
Seperti yang di perintahkan Winnie ia pergi ke kantor Will untuk bicara, saat sampai ia di suruh menunggu oleh satpam yang berjaga sampai seorang pegawai mendatanginya.
"Pak Will ada di ruangannya, aku akan mengantarmu kesana," ujar pegawai itu.
"Terimakasih," sahut Nagisa.
Ia bangkit dan mengikuti pegawai itu masuk ke dalam lift, tepat di lantai paling atas mereka keluar dan Nagisa di suruh masuk ke ruangan yang di tunjuk.
Sedikit ragu ia mengetuk pintu dan masuk ke dalam, nampak Will sedang bicara dengan seseorang di telepon dan segera memutusnya saat melihat Nagisa.
"Nagisa! ayo masuk!" sambut Will.
"Terimakasih," sahutnya sambil terus berjalan sampai ke kursi.
Will segera menuangkan teh, kemudian duduk tepat di samping Nagisa dengan cukup dekat. Tentu Nagisa merasa risih dan bergeser sedikit yang membuat Will tersenyum aneh padanya.
"Apa yang membawamu kemari?" tanya Will.
"Anu... itu... tentang tawaran anda waktu itu," sahut Nagisa menghindari kontak mata.
"Oh ya, lalu?" lanjut Will.
"Aku sudah memikirkannya, apa tawaran itu masih berlaku?" tanya Nagisa.
"Tentu saja," sahut Will ramah.
"Aku... ingin mencobanya," ujar Nagisa.
"Bagus! kau sudah punya wajah bintang yang bagus, akan ku siapakan peran yang bagus untuk mu. Aku yakin kau akan cepat terkenal," ucap Will.
Nagisa hanya tersenyum dan mengangguk, Will kembali bicara memuji Nagisa. Bahkan ia mulai membelai bahunya yang membuat Nagisa semakin risih saat mengutarakan kata-kata manis, semakin lama tangan Will mulai berganti ke rambut hingga lutut.
Dari sana Nagisa sudah tak dapat menahannya, maka ia pun cepat pamit dengan alasan Winnie sudah menunggunya untuk bekerja.
Untuk kali ini Will membiarkan Nagisa pulang, sebab ia juga sudah memiliki nomor pribadi gadis itu.
......................
Memenuhi janji kepada Leo Winnie datang ke pameran itu untuk melihat Jack meresmikannya, gemuruh tepuk tangan menggema di depan gedung saat Jack telah memotong pita.
Setelah pidato kecil para awak media dan warga biasa yang ingin melihat di ijinkan masuk untuk melihat berbagai karya seni, mulai dari patung, lukisan dan lain sebagainya.
"Aku pikir kau tak akan datang," ujar Leo menghampiri.
"Aku tidak pernah mengingkari janji ku," sahut Winnie.
Mereka berjalan bersama, melihat satu persatu karya seni yang dapat di beli sesuai harga yang telah di tentukan.
__ADS_1
"Oh ya, kau bilang ada sesuatu yang ingin kau tunjukan," ujar Winnie mengingat ucapan Leo waktu itu.
"Ikuti aku," sahut Leo sembari tersenyum.
Leo mengajak Winnie berpindah ruangan ke bagian lukisan, diantara sekian banyak lukisan yang ada Leo menunjukkan satu lukisan padang bunga yang sangat indah.
Terpukau akan keindahannya Winnie sampai tak dapat berkata-kata, jika di bandingkan dengan lukisan yang lain memang lukisan padang bunga itu nampak biasa saja.
Tapi bagi Winnie yang mencintai bunga ia bagai melihat taman bunga yang ia rawat sendiri di kediaman Mo, semua bunga yang ia tanam ada dalam lukisan itu.
"Kau sangat suka bunga jadi aku pikir kau akan menyukainya," ujar Leo.
"Ini memang lukisan yang indah," sahut Winnie.
Melihat wajah Winnie yang tersenyum damai membuat Leo membisu, ia memberi Winnie waktu untuk menikmati lukisan itu sampai Winnie merasa puas baru mereka beralih pada yang lain.
"Sudah waktunya makan siang, kau ingin makan apa?" tanya Leo.
"Mungkin burger dan segelas cola," sahut Winnie.
"Baiklah ayo kita pergi!" ajak Leo.
Saat Leo sudah membawakan burger yang masih hangat Winnie benar-benar tidak bisa menahan air liurnya, ia segera menyantap burger itu tanpa peduli ada saus di ujung bibirnya yang membuatnya terlihat berantakan.
"Hahahaha.... kau makan seperti anak kecil," ujar Leo merasa geli.
Entah mengapa tiba-tiba Leo membelai pipinya yang membuat Winnie mengingat perhatian pangeran mahkota pada si cacat Yumna, tepat disana.
Di pipi yang kini sedang di belai Leo ada sebuah luka panjang memalukan bagi keluarga Mo, namun pangeran tak memperdulikannya.
"Maaf pangeran," ujar Winnie reflek mundur sambil menundukan wajah,
"Apa?" tanya Leo.
"Hah? eh.. maksud ku terimakasih," sahut Winnie bingung saat sadar ia sudah salah bicara.
Leo tersenyum dan menaruh tisu kotor itu, dengan tenang ia mulai memakan pesanannya sementara Winnie terus meneguk cola untuk menghentikan detak jantungnya yang kencang.
"Terimakasih atas makanannya," ujar Winnie setelah mereka selesai makan.
"Tidak masalah, apa rencana mu setelah ini?" tanya Leo.
"Aku ada janji dengan Deborah," sahutnya.
"Oh mengenai Deborah apa dia masih berhubungan dengan Eggar?" tanya Leo.
"Entahlah, sekarang dia jarang membahasnya. Kenapa?" balas Winnie.
__ADS_1
"Tidak, hanya saja menurut ku Eggar bukan tipe pria yang cocok untuk Deborah."
"Kenapa?" tanya Winnie lagi penasaran.
"Menurut ku Deborah adalah gadis yang lembut dan polos, sementara Eggar sangat suka pergi ke klub. Hanya tidak cocok saja," sahut Leo.
"Begitu rupanya," gumam Winnie sembari mengangguk.
"Nona... tolong beri aku sedikit makanan," ujar seorang pengemis yang tiba-tiba menghampiri.
Tanpa kata Winnie cepat masuk ke dalam kedai sementara mereka saling menatap bingung, karena canggung ditatap dengan sorot sendu Leo akhirnya mengeluarkan sejumlah uang dan memberikannya.
"Terimakasih," ujar pengemis itu hendak pergi.
"Tunggu!" sergah Winnie yang baru keluar.
"Ini untukmu," ujarnya menyerahkan makanan yang baru ia beli.
"Oh nona anda sangat murah hati, terimakasih.. " ujar pengemis itu menerimanya dengan senang hati.
Winnie hanya mengangguk dan membiarkan pengemis itu pergi.
"Lain kali jangan memberi orang seperti itu uang, beri saja barang yang lain atau makanan. Kita tidak tahu apakah uang akan di gunakan dengan baik oleh orang-orang seperti mereka," ujar Winnie menasehati Leo.
"Oh aku mengerti," sahut Leo tersadar dari lamunan.
"Baiklah kalau begitu aku pergi duluan," pamit Winnie.
Leo mengangguk dan membiarkan Winnie pergi sementara ia kembali ke pameran, rupanya ayahnya sudah menunggu sejak tadi sebab setelah acara ini mereka harus kembali ke kantor.
"Ayah tadi melihat mu bersama dengan Winnie," ujar Jack dalam perjalanan kembali ke kantor.
"Ya, aku mengundangnya untuk melihat pameran. Dia memintaku untuk menyampaikan maaf sebab tidak sempat menyapa ayah, lagi pula ayah terlalu sibuk dengan para wartawan."
"Begitu ya, ayah perhatikan kau cukup dekat dengannya."
Leo tak menyahut, ia justru memalingkan wajahnya ke kaca jendela.
"Jika hanya berteman ayah tidak keberatan, tapi kau tidak boleh sampai melewati batas," perintah Jack.
"Kenapa?" protes Leo.
"Ayah sudah menjodohkan mu dengan putri anggota dewan, kau tahu itu kan?" sahut Jack dengan nada tinggi.
"Sudah ku bilang aku tidak menyukainya," balas Leo.
"Saat ini kau masih muda, ayah paham jika kau belum bisa menerimanya. Tapi nanti setelah kau benar-benar terjun ke dunia bisnis kau akan sadar bahwa pilihan ayah adalah tepat untuk mu," ujar Jack tak ingin berdebat terlebih mereka berada di dalam mobil.
__ADS_1