
Berusaha keras selama dua hari lamanya membututi Jack Patckins akhirnya Deborah menemukan sesuatu yang menarik, ia melihat Jack bersama dengan Camila masuk ke sebuah klinik kecantikan milik Sara.
Belajar bersilat lidah dari Winnie besoknya Deborah datang ke klinik itu, sebelumnya ia telah memastikan Sara sedang tak ada di tempat sehingga ia bisa mengorek informasi dari para pelayan yang bekerja.
"Selamat datang, ada yang bisa saya bantu?" sambut seorang pelayan ramah kepadanya.
"Aku datang atas saran dari Camila Wilson, dia bilang sesuatu ada pelayanan untuk VVIP di sini," bisik Debora.
"Oh... silahkan ikuti saya," jawab pelayan itu cepat.
Dari gelagatnya Deborah tahu ada sesuatu di klinik itu, terlebih mereka melewati banyak ruangan perawatan dan masuk terus ke dalam.
"Dokter, nona ini ingin perawatan yang sama dengan nyonya Camila," ujar pelayan itu kepada seorang dokter yang duduk di kursinya.
"Oh silahkan duduk," sambut dokter itu sambil bangkit.
"Terimakasih," sahut Deborah.
"Kalau boleh saya tahu nona siapanya nyonya Camila?" tanya Dokter itu memulai interogasi halus.
"Aku sahabat baik Nicki, putri tante Camila. Karena sering berkunjung dan sudah lama berhubungan tante sudah menganggapku sebagai putrinya sendiri. Terlebih selera kami dalam hal fashion dan kecantikan hampir sama," sahut Deborah tenang.
"Oh aku mengerti, nona Nicki juga terkadang suka datang ke sini," sahut Dokter itu percaya.
Mereka tertawa kecil dan mulai berbincang tentang apa yang Deborah butuhkan.
"Meski masih muda tapi sudah mulai khawatir akan perubahan pada wajahku seiringnya bertambah usia, saat aku bicarakan hal ini dengan tante Camila dia menyuruh ku datang kesini dan berkonsultasi. Aku yakin Dokter lebih paham kegalauanku," ujarnya.
"Haha tentu saja, hasil kerja kami bisa nona lihat pada wajah nyonya Camila. Meski sudah tidak muda lagi tapi kulitnya tetap kencang dan sehat bukan?" sahut Dokter itu dengan sedikit nada sombong.
Deborah tersenyum dan berntanya perawatan seperti apa yang harus ia lakukan demi mendapatkan kecantikan yang permanen, Dokter itu mulai memberikan beberapa pilihan.
Mulai dari operasi sampai spa, tapi yang paling mengejutkan Deborah adalah perawatan botox darah. Rupanya Camila dan Jack Patckins menjalani perawatan ini sehingga mereka selalu terlihat muda, bagi Deborah ini terlalu menyeramkan sebab bahan utamanya adalah anak kecil.
Hampir Deborah kehilangan ketenangannya akibat takut dan syok, hatinya yang lemah lembut tentu tak bisa menerima kenyataan yang sadis itu.
"Akan ku pikirkan dulu mana yang bagus, jujur saja meski kaya tapi aku masih muda sehingga belum memegang uang sendiri. Dokter pasti mengerti tidak mudah bagiku mengeluarkan jumlah uang yang banyak tanpa menimbulkan kecurigaan," ujar Deborah cepat mengakhiri pertemuan mereka.
__ADS_1
"Tentu saja, silahkan datang lagi nanti," sahut sang Dokter.
Deborah tersenyum dan pamit pergi, dengan cepat ia berjalan ke luar klinik. Memacu mobilnya dalam kecepatan tinggi Deborah kemudian menepi setelah jauh dari klinik dan berlari keluar untuk muntah.
Perutnya yang sedari tadi bergejolak akhirnya kini hanya tinggal mulas, tapi tetap saja itu membuat air matanya mengalir ke luar.
"Bagaimana bisa ada orang yang sekejam itu? bukankah ini ilegal?" gumamnya memikirkan Camila dan Jack yang terus datang untuk mendapatkan kemudaan.
Menghirup udara bebas rupanya tak cukup untuk menenangkan hatinya, Deborah memilih untuk pergi ke kafe demi mendapatkan secangkir kopi yang nikmat.
Tapi saat dia memarkir mobil sekilas ia melihat seorang pria yang mirip dengan Agger mengantar seorang gadis masuk ke dalam mobil, memperhatikannya dari dalam mobil Deborah semakin yakin dia menatap wajahnya.
Setelah mobil yang di tumpangi gadis itu pergi ia pun keluar dan menghampiri.
"Deborah?" tanya Agger kaget.
"Ternyata benar, tadi aku melihat mu dari mobil. Ku pikir salah orang, apa yang kau lakukan di sini?" tanya Deborah.
"Oh itu.. sepupu ku! aku datang dengan sepupuku tapi dia tiba-tiba ada urusan jadi pergi duluan, kau sendiri sedang apa?" balas Agger.
"Kebetulan lewat dan ingin kopi," sahut Deborah pelan sebab ia masih merasa mulas.
......................
Nagisa tak bicara apa pun, ia hanya diam sampai di ijinkan untuk pulang. Tentu Winnie mengantarnya pulang ke rumah bahkan bersikeras bertemu orangtuanya untuk meminta maaf, Nagisa yang hanya tinggal berdua dengan ibunya yang bisu membuat Winnie semakin bersalah.
Dengan menggunakan bahasa isyarat Winnie mengatakan minta maaf dengan sungguh-sungguh dan memberi sejumlah uang untuk biaya perawatan Nagisa, itu membuat keduanya kaget terlebih karena Winnie bisa bahasa isyarat.
Awalnya ibu Nagisa menolak uang itu karena ia merasa Winnie orang baik dan sangat sopan, Winnie sudah bertanggung jawab dengan membawa Nagisa ke rumah sakit saja itu sudah cukup.
Tapi Winnie lebih keras lagi, ia tetap memberikan uang itu dan berpamitan. Saat hendak masuk ke dalam mobil Nagisa mengejarnya.
"Terimakasih," ujarnya pelan.
"Jangan berterimakasih pada orang yang memang memiliki kewajiban, dari pada itu hubungi aku jika kau ingin mendapatkan uang yang lebih. Aku punya pekerjaan untuk mu," sahut Winnie.
Nagisa tak menjawab, ia sudah mendapatkan nomor Winnie tapi tak tahu apakah ia memerlukannya. Kembali masuk ke dalam setelah Winnie pergi ia melihat senyum bahagia di wajah ibunya yang jarang terlihat.
__ADS_1
"Besok belilah daging, kita sudah lama tidak makan daging," ujar Nagisa.
Ibunya mengangguk sambil tersenyum, uang yang di berikan Winnie cukup banyak sehingga cukup untuk mereka membayar uang sewa dan makan enak.
Esoknya seperti biasa dia berpamitan untuk pergi sekolah, tapi nyatanya ia tak pernah sampai ke sekolah. Justru ia pergi ke tempat pamandian untuk bekerja paruh waktu di sana sampai sore hari, pulang ke rumah alangkah kagetnya ia melihat banyak sepatu di depan pintu.
"Oh kau sudah pulang?" tanya seorang gadis berseragam sama dengannya.
Tak dapat bicara Nagisa menatap tiga temannya yang sedang ikut makan daging bersama dengan ibunya, mereka tertawa dan bercanda dengan begitu bahagia.
"Kenapa berdiri di sana? ayo masuk!" seru temannya.
Tak bisa berbuat apa pun ia pun masuk, ikut duduk dan makan meski tidak dapat menikmatinya. Setelah kenyang teman-temannya berpamitan untuk pulang, Nagisa ikut mengantar sampai depan.
Bruk
"Ah!" pekik Nagisa pelan merasakan nyeri di punggungnya yang di dorong hingga ke tembok.
"Curang sekali, kau makan enak sementara kami harus menunggu mu di tengah cuaca dingin," ujar teman yang mendorongnya.
"Aku... aku hendak menemui kalian," sahutnya pelan sambil menahan sakit.
"Besok bawakan tiga kali lipat, kau bisa makan daging pasti uang mu banyak," ujarnya.
Tak ada pilihan Nagisa mengangguk, setelah ia di lepaskan tangisnya pun pecah dalam kesendirian di tengah malam.
Bingung apa yang harus ia lakukan, ia tak ingin mengambil uang yang diberikan Winnie kepada ibunya tapi juga tak punya uang banyak untuk di serahkan pada pembully.
Pada akhirnya ia hanya bisa menangis seperti yang sudah-sudah, namun beberapa saat kemudian ia teringat Winnie menawarkan pekerjaan padanya. Jika dia bisa bernegosiasi dengan baik mungkin dia bisa mendapatkan uang banyak dalam waktu singkat, segera mengambil ponsel ia mencari nomor Winnie dan menelponnya.
"Aku pikir kau tidak akan menelpon ku secepat ini," ujar Winnie begitu ia mengangkatnya.
"Apa yang bisa aku lakukan untuk mu?" tanyanya.
"Kau bisa gunakan kamera?" tanyanya.
"Um... ya," sahutnya.
__ADS_1
"Temui aku besok," ujar Winnie.
Telpon pun terputus, tapi Nagisa kemudian mendapatkan pesan berisi alamat yang harus ia datangi besok.