
"Astaga... aku terlambat!" erangnya sambil memacu mobil dengan kecepatan yang cukup tinggi.
Karena harus mendengar omelan Oma Nana tentang cemilan manis yang dia makan Winnie akhirnya terlambat datang ke konser, sebelumnya dia sudah di hubungi bahwa semua sudah menunggu di pintu masuk.
Karena akan terlambat maka ia pun menyuruh yang lain untuk masuk duluan, toh ia memegang tiketnya sendiri.
"Ah!"
Ckkiiiiitttt....
Bruk
Entah mobil itu datang dari mana, tiba-tiba saja muncul dan tentu saja meski sempat mengerem tapi Winnie menabrak bagian belakangnya sampai kaca mobil itu pecah.
Dua orang pria keluar dari mobil dan melihat bagian belakang mobil mereka, jelas dari raut wajahnya mereka sangat kesal.
Tok Tok Tok
Salah satu dari mereka mengetuk kaca mobil Winnie dan memberi isyarat untuk keluar, jika sudah begini terpaksa ia batal menonton konser.
"Kau bisa membawa mobil tidak!?" hardik pria itu.
"Maaf, lagi pula mobil mu tiba-tiba datang di hadapan ku."
"Jadi kau menyalahkanku?" tanya pria itu dengan nada yang lebih keras.
"Lihat itu! kau menghancurkan mobil ku," ujarnya sambil menunjuk.
Winnie berjalan ke depan dan melongok menatap kaca lampu yang pecah.
"Uh!" pekiknya saat tiba-tiba seseorang dari belakang menyekap mulutnya menggunkan sapu tangan.
Hanya dalam waktu beberapa detik saja ia tak sadarkan diri.
......................
Konser sudah berlangsung selama satu jam tapi Winnie belum juga menunjukkan batang hidungnya, berkali-kali Aslan menatap ponsel dan mengirim pesan tapi tak ada satu pun yang di balas.
Saat ia mencoba menelpon pun Winnie tak menjawab yang membuatnya khawatir.
"Apa Winnie membalas pesan kalian?" tanya Aslan di tengah kebisingan.
"Tidak," sahut Deborah.
"Mungkin dia masih di jalan, sebentar lagi juga pasti dia datang," ujar Carl.
Tapi kenyataannya tidak, tiga puluh menit berlalu dan Winnie belum juga datang. Bahkan ponselnya menjadi tidak aktif, merasa ada yang janggal Aslan meninggalkan konser dan mencoba mencarinya.
Nagisa juga ikut yang membuat Deborah akhirnya cemas juga dan tak bisa menikmati konser, pada akhirnya mereka pun pergi mencari Winnie.
......................
__ADS_1
Entah sudah berapa lama ia tak sadarkan diri, Winnie tak bisa mengira sebab jam ditangannya tak ada. Bahkan setelah sadar sepenuhnya semua ponsel dan dompetnya juga tak ada, menatap berkeliling ia menyadari dirinya berada dalam semacam sel yang cukup gelap.
"Kau sudah sadar," ucap seseorang.
Winnie menoleh kebelakang dan menatap seorang gadis yang sebaya dengannya, meski dalam cahaya remang tapi Winnie dapat melihat nata gadis itu sembab dan ada memar di pipinya.
"Kau tahu kita dimana?" tanya Winnie.
"Entahlah, tapi aku lumayan tahu kemana tujuan kita," sahutnya.
Winnie mengerutkan kening, mencoba menajamkan telinga ia mencari suara apa pun yang bisa menjelaskan keberadaan mereka.
"Kita di dalam kontainer, kemana kita akan pergi?" tanya Winnie menyadari.
"Tempat pelelangan," sahut gadis itu.
Menatap banyak kurungan di sekitarnya setidaknya ada dua puluh gadis yang sebaya bahkan di bawah umurnya, semua gadis akan di lelang disuatu tempat.
Mengingat hal terakhir yang ia alami Winnie yakin ia tidak di culik secara acak, apalagi untuk di lelang. Pastilah ini perbuatan seseorang yang dendam kepadanya, tapi siapa orang itu?.
Getaran mobil perlahan berhenti, Winnie bisa tahu kontainer itu sedang di parkir. Beberapa menit kemudian pintu terbuka di ujung sana yang membuat cahaya masuk, lalu beberapa pria naik dan mengikat sekua gadis bahkan menutup matanya termasuk Winnie.
Para gadis banyak yang memberontak tapi tenaga mereka tak cukup untuk melawan pria, terlebih mereka sudah lemas karena terus menangis.
Satu persatu gadis kemudian dibawa turun dari kontainer, digiring untuk berjalan ke suatu tempat. Meski tak dapat melihat tapi Winnie merasakan hembusan angin laut, lalu suara mobil kontainer lainnya. Ada juga suara isak tangis dan teriakan-teriakan pria yang menyuruh mereka berjalan dengan cepat.
Masuk ke dalam sebuah ruangan kemudian Winnie bisa merasakan ia memijak sesuatu yang seperti terbuat dari kayu, lalu pijakannya berubah seakan ada goyangan.
Tebakan Winnie benar, ia berada di salah satu ruangan di dalam kapal pesiar.
"Sudah semuanya?" tanya seorang wanita dengan make up tebal sambil masuk.
"Ya nyonya," sahut salah satu pria.
Wanita memperhatikan setiap gadis, lalu ia menyurub gadis paling ujung untuk membuka pakaiannya. Tentu gadis itu menolak sambil reflek merentangkan kedua tangan memeluk diri.
Plak
Satu tamparan keras mendarat di pipi gadis itu, kemudian wanita itu menarik dagunya dengan kasar.
"Jika kau masih ingin hidup ikuti perintahku," ujarnya dengan mata melotot.
Tapi gadis itu masih menolak, ia malah menangis lebih keras dan meminta dibebaskan.
"Potong jarinya!" seru wanita itu.
"Tidak! tidak! aku mohon... " pekik gadis itu meronta saat dua orang pria menarik tubuhnya.
Tak peduli seberapa keras ia memohon dan meronta tangannya kemudian di rentangkan diatas meja, satu pria mengeluarkan pisau yang teramat tajam.
Lalu tanpa ragu ia memotong jari kelingking gadis itu, semua gadis yang disandera meringis ngilu bahkan ada yang hampir pingsan saat cairan merah keluar dari bekas potongan itu.
__ADS_1
"Jika kalian tidak mau menurut kalian akan mendapat hukuman yang lebih keras dari itu," umum wanita itu.
Tak ada yang menyahut tapi mereka mengangguk, wanita itu pun kembali menyuruh gadis lain untuk membuka pakaiannya.
Secara teliti kemudian wanita itu memeriksa setiap inci tubuh si gadis, melihat lekuk tubuhnya dan memberi nomor. Saat sampai pada Winnie alisnya mengerut namun bibirnya tersenyum, ia juga membelai setiap lekuk tubuh Winnie untuk merasakan kulit halusnya.
"Kau punya tubuh yang indah, kulit mu juga halus. Tanpa riasan pun wajahmu sudah cantik," komentarnya.
"Terimakasih nyonya, aku harap harga ku cukup mahal untuk membayar mu," balas Winnie.
Mata wanita itu seketika tajam menatap Winnie, mencoba mengintimidasi untuk melihat sejauh mana ketegaran yang di miliki Winnie.
Sepuluh menit berlalu tanpa mengedipkan mata, Winnie masih membalas tatapan itu tanpa keraguan.
"A 442 itu nomor mu," ujar wanita itu sambil tersenyum.
Wanita itu kemudian pergi bersama semua pria, beberapa menit kemudian mereka diberi pakaian baru dan di suruh mandi sampai bersih bahkan harus memotong kuku.
Dari jendela kecil yang ada dalam ruangan Winnie bisa melihat kegelapan malam dilautan, mereka tak lagi di usik justru harus segera tidur.
Esoknya seorang pria kemudian menjemput Winnie, ia menyuruh Winnie untuk tinggal di kamar yang baru bersama tiga gadis lainnya.
Ketiga gadis itu memiliki wajah yang cantik dan tubuh yang bagus, rupanya ini ruangan khusus untuk gadis yang memiliki nilai lebih.
"Ini, makanlah!" ujar seorang pria sambil membawa empat piring dan menaruhnya di meja.
Salah satu gadis langsung menyerbu dan memakannya, sementara yang lain makan secara perlahan.
"Kalian tidak takut?" tanya salah gadis sambil menatap piringnya.
"Percuma, takut juga tidak akan merubah nasib kita. Sebaiknya kau cepat makan kalau tidak kau akan mati," jawab yang lain.
"Aku lebih baik mati daripada di jual," sahutnya.
Air bening mulai meleleh di pipinya, membuat yang lain berhenti makan dan mencoba menenangkannya.
"Kau bisa menusuk lehermu dengan garpu ini," ujar Winnie menyodorkan garpu.
"Apa yang kau lakukan?" hardik salah satu gadis.
"Percuma hidup jika tak ada keinginan, apa gunanya? tapi jika kau percaya keajaiban sebaiknya bertahanlah sedikit lagi. Mungkin saja akan ada yang menolong kita," jawabnya.
"Bagaimana jika tidak ada, bahkan aku rasa keluarga kita tidak tahu dimana kita sekarang. Jangankan mereka, kita saja tidak tahu diaman ini."
"Kalau begitu ciptakan keajaiban mu sendiri," sahut Winnie.
"Bagaimana caranya?" tanya mereka.
Winnie tersenyum, baginya yang telah melewati banyak hal keajaiban itu tak pernah ada. Bahkan ia harus meminta dalam sekarat untuk kehidupan kedua yang lebih baik, karena itu ia terbiasa menciptakan semua kesempatan yang ia inginkan.
"Manfaatkan apa yang kau miliki, kita adalah seorang wanita. Satu-satunya kekuatan yang kita miliki adalah kelemahan kita dalam menghadapi kekejaman dunia," ujarnya.
__ADS_1