
Syuting hari ini di lakukan di studio, karena film mereka bergenre romantis killer ada adegan dimana Bram akan berkelahi dengan beberapa penjahat untuk menyelamatkan Winnie.
Semua persiapan sudah selesai, Winnie di ikat di kursi yang tentu saja itu hanya pura-pura. Adegan pun di mulai dengan kedatangan Bram dan perkelahian segera terjadi, beberapa menit kamera mengambil adegan perkelahian Bram sejauh ini sudah bagus.
Setelah para penjahat tumbang adegan langsung berlanjut pada Bram yang berlari ke arah Winnie sambil menyerukan namanya, pada saat kamera menyorot wajah Winnie yang berekspresi bahagia saat itulah Nagisa menyadari ada hal yang tak beres.
"Kak Winnie!" serunya lantang hingga semua orang menatapnya.
Buk Bruk
"Ah..." erang Winnie sebab Nagia menerjangnya dengan keras hingga mereka terjatuh.
"Kak... kau tidak apa-apa?" tanya Nagisa memastikan.
Winnie tak menyahut, matanya terbelalak pada lampu yang jatuh tepat di belakang Nagisa. Andai tadi Nagisa tidak bertindak cepat mungkin saat ini nyawanya sudah terancam sebab lampu itu tepat di atas kepalanya.
"Winnie... kau baik-baik saja?" tanya Sutradara segera menghampiri.
"Darah!" seru Bram menunjuk saat Winnie dibantu bangkit.
"Cepat panggil ambulan!" seru Sutradara cemas.
Beberapa detik kemudian Winnie baru merasakan perih, ternyata tangannya lecet dan mengeluarkan sedikit darah. Tapi semua orang segera panik hingga membawanya ke rumah sakit untuk di periksa, Nagisa yang ikut juga tentu harus di periksa sebab ia yang paling dekat dengan bahaya.
"Beruntung kau tidak mendapat luka berat," ujar Sutradara setelah mendengar penjelasan dokter tentang keadaan Winnie.
"Meski begitu kau harus istirahat, pak sutradara sebaiknya bagian Winnie kita lakukan setelah dia benar-benar sehat," ujar Bram masih cemas.
"Tentu saja, untuk hari ini cukup sampai di sini saja. Aku harus memeriksa keamanan studio lagi," ujarnya setuju.
Sutradara pun pamit sementara Bram masih berada di sana, ia tak ingin meninggalkan Winnie dalam keadaan sakit seperti itu.
"Kak Winnie, kau baik-baik saja?" tanya Nagisa yang baru bertemu setelah pemeriksaan terpisah.
"Ya, bagaimana dengan mu?" tanya Winnie lebih mengkhawatirkannya.
"Aku tidak terluka sama sekali, beruntung lampu itu tidak mengenai kita."
"Syukurlah...terimakasih, aku ingin kau langsung pulang saja. Aku meminta ayah mengirim supir untuk menjemput ku," ujarnya.
Nagisa mengangguk, ia pun permisi pulang lebih dulu.
"Aku bisa mengantar mu pulang," ujar Bram menawarkan diri.
"Tidak perlu, terimakasih."
__ADS_1
"Tolong jangan menolak ku Winnie, ini hanya sekedar tumpangan," pinta Bram.
"Baiklah," sahutnya menyerah.
Bram tersenyum senang, ia segera membantu Winnie bangkit dan membawanya keluar. Sampai di rumah Nicki yang melihat Bram benar-benar tak percaya seorang artis terkenal datang ke rumahnya, tapi begitu melihat Bram membantu Winnie keluar dari mobilnya senyumnya segera hilang.
"Oh Winnie! apa yang terjadi padamu?" tanya Nicki menghampiri mereka.
"Dia terluka, tapi sudah mendapat penanganan dokter. Sekarang dia hanya perlu istirahat," jelas Bram.
"Terimakasih, selanjutnya biar pelayan ku yang melakukannya. Kau bisa segera pergi," ujar Winnie.
Tanpa menghiraukan Nicki ia segera memberi isyarat kepada pelayan untuk membantunya naik masuk sebab kakinya masih terasa ngilu, sementara Bram hanya menatap kecewa.
"Aku Nicki, saudara Winnie. Terimakasih sudah membantu," ujar Nicki mencoba peruntungannya.
"Tidak masalah, kalau begitu aku permisi."
"Eh tunggu, masuklah dulu. Biarkan aku berterimakasih dengan benar," pinta Nicki.
"Tidak perlu, aku masih ada pekerjaan. Permisi," ujar Bram yang tak tertarik.
Nicki hanya bisa tersenyum dan melambaikan tangan saat mobil Bram pergi, setelah itu wajahnya segera di tekuk saat masuk ke dalam.
"Nicki siapa tadi?" tanya Camila yang baru mendengar suara mobil masuk.
"Kenapa ada artis datang ke rumah kita?" tanyanya heran.
"Dia mengantar Winnie pulang," sahutnya ketus.
"Astaga... anak itu benar-benar, kenapa dia tidak puas hanya dengan satu pemuda saja? ini benar-benar memalukan keluarga kita," keluh Camila.
"Ibu benar, setelah mendekati Leo dia juga dekat dengan Ashar dan sekarang Bram. Ibu harus menghukumnya," ujar Nicki.
"Kau tenang saja, akan ibu adukan pada ayahmu."
Tanpa menunda waktu lagi Camila segera pergi ke kantor, tak peduli meski Brian sedang bekerja ia tetap mengajaknya bicara.
"Hal penting apa yang ingin kau bahas sehingga pekerjaan ku harus menunda?" tanya Brian.
"Ini tentang Winnie," jawabnya.
"Kenapa dengan dia?" tanya Brian segera cemas yang membuat Camila semakin muak.
"Winnie sudah keterlaluan!" ujar Camila kencang.
__ADS_1
"Apa maksud mu?" tanya Brian.
"Kau sudah bersikap tidak adil kepada Nicki dan Winnie, kau memiliki banyak peraturan untuk Nicki tapi tidak kepada Winnie. Sekarang ketidakadilan mu telah menjadi boomerang bagi keluarga kita," jelasnya.
"Katakan yang jelas Camila, bagaimana mungkin aku tidak adil pada kedua putriku?" tanya Brian masih bingung.
"Kau membebaskan Winnie dengan pilihan hidupnya, sekarang dia menjadi gadis tak bermoral yang hanya tahu bersenang-senang. Di belakang mu dia berfoya-foya menghabiskan uang bersama banyak pemuda, ingat saat Tony datang ke rumah kita? hari itu kau mengusir Tony tanpa mau mendengar penjelasannya sementara hari itu juga Winnie mengundang dua pemuda ke rumah, yaitu Leo dan Ashar. Lalu hari ini dia diantar pulang oleh pemuda baru bernama Bram, coba kau pikir gadis macam apa yang dekat dengan semua pemuda? apa itu pantas?" jelas Camila panjang lebar dan penuh nafsu.
Brian terpaku, ia tak bisa menerima Winnie sebagai gadis murahan seperti yang di jelaskan Camila.
"Pasti ada alasan logis untuk hal ini," ujar Brian pelan.
"Oh Brian kapan kau akan berhenti memanjakannya? kau harus lebih tegas padanya, aku adalah mantan model dan aku tahu kehidupan menjadi bintang itu seperti apa. Sungguh untuk gadis muda seperti Winnie ia rentan akan pergaulan bebas dan barang haram," keluh Camila.
Pikiran Brian mulai terbuka, segala ketakutan mulai menggerayam di sela-sela rambutnya. Ini membuatnya akhirnya pulang cepat bersama Camila, sampai di rumah ia memanggil Winnie untuk bicara.
"Ayah ingin bicara dengan ku?" tanya Winnie menghampiri.
Meski tak di panggil tapi Nicki juga ikut datang untuk menyaksikan apa yang akan mereka bicarakan, Camila pun tentu disana sebagai saksi.
"Ya, ayah dengar dari ibumu kau pulang di antar oleh seorang pemuda. Apa itu benar?" tanya Brian.
"Ya, itu Bram. Dia lawan main ku," sahutnya heran mengapa Brian menanyakan hal seperti itu.
"Dengar sayang, ayah mengerti jika kau ingin memiliki banyak teman. Tapi bergaul dengan lawan jenis ada batasnya, kau tidak bisa terus berhubungan dengan mereka apalagi mengundang mereka ke rumah ini tanpa seijin orangtua mu. Mulai hari ini ayah tidak ingin kau mengundang pemuda datang ke rumah ini atau mengantar mu pulang," jelas Brian.
Winnie membeku, ia tak mengerti mengapa Brian melarangnya melakukan hal itu padahal tak ada yang salah menurutnya.
"Tapi kenapa? kami tidak melakukan apa pun," ujarnya.
"Lihat Brian? dia selalu membantah saat di nasehati," ucap Camila menyudutkan.
"Winnie jika orangtua sudah memutuskan maka kau hanya bisa menurut!" tegas Brian.
Nicki tersenyumlah puas mendengar nada tinggi Brian sementara wajah Winnie tak dapat menerimanya, tanpa kata Winnie segera pergi meninggalkan mereka.
"Brian kau telah melihatnya, sekarang dia pergi begitu saja. Kita harus memasukannya ke asrama agar dia belajar sopan santun dengan benar," ucap Camila semakin memanasi Brian.
Tentu Brian kecewa akan sikap Winnie, selama ini dia selalu menjadi putri yang baik dan dapat di banggakan.
"Ini," ujar Winnie datang kembali dengan surat yang ia sodorkan kepada Brian.
"Apa ini?" tanya Brian.
"Hasil pemeriksaan ku di rumah sakit, hari ini aku hampir saja meregang nyawa karena kecelakaan di lokasi syuting. Beruntung aku selamat dan hanya mengalami lecet dan keseleo, aku tidak bisa membawa mobil dalam keadaan seperti ini jadi Brian menawari ku tumpangan. Lain kali jika tidak bisa berkendara aku akan naik taksi agar tidak mempermalukanmu," jelas Winnie.
__ADS_1
Brian membuka surat itu dan mendapati hasil pemeriksaan yang di katakan Winnie, seketika ia merasa bersalah karena menuduh tanpa ada bukti yang jelas.