Reinkarnasi Putri Cacat

Reinkarnasi Putri Cacat
Bab 53 Orang-orang Mencurigakan


__ADS_3

Rutinitas Camila di pagi hari seperti biasa akan langsung mandi dan perawatan kulit, hari ini dia harus menghadirkan pertemuan dengan teman-temannya karena itu ingin tampil sempurna.


Semalam dia sudah memikirkan pakaian mana yang akan di gunakan, setelah merias wajah dengan make up ia masuk ke ruang pakaian dimana semua koleksi pakaiannya berada.


Satu gaun dia ambil berwarna biru muda, membuatnya terlihat segar dan sempurna. Masuk ke ruang makan untuk sarapan rupanya Winnie sudah ada di sana, mendelik jengkel ia duduk tanpa sepatah kata.


"Pagi bu," sapa Nicki yang baru muncul.


"Pagi juga sayang," sahut Camila.


"Wow ibu terlihat cantik hari ini, apa ibu mau pergi?" tanyanya.


"Seperti biasa, ibu juga punya rencana dengan teman-teman ibu."


"Begitu, selamat bersenang-senang."


"Terimakasih sayang," ucap Camila.


Sarapan berlansung dengan cukup tenang, Camila dan Nicki bercengkrama dengan santai tanpa menyinggung Winnie. Itu karena Camila tak ingin pagi indahnya rusak dan perasaannya jadi buruk.


"Sudah siang, ibu pergi duluan ya?" ucap Camila berpamitan.


"Hati-hati di jalan," balas Nicki.


Camila bangkit dari tempat duduknya dan berjalan pergi.


"Ibu!' seru Nicki tiba-tiba.


" Ya?" sahutnya.


"Pakaian ibu... belakangnya bolong!" serunya.


"Apa?" tanya Camila kaget.


Mencoba melihat punggungnya sambil meraba dengan tangan Camila menemukan lubang yang cukup besar di daerah pinggul, kebingungan ia segera pergi ke kamarnya untuk berkaca sementara pelayan yang melihat mencoba menahan tawa mereka.

__ADS_1


Melepaskan gaun itu ternyata memang berlubang, dengan kesal Camila mengambil pakaian yang lain. Namun ia menemukan bekas robekan di ujungnya, memeriksa satu persatu pakaiannya ternyata semua memiliki lubang dan robekan.


Bahkan sepatu dan tasnya juga rusak, kebingungan Camila mengeluarkan semua pakaian itu. Saat itulah ia melihat si biang kerok yakni tikus berlari melintasinya dan bersembunyi di bawah lemari.


Aaaaaaaaaaaaaa


Jeritan Camila yang begitu nyaring membuat semua orang terkejut lantas berlari menghampirinya, kecuali Winnie yang sudah berada di dalam mobilnya dan siap untuk pergi.


"Aahhh... sungguh pagi yang damai," gumamnya sembari tersenyum kemudian melaju pergi.


Di kampus ia bertemu Deborah dan kembali diskusi tentang kematian Miya yang janggal, sayangnya Deborah belum menemukan satu petunjuk pun.


Insiden itu terjadi sudah lama sekali sehingga cukup sulit mendapatkan informasi, tapi meski begitu Deborah tidak akan menyerah. Winnie yang tak bisa hanya menunggu ikut menelitinya, ia mulai dari orang-orang yang menjadi juri di ajang kecantikan itu.


Dengan usaha keras Winnie berhasil mengantongi tiga nama, salah satunya adalah Sara.


Seorang wanita mantan model yang kini lebih aktif mengelola bisnisnya dalam bidang kecantikan, ia memiliki salon yang cukup terkenal di kalangan artis.


Selama dua hari lamanya Winnie memata-matai Sara sampai ia menemukan sesuatu yang sangat menarik, dari mobilnya yang tepat terparkir di seberang salon ia melihat Camila masuk.


Tak ingin gegabah ia menunggu setidaknya dua jam sampai Camila keluar dari sana, nampak ia juga melihat Sara mengantarnya pergi.


Satu hal lagi yang mengejutkannya adalah saat Camila masuk ke dalam salah satu restoran, ternyata ia menemui Jack Patckins.


Nampak mereka seperti membicarakan hal yang begitu serius, dari gelagatnya mereka seperti sudah berteman sejak lama. memutuskan untuk pulang dalam perjalanan Winnie menelpon Deborah dan memintanya untuk menyelidiki Jack Patckins.


"Baiklah, tapi jangan berharap aku akan mendapatkan informasi banyak dalam waktu dekat. Aku sedang fokus menyelidiki rumah sakit," sahut Deborah.


Winnie hanya mengiyakan sebab ia tahu tugas Deborah sudah terlalu banyak, ada banyak kejanggalan dan orang-orang yang harus di selidiki.


Merasa tegang karena semua ini Winnie memutuskan untuk pergi ke bar, dengan musik yang keras dan hiruk pikuknya ia tidak mendapatkan ketenangan melainkan peningkatan konsentrasi yang memicu otaknya agar bekerja lebih efisien.


"Boleh aku menemanimu?" tanya seorang pria yang duduk di sampingnya.


Winnie menoleh, seketika kewaspadaannya hancur bahkan otaknya berhenti bekerja. Ia membatu sampai tak berkedip menatap pria itu.

__ADS_1


"Apa kau sangat begitu tak sabar ingin mencicipi bir sampai pergi ke bar meski ini masih sore?" tanyanya.


"Aslan.... " ucap Winnie akhirnya namun masih dengan syok.


"Apa maksud mu?" tanyanya kemudian setelah dapat menguasai diri.


"Ulangtahun mu besok, jadi baru besok kau boleh minum bir," sahut Aslan sambil tersenyum.


Seketika Winnie tersadar, ada banyak hal yang mengganggu pikirannya sampai ia melupakan hari kelahirannya. Kini ia mengerti mengapa Aslan berada di sampingnya, pria itu tidak mungkin melewatkan hari penting seperti itu.


"Kau tahu dari mana aku disini?" tanyanya.


"Kemana pun kau pergi aku pasti tahu," sahut Aslan.


Pujangga yang satu ini memang cukup menyeramkan dengan caranya mencintai, bagi gadis lain Aslan sosok yang terlalu protektif namun anehnya Winnie tak keberatan akan hal itu.


Mungkin karena memang dia sudah biasa menghadapi orang-orang seperti itu, bahkan ia juga tumbuh dengan pria protektif yaitu Fabio.


"Aku merindukanmu," akui Aslan sambil membelai rambut Winnie.


"Aku juga, mau menari?" tawar Winnie.


Aslan tak menyahut tapi Winnie bangkit dan menarik tangannya, membawanya ke lantai dansa dan menari di tengah kerumunan orang yang juga menikmati musik.


Mereka tertawa, bercanda dan saling melepas kerinduan dengan pelukan sampai merasa lelah.


Puas menghabiskan waktu di bar hingga malam kemudian Aslan mengajak Winnie pergi, melihat mobil yang hendak mereka tumpangi Winnie kaget sebab itu bukan mobil sport melainkan mobil biasa.


"Kemana mobilmu?" tanya Winnie.


"Ah sudah kuputuskan, sejak pergi ke luar negri aku tidak akan lagi memakai kekayaan ayah untuk bersenang-senang. Aku hanya akan mengambil fasilitas yang dia berikan untuk membantuku belajar, karena itu aku pulang menggunakan uang ku sendiri dan menyewa mobil butut ini untuk menjemput bidadari ku," jelasnya.


"Uang mu?" tanya Winnie lagi.


"Selain kuliah aku juga kerja part time di kafe, gajinya tidak besar karena itu butuh waktu untuk mengumpulkannya agar bisa ku gunakan sekarang."

__ADS_1


Winnie terpaku, pemuda egois dan senang berfoya-foya itu rela bekerja di tengah kesibukannya belajar hanya demi dirinya. Di kehidupannya sebagai Yumna hanya pangeran mahkota yang rela menerimanya apa adanya, sementara kini meski ia menemukan Leo yang wajahnya begitu mirip dengan pangeran tapi sikap Aslan lebih mirip bahkan lebih baik dari pangeran mahkota.


Berjalan mendekat secara tiba-tiba Winnie memberi kecupan mesra untuk Aslan, tentu itu membuat Aslan terkejut tapi beberapa detik kemudian dia menikmatinya.


__ADS_2