
Ia terpaku, menatap sosok yang tak pernah ia sangka akan berdiri tepat di hadapannya bahkan mengecup bibirnya. Mengingat bagaimana kekejamannya yang berbanding terbalik dengan Aslan, di mata Deborah dia bagai air yang tak sekedar menghanyutkan tapi juga menenggelamkan.
Terlihat bersahabat tapi justru lebih berbahaya, sekuat tenaga ia harus mengumpulkan keberanian.
"Carl... a-apa yang kau lakukan di sini?" tanyanya terbata.
"Aku baru saja menyelamatkan nyawamu, bukankah seharusnya kau berterima kasih dulu?" protesnya.
"Oh, maaf. Terimakasih," sahut Deborah cepat.
Carl tersenyum, masih berdiri sangat dekat dengan Deborah ia bisa merasakan nafas gadis itu memanas.
"Aku menyelematkan nyawamu karena kau adalah merpati yang berharga, sampaikan pada Winnie untuk berhati-hati sebab urusan kita belum selesai. Aku akan mengawasinya," ujarnya.
Deborah mengangguk pelan dengan mata yang masih menyorot, karena tak ada urusan lagi ia membiarkan Deborah pergi.
Sangat terlihat jelas bahkan dari langkahnya Deborah masih gugup, itu membuat Carl ingin tertawa tapi ia menahannya. Kebetulan setelah kepergian Deborah ia mendapat telepon, rupanya itu dari tuannya yang tak sabaran.
"Ya tuan ku, dia memata-matai seorang pria tua. Tadi dia sempat terkena masalah dan aku terpaksa turun tangan, tapi anda tidak perlu khawatir karena dia tidak tahu tujuan kita," ujarnya.
Tuannya mengatakan untuk lebih berhati-hati lagi sebelum menutup telepon.
......................
Semalaman terbelenggu dalam kabut ketakutan akhirnya Deborah menceritakan apa yang kemarin ia alamai kepada Winnie, jelas Winnie kaget sekaligus heran.
Ia mencoba menerka-nerka mengapa Carl membututi mereka, jika ia ingin balas dendam harusnya dia sudah melakukannya.
"Katakan pada Nagisa untuk jangan ke apartemen dulu, sebaiknya kita juga jangan bertemu dulu. Untuk sementara kita komunikasi lewat ponsel," ujar Winnie.
Ia tak tahu sejauh mana Carl mengetahui tentang dirinya, mungkin saja Carl sudah tahu bahwa Winnie anak Wilson mengingat sudah lama ia memantau mereka.
"Oh ya aku hampir lupa, ingat supir taksi yang mati dalam kecelakaan Miya?" tanya Deborah.
"Ya, kenapa?" sahut Winnie.
"Nagisa memberitahuku ada seorang kakek bernama peter yang memiliki tato yang sama dengan supir itu, aku sudah memeriksanya dan tato mereka memang mirip. Aku berencana untuk menyelidiki lebih lanjut tentang kakek itu," sahutnya.
Itu kabar yang cukup baik, Winnie meminta untuk bekerja dengan lebih hati-hati agar jangan sampai ketahuan Carl lagi.
Tentu Deborah paham, lewat ponsel ia kembali mengorek informasi tentang kakek Peter kepada Nagisa. Ia bahkan menanyakan rutinitas yang di lakukan kakek itu, hal sekecil apa pun tak pernah dia lewatkan karena itu bisa menjadi informasi yang berharga.
Tak banyak yang bisa Nagisa katakan karena ia tak begitu kenal dengan kakek Peter, tapi ia berusaha sebisa mungkin membantu pekerjaan Deborah hingga ia bertanya pada ibunya barangkali ada sesuatu yang tak ia ketahui.
Satu hal yang bisa menjadi senjata untuk mendekati kakek Peter adalah dia suka berjudi, ada satu tempat perjudian yang sering dia datangi dan Deborah bisa memulai dari sana.
Tentu saja tugas mendekati itu akan di serahkan kepada Winnie, Deborah hanya memberikan informasi dan ide yang bisa digunakan.
__ADS_1
Untuk menyempurnakan sandiwara yang akan ia mainkan Winnie meminta bantuan Jimmy, pecandu itu cukup hebat dalam berjudi jika serius.
Mengenakan gaun merah yang di penuhi payet Jimmy memuji kecantikan Winnie yang bagai rumah singgah, tentu itu olokan lucu bagi mereka yang tahu fashion.
"Diam Jimmy! fokuslah," hardik Winnie.
"Hahahaha... tapi aku tak bisa menahan tawa, jika Aslan melihat mu seperti ini aku yakin dia akan menyesal telah memilihmu dari Carmen," sahut Jimmy.
Mendengarnya membuat Winnie semakin merengut, make up yang ia gunakan pun cukup menor dengan blashon tebal sehingga pipinya seperti habis di tonjok.
"Apa boleh buat, kita bukan berjudi di Las Vegas!" sahut Winnie.
Setelah memakan waktu banyak akhirnya Jimmy bisa menghentikan tawanya juga, hari ini mereka akan berperan sebagai sepasang kekasih. Atau lebih tepatnya tuan dan peliharaan.
Sampai di tempat perjudian hanya dengan satu kali pandang mengelilingi ruangan Winnie segera bisa menemukan kakek Peter, memberi isyarat kepada Jimmy mereka pun bergerak masuk dan duduk tepat di belakang kakek Peter.
Jimmy memulai keberuntungannya dengan taruhan kecil, semakin lama karena keseriusannya ia semakin kaya hingga menyita perhatian.
Bahkan kakek Peter pun iki menonton karena penasaran seperti yang mereka harapkan, dua kali bermain taruhan besar Jimmy berhasil menang maka saatnya memulai rencana.
"Sudah cukup! ayo sayang kita pulang," ajak Winnie.
"Satu kali lagi, aku akan bermain satu kali lagi. Ya?" sahut Jimmy.
"Tidak boleh! kau selalu sial dalam putaran tiga besar," hardik Winnie.
"Ya nona... biarkan kekasihmu main, nanti kau juga akan dapat hadiah," ujar salah satu penonton.
Yang lain mulai menyuraki agar Winnie diam sebagai wanita, tentu Winnie memasang raut wajah cemberut agar orang berfikir ia benar-benar jengkel.
Permainan pun di mulai, kali ini Jimmy memang sudah mengatur agar ia kalah sehingga pundi-pundi kekayaannya habis.
Memijit kepala Jimmy membiarkan orang-orang mengejeknya, sementara Winnie mengomel seperti nenek tua kepadanya.
"Harusnya kau mendengarkan kata pacar mu, setiap pasangan memang lebih mengerti sifat dan karakter kita sendiri," ujar kakek Peter menghampiri.
Umpan telah dimakan, Winnie tersenyum dan menanggapi ucapannya.
"Dia memang keras kepala, sekarang kita tidak punya uang untuk bayar taksi. Aaahh... menyebalkan!" gerutunya.
"Bagaimana jika bermain lagi? aku rasa kau lebih mahir dalam taruhan kecil," saran Kakek Peter.
"Andai aku punya sepeser saja pasti sudah ku lakukan dari tadi," sahut Jimmy.
"Aku akan meminjamkannya padamu, bertaruhlah sampai uangnya cukup untuk ongkos kalian pulang dan mengembalikannya padaku."
Winnie dan Jimmy saling pandang akan tawaran itu, tentu mereka mengambilnya dan kembali bermain. Butuh beberapa permainan sampai akhirnya mereka mendapat uang yang cukup.
__ADS_1
"Ini uang mu, terimakasih sudah meminjamkannya," ujar Jimmy mengembalikan uang itu.
"Tidak masalah, ini hanya jumlah yang kecil. Jadi... apa kalian akan langsung pulang?" sahut kakek Peter.
"Dia tidak mungkin bisa pulang dan tidur setelah kalah, paling kami akan cari tempat minum dulu," sahut Winnie.
"Bagaimana kalau kalian ikut aku? biar aku yang traktir," ujarnya.
"Sungguh? kau baik sekali," sorak Winnie senang.
"Heh, memperbanyak amal untuk bekal kematian?" tanya Jimmy.
Winnie segera menyikut rusuk Jimmy sampai ia mengaduh, baginya itu lawakan yang tidak sopan namun ternyata kakek Peter cukup santai dan tertawa.
Mereka pun pergi ke bar yang menjadi langganan kakek Peter, ia memesan tiga minuman dalam gelas besar dan mulai mengajak bicara.
Sebagian pertanyaan umum seperti pekerjaan apa yang dimiliki Jimmy dan sisanya hanya omong kosong, semakin Jimmy mabuk obrolan mereka semakin ngelantur.
"Aku punya ladang uang yang subur, aku bisa memanennya seminggu sekali. Kau mau tahu dimana tempatnya?" ujar Jimmy setengah tak sadarkan diri.
"Dimana?" tanya kakek Peter yang rupanya kuat minum sebab ia masih segar.
"Camila Wilson," bisik Jimmy.
Kakek Peter menunjukkan ekspresi kaget saat nama itu di sebut yang membuat Winnie semakin tak melepaskan pandangnya dari pria tua itu.
"Dulu dia pernah menang ajang kecantikan, lalu menjadi model terkenal. Pacarku bekerja di sebuah klinik kecantikan dan tahu kalau dia menggunkan perawatan ilegal, aku memanfaatkan ini untuk memerasnya. Bukankah aku hebat?" lanjut Jimmy.
"Dia menggunakan barang ilegal?" tanya kakek Peter memastikan pendengarnya.
"Ya," sahut Winnie.
Kakek itu beralih memandangnya.
"Aku punya bukti bahwa dia melakukannya, saat ku mintai uang dia sempat berkata aku pun akan ikut terjerat karena bekerja di klinik itu. Dia pikir aku sangat bodoh, hahaha... tentu saja aku keluar dari pekerjaan ku sebelum memerasnya," jelas Winnie.
"Mmm, kau memang pintar," puji kakek Peter.
"Tapi sialnya sekarang dia mulai mengincar nyawaku, beberapa hari yang lalu ada pria yang berniat membunuhku. Aku yakin itu ulahnya, aah.... andai aku punya senjata lain untuk membuatnya lebih takut lagi. Aku juga pasti akan mendapatkan lebih banyak uang," keluh Winnie.
Ia meneguk minumannya dengan serakah, sementara kakek Peter berdebat dengan hatinya.
"Bagaimana jika kita bekerja sama?" tawarnya.
"Maksudmu?" tanya Winnie.
"Aku punya rahasia yang hanya di ketahui oleh ku, bahkan rahasia ini melibatkan satu orang hebat lainnya."
__ADS_1
Winnie menatap tajam, akhirnya ia bisa membongkar kasus kelam Miya.