
Setelah menunggu cukup lama akhirnya Jack datang juga, Camila segera bangkit dari tempat duduknya dan menatap Jack dengan takut.
"Ada apa?" tanya Jack.
"Kau sudah mendapat kabar kematian Will?" tanyanya.
"Ya, semua berjalan sesuai rencana kita."
"Aku akan datang bersama keluarga ku nanti sore, sebaiknya kita bersikap seperti orang kaget saat bertemu nanti."
"Itu bagus," komentar Jack.
Ada jeda sedikit yang membuat Jack heran saat Camila hendak bicara lagi, sebab ia terlihat berada di sebuah tekanan.
"Winnie... dia tahu apa yang sebenarnya terjadi," ujar Camila akhirnya setelah menelan ludah.
"Apa maksud mu?" tanya Jack.
"Dia tahu semuanya, selama ini dia berpura-pura bodoh untuk mengelabui kita. Dia bahkan menyekap perawat Iren dan Roman," sahutnya.
Jelas Jack kaget mendengar berita itu, tapi wajah kagetnya adalah datar seperti pemangsa yang menatap buruan.
......................
Orang suruhan Jack di dakwa atas tuduhan pembunuhan yang telah dia lakukan kepada Will, karena tersangka sudah diamankan maka kabar kematian Will pun di sebar.
Semua kerabat dan teman diberitahu untuk datang ke prosesi pemakaman, bahkan wartawan lokal pun datang untuk meliput berita.
Brian yang menjadi salah satu teman Will datang bersama keluarga kecilnya, mereka memberikan penghormatan terakhir sebelum jasad Will disemayamkan.
Winnie yang turut hadir menatap peti mati Will dengan perasaan iri, tentu saja karena meski kematiannya cukup mengenaskan tapi jelas ia mendapat penghormatan.
Sementara ia sendiri tak tahu apakah jasad Yumna di semayamkan dengan baik dan di doakan.
"Brian," panggil Jack diantara kerumunan orang.
Brian menoleh dan begitu ia melihat Jack mendekat segera ia pun menghampiri, mereka berpelukan untuk saling menguatkan akan kepergian salah satu teman mereka.
Tatapan Jack kemudian tertuju pada Winnie, ia ingat laporan Camila kepadanya dan berharap menemukan sesuatu di wajah Winnie selain ekspresi sedih.
__ADS_1
"Ayo sayang," ajak Brian sambil mengulurkan tangan.
Winnie mengangguk dan menggenggam tangan ayahnya, sebelum pergi ia menundukkan kepala pada Jack dan berjalan melewatinya.
Proses pemakaman cepat selesai di siang hari, orang-orang yang melayat pun satu persatu pergi termasuk Brian dan Jack.
Namun Camila berpisah dengan Brian, dia ingin pergi ke suatu tempat sebelum pulang untuk menenangkan diri. Brian dapat memaklumi hal itu sebab ia tahu Will dan Camila adalah teman di Universitas dulu.
Menaiki mobil terpisah Camila pun pergi lebih dulu, ia berkendara menuju luar kota tanpa mengetahui bahwa Aslan dan Carl mrmbututinya.
Sebelumnya Winnie telah membagi tugas seperti biasa saat kabar kematian Will sampai di telinga ayahnya, ia menyuruh Carl dan Aslan terus mengawasi Camila.
Karena itu sejak pagi mereka tahu bahwa Camila pergi menemui Jack dulu sebelum kemudian kini berpisah dengan keluarganya, sementara Deborah dan Nagisa berjaga di apartemen kalau-kalau ada tugas mendadak.
Winnie sendiri mengatakan ia akan di rumah untuk mengawasi Nicki, ia berencana akan terus menekan Nicki sampai Nicki mengakui kesalahan ibunya yang membunuh Will pada Brian.
Dua puluh menit berlalu Aslan dan Carl masih membututi Camila, kini mereka mulai memasuki kota lain. Sambil menebak-nebak waktu yang terus berjalan membuat mereka penasaran kemana Camila sebenarnya akan pergi, sore hari akhirnya Camila memasuki daerah sepi dan memarkir mobilnya di sebuah bangunan.
Melihat kondisi bangunan dan papan nama yang sudah terkelupas itu adalah bekas klinik, saling menatap Aslan dan Carl kemudian keluar dari mobil dan menyusup kedalam.
Meski sumber cahaya begitu minim tapi mereka mampu melihat dengan cukup baik, mengendap-endap agar tak ketahuan mereka mngintip dari balik kaca yang buram.
Kemudian mereka berjalan keruangan lain, Aslan dan Carl mengikuti dan alangkah terkejutnya mereka saat melihat pria itu mengeluarkan mayat Will dari tempat penyimpanan mayat.
Darahnya yang sudah mengering menambah kesan seram pada mayat itu, apalagi kondisi tubuh Will sama sekali tak ada yang di ubah.
"Apa-apaan ini?" gumam Aslan tak mengerti.
......................
Byuuurrr...
"Ah... hhhhhh hhhhhh hhhhh," Roman terengah, matanya yang merah menatap liar ke kiri kanan.
Saat ditatapnya perawat Iren seketika ia kaget bukan main menyadari dirinya di ikat di kursi seperti perawat itu.
"Akhirnya kau bangun juga," ujar Winnie.
"Siapa kau?" tanya Roman dengan suara nyaring.
__ADS_1
"Tidak perlu tahu, apa gunanya? toh sebentar lagi kau akan mati," sahut Winnie.
"Bedebah! kau tidak tahu siapa aku?" hardiknya.
"Tentu saja aku tahu, yah meski ini adalah kali pertama kita bertemu. Tapi aku cukup tahu kau adalah anak buah Jack di bayar untuk mencari orang yang bisa menculik bayi," sahutnya.
Roman mengerutkan kening, jelas Winnie terlihat seperti gadis kaya yang suka mebguamburkan uang dilihat dari proporsi tubuhnya dan gayanya.
Tapi tatapan tajam serta kepercayaan diri itu membuat Roman berfikir ada sesuatu yang lain dari Winny, seolah gadis itu telah dilatih untuk menghadapi bahaya.
"Apa yang kau mau?" tanya Roman kini dengan lebih tenang.
"Berharap majikan mu datang," sahutnya.
"Tuan Jack?" tanya Roman.
Winnie tersenyum menampilkan rentetan giginya yang rapih dan putih, membuat perawat Iren ketakutan sebab mengingatkannya pada psikopat di film-film.
"Aku sudah datang!" seru Jack dari balik kegelapan.
Ia berjalan mendekat bersama seseorang yang Winnie bayar untuk berjaga di luar.
"Dia sendirian," ujar orangnya.
"Terimakasih, tolong tetap jaga sampai urusan ku selesai," sahut Winnie.
Kini Winnie menatap Jack, beberapa jam yang lalu setelah membagi tugas Winnie pulang untuk mengikuti prosesi pemakaman Will bersama keluarganya.
Sebenarnya ada rencana yang ia sembunyikan dari yang lain, itu adalah ia menyuruh Camila untuk menceritakan kepada Jack bahwa ia telah mengetahui semua kebusukan mereka.
Lalu saat bertemu dengan Jack di pemakaman ia menyelipkan sebuah kertas berisi alamat yang harus Jack datangi ke dalam saku Jack saat ia akan pergi.
Winnie berencana untuk mengakhiri semuanya sekarang, tak ingin terus melibatkan yang lain karena ini adalah urusan pribadi. Winnie pun menyuruh Camila untuk pergi ke tempat mayat Will yang sudah ia curi untuk menjauhkan Aslan dan Carl, sebab ia tahu Aslan tidak akan membiarkannya melakukan hal ini.
Ia juga sampai memindahkan perawat Iren dan Roman dari gudang Jimmy agar tak ditemukan yang lain, untuk berjaga-jaga agar tak diganggu ia bahkan menempatkan penjagaan di luar sampai dendamnya terbalaskan.
"Sungguh diluar dugaan, aku pikir kau tidak akan balas dendam meski tahu ibumu di bunuh dengan keji," ujar Jack.
"Sayang sekali aku adalah orang yang pendendam, apalagi setelah melihat perilaku kotor mu yang menyentuh ibuku. Untung saja saat itu aku sudah berada di rahim ibu sehingga aku adalah asli anak Brian," balasnya.
__ADS_1
Kali ini Jack menunjukkan wajah terkejut, dua puluh satu tahun lamanya peristiwa itu telah berlalu. Seharusnya tak ada yang tahu bahwa ia pernah mencoba menodai Maya, bahkan Maya sendiri tak melaporkan kejadian itu pada siapa pun.