Reinkarnasi Putri Cacat

Reinkarnasi Putri Cacat
Bab 88 Motto Hidup Winnie


__ADS_3

Makan malam mewah menyambut kepulangan Camila ke rumah, kini mereka bisa makan dengan lahap dan tenang setelah pengacara menjelaskan bahwa Camila tidak bersalah dan itu hanya bagian pemeriksaan untuk klinik Sara.


Tentu Brian bersyukur dan ia juga sudah memberitahu Winnie bahwa semua masalah telah selesai, malam itu juga mereka bisa tidur dengan nyenyak namun tidak dengan Nicki.


Ia masih terbayang wajah Carl sambil memainkan kaleng yang di gunakan Carl untuk mengompres kakinya.


"Andai aku punya nomornya, aku mungkin punya alasan untuk mengajaknya bertemu," gumamnya sambil menyesal.


Rasa cintanya kepada Leo kini telah pudar dan menghilang sepenuhnya, digantikan oleh Carl hanya dalam waktu sekejap mata.


"Jika aku ke kantor lagi apa kami bisa bertemu?" tanyanya pada diri sendiri.


"Sebaiknya aku coba nanti," ujarnya memutuskan sebelum pergi tidur.


Esok harinya sementara Nicki mencoba peruntungannya dan Brian kembali bekerja Camila menyempatkan diri untuk menemui Jack, jelas harus ada yang mereka bicarakan.


"Apa tidak masalah mengorbankan Sara?" tanya Camila masih khawatir.


"Masih banyak klinik yang memakai perawatan ini, kau tidak perlu khawatir."


"Bukan itu, bagaimana jika dia balas dendam?" tanya Camila lagi.


"Dia hanya wanita tua yang tidak berdaya, justru aku sengaja mengorbankannya sebab dia tahu tentang masalah kita. Dengan begini aku bisa menekannya agar tidak macam-macam pada kita," jelasnya.


"Jika itu yang kau pikirkan," sahut Camila menyerah.


Ia menyenderkan punggung pada senderan kursi, menikmati angin bebas padahal hanya satu hari ia di tahan.


"Oh ya, bagaimana dengan orang yang kau suruh untuk menghabisi Winnie? gadis itu masih hidup lalu apa kau tahu keadaannya?" tanyanya.


"Dia mati," jawab Jack singkat.


"Apa? B-bagaimana bisa?" tanya Camila kaget.

__ADS_1


"Jelas mereka sempat bertarung, ku rasa Winnie juga mendapat luka sedikit tapi orang ku yang tewas. Sepertinya dia dilindungi Dewa," gurau Jack dengan nada jengkel.


"Lalu bagaimana ini? bagaimana jika Winnie melaporkannya pada polisi?" tanya Camila cemas.


"Apa dia menceritakan penyerangan itu pada Brian?" tanya Jack.


"Tidak," sahutnya.


"Kalau begitu dia tidak akan melaporkannya, Aah... sejujurnya aku juga penasaran kenapa anak itu masih bisa santai setelah tahu dia diincar," ucapnya.


......................


Tak sanggup mengambil uang dan hardisk berisi video Nagisa menyerahkan tugas itu kepada Carl sementara ia akan mengawasi sekitar, pekerjaan mudah itu cepat mereka selesaikan sehingga dalam waktu singkat mereka sudah kembali ke apartemen.


"Deborah periksa ini," perintah Carl menyerahkan hardisk itu.


Sebelumnya Nagisa sudah menceritakan apa yang dikatakan Sara kepada mereka, dan inilah saatnya mereka melihat kebenaran itu.


Deborah memasang hardisk itu pada laptopnya kemudian membuka file yang tersedia, saat video di putar mereka berempat segera menontonnya.


Nagisa memalingkan muka tak tahan melihat adegan selanjutnya, itu cukup dimengerti karena ia masih di bawah umur.


Sementara Nagisa berlindung di punggung Carl yang lain terus menonton dengan berbagai perasaan yang tak karuan, mulai dari rasa sedih, marah, kasian hingga jijik.


Terlebih Deborah yang kemudian menayangkan perasaan Winnie saat melihat video itu, setelah videonya selesai mereka sepakat untuk tidak memberitahu tentang video itu kepada Winnie.


Mereka hanya akan mengatakan Jack adalah dalangnya dengan motif dendam karena cintanya yang di tolak, tak ingin membahas di telepon Aslan berinisiatif akan menemui Winnie secara langsung sambil memastikan keamanannya.


"Deborah, bukankah Jack dan Camila melakukan perawatan ilegal yang sama?" tanya Carl sstelah kepergian Aslan.


"Ya, kenapa?" sahutnya.


"Aku rasa Camila dan Jack bersekongkol untuk melenyapkan Winnie, jika dua puluh tahun yang lalu Jack tak berhasil menyingkirkan Winnie maka kali ini ia pasti akan melakukannya lagi. Terlebih Winnie berpotensi menggantikan posisi ayahnya di perusahaan," ujar Carl.

__ADS_1


"Aku akan melindungi Winnie apa pun caranya," janji Deborah.


Menatap bagaimana kesungguhan Deborah membuat Nagisa penasaran tentang pertemanan mereka yang sangat erat, rasa penasaran itu akhirnya membuatnya bertanya.


"Kalau tidak salah kalian sudah kenal sejak SMU ya?" tanyanya.


"Mm, kami sudah berteman sejak kelas satu. Waktu itu hanya Winnie yang mau berteman dengan ku karena itu dia adalah orang spesial dalam hidup ku," jawab Deborah.


Nagisa tersenyum, rasa penasarannya hilang dalam sekejap mata sebab jawaban Deborah begitu menjelaskan.


"Padahal kak Winnie cukup galak, apa kau tidak pernah takut padanya?" tanyanya lagi.


"Hahahaha... bohong jika aku bilang tidak, Winnie sangat menakutkan seperti monster. Sebelumya dia diadopsi oleh keluarga Martius yang sederhana, dulu Winnie dianggap sampah karena miskin dan masuk sekolah karena jalur prestasi. Tidak ada yang mau berteman dengannya, merasa kami memiliki nasib yang sama akhirnya aku mencoba mendekatinya dan kami pun berteman. Tapi ternyata Winnie lebih dari yang aku pikirkan," ucapnya bercerita.


Nagisa beringsut lebih dekat lagi untuk mendengarkan cerita Deborah, sudah lama ia ingin mendengar bagaimana Winnie yang sebenarnya.


"Winnie selalu berurusan dengan anak-anak nakal, awalnya dia selalu di perintah tapi lama-lama malah berteman. Kadang Winnie menghabiskan waktu bersama mereka, kadang juga berbisnis. Kau tidak akan pernah menyangka di balik wajahnya yang cantik bahkan Winnie tidak akan segan menindas orang yang telah merugikannya, aku pernah tidak sengaja melihat Winnie memukul seseorang dengan kayu sampai hampir membunuhnya."


Mendengar kekejaman itu membuat Nagisa teringat bagaimana mata dingin dan wajah datar Winnie yang menyeramkan, meski sekali tapi saat Winnie menghajar pembullynya itu sudah menunjukkan kiprah Winnie di dunia hitam yang bukan anak bawang.


"Awalnya aku pernah menasehati Winnie agar berhenti bergaul dengan mereka, tapi motto hidup Winnie adalah jika tidak memiliki kekuatan untuk bertarung maka perbanyaklah sekutu untuk bertahan hidup. Semakin lama akhirnya aku mengerti bahwa Winnie sengaja menarik hati orang-orang yang berkuasa demi keselamatan dan keuntungan pribadi, meski dia harus menjadi pelayan berandal tapi jika dengan begitu tak ada yang berani menindasnya maka akan ia lakukan."


Sekali lagi Nagisa teringat nasehat Winnie kepadanya agar jangan pernah mau berlutut pada siapa pun, ia tak menyangka ternyata apa yang dilalui Winnie jauh lebih menyiksa darinya.


"Jadi kak Winnie memang sudah terbiasa melakukan pekerjaan seperti ini ya?" tanya Nagisa.


"Mm, bahkan sejak SMU dia sudah berlangganan obat terlarang untuk teman-temannya."


"Meski begitu kau tetap berteman dengan kak Winnie," ujar Nagisa sebab sejauh ini cerita tentang Winnie adalah hal negatif.


"Karena dia selalu membelaku, dia tidak pernah menyeretku dalam masalah apa pun. Karena itu aku ingin meski hanya sekali dan beresiko aku ingin membantunya demi membalas kebaikannya," sahut Deborah.


Nagisa tersenyum, ia cukup mengerti perasaan Deborah dan yakin ada kekaguman seperti yang ia rasakan kepada Winnie dari diri Deborah.

__ADS_1


"Lalu bagaimana dengan kak Aslan dan Carl? sejak kapan kalian berteman?" tanyanya.


Tanpa keberatan Deborah menceritakan perjalanan cinta Winnie dan Aslan yang menggeparkan kala itu, lalu masuknya Carl sebagai orang ketiga yang mencoba merebut tahta.


__ADS_2