Reinkarnasi Putri Cacat

Reinkarnasi Putri Cacat
Bab 119 Tidak Seperti Kutu Buku


__ADS_3

Rasa bosan hampir saja membunuh Sally saat ia pergi ke ruang latihan untuk mengasah kemampuan menembaknya, selama kepergian Philip dan Juan ia tidak diijinkan pergi kemana pun termasuk bekerja.


Karena itu semua fasilitas yang ada di mansion itu untuk pertama kalinya ia manfaatkan, mulai dari ruang latihan.


Dua orang bodyguard berjaga di dalam sambil melihatnya latihan sementara yang lain di luar, Aslan sendiri tengah merancang model istana sesuai permintaan Philip meski hanya bermodalkan informasi saja. Ia pun tak bisa keluar dari mansion karena harus menjaga Sally.


Beberapa jam berkutat dengan gadget untuk mencari model akhirnya Aslan lelah juga, ia pun memilih keluar dari kamar dan berkeliling mansion.


Atas perintah Philip Aslan di beri kebebasan untuk pergi ke ruang mana pun dan memanfaatkan semua fasilitas yang ada kecuali ruang kerja Philip, hanya Juan dan Sally saja yang boleh pergi kesana.


Lama melihat-lihat semua ruangan yang ada perhatian Aslan kemudian terpancing pada ruang latihan, ia pun masuk dan mendapati Sally sedang berlatih menembak.


Melihat fasilitas lengkap yang ada diruang latihan itu membuat Aslan berdecak kagum, pantas saja meski seorang wanita tapi Sally cukup memiliki kemampuan bertarung yang hebat.


"Ah sial!" gerutu Sally sambil menurunkan senjatanya.


Lagi-lagi ia tak bisa menembak banyak musuh seperti Philip, itu membuatnya kesal dan meraih botol air.


"Kau disini?" tanya Sally saat melihat Aslan berada di ujung ruangan itu.


"Tembakan mu sudah bagus, kenapa kesal?" tanya Aslan sambil berjalan menghampiri.


"Aku melewatkan empat musuh, meski ini sebuah kemajuan tapi jika dibandingkan dengan Philip benar-benar bagai langit dan bumi."


"Kau membuat perbandingan yang terlalu jauh, pantas mudah jatuh," komentar Aslan.


Ia mengambil satu pistol dan bertanya "Bolehkah?".


"Silahkan," sahut Sally.


Target mulai bergerak saat Aslan menodongkan senjatanya, satu persatu target mulai mendekat dan menjauh namun belum ada satu pun tembakan yang Aslan lepaskan.


Itu membuat Sally heran, sampai saat target yang bangun sudah mencapai dua puluh baru Aslan melepaskan tembakannya.


Dor Dor Dor Dor...


Suaranya yang beruntun mirip dengan petasan, begitu Aslan menurunkan senjatanya Sally melihat semua target berhasil dikenai.


"Bagaimana mungkin?" tanya Sally tak percaya.

__ADS_1


"Cara ku menembak adalah melihat berapa peluru yang ku miliki dan sesuaikan dengan jumlah musuh, sambil mengamati pergerakan musuh disaat yang tepat aku segera melancarkan serangan beruntun dengan cepat dan tepat. Lebih efektif bagiku karena tidak membuang-buang peluru," jelasnya.


Sally tersenyum kagum, ia tak menyangka Aslan jago menembak juga bahkan dengan penuh perhitungan.


"Sepertinya sekarang aku tidak ingin melampui Philip lagi," ujar Sally.


Kembali meraih pistol kini ia mencoba melakukan cara Aslan, tapi ternyata itu lebih sulit dari yang terlihat. Sally banyak melewatkan musuh dan itu membuatnya kesal.


Wajah cemberut Sally membuat Aslan terkekeh, ia pun mengajari Sally bagaimana cara dia melakukannya.


"Yang terpenting adalah fokus, tidak ada bayi yang bisa langsung berjalan saat lahir. Kau tidak boleh ingin langsung pandai," ujar Aslan menasehati.


Menarik nafas panjang kini Sally membuat dirinya lebih fokus, menatap setiap target yang bangun dan dengan kecepatan mata ia memperhatikan pergerakan target lainnya.


Dor Dor Dor Dor...


Dari dua puluh target kini Sally berhasil menembak setengahnya.


"Yey! aku berkembang pesat!" seru Sally girang sambil memeluk Aslan.


Hanya dua kali mencoba dan ia berhasil belajar dengan cepat hingga terasa mampu mengimbangi Aslan, wajah riang itu membuat Aslan juga tersenyum senang dan membalas pelukan dengan belaian lembut di kepala Sally.


"E-hmm, aku harus kembali bekerja," ujar Aslan melepaskan rangkulan itu.


Ia pun segera pergi meninggalkan Sally yang menatap pahit padanya, andai Aslan tahu bahwa dirinya Winnie akankah pelukan itu tetap bertahan atau justru tak pernah terjadi karena rasa jijik akan tubuhnya yang penuh noda.


......................


Kembali menatap layar laptop Aslan mencoba melupakan apa yang telah ia lakukan pada Sally, mau bagaimana pun juga dia hanya seorang bodyguard. Jika Philip sampai melihat mereka seperti itu nyawanya pasti langsung melayang.


Tok Tok Tok


Ketukan di pintu membuatnya menoleh, saat melihat Sally dengan nampan berisi cangkir ia pun bangkit.


"Boleh aku masuk?" tanya Sally.


"Ya, tentu."


Berjalan masuk kemudian Sally menaruh nampan itu di meja, terdapat dua cangkir yang ia isi dengan kopi. Satu ia berikan kepada Aslan dan yang lainnya untuknya.

__ADS_1


"Terimakasih," ujar Aslan menerima kopi itu.


"Bagaimana pekerjaan mu?" tanyanya sambil duduk tepat di samping Aslan.


"Yah... sulit menentukan model yang tepat jika belum melihat kondisi lapangan," sahutnya.


"Kenapa begitu? bukankah Philip sudah menjelaskannya pada mu?" tanyanya bingung.


"Tidak bisa disamakan, jika sudah melihat langsung aku bisa yakin bangunan seperti apa yang cocok. Selain itu aku juga harus menyesuaikan dengan kondisi tanahnya," jelasnya.


"Oh... aku pikir jadi arsitek hanya perlu menggambar bangunan saja."


"Jangan konyol, jika hanya menggambar anak kecil pun bisa."


Sally mendengus, tentu saja ia awam pada pekerjaan arsitek karena itu bukan bidangnya.


"Ada perpustakaan di bawah, koleksi bukunya cukup lengkap. Mungkin kau bisa memeriksanya sebagai referensi," ujar Sally.


"Sepertinya ide bagus," sahut Aslan sebab memang pikirannya tengah menghadap jalan buntu.


Menaruh cangkirnya pada nampan Sally pun memimpin jalan, perpustakaan yang mereka punya adalah sebuah ruangan besar dengan seluruh dinding yang ditutupi rak besar hingga ke langit-langit.


Semuanya berisi buku dari berbagai negara, berbagai ukuran, ketebalan, dan macam. Begitu masuk tentu saja Aslan di buat kagum, perpustakaan itu sudah seperti perpustakaan di balai kota tempat kelahirannya.


"Ternyata Philip kutu buku juga," ujarnya sambil melangkah masuk.


"Tidak juga, dia hanya membaca beberapa buku saja."


"Lalu siapa yang membaca buku sebanyak ini?" tanyanya.


"Aku," sahut Sally sambil mendorong tangga pada satu rak yang ia tuju.


Aslan terdiam, ia menatap bagaimana cover Sally sangat tidak cocok dikategorikan kutu buku.


"Kau?" tanyanya memastikan tak salah dengar.


Sally yang sudah naik ke atas menggunakan tangga kemudian mengambil dua buku yang cukup tebal, perlahan kemudian dia turun dan memberikan buku itu kepada Aslan.


"Buku adalah jembatan ilmu, meskipun kau tidak suka tapi jika kau ingin pandai dan melampui banyak orang maka kau harus melakukan segala cara. Termasuk membaca berbagai macam buku," jelas Sally.

__ADS_1


Aslan tersenyum, pantas Sally menjadi orang yang berpengaruh dan terkenal pandai. Di balik riasan tebal dan pakaian **** rupanya dia seorang pengamat yang cerdik, dia sembunyikan semua kelebihannya dibalik sifat arogan.


__ADS_2