnie dan pasangannya adalah Philip bukan Aslan.
"Sally... ini masih pagi dan kau sudah nakal," ujar Philip yang ternyata ia sadar akan kecupan itu.
Winnie membatu, ia tak tahu harus bersikap seperti apa.
__ADS_1