Reinkarnasi Putri Cacat

Reinkarnasi Putri Cacat
Bab 123 Padang Bunga Yang Sebenarnya


__ADS_3

Sudah empat hari dan Philip masih belum mengabari, itu membuat Saly bosan karena terkurung di rumah kecil yang tak ada apa pun itu.


Melihat ekspresi Saly tentu Aslan segera sadar, wanita yang sudah terbiasa menghamburkan uang dengan berfoya tak akan pernah mampu hidup lama di rumah peternakan.


"Aku mau berburu ke hutan, kau mau ikut?" tawar Aslan.


Hutan terletak tepat di belakang rumah mereka, jaraknya tidaklah jauh jadi masih aman. Lagi pula pergi berburu artinya mereka membawa senjata.


"Sepertinya cukup menyenangkan," sahut Saly.


Ia segera pergi mengganti pakaian dan membawa senjatanya sendiri, barulah mereka pergi ke hutan.


"Apa kau sering melakukannya?" tanya Saly saat mereka menyusuri hutan itu.


"Tidak, hanya pernah saja. Karena itu aku ingin mencobanya lagi, bagaimana dengan mu?" balasnya.


"Hanya hewan dalam ruangan," sahut Saly datar.


Butuh waktu bagi Aslan untuk mengerti, tentu saja karena itu lelucon dark khas mafia.


Ssssshhhhh


Tiba-tiba Aslan memberi isyarat untuk berhenti dan diam, tepat di depan mereka ada seekor rusa kecil yang kemungkinan masih remaja.


Memberi isyarat kemudian mereka perlahan mendekati rusa itu, mengendap-endap sampai jaraknya cukup untuk melepaskan tembakan.


Dooor...


Srak


Drap Drap Drap


"Ayo!" seru Aslan cepat berlari mengejar karena tembakannya meleset.


Rusa itu berlari dengan kencang, namun Aslan tak kalah cepat juga sehingga ia berada tepat di belakang. Sayangnya hutan adalah habitat asli rusa, secepat apa pun Aslan ia yang tak tahu medan kalah setelah beberapa menit.


Rusa itu berhasil kabur entah kemana, ia kehilangan jejak.


"Ah... sial! hhh.. kita harus cari mangsa lain," ujar Aslan sambil mengatur nafasnya.


Ia berbalik, menatap kebelakang dimana rumput rimbun telah berantakan karena jejaknya. Hanya jejaknya.


"Saly?" panggilnya tersadar wanita itu ikut menghilang.

__ADS_1


Kembali menyusuri jalan yang tadi ia lewati Aslan terus menyerukan nama Saly, hatinya mulai cemas sebab ia telah melakukan kesalahan besar dalam tugasnya menjadi pengawal.


"Saly.... " serunya lagi kini dengan suara yang lebih keras.


"Aslan... aku di sini.. " sahut sebuah suara yang entah berasal dari mana.


Aslan menghentikan langkahnya, kembali berseru untuk menentukan kemana ia harus melangkah.


"Saly... " serunya lagi kini sambil berlari menghampiri sampai ia melihat wanita itu tengah berdiri mematung.


"Ah.. kau kemana saja? aku mencarimu," tanyanya.


Tapi Saly tak menjawab, ia justru tak acuh dengan mata yang hanya fokus ke depan. Aslan yang heran ikut melihat dan menemukan sebuah pemandangan yang luar biasa indah, itu adalah kumpulan tanaman bunga lonceng biru yang tumbuh subur.


"Ini baru namanya padang bunga," ujar Saly masih kagum padahal ia sudah memandang bunga-bunga itu sejak tadi.


"Ya," sahut Aslan setuju.


Mereka larut dalam keindahan itu namun Aslan hanya bertahan beberapa menit saja karena tersadar akan ucapan Saly, menatap curiga ia kemudian memberi sebuah pernyataan jebakan.


"Harusnya aku melamarmu di padang bunga seperti yang kau suka," ujarnya sambil memperhatikan wajah Saly.


"Puncak bukit juga bagus," sahut Saly.


Saat air mata hampir jatuh Saly yang baru tersadar akan ucapannya segera memandang Aslan dan berkata.


"Itu pun jika kau bisa menyingkirkan Philip, tapi yah... kau tahu aku suka menghabiskan uang jadi aku rasa kau tak akan sanggup hidup dengan ku. Kau bukanlah pria pertama yang melamar ku meski tahu aku tunangan Philip."


Tapi penjelasan itu tak membuat ekspresi Aslan berubah, membuat detak jantungnya lebih kencang berpacu.


"Sebaiknya kita kembali saja, hari mulai gelap. Ayo!" ajak Saly.


Ia mulai berjalan lebih dulu namun Aslan tetap di tempatnya.


"Aku tahu itu kau, sejak pertama melihatmu aku tahu itu kau Winnie. Hanya saja selama ini aku mencoba mengingatkan diriku bahwa kau telah pergi karena aku takut pada harapan palsu," ujarnya.


Saly terdiam, susah payah ia menelan salivanya seolah ada sesuatu yang mengganjal di tenggorokan.


"Apa ini karena Philip?" tanyanya kemudian.


"Apa maksud mu? aku tidak mengerti," ujarnya memasang wajah polos.


Aslan mendekat dengan raut wajah keras, matanya yang telah berair memandang tajam pada pupil Saly. Mencari kebenaran yang tak bisa di tutupi disana.

__ADS_1


"Jujurlah padaku, jangan buat aku memaksamu," perintahnya dengan suara berat yang dalam.


Saly mengedip beberapa kali, menelan ludahnya sebelum kemudian mengumpulkan tenaga pada mentalnya.


"Aku mencitai Philip," ujarnya singkat.


Tiga kata itu telah menjelaskan keseluruhan pertanyaan yang ada dalam benak Aslan, ia mundur tapi tetap mengawasi Saly. Sementara Saly memberikan ekspresi datar agar Aslan percaya pada kata-katanya.


"Sejak kapan?" tanya Aslan.


"Sejak aku di jual untuk menjadi budak, Philip adalah orang yang membeliku dan justru dia bersikap baik padaku. Bagaimana mungkin aku tidak jatuh hati padanya? dia memberikan segala hal yang aku inginkan," sahutnya tegas.


"Apa aku tidak seperti itu?" tanya Aslan.


"Kau tidak membiarkan ku menjadi diriku sendiri, kau tahu itu."


Aslan terdiam, jati diri Winnie yang sesungguhnya pun ia tak begitu paham. Apakah itu sisi jahat yang kini bebas berekspresi? jika benar maka itu masuk akal.


Tanpa kata Saly kemudian pulang seorang diri, meninggalkan Aslan yang masih syok karena kebenaran yang begitu menyakitkan.


Beberapa menit ia butuh waktu untuk dirinya sendiri, merenungi dan mengambil keputusan untuk langkah ke depan.


Saat kembali ke rumah masuk lewat pintu belakang ia melihat Philip dan Saly tengah bercumbu mesra di dapur, matanya terbelalak menatap bagaimana tangan Philip menjelajah setiap lekukan tubuh Saly.


Api cemburu tiba-tiba membakar hatinya, sangat ingin ia merobek mulut Philip yang berani mengecup leher Saly. Membuat wanitanya mendesah panjang karena sentuhan yang merangsang.


"Oh Aslan! kau sudah kembali rupanya," ujar Philip saat ia menatap ke samping.


"Ah, maaf," sahutnya tersadar setelah sekian lama terbakar.


"Kita lanjutkan di kamar," ujar Saly turun dari meja.


"Kau masih menginginkannya?" tanya Philip kaget.


Sangat aneh Saly bersikap agresif, biasanya selalu dirinya yang mulai menggoda dan menempatkan Saly dalam kukungan. Entah apa yang terjadi saat ia tiba Saly langsung memeluknya seolah begitu rindu padanya, bahkan mereka baru bicara sebentar untuk membahas Thom dan Saly langsung bergerak menggoda.


Bukannya ia tak bersyukur karena Saly akhirnya bersikap layaknya tunangan yang mencintainya, hanya saja ini terlalu aneh.


"Apa? kita belum melakukan apa-apa," tukasnya.


"Baiklah, ayo pergi. Aslan kita akan bicara nanti!" ujarnya tersenyum senang.


Aslan mengangguk, membiarkan mereka pergi dengan mata yang hanya mengawasi Saly. Wanita itu seolah sengaja membuatnya cemburu dengan bersikap mesra pada Philip.

__ADS_1


__ADS_2