
Saat membuka mata Yumna kaget karena pandangannya terasa aneh, semuannya buram dan sangat tidak jelas tapi ia bisa mendengar suara-suara.
Terlebih itu adalah suara seorang wanita dan pria, ia bingung mengapa kedua orang itu membicarakan seorang bayi dan sesuatu yang tidak ia mengerti.
Yang lebih mengherankan adalah saat ia mencoba bicara yang keluar justru suara aneh mirip bayi, saat ia lapar yang atau merasa tak nyaman yang keluar dari tenggorokannya juga suara bayi.
Semakin lama akhirnya ia sadar bahwa Dewa telah mengabulkan keinginannya, ia berengkarnasi menjadi seorang bayi yang baru lahir.
Saat ia bisa melihat orang yang pertama ia lihat adalah Jeny ibunya baru Fabio ayahnya, suara mereka juga yang selama ini ia dengar.
Meski berada di tubuh bayi tapi Yumna sadar betul tentang keadaan sekitar yang benar-benar berbeda dengan dunianya selama ini, namun ia cepat belajar dan mengerti sehingga ia tahu bahwa Jeny dan Fabio bukanlah orangtua kandungnya.
Di usia tubuhnya yang baru menginjak satu tahun Yumna sudah bisa berjalan dengan benar, ia tidak rewel bahkan sudah tidak mengompol. Tentu karena pikirannya sebenarnya sudah berusia lima belas tahun dimana bahkan ia sudah siap menikah.
Jeny dan Fabio memberinya nama Winnie, saat ia berusia lima tahun mereka pindah ke pedesaan sebab biaya sekolah di sana lebih murah.
Harga sewa rumah pun masih terjangkau untuk Fabio yang kini bekerja sendiri karena Jeny harus menjaga Winnie sehingga ia berhenti bekerja, meski kehidupan mereka sangat sederhana tapi Winnie bersyukur sebab ia tidak kekurangan kasih sayang dan orangtuanya selalu ada untuknya.
Kadang mereka makan sehari sekali tapi terasa nikmat dan kenyang karena hidup mereka yang damai, tiba saatnya Winnie masuk sekolah ia menjadi murid teladan dan terpandai di kelas.
Setiap hari ia di puji guru karena kepintaran dan kebaikannya, sampai ia mendapat bantuan dari sekolah berupa buku-buku dan alat tulis sehingga biaya sekolahnya menjadi ringan.
"Aaaahhh.... putriku peringkat pertama lagi," ujar Jeny penuh syukur saat ia menerima rapot Winnie setelah kenaikan kelas.
"Apa aku bisa minta hadiah pada ayah?" tanya Winnie yang kini naik ke kelas lima.
"Tentu saja, setiap tahun kau mendapat peringkat dan menjadi kebanggaan ayahmu. Tahun ini pun ayahmu pasti tidak akan berhenti menyombongkan mu kepada teman-temannya," sahut Jeny.
Winnie tersenyum, ayahnya itu memang tipe orang yang suka menyombongkan sesuatu secara berlebihan.
Dengan tak sabar Winnie menunggu Fabio pulang, tapi hari semakin larut dan karena kantuk akhirnya ia ketiduran. Namun di tengah malam saat ia terbangun tanpa sengaja ia mendengar orang-tua sedang bicara, ternyata perusahaan tempat Fabio sedang mengalami kemunduran sehingga banyak yang kena PHK.
__ADS_1
Fabio salah satunya, dia hanya mendapat gaji dan uang tunjangan yang tak seberapa.
Merasa kasian Winnie mengurungkan niatnya untuk meminta hadiah, sepanjang malam ia berfikir keras mencari cara untuk membantu perekonomian keluarganya.
Sampai pagi tiba saat sedang sarapan barulah sebuah ide muncul di kepalanya.
"Ayah, apa ayah sudah melihat rapotku?" tanyanya.
"Oh sudah, kau memang putri ayah yang hebat," puji Fabio.
"Boleh aku minta hadiah?" tanyanya bersemangat.
"Tentu saja, apa yang kau inginkan?" balas Fabio.
"Aku ingin gerobak," ujarnya.
Fabio dan Jeny saling bertukar pandang, mereka tahu anak mereka memang kadang suka aneh tapi permintaannya kali ini sulit dimengerti.
"Kemarin aku main dirumah temanku, dia punya mainan gerobak eskrim dan bagus berwarna pink. Aku juga ingin punya tapi yang lebih besar," jelasnya.
"Tidak tahu, tapi yang aku inginkan bisa di buat di paman tukang kayu. Aku ingin keliling desa sambil mendorong gerobak eskrim ku, pasti banyak temanku yang beli," ujarnya.
Fabio termangu sebelum ia akhirnya mendapatkan ide itu, permintaan putrinya tak hanya menjadi hadiah tapi juga penyelamat ekonomi mereka.
Dengan uang tunjangan ia bisa membuat gerobak dengan harga murah, sisanya bisa ia pakai untuk modal. Saat ini eskrim memang banyak di gemari anak-anak, ia bisa membuat eskrim rasa kelapa dimana bahan utamanya mudah untuk di dapat.
Selama dua tahun sampai Winnie lulus sekolah dasar mereka hidup dari hasil jualan eskrim, untungnya tidak seberapa tapi untuk kebutuhan sehari-hari mereka tercukupi.
Lulus dari sekolah Dasar ternyata Winnie mendapat beasiswa untuk masuk ke sekolah menengah pertama bergengsi di daerah itu, kesempatan ini tentu Winnie ambil.
Karena usia Winnie yang sudah menginjak remaja dan kepintarannya maka Fabio dan Jeny akhirnya berterusterang kepadanya tentang siapa mereka.
__ADS_1
Winnie yang sudah tahu sejak dulu bahwa ia di adopsi tentu bingung harus bersikap apa, ia sama sekali tidak peduli siapa orangtua kandungnya karena baginya hidupnya yang sekarang lebih baik.
Akhirnya ia hanya berpura-pura sedih selama beberapa hari agar terlihat tidak mencurigakan, semenjak itu pulaFabio dan Jeny bersumpah tidak akan mengungkit masalah itu, kehidupan mereka pun berlanjut tanpa adanya masalah yang berarti sampai Winnie lulus.
Kali ini ia kembali mendapat beasiswa lagi di sekolah bergengsi, sayangnya sekolah itu berada di luar desa sehingga mau tak mau Winnie harus naik bus setiap hari dimana itu tentu butuh biaya.
Tak mau putrinya berhenti sekolah karena perekonomian mereka Jeny kembali bekerja meski itu hanya menjadi buruh cuci, uang yang ia terima tak seberapa tapi sangat membantu apalagi di saat jualan Fabio kurang laris.
Pulang sekolah Winnie mendapati orangtuanya kelelahan dan cepat tertidur dengan lelap setelah makan malam, menatap sendu mereka Winnie merasa kasihan.
Di kehidupannya yang dulu setelah mencapai usia lima belas tahun ia sudah siap berumah tangga tanpa memikirkan biaya apa pun, tapi di kehidupannya yang sekarang ia harus sekolah sampai ke Universitas.
"Ya Dewa... kau memberiku kebahagiaan dan kebebasan tapi tidak dengan uang, kenapa aku sangat melarat?" keluhnya.
Di akhir pekan Winnie membantu ibunya mencuci, pergi ke setiap rumah yang membutuhkan jasanya tanpa terasa hari sudah menjelang sore.
"Ayahmu pasti sudah pulang, kita harus bergegas pulang dan membuat makan malam," ujar ibunya sambil berjalan dengan cepat.
Tapi begitu mereka sampai di rumah saat Winnie membuka pintu ayahnya meniup terompet dengan sangat kencang sampai membuatnya kaget.
"Selamat ulang tahun Winnie!" seru Fabio dengan wajah penuh keceriaan.
"Ayah, apa-apaan ini?" tanya Winnie tak percaya.
"Kenapa? hari ini ulang tahunmu yang ke lima belas, kita harus merayakannya!" sahut Jeny seraya masuk ke dalam.
"Ibu... harusnya kita berhemat, untuk apa semua ini? aku sudah lima belas tahun dan tidak perlu merayakannya lagi," keluh Winnie.
"Apa maksud mu? kau baru lima belas tahun tapi bicara mu sudah seperti orangtua, sekarang duduk dan cepat buat permohonan. Kita hanya merayakannya setahun sekali jadi ini sangat layak," hardik Fabio.
Winnie tak bisa membantah, orangtuanya sangat peduli padanya dan selalu memanjakannya meski hidup mereka kekurangan.
__ADS_1
"Baiklah," sahutnya.
Ia duduk di tengah, menghadapi kue tart kecil yang sederhana dengan satu lilin. Menutup mata ia meminta kepada Dewa agar kebahagiaannya terus berlanjut, dan apa pun yang terjadi keberuntungan akan selalu berpihak padanya.