
Dua jam lamanya mereka duduk dalam kebisuan, membuat Winnie lama kelamaan menjadi bosan.
"Oh ya Leo, kau ada perlu apa denganku?" tanya Winnie yang baru sadar.
"Eh ti-tidak, aku hanya mampir untuk melihat... melihat taman mu," sahut Leo gugup sebab dua pasang mata tajam menatap kepadanya.
"Oh... tamannya belum selesai," sahut Winnie.
Keheningan kembali terjadi, kini menghabiskan waktu satu jam yang terasa melelahkan bagi Winnie.
"Baiklah jika kalian tidak ada urusan lagi aku mau pergi," ujar Winnie sembari bangkit.
"Kau mau kemana?" tanya Tony dan Ashar bersamaan.
"Aku lelah, aku mau istirahat," jawabnya kemudian pergi.
Ashar dan Tony pun saling tatap.
"Kalau begitu aku juga permisi," ujar Leo memutuskan untuk pulang.
"Kau juga sebaiknya pergi," ujar Tony.
"Harusnya kau yang pergi!" balas Ashar tajam.
"Maaf ya tapi aku menginap di sini," sahut Tony sedikit sombong sambil berjalan keluar.
Ashar yang tak mau kalah ingin juga menyinap tapi ia masih memiliki kewarasan, tidak mungkin dia tinggal tanpa ada undangan.
Tak ada pilihan ia pun akhirnya pergi dengan membawa amarahnya, sementara Tony mulai mengatur siasat agar malam ini bisa menghabiskan waktu bersama dengan Winnie.
"Tony? kenapa wajahmu di tekuk seperti itu?" tanya Camila yang tak sengaja berpapasan.
"Andai tidak ada dua pengganggu itu aku pasti sudah bersenang-senang," sahutnya.
"Pengganggu?" tanya Camila sebab seharian ia di kamar Nicki sehingga tak tahu siapa yang datang bertamu.
"Leo dan yang lebih menyebalkan adalah Ashar, seolah ingin bersaing dengan ku dia terus mencoba menarik perhatian Winnie," jelasnya.
Kini Camila mengerti, tersenyum sebab melihat hasrat yang kuat pada Tony ia memegang pundak pemuda itu.
"Kau tenang saja, tante sudah mengatur kamar mu. Itu di lantai atas dan bersebelahan dengan kamar Winnie," ujarnya.
"Oh tante pengertian sekali, terimakasih!" seru Tony kembali bersemangat.
Setelah makan malam waktu terasa lama berputar saat Tony menunggu semua penghuni rumah tertidur, ia mencoba menyibukkan diri dengan bermain gadget sampai semua anggota keluarga Wilson masuk kamar masing-masing.
"Aku mau ambil minum dulu, kau tidurlab duluan," ujar Camila saat Brian sudah bersiap tidur.
Setelah mengganti pakaian dengan piyama Camila pergi ke dapur dan menyiapkan susu hangat, diam-diam kemudian dia menaburkan sesuatu ke dalam susu itu.
Mengaduknya beberapa kali untuk melarutkannya ia pun menyuruh seorang pelayan untuk memberikan susu itu kepada Winnie.
Tersenyum licik Camila menantikan hari esok dimana sebuah drama akan berlangsung, susu yang ia siapkan telah ia beri obat tidur agar Winnie tak sadar saat Tony masuk ke kamarnya.
Setelah Tony puas bersenang-senang esok paginya ia akan berlagak kaget, terbayang dalam benaknya wajah kecewa Brian pada tingkah putri kandungnya.
Jika sudah begitu ia yakin Brian tak akan memandang Winnie lagi, lebih bagus jika mereka di nikahkan sehingga Winnie bisa pergi dari rumah itu.
***
Tok Tok Tok
Cek lek
"Ya?" tanya Winnie menatap pelayan yang berdiri di depan pintunya.
"Ini susu untuk Nona," ujar pelayan itu sambil menyodorkannya.
"Aku tidak memesannya," ucap Winnie merasa heran.
"Tapi nyonya Camila menyuruh saya untuk memberikannya pada nona," ujar pelayan itu ikut bingung.
__ADS_1
Mengerti permainan lain baru saja di mulai Winnie pun mengambilnya.
"Apa kau tahu di kamar mana Tony tidur?" tanya Winnie.
"Jika tidak salah kamar itu," sahut si pelayan sambil menunjuk pintu yang tepat berada di samping kamarnya.
"Aku butuh bantuanmu, ikut aku!" perintah Winnie.
Pelayan itu menurut dan masuk ke kamar yang tepat berada di samping kamar Tony mengikuti Winnie.
"Aku tidak suka susu kau saja yang minum," ujar Winnie setelah di dalam kamar.
"Eh tapi... " ucap pelayan itu ragu.
"Sudahlah minum saja, aku ingin kau memijit kakiku jadi kau butuh tenaga. Aku akan ambil minyaknya dulu jadi tunggulah," kata Winnie memaksa.
"Kenapa tidak di pijit di kamar nona?" tanya pelayan itu heran.
"Aku tidak mau ada bau minyak nanti di kamarku, jadi malam ini aku tidur di sini dulu," jelasnya.
"Oh, baiklah," sahut pelayan itu.
Winnie pun keluar dan mengetuk pintu kamar Tony, tentu itu membuat Tony terkejut.
"Winnie? ada apa?" tanya Tony.
"Apa kau punya minyak pijit? kakiku terasa pegal setelah seharian berkebun," tanya Winnie dengan senyum nakal.
"A-ada, akan ku ambilkan!" sahut Tony.
Ia pun segera masuk dan mengambil minyak yang di minta.
"Ini! biar sekalian aku pijit bagaimana? pijitanku enak ko," tawar Tony.
"Oh tidak perlu, sudah ada pelayan yang menunggu di kamarku," ujar Winnie.
Ia pun segera pergi ke kamar tempat pelayan itu menunggu, sementara Tony yang menatap Winnie masuk bersiap menggantikan pelayan setelah beberapa menit.
Masuk ke dalam kamar Winnie menemukan pelayan itu sudah tertidur pulas di ranjang, rupanya kecurigaannya benar. Camila menaruh obat tidur agar ia tak bisa melawan saat Tony mengerjainya.
Dengan cepat ia menukar pakaiannya dengan pelayan itu, mengikat rambut dan memakai masker Winnie mematikan lampu dan mulai memijit pelayan yang sedang tidur telungkup.
Cek lek
Beberapa menit kemudian pintu tiba-tiba terbuka, Winnie yang kaget bertanya "siapa?".
" Ssssshhhhhh... apa Winnie sudah tidur?" tanya Tony sambil perlahan berjalan masuk.
"Ehm, tuan... nona sudah tidur," sahut Winnie menyamarkan suaranya.
"Pergi! tinggalkan kami berdua," perintah Tony.
"Baik," sahut Winnie.
Menundukkan kepala Winnie berjalan melewati Tony.
"Tunggu!" sergah Tony saat Winnie hendak membuka pintu.
"Jangan katakan hal ini pada siapa pun," ancam Tony.
"Baik... tuan tolong jangan hidupkan lampunya, nona sedang sakit jadi butuh tidur yang baik."
"Aku mengerti, pergilah!" perintah Tony.
Winnie mengangguk dan segera pergi, sementara Tony yang sudah tak sabar mulai mendekati ranjang dan membelai kaki pelayan yang masih licin karena minyak pijit.
"Tante bilang tak masalah jika ketahuan, dia akan membela ku dan mungkin menikahkan ku dengan Winnie. Itu tidak buruk, jika sudah bosan bisa ku ceraikan," gumam Tony.
Menyingkirkan selimut yang menutupi bagian atas tangan Tony mulai menjelajah, membelai setiap lekukan yang berisi.
"Hehe, keliatannya kurus tapi ternyata kau cukup berisi," ujar Tony pelan.
__ADS_1
Tak ingin bermain lagi ia pun segera menanggalkan pakaian, kembali menarik selimut dan menempatkan diri di atas.
***
Bangun lebih pagi dari biasanya Camila tersenyum menyambut mentari yang cerah, mengambil pakaiannya ia segera mencuci muka dan pergi ke luar.
Bertemu dengan beberapa pelayan yang sudah bangun dan sedang sibuk menyiapkan sarapan ia tersenyum ramah, tentu itu membuat para pelayan menerka hal baik apa yang telah membuat suasana hati Camila baik.
Berdiri tepat di kamar Winnie ia menyiapkan ekspresi dan mulai mengetuk, satu dua kali ketukan tak ada jawaban.
Tapi saat ia mencoba yang ketiga kali sambil memanggilnya baru pintu itu terbuka.
"Oh ibu, ada apa pagi sekali ke kamarku?" tanya Winnie sambil masih menguap.
Keheranan Camila mencoba melongo ke dalam kamar Winnie dan anehnya ia tak menemukan apa pun, ia mulai berfikir Tony segera kembali ke kamarnya setelah puas.
Itu membuatnya naik pitam karena rencananya untuk menjelekkan Winnie jadi gagal.
"Ah itu... hari ini ibu ada arisan, harus pergi pagi sekali. Jika kau tidak sibuk ibu ingin kau menemani Nicki," jawabnya beralasan.
"Entahlah, aku ada kelas hari ini," sahut Winnie jujur.
"Jika tidak bisa tidak apa-apa, ya sudah ayo bersiap untuk sarapan!" balas Camila cepat.
Aaaaaaaaaa.....
Tiba-tiba sebuah jeritan terdengar begitu nyaring dari kamar sebelah, Camila yang kaget sejenak terdiam sementara Winnie yang sudah menantikan hal ini bergegas membuka pintu kamar itu.
"Tony!" seru Winnie memasang wajah polos.
Di belakangnya Camila yang ikut melihat tak bisa berkata-kata saking syoknya, apalagi saat Brian yang mendengar jeritan itu menghampiri dan ikut melihat.
"Apa yang terjadi?" tanya Brian meski sebenarnya ia cukup sadar apa yang telah terjadi.
Tentu saja semua orang bisa menebaknya, termasuk para pelayan yang berkerumun di belakang.
Di kamar itu hanya ada Tony dan pelayan yang tidak memakai busana, yang menjadi pertanyaan mengapa ada jeritan gadis dari kamar itu.
"A-aku tidak tahu!" sahut Tony cepat.
"Kau kan pelayan yang semalam," ujar Winnie.
Semua mata kemudian tertuju pada Winnie.
"Semalam dia mengantarkan susu untuk ku dan kemudian aku suruh memijit ku, apa setelah itu Tony juga menyuruhmu untuk memijitnya?" tanya Winnie.
"A-aku tidak tahu, aku tidak ingat apa yang terjadi," sahut pelayan itu linglung.
"Jika kau tidak tahu kenapa kau ada di sini?" hardik Camila kesal karena ternyata rencananya lebih dari sekedar gagal.
"A-aku hanya ingat saat nona menyuruku untuk memijit, setelahnya aku tidak ingat apa-apa. S-saat bagun... tiba-tiba tuan Tony... ada di sampingku," jelasnya.
Tony yang mendengarnya lebih melongo, ternyata semalam ia bukan tidur dengan Winnie melainkan dengan pelayan. Tentu saja itu aneh sebab seingatnya semalam yang ia suruh pergi adalah pelayan, itu jelas terlihat dari pakaiannya.
"Jadi ini salah Tony?" tanya Winnie mulai membakar sumbu.
"Apa? kenapa aku jadi salah? aku juga tidak tahu apa yang terjadi, aku juga kaget saat bangun kenapa ada dia di kamarku!" bantah Tony tak ingin disalahkan.
"Ini kamarmu? bukankah kamar mu berada tepat di samping kamarku?" tanya Winnie.
"Eh itu benar, ini aneh sekali. Aku yang menyiapkan kamar untuk tuan Tony dan itu tepat di samping kamar nona," ujar seorang pelayan di belakang mereka.
Tak bisa berkata Tony bingung harus berkata apa agar kesalahan tak menimpanya.
"Sudahlah, ini pasti salah paham. Mungkin semalam pelayan itu terlalu lelah setelah memijit Winnie dan memutuskan untuk tidur di kamar ini, kemudian Tony juga bisa saja salah masuk kamar sehingga hal ini terjadi," ujar Camila mencoba menyelamatkan harga diri keponakannya.
"Lalu kenapa kalian kalian telanjang? kamar ini kan ada ACnya jadi tidak gerah," tanya Winnie.
Untuk hal ini tak ada yang bisa menjawab, sementara Brian mulai memasang raut wajah marah kepada mereka.
"Ah sungguh salah paham yang mengerikan, ayah... jika seperti ini aku jadi takut tidur sendiri saat ada pria lain di rumah," rengek Winnie sambil memegang tangan Brian.
__ADS_1
"Tony, segera berpakaian dan pulanglah. Aku tidak ingin melihat mu datang berkunjung lagi kemari," ujar Brian dalam dan penuh tekanan.
"Baik paman," hanya itu yang bisa Tony lakukan, menuruti perintah untuk segera angkat kaki.